Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Bab 556 Menyelinap Diam-diam


“Bisa-bisanya ingin melawanku di kondisi begini. Apa sih yang kamu pikirkan?” Alex merasa bingung.


Farraz jelas-jelas tahu kemampuannya, tapi masih saja menyuruh para preman membantunya. Meskipun jumlah preman ini sangat banyak, juga tidak bisa mengalahkannya.


Dari alun-alun sampai masuk ke dalam pabrik mobil, sampai saat ini, Farraz masih belum menemukan Alex.


Alex diam-diam naik ke atap pabrik mobil, lalu pelan-pelan berjalan ke depan. Pada akhirnya, bertemu dengan Geya dan Farraz.


Saat ini, Farraz sangat marah. “Kalian benar-benar tak berguna, bisa-bisanya nggak bisa menemukannya. Ngapain aku mempekerjakan kalian?”


Para preman itu hanya menunduk. Mereka juga tidak ingin begini, tapi mereka sampai sekarang belum menemukan Alex, seolah-olah Alex itu hilang.


Bocah yang menjaga di depan pintu bilang, tadi Alex ada di depan, tapi dia menghilang dalam seketika. Jadi, mereka bisa memastikan kalau Alex pernah datang ke tempat ini.


Tapi, mereka tidak tahu posisi pastinya di mana.


Mereka sangat takut, karena tidak bisa melihat keberadaan musuh.


Saat ini, Farraz mengamati sekeliling, sama sekali tidak tahu di mana Alex, juga takut Alex langsung menembaknya secara diam-diam.


“Cepat cari dia, selain itu, perintahkan lebih banyak orang lagi untuk menjaga tempat ini dan juga memeriksa setiap sudut pabrik ini. Tujuan dia datang ke sini untuk menyelamatkan Geya. Sekarang Geya ada di tangan kita, jadi dia pasti akan datang!” kata Farraz dengan yakin.


Preman lainnya berkumpul di dalam pabrik, bahkan ada orang yang mulai masuk ke dalam pabrik untuk patroli.


Hanya tersisa sedikit preman di luar untuk mencari Alex.


Tapi mereka tidak tahu, kalau Alex sedang menatap para preman itu dari atas atap.


“97 orang, tampaknya kali ini Farraz memanggil 150 hingga 160 orang kemari. Di luar pasti ada sepertiga, sedangkan di dalam ada dua pertiga. Farraz benar-benar takut mati, meskipun gelagatnya sekarang sudah seperti orang yang mencari mati.” Alex menghela napas.


Dia tidak mengerti apa yang mau dilakukan Farraz ini, jelas-jelas takut mati, tapi masih saja berkelakuan seperti ini dan menyinggung Alex. Meskipun sudah memukulnya sekali, juga tidak bisa menghentikannya untuk berulah kembali.


Alex pelan-pelan memutar ke belakang, kemudian turun dari atas, lalu bersembunyi di belakang kotak besi dan pelan-pelan mendekati Geya.


Saat ini, Farraz melirik sekitar, tapi tidak dapat melihat Alex yang diam-diam maju ke depan.


Bahkan tidak tahu kalau jarak Alex dengannya hanya lima meter saja.


Kalau ingin membunuhnya, Alex hanya perlu turun tangan padanya.


Hanya saja, Alex tahu misi dia kali ini adalah menyelamatkan Geya, juga memastikan keselamatan Geya, baru bisa menghabiskan para musuh itu.


Setelah datang ke belakang Geya, Alex baru menyadari sepasang tangan Geya diborgol. Alex mengambil kawat besi dari lantai, tapi dia tahu akan mengeluarkan suara kalau dia membuka borgol Geya saat ini.


Dengan begitu, Farraz akan tahu keberadaannya, jadi dia harus memikirkan satu cara.


Kalau Farraz duluan yang tahu gerakannya sebelum dia sempat membuka borgol Geya, lawan pasti akan membunuh Geya dulu, karena Geya adalah sasaran yang mudah untuk dibunuh.


Tubuh Geya bergetar, tapi dia tidak mengeluarkan suara, karena dia tahu orang yang bisa datang di saat ini serta menyentuhnya adalah Alex.


Dalam hatinya, ia menghela napas, namun kepalanya terasa semakin berat.


Geya mengira dirinya akan mati di sini, tapi dia terus memaksakan diri untuk tetap sadar karena tidak ingin Farraz berhasil. Alhasil, usahanya membuahkan hasil sekarang.


Alex sudah datang, dia pasti bisa tertolong.


Setelah menggunakan baju untuk membungkus borgol, borgol yang dibuka pun tidak mengeluarkan suara apa-apa. Sementara Farraz sedang memberi perintah pada para preman itu.


Setelah dia teringat dengan Geya, dia baru menoleh, tapi Geya sudah tidak ada di sana.


Dia berteriak, “Apa yang terjadi? Di mana dia? Di mana Geya si jalang itu?”


Preman lain tentu saja tidak melihatnya, karena mereka yang dimarahi Farraz terus menundukkan kepala, jadi bagaimana bisa mereka tahu ke mana Geya pergi.


Sekarang mereka hanya ingin tahu bagaimana cara menghentikan amarah Farraz.


Farraz meraung dengan keras, “Kalian memang tak berguna! Sandera saja sudah hilang! Cepat cari mereka!!!”


Seketika semua preman keluar, mereka menyebar dengan cepat untuk mencari Geya, tapi mereka tidak tahu kalau Geya tidak pergi, hanya disembunyikan di balik rak besi oleh Alex.


Alex mengerutkan kening. Ketika melihat tatapan lemas Geya yang hampir pingsan, dia pun tahu kalau membiarkan Geya terus di sini, Geya pasti akan mati. Jadi, hal paling penting sekarang adalah mengantar Geya ke rumah sakit, bukan membunuh Farraz.


‘Mobil ada di depan, kalau sekarang menerobos ke depan, pasti akan dikepung oleh preman. Meskipun membunuh mereka, juga perlu waktu yang lama, sedangkan kondisi Geya sekarang nggak bisa menunggu waktu lama,’ pikir Alex. Lalu, dia menggendong Geya dan segera berlari ke pintu belakang.


Pintu di depan pasti sudah dijaga banyak orang, jadi peluang untuk keluar hanya bisa dari pintu belakang.


Crit!


Meskipun Alex tidak ingin mengeluarkan suara, tapi pintu yang sudah berkarat ini mengeluarkan suara gesekan ketika dibuka.


Kali ini, Farraz sudah mendengar suara itu, jadi di waktu pertama langsung memerintahkan anak buahnya, “Mereka ada di sana, cepat kejar mereka!”


Semua preman pun mengejar ke arah Alex, tapi kecepatan Alex sangat cepat dan dirinya juga jauh dengan mereka. Harus diketahui juga kalau Alex masih menggendong satu orang.


“Geya, kamu harus bertahan, sekarang aku akan membawamu ke rumah sakit, kamu nggak boleh mati di perjalanan!” Setelah Alex menerobos keluar dari pintu belakang, dia pun melihat di sekitaran pintu belakang sudah dikepung.


Alex mencari tempat untuk bersembunyi. Saat ini Farraz tertawa keras sambil berjalan keluar, “Alex, apa kamu kira aku nggak melakukan persiapan apa pun? Kali ini kamu salah, aku sudah mengundang begitu banyak pembunuh, hanya untuk membunuhmu! Sekarang, kamu nggak bisa kabur dari tempat ini lagi!”


Alex hanya berkata dengan tenang, “Bukalah jalan untuk kami, dengan begitu aku akan membiarkanmu hidup.”


Farraz malah tertawa. “Lelucon apa itu? Membiarkanku hidup? Sekarang aku memberimu satu kesempatan, patahkan kaki dan tanganmu sendiri, dengan begitu aku akan membiarkanmu hidup!”