Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Aku yang Menembaknya


“Oh? Di mana Alex tinggal? Aku akan segera melenyapkannya!” Ketika Stevanus mendengar hal ini, dia menjadi antusias, “Sekarang aku sangat kesal, jadi bisa menggunakan Alex itu sebagai pelampiasan amarahku!”


“Tunggu!” Richard segera menghentikannya, “Jangan buru-buru, kita nggak usah buru-buru membasmi Alex. Dia  mendirikan sebuah perusahaan di kota Tomohon, juga merupakan cabang dari PT. Atish. Sekarang perusahaan mereka sedang berebut penawaran jalan tol dengan kami. Tapi dengan kemampuan mereka yang nggak stabil, aku merasa mereka pasti akan kalah dalam penawaran ini.”


Stevanus mengangguk, “Iya Ayah. Kedatanganku kali ini bertemu dengan dua musuh hebat, jadi aku harus membantumu memusnahkan mereka.”


Richard mengangguk, “Baik! Nggak boleh membiarkan satu pun dari mereka hidup! Haha, Stevanus, ayo kita rayakan pesta kemenangan peperangan kali ini!”


Stevanus berkata, “Ayah, teman-temanku biasanya nggak minum bir karena harus mempertahankan sikap sadar untuk melakukan peperangan.”


“Oh, nggak masalah kalau nggak minum bir, tapi kita bisa makan sepuasnya! Haha!” Richard sangat senang sehingga membiarkan dapur menyiapkan makan malam lezat.


Setelah makan, Stevanus mengumpulkan saudara-saudaranya, “Apa kalian sudah kenyang?”


“Letnan Stevanus, makanan ini sangat lezat! Kami sangat kenyang!”


Stevanus tertawa, “Apakah ada yang ingin meregangkan tubuh?”


“Ada! Tentu saja ada!” Srsh! Semua orang segera berdiri.


Stevanus melirik mereka semua, “Bob, Carl, kalian berdua pergi ke cabang PT. Atish untuk memberi peringatan pada Alex.”


“Wah! Baik!” Bob dan Carl sangat senang ketika diberi misi.


Rafatar mengirim seorang supir untuk mengantar Bob dan Carl.


Ini sudah tengah malam, jadi sebagian besar orang di cabang PT. Atish telah tidur nyenyak, sedangkan Bob dan Carl nggak langsung menerobos ke dalam, melainkan menyiapkan senjata penembak jitu di seberang gedung.


“Carl, apa kamu sudah melihat jendela ketiga di sisi timur lantai satu masih menyala lampu? Bagaimana kalau kita bersaing untuk melihat siapa yang berhasil menembak orang di dalam?”


“Bob, kemampuan menembakmu nggak sebaik aku, jadi nggak usah bersaing lagi, karena aku akan menang!”


“Baiklah, jika menembak satpam di luar, maka nggak bisa menunjukkan kemampuan kita. Jadi kita harus menembak orang yang di dalam kamar.”


“Ok! Kalau begitu kita sepakat seperti ini!”


Dor dor! Meskipun itu dua suara tembakan, tapi jarak antara dua tembakan itu sangat kecil, jadi seperti satu tembakan.


Sebenarnya ada satpam yang sedang bertugas di ruang yang lampunya menyala itu dan satpam itu jatuh ke tanah setelah ditembak sekali!


“Wow! Menang!”


“Masih ada bayangan yang bergerak di dalam ruangan! Ayo lanjutkan!”


“Baik!”


Setelah satpam jatuh, Martin yang tertidur di seberang tiba-tiba terbangun, juga segera berlari ke sana. Untungnya dia membungkuk untuk memapahnya, jadi Bob dan Carl nggak bisa menemukan kesempatan untuk menembaknya.


“Robin, kenapa kamu? Apa ada penyakit?” Martin segera ke sana, lalu melihat sekujur tubuh Robin penuh darah. Dia pun merasa kaget! Penembak?! Siapa yang melakukannya?!


Dia melihat ke arah jendela, lalu dia memperhatikan kalau ada lubang peluru di jendela! Dulunya Martin pernah menjadi prajurit, jadi dia pun mengerti apa yang terjadi.


Tapi, siapa yang begitu sombong?


Dia nggak sempat menebak lagi, karena reaksi pertamanya adalah menelepon Alex, “Tuan Alex, gawat sekali! Di tempatku terjadi masalah penembakan! Cepat!”


“Apa? Di mana kamu? Katakan dengan jelas!” Alex juga terkejut ketika mendengar insiden penembakan. Mungkinkah orang Dakson? Richard seharusnya nggak memiliki senjata api.


“Aku berada di sisi timur lantai pertama, ruang ketiga…” Martin benar-benar ketakutan, jika saat ini dia muncul di jendela atau melakukan gerakan lain, mungkin akan ditembak oleh musuh!


“Baiklah, kamu tunggu di sana, aku akan segera datang!” jawab Alex dengan sederhana.


Waktu sepuluh menit sangat panjang bagi Martin, sedangkan Alex segera naik lift dan ini sudah menggunakan kecepatan tercepat!


Alex nggak sempat memakai baju, tapi dia sambil jalan sambil memakai baju dan segera tiba di sana.


“Apa? Tuan Alex, hati-hati!” Martin menyusut di sudut meja sambil memeluk saudara yang berlumuran darah, “Tuan Alex, dia memang tertembak!”


Sosok Alex melintas, lalu datang ke sisi mereka, tetapi pada saat yang sama Alex menggunakan persepsi supernya untuk melihat jelas lubang peluru di jendela!


“Bagian mana yang tertembak?” kata Alex dengan santai.


“Um, sepertinya bagian tulang rusuk tertembak.” Martin nggak tahu begitu jelas.


Alex menarik pria itu, lalu melihat lukanya, “Pantatnya tertembak! Bocah ini sungguh beruntung, jadi nggak akan mati! Martin segera mencari cara untuk menghentikan darahnya! Mengerti gak?”


“Apa? Iya!” Martin memang ketakutan, dia hanya melihat temannya berlumuran darah dan dia nggak ada waktu untuk memeriksa di mana bagian temannya tertembak.


Martin pun merasa tenang setelah mendengar pantatnya tertembak.


Dia segera mencari kotak P3K untuk mencoba menghentikan pendarahan satpam ini.


“Tuan Alex, kamu…” Martin melirik Alex, lalu melihat mata Alex melihat ke arah jendela dan berjalan keluar.


Alex berkata, “Aku ingin mencari penembak jitu musuh.”


“Penembak jitu? Bisa-bisanya yang menembak adalah penembak jitu?” Keringat dingin di dahi Martin terus mengalir.


“Kalau gak? Apa kamu kira penembak biasa bisa menembus kaca khusus kita?” Suara Alex masih bergema dalam kamar, tapi pintu kamar sudah tertutup!


Bang! Martin segera melakukan penyelamatan setelah mendengar suara pintu tertutup.


“Tadi, aku yang menembaknya!”


“Salah, sebenarnya aku yang menembaknya!”


“Bob, kamu nggak masuk akal!”


“Carl, memang aku yang menembaknya!”


“Kalau kamu hebat, maka tembak sekali lagi.”


“Sialan. Nggak bisakah kamu yang menembaknya?”


Mereka berdua yang bertengkar sudah lupa bahwa mereka masih berada dalam bahaya!


Awalnya ingin membuat masalah untuk lawan, tapi Bob dan Carl segera menyadari kalau nggak ada bayangan yang bergerak di kamar lawan lagi.


Ternyata, selain menghentikan pendarahan temannya, Martin pun menyuruh semua satpam untuk segera kembali ke dalam gedung dan nggak boleh beraktivitas di luar!


Pada saat yang sama, dia menarik alarm dalam gedung untuk semua orang harus waspada, juga nggak boleh keluar dan mendekati jendela!


Bagaimanapun juga, Martin sudah melakukan semuanya dengan baik.


Sedangkan Alex diam-diam menyelinap keluar dari gedung, lalu mengikuti pipa air berjalan ke belakang gedung, kemudian menggunakan kecepatan tercepat menuju posisi penembak jitu yang dipersepsikannya!


“Sialan! Apa nggak berani muncul lagi setelah menembak luka seorang? Carl, apa kamu menemukan target baru?”


“Bob, target baru apa? Lihat gedung itu nggak menyalakan lampu lagi.”


“Carl, bagaimana kalau sekarang kita mulai membunuh satpam di luar?”


“Baik! Tapi… kok satpam di luar juga hilang?”


“Bob! Aku merasa situasi ini sangat aneh! Sepertinya lawan sudah mengetahui keberadaan kita!”


“Carl, wajar saja mereka tahu! Tapi, bisakah mereka menemukan kita? Kamu pikir mereka adalah Dewa Perang?!”