
Mereka tidak menyangka Alex akan seganas itu.
Tidak disangka, dia bergegas ke luar menyerang semua orang seorang diri dan hanya memiliki pisau di tangannya.
Wajah Alex terlihat acuh. Tentu saja dia tidak akan menunjukkan belas kasihan. Orang-orang ini sudah berniat membunuh istrinya, jadi mana mungkin dia menahan diri lagi?
Alex langsung menunjukkan kekuatannya. Kecepatannya begitu tinggi hingga musuhnya sama sekali tidak bisa menangkapnya. Dalam sekejap, beberapa orang sudah tergeletak di lantai, bersimbahkan darah dan mereka yang masih hidup juga tidak tahu bagaimana rekan mereka bisa tewas.
Orang-orang bersenjata itu ketakutan dan mulai mundur.
Karena meskipun mereka semua adalah pembunuh, mereka bahkan tidak pernah berpikir untuk bertarung melawan seseorang yang sekuat itu. Misi yang mereka terima hanyalah datang dan membunuh seorang wanita.
Setelah Alex memaksa semua pembunuh mundur, dia pun berjalan ke arah Yandi dan berkata dengan acuh, "Katakanlah, siapa yang menyuruhmu kemari. Aku bisa memberimu sebuah kematian singkat."
Yandi hanya memberikan senyuman tipis. "Apa kamu pikir bisa membuatku memberitahumu tentang tuanku? Kalau mau tahu namaku, aku bisa memberitahumu. Namaku sangat berpengaruh dan bisa dianggap terkenal dalam profesiku."
Alex tahu Yandi ini tidak akan menyebutkan nama tuannya, jadi dia mengangkat pistolnya, "Serius, kamu benar-benar nggak pantas dipanggil Yandi. Yandi yang kukenal berkali-kali lebih kuat darimu."
Setelah mendengar ini, Yandi membelalakkan matanya karena tentu saja dia tahu bahwa ada juga seorang pembunuh di bidang mereka yang bernama Yandi, tetapi Yandi itu berbeda darinya. Yandi itu benar-benar kuat dan merupakan salah satu Empat Raja Dunia dari Gang Beruang Hitam. Tentu saja pembunuh setingkat ini bukanlah seseorang yang bisa dia hubungi.
Akan tetapi, dia terkejut saat Alex bilang dia mengenal Yandi. Harus diketahui orang yang mengenal salah satu Empat Raja Dunia dari Gang Beruang Hitam jelas bukan orang biasa.
Akan tetapi, misi ini sama sekali tidak menyebutkan hal ini.
Dia hanya menatap Alex dengan terkejut. Akan tetapi meski demikian, dia tidak akan pernah menyebutkan nama tuannya. Pada akhirnya, Alex pun menarik pelatuknya.
Peluru itu menembus jantung pemuda itu.
Setelah melakukan semua ini, Alex menarik napas dalam-dalam dan kembali ke dalam kantor. Dia tersenyum setelah melihat Erika yang hanya menunggunya dengan tenang dan memeluknya.
Erika menyandarkan kepalanya di bahu Alex dan berkata, "Kupikir aku benar-benar akan mati, tapi aku sangat senang akhirnya kamu ada di sini."
Alex tersenyum dan berkata, "Tentu saja, istriku ada di sini. Kalau aku nggak datang, aku nggak pantas untuk menjadi seorang suami."
Erika tentu saja sangat senang mendengar ini, jadi dia memeluk Alex dengan erat sambil menatap wajahnya dengan perasaan berkecamuk.
Kemudian, Alex berkata, "Ayo kita pulang, istriku."
Erika menganggukkan kepala. "Iya."
Akan tetapi, dia menghela napas tepat setelah dia melihat karyawan perusahaan ini dan langsung berjalan ke arah mereka. Kemudian, ia mengeluarkan cek yang ditulis dengan sejumlah uang dan menyerahkannya kepada bos perusahaan ini, "Maaf sudah membuat kalian repot. Aku akan mengganti kerugian yang terjadi di sini. Kami akan mengganti semua biaya perawatan bagi mereka yang terluka. Kalau ada masalah, kalian bisa datang mencari kami. Cukup pergi ke PT. Atish dan bilang kalau kalian mencari Erika."
Mereka tidak tahu identitas Erika, tetapi dia jelas bukan orang biasa yang bisa memprovokasi seorang pria bersenjata untuk memburunya. Masih ada banyak mayat di tangga yang semuanya dibunuh oleh Alex.
Hanya saja mereka agak terkejut setelah mendengar nama PT. Atish, karena mereka tahu betapa kuatnya perusahaan ini.
Davin berkata dengan marah, "Beraninya mereka melakukan pembunuhan di depan umum seperti itu. Apakah mereka sudah nggak ingin hidup lagi?"
Alex tahu Davin masih belum beradaptasi dengan sisi gelap dunia semacam ini. Itulah sebabnya dia mengucapkan kata-kata naif seperti itu.
Dia berkata dengan acuh, "Aku nggak akan membiarkan masalah ini berlalu begitu saja. Kali ini kalau bukan karena Ilody yang mengingatkanku, istriku, kamu akan benar-benar dalam bahaya."
Davin dan yang lainnya tentu saja menyadari hal ini dan tahu kalau Alex tidak pergi untuk menyelamatkannya, Erika benar-benar akan dibunuh oleh orang-orang bersenjata itu.
Mereka tahu meskipun Alex sangat kuat, Erika hanyalah orang biasa. Maka dari itu, sangat mudah bagi para pembunuh untuk membunuh Erika.
Alex menarik napas dalam-dalam, mengeluarkan ponselnya dan menelepon Ilody.
Ilody langsung menjawabnya.
Alex bertanya, "Apakah sekarang kamu berada di Provinsi Sulawesi Tenggara?"
Ilody berkata sambil tertawa, "Benar, aku nggak menyangka akan memiliki misi untuk datang kemari. Kebetulan aku tahu seseorang telah memberikan 10 juta kesumba ke dalam organisasi pembunuh bayaran Negara Indonesia hanya untuk membunuh Erika."
Alex berkata, "Terima kasih. Kalau bukan karena peringatanmu, aku benar-benar akan menjadi gila."
Ilody tersenyum dan berkata, "Nggak masalah. Aku nggak ingin Gang Beruang Hitam menjadi organisasi yang paling ditakuti di seluruh dunia lagi."
Yang Ilody ketahui adalah kalau Erika kesayangan Alex tewas, satu-satunya hal yang akan pria itu lakukan adalah kembali ke Gang Beruang Hitam. Segera setelah itu, dia akan membawa kehancuran dengan Gang Beruang Hitam.
Pada saat itu, mereka semua tahu betapa menakutkannya Gang Beruang Hitam.
Organisasi Wind pasti tidak akan berani bertarung melawan puncak Gang Beruang Hitam. Lagi pula, Alex saja sudah cukup menakutkan. Kalau ditambah 4 Raja Dunia, tidak perlu bertarung lagi.
Alex bertanya dengan datar, "Kalau begitu, apa kamu tahu siapa yang sebenarnya melakukan ini?"
Ilody berkata dengan perasaan tidak enak, "Aku nggak tahu tentang itu. Bagaimanapun juga, Organisasi Wind hanyalah sebuah organisasi, tapi bukan organisasi besar yang mengendalikan seluruh organisasi pembunuh Negara Indonesia. Jadi, aku benar-benar nggak bisa menemukan siapa yang melakukannya."
Alex menganggukkan kepalanya. "Baiklah, aku juga nggak akan bertanya lebih jauh lagi, tapi ada satu hal yang aku butuh bantuanmu."
Ilody sudah menebaknya dan berkata, "Sampai jumpa di kafe di bawah Hotel Gana."
Setelah mengakhiri panggilan, dia melihat Andi berjalan dari luar dengan senyum ceria di wajahnya, "Bos, aku telah menghabisi semua pembunuh yang ingin membunuh kakak ipar."
Alex menganggukkan kepala dan berkata, "Selama aku nggak ada di sini, kamu jagalah istriku. Kalau sampai ada sesuatu yang terjadi padanya, aku akan bertanya padamu seorang."
Andi menepuk dadanya dan berkata, "Jangan khawatir, bos. Aku pasti akan melindungi kakak ipar dan nggak akan membiarkan dia dalam bahaya. Kalau ingin menyentuhnya, langkahi mayatku dulu!"
Setelah mendengar sumpah Andi, Alex pun meninggalkan kantor ini dengan lega.