
“Erika, hatiku akan selalu bersamamu.” Setelah Alex mencium bibir Erika, lidahnya ingin mendorong masuk, tetapi Erika menutup bibirnya rapat-rapat. Namun, Alex tidak menyerah, setelah begitu banyak hal dan derita yang dialami karena kerinduan, dia tidak ingin melepaskannya lagi.
Dia tidak ingin melepaskan kesempatan yang langka ini, dia harus mempertahankan kebahagiaannya dan tidak melepaskannya lagi. Bahkan jika dia meninggal saat ini, dia tidak akan ragu sama sekali. Lidahnya berusaha menerobos gigi Erika sekuat tenaga. Dia memeluknya erat-erat. Tekad Alex tidak pernah sekuat saat ini, dan keinginan di hatinya juga tidak pernah sekuat ini.
Sosok yang muncul dalam mimpi berkali-kali! Sosok yang terus dipikirkannya kemanapun dia pergi. Apa mungkin dia melepaskannya begitu sudah memeluknya?
Tubuh Erika sepenuhnya berada dalam pelukan Alex, secara alami tangannya melingkari punggungnya, "Jangan ..."
“Kamu, Alex, kurang ajar!” Erika hanya merasa wajahnya memanas. Meskipun yang menciumnya adalah suami sahnya, tapi semua ini terlalu mendadak. Berkat keteguhan Alex, akhirnya, pertahanan bibirnya runtuh, dan lidah Alex berhasil masuk.
Setelah berjuang dua kali, Erika akhirnya berhasil mendorong Alex. Dia menyeringai dan berkata, "Alex, keberanianmu semakin besar! Beraninya kamu menindasku tanpa seizinku?"
Alex berkata tanpa malu: "Erika, mau kamu marah padaku atau tidak, yang jelas, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu seumur hidup. Jika kamu marah padaku, lebih baik bunuh saja aku. Aku tidak akan mengeluh, jika kamu tidak marah, maka kita akan hidup bahagia selamanya. " Alex mengucapkan kata-kata manis sambil mengingat kembali kejadian tadi. Sungguh bagus bisa mencium Erika tadi. Itu adalah rasa yang belum pernah dia coba dalam hidupnya.
Erika berkata, "Alex, masih banyak hal penting yang harus dilakukan besok. Biarkan aku tenang!" Raut wajah Erika menjadi sangat tenang, entah itu senang atau sedih. Pikirannya masih saja tidak bisa ditebak.
“Oke. Ayo kita tidur. Mari kita lihat apa yang akan dikatakan Rangga besok.” Alex tahu betul di dalam hatinya bahwa dia tidak marah. Inisiatifnya barusan akhirnya membuahkan hasil. Setelah pertahan awal ini tembus, dirinya bisa melancarkan serangan ganas terhadapnya mulai sekarang!
Sepertinya masa pacaran pasangan suami istri yang sudah menikah setahun ini baru saja dimulai.
Pada malam ini, Rangga, konglomerat teratas di Jakarta, bertemu dengan Friska sendirian.
Bernegosiasi dengan keluarga Buana, bukanlah karena siapapun anggota keluarga Buana, tapi dia takut pada Friska. Haris Wibowo hanya memiliki putri semata wayang, dia sangat berharga di mata Haris. Dia telah membantu ayahnya mengelola bisnis keluarga sejak berusia 18 tahun. Setelah lulus kuliah, dia memegang posisi penting di perusahaan.
Rangga bukannya tidak tahu dengan apa yang telah dilakukan Devan, hanya saja dia cuek dan membiarkan Devan bertindak seenaknya. Hanya saja dia tidak menyangka akan berakhir seperti ini. Yang lebih tidak terduga adalah, keluarga Buana punya keluarga Wibowo sebagai backingan.
Rangga tahu bahwa kekuatan keluarganya tidak sebanding dengan keluarga Wibowo.
Makna dari kedatangan Friska hari ini adalah untuk menunjukkan sebab dan akibat dari kejadian ini, dan siapa yang benar dan siapa yang salah. "Tuan Rangga adalah orang yang bijaksana. Aku juga tidak berharap kamu mengelak dari tanggung jawab. Perintah untuk membongkar hotel Emperor diberikan oleh Willy. Tanpa izinmu atau Devan, apakah dia berani melakukannya?"
Friska berkata: "Tuan Rangga memang bijak! Sebenarnya, keluargamu dan keluargaku tidak memiliki dendam yang dalam. Konflik kali ini semua karena keponakanmu kurang disiplin dan sembrono. Aku tidak akan mengatakan lebih banyak tentang alasannya. Sekarang, aku akan mengatakan pendapatku. "
"Silakan."
Friska berkata: "Ada 4 hingga 5 orang dari perusahaan pengawal kami yang cedera, dan mungkin lebih banyak yang terluka dari pihakmu. Mereka semua terlibat, jadi tidak perlu membicarakan siapa yang memberi kompensasi biaya pengobatan. Kamu dan aku juga tidak kekurangan uang. "
Rangga memuji: "Benar. Aku sangat setuju dengan pendapatmu."
Friska berkata: "Ngomong-ngomong, Devan ingin mengambil hotel Emperor Erika secara paksa, tetapi negosiasi tidak berhasil. Pertama, dia menyiramkan teh ke wajanya di depan umum. Kemudian, dia mengajak orang-orang untuk merobohkan gudang hotel. Bahkan melukai beberapa penjaga keamanan hotel. Devan harus memberikan kompensasi atas ini semua! "
Rangga tersenyum, "Devan juga terluka parah, bagaimana dengan biayanya?"
Friska berkata: "Menurut saksi di tempat kejadian dan pengumuman polisi, orang yang melukai Devan tidak ada hubungannya dengan hotel Emperor. Tuan Rangga, kamu dapat mengirim orangmu untuk menangkap orang itu. Itu termasuk dendam pribadinya dengan Devan. Bahkan jika kalian menenggelamkannya untuk memberi makan ikan, aku juga tidak keberatan. "
"Oke. Nona Friska, katakan saja jumlahnya, aku akan mengirim pesan kepada Devan. Jika jumlahnya tidak terlalu tinggi, kita akan menuntaskan masalah ini besok."
Friska tersenyum, "Tuan Rangga, aku dan keluarga Buana tidak sama. Aku dapat mengambil keputusan bahwa pengawalku tidak memerlukan kompensasi. Namun, aku tidak memiliki hak untuk mewakili keputusan Erika. Besok, kalian bisa menegosiasikannya setelah bertemu. Mungkinkah Tuan Rangga tidak bisa berurusan dengan seorang gadis kecil? "
Tuan Rangga tertawa, "Bukan itu masalahnya. Kalau begitu, aku akan bertemu dengan gadis kecil dari keluarga Buana besok."
Setelah kepergian Friska, Tuan kedua dan Devan turun dari lantai atas. Keduanya baru saja mendengar pembicaraan tersebut.
Devan berkata dengan kesal: "Paman! Apakah masalah ini akan diselesaikan begitu saja? Pada akhirnya, malah kita yang memberi kompensasi pada mereka."
Raut wajah Rangga berubah, "Brengsek! Kedatangan Friska kali ini terlihat biasa-biasa saja. Namun, kamu tahu bahwa sebenarnya ratusan elite dari keluarga Wibowo telah memasuki Jakarta secara diam-diam. Mungkin, sekarang para penembak jitu keluarga Wibowo telah bersembunyi di hutan seberang. Selain itu, mereka mengundang Jenderal Danu dari Departemen Provinsi dan Gubernur Kartono. Keduanya telah meneleponku agar mencari cara untuk tidak memperburuk keadaan. Apakah kalian memintaku untuk melawan pemerintah? "