Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Direncanakan dengan Cermat


Beberapa hari belakangan merupakan hari yang sangat damai bagi Alex.


PT. Atish sedang mengambil alih perusahaan keluarga Wardoyo, Erika, Jasmin dan Friska bertiga membagi tugas dengan jelas dan sibuk tanpa henti.


Sedangkan Alex, Hengky dan yang lainnya selalu bertanggung jawab atas keselamatan ketiga wanita itu dengan hati-hati.


Akhirnya, hari tender akan tiba besok.


Alex membentuk rencana rahasia setelah mempertimbangkan dengan serius. Dia memanggil Friska, Erika dan Jasmin, lalu menjelaskan rencana perlindungan di acara tender yang dipikirkannya.


Ketiga wanita itu merasa rencananya ini sangat sempurna dan bisa dilaksanakan.


Acara tender proyek rekonstruksi pelabuhan kota Medan dilaksanakan di dalam sebuah gedung yang sangat mewah di pelabuhan Medan.


Panitia pemerintah telah mempersiapkan segala keperluan lebih awal, di mana-mana terdapat polisi patroli, di jalan juga ada tidak sedikit polisi lalu lintas.


Pihak dari PT. Atish perlu menempu jarak 20 km lebih untuk bisa sampai ke gedung tender tersebut. Di dalam perjalanan, mereka juga harus melalui jalan berliku dengan letak geografis yang sedikit rumit. Alex sudah memeriksa jalan berliku itu lebih awal sebelum membuat rencananya.


Pagi sebelum jam 7.30, di depan gedung perusahaan PT. Atish, tiba-tiba sekelompok polisi datang dan berjalan masuk.


Seorang bawahan yang bertugas mengawasi segera melaporkannya kepada Ghaston, “Pak, ada sekelompok polisi datang ke perusahaan! Totalnya ada 4 unit mobil polisi. Apa yang terjadi? Apa perusahaan melakukan kejahatan?”


Ghaston berkata dengan marah, “Kamu tanya aku, aku mau tanya siapa? Cepat cari tahu.”


“Oke, oke. Saya akan segera meminta orang untuk mencari tahu.” Anak buah yang bertugas mengawasi mengiyakan berulang kali.


Namun, satpam PT. Atish telah mendirikan pos jaga 100 meter dari pintu utama, mereka sama sekali tidak bisa mendekat dan hanya dapat mengandalkan teropong untuk mengawasi, jadi gimana caranya mencari tahu.


Tak lama kemudian, mereka melihat polisi-polisi itu keluar berbaris dari pintu utama, setelah masuk ke dalam mobil polisi dan membunyikan sirine, keempat unit mobil tersebut pun melaju pergi.


Anak buah yang bertugas mengawasi keheranan, Ngapain polisi datang? Untuk memeriksa keamanan kebakaran?


Belasan menit berlalu lagi, terlihat sekelompok orang dengan sengaja menutupi diri dengan payung di bawah kepungan berlapis-lapis oleh satpam, belasan orang memasuki 4 unit mobil, sekali lihat saja sudah tahu kalau itu barisan mobil eksekutif PT. Atish, mobil melaju perlahan ke arah acara tender.


“Lapor, Pak. Total ada 4 unit mobil dengan belasan orang.” Anak buah yang bertugas mengawasi segera melaporkannya kepada Ghaston, “Masing-masing adalah mobil Erika, Friska dan lainnya! Oh iya, Alex harusnya juga ada di dalamnya.”


“Yakin Alex ada di dalam? Semua eksekutif Atish ada di sana?” tanya Ghaston lagi.


Anak buah tersebut berkata, “Mereka terus menutupi dengan payung sejak keluar dari pintu utama, saya sungguh tidak melihatnya dengan jelas. Tapi deretan mobil tadi pasti milik eksekutif Atish!”


“Oke! Suruh orang mengikuti mereka, laporkan lokasinya padaku setiap saat.” perintah Ghaston.


“Siap!”


“Di depan ada jalan berliku, hati-hati semua.” Demi acara tender kali ini, Alex telah menyiapkan peralatan komunikasi nirkabel untuk setiap mobil, yang dikemudikannya adalah mobil Land Rover Off-Road, dia berkata kepada supir 3 unit mobil Land Rover Off-Road di belakang.


“Siap! Tenang saja Tuan Alex, kami pasti akan mengemudi dengan hati-hati.” 3 orang supir di belakang yaitu Hengky, Rega dan Martin.


Alex berkata, “Kita sudah menyinggung keluarga Mahari, jadi kondisi tenang begini sama sekali ngak wajar. Jadi kita pasti akan bertemu bahaya di jalan, kalian sudah siap?”


Hengky memimpin, “Siap sedia!” Ini adalah kalimat yang sering dikatakan oleh para prajurit pasukan khusus.


Rega dan Martin juga tidak ketinggalan, “Siap sedia!”


Di bawah terik sinar matahari, ada kabut samar di sekitar jalan pegunungan, seolah-olah berada di negeri atas awan.


Lebar jalan hanya sekitar 4 meter lebih, jika sengaja dihadang, maka cukup dengan memiringkan mobil ke tengah jalan saja sudah bisa menghadang semua mobil dan tidak akan bisa dilalui sama sekali.


Hengky berkata, “Kak, kalau aku jadi Ghaston, aku pasti akan menyergap di sini!”


Alex berkata, “Tingkatkan kesadaran kalian! Kalau ada situasi yang ngak beres, segera lakukan tindakan sesuai dengan pesanku sebelumnya!”


“Baik!” jawab Hengky dan lainnya dengan semangat.


Jalan pegunungan di depan semakin berliku.


Yang tidak Alex ketahui adalah, keluarga Mahari membentuk sekelompok besar orang dan telah memblokir kedua ujung jalan pegunungan, tidak ada mobil lain yang boleh masuk untuk menghindari kejadian yang terlalu menghebohkan.


Dengan kekuatan keluarga Mahari, terlalu mudah untuk memblokir jalan pegunungan ini.


Ghaston mau pergi menghadiri acara tender, jadi tentu dia tidak akan muncul di sini.


Namun, Sony yang terluka parah justru sedang menyergap di suatu tempat di bagian atas jalan.


Di sisi Sony ada 2 buah batu besar, dia menyeringai sambil menatap 4 unit mobil yang melintas seperti semut, lalu tiba-tiba mengerahkan kekuatan, “Hehe! Nak, matilah kalian!”


Druk, druk, druk! 2 buah batu besar menggelinding ke bawah dari ketinggian puluhan meter!


Suara gelinding 2 buah batu besar tersebut tidaklah nyaring, tapi Alex yang sedari tadi waspada justru tiba-tiba merasakan sesuatu!


“Ada yang ngak beres! Suara apa itu?” Alex langsung melepaskan persepsinya, sebagai mobil utama, dia langsung berkata kepada walkie-talkie, “Ada yang ngak beres!”


Ckiit! Suara rem mobil terdengar dalam waktu bersamaan.


“Hahaha…” Saat suara tawa terdengar, di lereng gunung di atas jalan gunung, ada sebuah sosok yang menerjang kemari!


Sosok ini seperti seekor burung besar, bisa dibilang dia terbang di udara karena kakinya tidak menyentuh tanah.


Bum! Dua buah batu tersebut akhirnya terjatuh ke atas jalan.


“Hampir saja!” Alex juga kaget, untung saja dia menghentikan mobil tepat waktu, kalau tidak, jika dia terus melaju ke depan, maka 2 buah batu yang jatuh belasan meter di depan mobil sangat mungkin akan menimpa mobilnya!


Tentunya, setelah asap debu yang ditimbulkan oleh kedua buah batu tersebut hilang, jalan ini juga otomatis tertutup! Mobil mereka tidak dapat melaju lagi.


“Turun! Sembunyi baik-baik! Bersandar ke satu sisi!” Alex segera mengeluarkan perintah.


Karena pihak musuh telah merencanakan penyergapan kali ini dengan cermat, maka mungkin sekali akan ada senjata!


Karena Alex telah membawa Hengky dan yang lainnya, maka dia juga harus menggunakan kemampuannya untuk menjaga keselamatan mereka.


Syut, syut! Belasan orang segera keluar dari mobil tanpa menutup kembali pintu, dan membawa senjata mereka masing-masing ke sisi tebing, menempatkan tubuh rapat-rapat di sisi tebing dan mewaspadai situasi sekitar.


“Mereka punya seorang ahli yang sedang menuju kemari, perhatikan keselamatan kalian semua, aku akan menghadapinya.” Alex sudah melihat sosok Tambo dari sudut matanya, dia memastikan kalau Hengky dan yang lainnya bukanlah tandingan tambo, oleh karena itu dia pasti tidak akan menyuruh mereka melakukan pengorbanan yang tak berarti.


“Baik! Semuanya, pegang senjata kalian baik-baik, bersiap!” teriak hengky, “Rega, Martin, posisi siaga!”