
Alif tersenyum sinis, "Tapi sebelum mendapat ganjaran dari Langit, aku sudah membunuh kalian dulu. Ada begitu banyak orang yang akan menemaniku di akhirat, aku nggak akan kesepian."
Semua orang langsung menjadi panik. Namun, begitu melihat Alex yang ada di depan pintu, mereka langsung ketakutan. Terutama setelah melihat senapan mesin ringan di tangan Alex, mereka tidak berani bertaruh Alex akan menembak atau tidak.
Jika Alex benar-benar menembak, mereka semua akan mati di sini.
Saat ini, seluruh aula menjadi hening. Namun, tak lama kemudian, mereka mulai berdiskusi.
Pada akhirnya, semua orang menatap ke arah Henry. Sudah saatnya Henry membuat keputusan, karena dia adalah orang yang paling berhak untuk menyatakan pendapat dalam aula ini.
Jika Henry setuju, mereka juga akan setuju.
Dengan begitu, mereka bisa menyalahkan Henry bila semuanya nanti.
Henry mendesah, "Kamu sudah berkata seperti itu, ada alasan apa lagi yang bisa kugunakan untuk menentangmu menjadi pemimpin keluarga?"
Dalam sekejap, semua anggota keluarga Vixon pun menyetujui permintaan Alif.
Mereka juga tidak peduli lagi soal Hasan. Sebab, mereka tahu Hasan yang tidak hadir pada saat ini pasti sudah mengalami peristiwa buruk.
Oleh karena itu, mereka tidak ingin berpikir terlalu panjang. Mereka hanya ingin menyelamatkan nyawa mereka sendiri.
Selanjutnya, semuanya tentu sudah sangat gampang diselesaikan.
Alex hanya perlu menyaksikan Alif mengambil alih sebagai pemimpin keluarga Vixon dan mendapatkan seluruh dokumen, kontrak serta properti keluarga mereka.
Setelah itu, Alif baru membubarkan seluruh anggota keluarga Vixon. Kemudian, dia berjalan ke hadapan Alex dan berkata sambil tersenyum, "Aku sudah menjadi pemimpin keluarga Vixon. Sekarang, aku sudah bisa melakukan apa pun yang kamu inginkan."
Alex berkata dengan sangat puas, "Oke, aku akan mencarimu kalau butuh bantuan. Kamu sudah menyuruhku datang pagi-pagi untuk membantumu, aku mau cepat-cepat pulang untuk tidur dulu."
Alif memandang kepergian Alex, barulah dia lanjut mengurus masalah keluarga Vixon. Meskipun dirinya sudah menjadi pemimpin keluarga, masih ada banyak orang yang sebenarnya belum tunduk padanya.
Dia harus mengusir orang-orang yang belum tunduk itu.
Berita yang disebarkan Alif sudah langsung berpengaruh. Akan tetapi, James malah muncul di hadapan Alex saat ini.
Saat melihat James sendiri yang datang menemuinya, ekspresi Alex makin murung.
Alex mendesah. Dia tahu aliansi bisnis yang dia dirikan pada akhirnya akan rutuh. Ketika Aston meninggal, aliansi bisnis ini sudah hancur.
Hanya saja, Alex tidak menyangka hal ini akan terjadi begitu cepat.
James berkata, "Aliansi bisnis sudah dibubarkan."
Alex mengangguk, "Aku tahu. Aku sudah bisa menebaknya, tapi aku tidak menyangka ternyata begitu cepat. Sepertinya ada orang yang menghasut di belakang."
Saat ini, James melanjutkan, "Dengan bubarnya aliansi bisnis, aku juga nggak tahu mau ke mana. Aku nggak suka dengan tindakan keluarga Bazel. Kalau kamu perlu bantuanku, aku bisa bekerja sama denganmu."
Alex menatap James dengan sedikit terkejut. Dia tidak menyangka setelah aliansi bisnis dibubarkan, James yang paling aneh dan paling tidak memercayainya waktu itu menjadi satu-satunya orang yang bersedia bekerja sama dengannya.
Alex bertanya dengan sedikit penasaran, "Apa kamu merasa optimis tentang PT. Atish?"
"Aku hanya nggak suka dengan keluarga Bazel," jawab James dengan acuh tak acuh.
Alex mengangkat bahunya. Akan tetapi, dia tahu sifat James pada dasarnya memang begitu. Jadi, tidak heran dia berkata seperti itu.
Alex bertanya dengan prihatin, "Keluarga Bazel nggak mengancam keselamatan kalian, 'kan?"
Saat ini, Alex juga tidak berdaya dan masih belum bisa menolong mereka. Jadi, dia hanya bisa membiarkannya dulu.
James mengerutkan alisnya sambil berkata, "Perusahaanku juga terkena imbas yang besar sehingga membutuhkan sedikit dana."
Alex menatap James dengan ragu. Dia tidak menyangka James akan meminjam uang pada orang, terlebih lagi melakukannya dengan berbasa-basi terlebih dahulu.
Namun, Alex tahu tawarannya tentang kerja sama itu serius.
"Kamu boleh menghubungi PT. Atish nanti. Perusahaan kami akan membantumu." Alex tentu saja tidak akan menolak untuk membantu James.
Setelah menyelesaikan masalah perusahaannya, James terlihat sedikit lega. Kemudian, dia berkata dengan sedih, "Sayangnya, Aston sudah mati. Aku kira keluarga Bazel sudah menyalahkanmu atas semuanya."
Alex juga berkata dengan cemberut, "Aku juga berpikir begitu, tapi ternyata nggak dan aku harus kehilangan satu orang penting. Orang yang bisa berbuat begitu pasti nggak sederhana."
Wajah Sinarwa langsung melintas di benak Alex.
Sekarang, Farraz sudah mati. Perilaku Sinarwa seharusnya menjadi semakin liar. Namun hingga sekarang, Sinarwa masih belum bertindak.
Sinarwa terlihat seperti sudah menghilang tanpa jejak.
Akan tetapi, Alex paham bahwa situasi seperti inilah yang paling berbahaya. Sinarwa pasti sedang merencanakan sesuatu yang besar.
Alex memperingati James, "Pokoknya, kamu harus melindungi keluargamu kalau ingin bekerja sama denganku. Mereka nggak boleh terluka. Mungkin kamu boleh menyuruh mereka pergi berlibur selama satu bulan."
James menggeleng, "Nggak perlu."
Alex menatap James dengan heran, sedangkan James malah berkata, "Aku nggak punya keluarga, jadi nggak perlu khawatir."
Alex tertegun sesaat, tetapi akhirnya tersadar. Dia menepuk-nepuk James sambil berkata, "Akhirnya aku mengerti kenapa kamu begitu penyendiri."
Setelah mengantar kepergian James, Alex baru masuk ke rumah. Saat ini, Erika sudah berangkat kerja. Alex hanya bisa tidur sendiri.
Setelah bangun, Alex menerima telepon dari Erika. Terjadi sesuatu lagi di lokasi instruksi.
Alex buru-buru pergi ke kantor pusat PT. Atish. Sekarang, kantor pusat PT. Atish berada di lantai ketiga sebuah gedung yang berada tidak jauh dari pusat komersial.
Sebagai kantor sementara, dekorasinya juga lebih sederhana. Awalnya, PT. Atish berencana menyelesaikan pembentukan dasar pusat komersial dalam waktu sebulan.
Pada saatnya, kantor mereka akan pindah ke dalam pusat komersial itu.
Namun, pembangunan mereka sepertinya mendapat beberapa masalah yang sangat serius.
Setelah tiba di kantor, Erika dan Davin sedang berdiskusi tentang cara penyelesaiannya. Begitu melihat Alex, Erika buru-buru menghampirinya dan menceritakan situasinya.
Ternyata tidak ada pabrik yang bersedia menjual bahan konstruksi kepada mereka.
Saat ini, mereka sudah kehabisan bahan sehingga ada banyak pekerjaan yang tidak bisa diteruskan.
"Awalnya, mereka masih bersedia menjual kepada kita, hanya saja harganya dinaikin. Tapi, kita masih bisa menerimanya. Sekarang, nggak ada satu pun perusahaan yang mau menjual bahan bangunan pada kita. Makanya masalahnya jadi lebih susah diselesaikan."
Erika duduk di kursi dengan tidak berdaya.
Untuk sementara, dia masih belum terpikirkan cara untuk menghadapinya. Sepertinya, semua perusahaan sedang menekan PT. Atish.