
Ivan juga berharap Alex terbunuh.
Mata Satriya berbinar, dia sangat senang dalam hati, "Kuharap peluru ada di babak ini, Alex, tamat riwayatmu."
Wajah Erika telah dibanjiri oleh air mata, "Alex, kamu tidak boleh melakukannya, aku tidak mau."
Ekspresi Alex sangat tegas, sekali lagi dia mengarahkan pistol ke dirinya sendiri...
Alex menarik pelatuk, dan slot peluru berputar, tetapi belum juga terdengar suara tembakan.
Semua orang yang hadir berkeringat dingin, ungtung saja pistolnya tidak berbunyi, tetapi Riska yang duduk di seberang Alex sudah ketakutan, dan orang berikut yang memainkan permainan itu adalah dia. Sekarang sudah ada tiga orang yang selamat, dengan kata lain, angka kematiannya setinggi 33%.
Ivan mendengus dan berkata, "Kamu sangat beruntung. Selanjutnya, Riska."
Riska menangis ketakutan, "Aku tidak mau."
Ivan berkata dengan marah: "Semua orang bermain, kamu tidak mau? Maka kamu harus mati."
Riska menangis dan memandang Alex, "Kakak ipar, tolong, bisakah kamu menggantikanku juga?"
Keluarga Erika berpikir bahwa permintaan Riska terlalu tidak tahu malu, bagaimanapun sebelum Riska dan Satriya selalu menyulitkan Alex, sekarang saat dalam bahaya, ditambah dengan angka kematian yang begitu tinggi, bagaimana mungkin Alex akan menggantikan dirinya?
Saras segera mengomel: "Riska, kamu benar-benar tidak tahu malu, atas dasar apa Alex harus menggantikanmu?"
Riska menangis: "Aku tidak ingin mati, kakak ipar, tolong aku."
Semua orang mengira Alex pasti tidak akan setuju. Tapi siapa sangka, Alex tersenyum tipis, "Oke. Aku akan menggantikanmu demi panggilanmu itu."
"Ivan, aku akan menggantikan tembakan ini untuk adik iparku, setuju?"
"Aku ..." Baru saja Ivan mengucapkan sepatah kata, sesuatu yang tidak terduga terjadi!
Alex mengangkat tangannya tanpa ragu, kecepatannya terlalu cepat sehingga semua orang hanya mendengar suara tembakan, tapi tidak melihat tembakan Alex.
Dor! Sebuah tembakan mengejutkan semua orang yang hadir, Riska menutup matanya karena terkejut. "Kali ini benar-benar ada peluru. Apa Alex benar-benar mati untukku?"
Bruk! Tubuh Ivan jatuh ke lantai, dan sebutir peluru mengenai bagian tengah keningnya!
Baru saja, sebelum dia sempat mengucapkan setuju, dia sudah ditembak mati oleh Alex. Ivan pasti tidak akan pernah membayangkan bahwa gerakan Alex akan begitu cepat bahkan saat dia tidak dapat menentukan di ronde berapa peluru akan ditembakkan!
Orang-orang yang hadir semakin ketakutan. Jika Alex gagal menembak di ronde ini, maka Ivan akan menembak mati Alex terlebih dahulu, lalu membunuh semua orang yang hadir setelah mengetahui niat Alex.
Seketika suasana menjadi tenang semua orang terbangun dari mimpi buruk, “Nenek, aku juga tidak mati. Ivan sudah mati.” Riska berseru kaget.
Erika memeluk Alex dengan penuh semangat, "Alex, ini terlalu berbahaya!"
Erika mengomel: "Cih! Satriya, jika bukan Alex yang mengambil risiko untuk membunuh Ivan, seluruh keluarga kita pasti akan mati. Apa menurutmu dia hanya ingin bermain-main dengan kita? Tujuannya adalah membunuh seluruh keluarga kita."
Tubuh Lasmi melemas, dia duduk bersandar di kursi, "Alex, kamu sudah menyelamatkan kita semua."
Alex tersenyum tipis, "Nenek, maaf mengagetkanmu. Aku sudah yakin bahwa pelurunya ada di ronde keempat, jadi aku langsung menembaknya."
Satriya mencibir: "Kamu hanya beruntung."
Alex berkata, "Anggap saja aku hanya beruntung. Setidaknya aku tidak akan pernah menembak kerabatku!"
Satriya malu dengan apa yang dikatakan Alex, dia melirik Lasmi diam-diam. Setelah kejadian tadi, Lasmi masih agak linglung. Sekarang dia sudah kembali tenang, dia melihat mayat Ivan dan berkata, "Huh, bajingan! Dia benar-benar cari mati. Erika, cepat panggil polisi."
"Ferdi, cepatlah selamatkan Bibi Erni dan dua orang lainnya," kata Lasmi.
Lasmi memiliki 1 koki dan 2 pelayan di sisinya, ketiganya adalah orang kepercayaan keluarga Buana. Ketika Ivan datang tadi, dia telah mengendalikan mereka bertiga dan mengikat mereka di dapur. Kemudian membawa Lasmi ke ruang makan.
Setelah menyelamatkan mereka bertiga, wajah Lasmi menjadi muram. Dia memandang semua orang yang hadir dan tiba-tiba berkata: "Hari ini, aku ingin melakukan penyesuaian pada staf perusahaan. Satriya tidak lagi menjabat sebagai General Manajer, posisi ini akan diambil alih oleh Alex! "
Perkataan Lasmi ini membuat Satriya mematung, "Nenek, apa kamu tidak salah? Atas dasar apa posisiku dicabut?"
Lasmi berkata dengan dingin: "Satriya! Kamu adalah cucu kandung nenek. Aku sangat menyayangimu dan paling menyukaimu. Kamu baru dua puluhan tahun, dan aku membiarkanmu mengambil alih kekuasaan keluarga. Namun, hari ini kamu sangat mengecewakanku."
Satriya segera mengerti, nenek masih tidak terima bahwa dia akan menembaknya. "Nenek, situasinya mendesak pada saat itu, jadi aku harus melakukannya. Anda tahu sendiri, jika aku tidak menembakmu, Ivan akan membunuhku. "
Lasmi berkata, "Kalau begitu kamu harus lihat baik-baik apa yang Alex lakukan pada saat kritis. Jangankan aku, dia saja tidak tega pada adikmu. Tanpa hati yang baik, bagaimana bisa kamu membuat pencapaian besar di masa depan? Meskipun aku agak kejam, tapi aku tidak akan pernah melakukan apa pun yang akan membahayakan keluarga."
“Nenek, aku tahu aku salah, maafkan aku, beri aku kesempatan lagi.” Satriya berlutut.
Lasmi berkata dengan wajah datar: "Aku sudah memutuskannya, jadi tidak perlu meminta belas kasihan lagi. Jika kamu tidak menurutinya, maka kamu tidak akan punya penghasilan bulanan mulai sekarang."
Satriya berkata: "Nenek, bahkan jika Anda mencabut jabatanku, Anda juga tidak boleh memberikan posisi yang begitu penting kepada orang luar, kan? Aku tidak terima jika diserahkan pada Alex."
Lasmi berkata: "Kalian semua telah melihat tindakan Alex hari ini. Siapa di antara kalain yang masih berpikir dia orang luar?"
Mereka yang hadir terdiam mendengar kata Lasmi.
Alex malah berkata, "Nenek. Aku bahkan tidak lulus SMA, jadi aku benar-benar tidak memenuhi syarat untuk menjadi General Manager. Begini saja, Erika adalah lulusan ekonomi dan manajemen, dan juga cucumu. Jika Anda percaya padanya, maka serahkan saja posisi itu kepadanya. Aku pasti akan membantunya. "
Lasmi mengangguk puas, "Oke. Erika, mulai hari ini, kamu adalah General Manager Buana Group. Aku benar-benar berharap kamu dapat membangun perusahaan ini secepat mungkin, dengan begitu nenek bisa pensiun lebih awal dan menikmati masa tua."
Erika tidak lagi bisa menolak detik ini, sedangkan Saras juga diam-diam mencubit pahanya yang mana bermaksud meminta putrinya untuk segera setuju. Erika berdiri, "Nek, aku tidak akan mengecewakanmu."