
Melihat dia malu, Alex tahu bahwa akan ada kesulitan jika dia bertindak lebih lanjut, jadi dia hanya bisa menunggu sampai malam tiba. Postur berjalan Alex sedikit berubah ketika dia memikirkan bahwa dirinya bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk berhubungan dengan Erika.
Sore harinya, Alex mengantarnya ke lokasi konstruksi. Menjelang pulang, Alex menerima telepon darinya: "Alex, aku memutuskan untuk memberimu hadiah malam ini."
"Oke, Oke, bagus sekali!"
Erika berkata: "Sekalian bawa Hengky, Rega, dan Martin bersamamu, lalu ajak Clara juga, aku akan mentraktir kalian makan steam boat dan barbekyu, kalian bisa memesan minuman sepuasnya. "
"Uhuk, uhuk." Alex hampir tersedak oleh salivanya, "Itu saja? Apakah ini juga disebut hadiah?"
Erika tersenyum: "Sobat, berpuas dirilah dengan pencapaian kecil seperti itu. Saat kamu membuat pencapaian besar dan menjadi pemenang sebenarnya, maka pasti akan ada hadiah sesungguhnya."
Alex berkata: "Erika, aku berjanji akan membuatmu melihat pencapaianku!"
Pemandangan di tepi danau Runju sangat indah, ada sebuah toko barbekyu tua di tepi danau itu yang telah buka selama lebih dari sepuluh tahun, bisnisnya sangat baik, ini menunjukkan bahwa barbekyu di sini memang enak.
Hadiah Erika tentu saja lebih dari sekadar barbekyu, dia juga memberi masing-masing dari mereka sebuah amplop.
Clara bertanya pada Hengky: "Kak Hengky, kudengar kampung halamanmu juga di Jakarta? Kalau begitu kita ini teman sekampung, terus kamu juga memenangkan kejuaraan di kompetisi tinju?"
Hengky seketika bersemangat setelah dipuji oleh wanita cantik, lalu berkata: "Ya, aku pernah menang sekali. Saat itu, aku memainkan total tujuh pertandingan, semuanya kulewati dengan penuh usaha keras, luka yang didapat .… "
Ngomong-ngomong soal ini, di satu sisi, Hengky ingin menunjukkan kejantanannya di depan para wanita cantik. Di sisi lain, ia juga bermaksud menunjukkan kekuatannya kepada anak muda yang tidak tahu apa-apa seperti Alex, oleh karena itu ia langsung saja melepas kaosnya, kemudian memperlihatkan bekas-bekas luka yang banyak di punggungnya.
"Wow! Kak Hengky, kamu luar biasa!" Teriak Clara sangat mengaguminya, seperti yang telah diperkirakan.
Alex mengabaikan hal ini: Aku memang tidak memiliki begitu banyak luka, tapi mana ada pertarunganku yang tidak sulit? Jika itu kamu, mungkin sudah mati seratus kali!
Alex telah mengalami perang sengit yang nyata, dan tentu saja dia tidak tertarik untuk meributkannya dengan orang biasa seperti Hengky.
Yang lain menggemakan pujian, tetapi Alex malah asyik minum dan mengabaikan dirinya. Hengky sedikit tidak senang, lalu berkata dalam hati: "Presdir Buana sudah mengundangku ke sini dengan bayaran mahal, itu membuktikan bahwa aku memang sehebat itu! Alex, seorang pemula sepertimu bahkan berani sombong di depanku? "
Tetapi meskipun dirinya tidak senang, dia juga tidak menunjukkannya. Dia diam-diam berencana mencari kesempatan suatu hari nanti untuk menunjukkan kehebatannya pada Alex.
Setelah semuanya kenyang, Erika berkata: "Hengky, karena semunya sudah selesai makan, kalian bertiga kembalilah ke hotel bersama Clara."
"Baik, Presdir Buana." Ketiganya berdiri dan pergi bersama Clara.
Alex menemani Erika, ketika dia hendak pergi setelah membayar tagihan, telinga Alex bergerak tiba-tiba!
Dia adalah raja tentara, meskipun suasana di tempat kejadian kacau dan berisik, tetapi dia terlahir dengan indera yang sangat tajam dengan suara senjata!
Lima puluh meter jauhnya, terdengar suara tembakan senjata!
Seseorang sedang menembak? Siapa targetnya?
Alex membuat tindakan yang paling tepat hanya dalam sesaat: Dia tiba-tiba menekan tubuh Erika!
Reaksi Alex terlalu cepat!
Seketika terdengar suara jeritan, keadaan menjadi benar-benar kacau.
Terlihat jelas jika peluru itu menargetkan Erika!
Suara tangisan dan teriakan yang memekikan telinga terdengar nyaring di tempat itu.
Tiba-tiba, pandagan di depan Alex menggelap, dia tidak tahu siapa yang mematikannya saklar lampu, lalu asap yang berbau aneh memenuhi kerumunan.
Semua orang ketakutan, seolah-olah menghadapi kiamat.
Erika bisa merasakan dengan jelas bahwa Alex sedang memeluknya.
Alex berbisik: "Erika, ada pembunuh. Tapi, jangan khawatir."
Erika merasa pelukannya luar biasa hangat! Meskipun dia tidak memiliki pengalaman bertempur, tapi dia sadar bahwa tembakan itu ditujukan padanya!
Jika bukan karena Alex, dia sudah tertembak oleh peluru itu!
Suasana di tempat itu masih ramai, keadaan sangatlah kacau.
Alex tidak lagi berbicara, dia memeluk Erika dengan erat. Meskipun dalam kegelapan, dia tetap bisa dengan mudah melewati pelanggan di sekitarnya. Ketika sampai di pintu, dia tertegun.
Ternyata, dia kebetulan melihat sebuah sosok melintas di alang-alang di bawah lampu jalan yang redup.
Erika juga menyadarinya: "Alex, apakah itu pembunuhnya?"
Alex terus memeluknya erat-erat, menggunakan tubuhnya untuk melindungi keselamatannya: "Lampu dimatikan tiba-tiba, itu berarti si pembunuh punya kaki tangan. Jika aku mengejarnya, kamu akan dalam bahaya."
Erika sangat ketakutan, dia benar-benar kebingungan.
Kekacauan di tempat kejadian masih belum berhenti. Di antara kerumunan, seorang wanita muda yang cantik tiba-tiba berlari ke sisi Alex. Mungkin dia terlalu panik, lalu meraih lengan Alex: "Tolong! Kakak, tolong."
Alex meliriknya sekilas, lalu membawa Erika dan berlari dengan cepat!
Wanita muda itu mengikuti mereka dari dekat. Tujuan mereka adalah mobil BMW x5 yang diparkir Erika di pinggir jalan. Alex merasa bahwa mereka akan aman selama bisa masuk ke dalam mobil.
Mereka sampai ke mobil setelah berlari lebih dari tiga ratus meter .
"Aku akan mengemudi.” Erika mengeluarkan kunci dan membuka pintu mobil.
Tiba-tiba, Erika merasa sosok di depannya melintas secepat kilat, Alex tiba-tiba menyerbu wanita muda yang mengikutinya dengan kecepatan secepat itu? !
Betapa hebatnya serangan Alex tadi? Wanita itu langsung dikendalikan oleh Alex dan tidak bisa bergerak sama sekali, pistol yang baru saja dikeluarkan sama sekali tidak sempat dipegang.
Trik Alex sangat cepat dan kuat, dia sama sekali tidak tahu cara berbelas kasihan. Setelah menahan wanita itu, dia menarik kedua tangannya ke belakang dengan paksa, menekannya ke permukaan mobil, dan membuat pistolnya terjatuh.
Erika terkejut, lalu berpikir: Ya Tuhan, si pembunuh menyamar sebagai gadis malang? Bahkan membawa pistol? Jika bukan karena Alex sadar tepat waktu, dirinya pasti akan mati hari ini! Tapi bagaimana dia bisa tahu?