
"Dewi, kalau kamu ingin balas dendam, kita bisa merencanakannya bersama."
"Pak Ridwan, ada ide tidak? Asalkan bisa membunuh Alex dan membalaskan dendam suamiku, aku tidak akan ragu meskipun harus menghabiskan semua harta yang kupunya!"
Ridwan berkata: "Kalau tidak salah aku dengar kamu bilang saudara iparmu adalah Prasmulyo yang di Kabupaten Wongso itu ya?"
Dewita mengangguk, "Ya. Kakakku adalah istri Prasmulyo, namanya Shinta."
Ridwan berkata: "Oke. Ayo berangkat ke Kabupaten Wongso sekarang. Aku akan memberitahumu apa yang harus dilakukan nanti."
**********
Alex, Erika, dan Nova menghela nafas lega ketika meninggalkan markas rahasia Basinas.
Roselline memandang Alex, lalu berkata, "Alex, kita perlu bicara empat mata."
Alex berkata, "Tidak masalah, malam ini aku traktir."
Di sebuah restoran yang lumayan bagus beberapa kilometer jauhnya dari markas rahasia, Alex memesan sebuah ruangan VIP, dan ada sebuah suite lagi di dalamnya. Erika menemani yang lain di luar, sedangkan Alex dan Roselline duduk berhadap-hadapan di dalam suite.
Alex berbicara lebih dulu, "Terima kasih banyak atas pertolongan Komandan Rose kali ini sehingga aku bisa terbebas dari masalah. Seperti yang kamu katakan, aku kalah dalam permainan ini. Tapi aku tidak ingin menjadi seorang pejabat, apalagi bergabung dengan Red Shield. Perkataanku masih sama, aku punya istri, aku punya keterikatan. Namun, kita bisa berbicara tentang kerja sama. Setidaknya, aku tidak mewakili Gang Beruang Hitam, aku berbicara denganmu atas aku pribadi."
Roselline tersenyum tulus, "Komandan Alex, kamu benar-benar pintar. Baiklah, aku juga tidak perlu repot-repot. Kalau begitu langsung ke poinnya saja. Tidak apa jika kamu tidak ingin bergabung dengan Red Shield."
Roselline mengeluarkan sebuah dokumen dan meletakkannya di depan Alex, "Coba lihat ini dulu."
Alex membuka dokumen itu dan membacanya, lalu berkata, "Harta Karun Kron?"
Roselline berkata: "Ya, jika harta ini ditemukan, maka kekayaannya hampir dapat membeli negara berukuran sedang di dunia. Terutama, di antara harta ini, masih ada harta lain yang nilainya tidak dapat diperkirakan dengan uang. Itu adalah Mutiara Penyembuh yang konon katanya dapat menyembuhkan semua penyakit."
Alex bertanya: "Apa hubungannya denganku?"
Roselline berkata: "Jika ingin membuka harta ini, kita harus memiliki petanya, di atas peta terdapat cara membuka harta karun. Tanpa peta, tidak akan ada seorangpun yang bisa membukanya bahkan jika menemukannya sekalipun."
"Sedangkan, peta ini dibagi menjadi delapan bagian 10 tahun yang lalu dan dibawa pergi oleh delapan orang. Aku perlu kamu mengumpulkan kembali kedelapan bagian peta ini."
Alex bertanya: "Delapan orang ini pasti sulit dihadapi, kan?"
Roselline mengangguk dan berkata, "Peta tahun itu disalin ke belakang 8 lukisan terkenal ini. Peta harta karun akan jadi lengkap dengan mengumpulkan lukisan-lukisan terkenal ini. Aku akan memberitahumu keberadaan delapan lukisan terkenal ini."
Setelah Alex mendengar ini, dia tersenyum tipis: "Komandan Rose, kamu memintaku membantumu mengumpulkan peta, sekaligus menghadapi 4 keluarga ternama di Indonesia, huh?"
Roselline memuji: "Komandan Alex memang cerdas. Benar, empat lukisan pertama jatuh ke tangan empat keluarga ternama. Jika pemerintah membelinya, mereka pasti tidak akan menjualnya. Kita juga tidak bisa memaksa mereka memberikannya. Selain itu, mereka semua dicurigai terlibat dengan dunia bawah. Bantu aku melawan mereka dan mendapatkan kembali peta harta karun itu."
Alex bertanya: "Apa bagusnya untukku?"
Roselline berkata: "Kamu pasti sudah tahu tanpa perlu kukatakan. Kemanapun kamu pergi, kamu pasti akan mendapatkan ketenaran dan keuntungan. Tanpa keempat keluarga ternama ini, tidakkah nantinya dunia bawah akan menjadi milikmu seorang? Bisnis keluarga Buana juga akan semakin meluas di seluruh negeri, dan kamu dapat menghasilkan uang sebanyak yang kamu inginkan."
Alex mengangguk, "Komandan Rose, kalau begitu kita akan mulai bekerja sama hari ini. Aku akan membantumu menemukan peta harta karun itu."
Roselline berkata, "Aku dapat membantumu membasmi semua rintangan secara rahasia."
Setelah makan, Roselline berpamitan dan pergi dengan pesawat.
Alex, Erika, dan Nova juga kembali ke pusat kota.
Alex berkata kepada Nova: "Kapten, kamu masih perlu mengirim lebih banyak polisi untuk menyelidiki penyebab kematian Erwin dan Gery. Aku ingat pisau yang membunuh Putro adalah pisau beracun, dan pisaunya juga sangat aneh. Aku sarankan untuk mulai penyelidikan dari pisau ini dulu untuk menemukan dalangnya."
Nova berkata: "Tenang saja, aku pasti akan menyelidiki kasus ini secara pribadi. Selain itu, Ridwan tidak mungkin akan menyerah begitu saja. Dia kemungkinan akan memikirkan cara lain untuk berurusan dengan kita. Kalian berdua juga harus hati-hati."
Satu hari sebelumnya, berita Alex dan Erika dibawa pergi oleh para tentara segera menimbulkan kegemparan di Jakarta.
Satriya seperti melihat sebuah harapan baru.
Dia segera menemui Riska, "Dek, kamu belum menjalankan rencana kita, kan?"
Riska berkata: "Sebenarnya aku mau memberitahu Erika tentang foto- foto ini 2 hari yang lalu di rumah sakit. Namun, belum ada kesempatan yang cocok."
Satriya berkata: "Kalau begitu jangan dulu. Kamu lihat tidak? Alex dibawa pergi oleh orang dari pihak militer. Dia pasti tidak akan bisa mengatasinya kali ini. Lalu si Erika juga, sebagai perwakilan hukum dari Hotel Emperor dia juga akan terlibat. Siapa suruh si Gery mati di hotelnya."
Riska berkata dengan sedih: "Kok gitu sih, Kak! Tadi memintaku untuk berdekatan dengan Alex, sekarang bilang jangan. A… aku bahkan berencana untuk pergi mengunjungi mereka. Aku punya teman sekelas yang Ayahnya berada di distrik militer, dia seorang letnan kolonel."
Satriya berkata: "Letnan kolonel tidak akan cukup. Dek, jangan mengharapkan Alex lagi. Dia pasti akan masuk penjara kali ini. Yang harus kita lakukan sekarang adalah segera meyakinkan nenek untuk membiarkan aku mengambil alih posisi Erika ..."