Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Bab 616 Kota Kecil Yang Dipesan Orang Kaya


Alex dan Roselline langsung menaiki gunung, lalu turun. Dengan begitu, akhirnya mereka tiba di kota Tomohon di pinggiran Provinsi Sulawesi Tenggara.


Alex tiba-tiba teringat sesuatu dan mengeluarkan ponselnya, kemudian menelepon Davin dan menjelaskan apa yang harus dia lakukan malam ini.


Begitu memasuki kota, barulah dia menemukan meskipun itu adalah kota kecil, kemakmurannya luar biasa. Seluruh jalan penuh dengan lampu dan tanaman hijau. Mobil-mobil mewah diparkir di berbagai tempat.


Alex juga telah melihat mobil sport edisi terbatas di sana.


"Seharusnya kota ini nggak dianggap sebagai kota kecil, 'kan?" Alex menatap Roselline dengan penasaran.


Roselline menggelengkan kepalanya dan berkata, "Ini awalnya adalah kota kecil, tapi kemudian sekelompok tuan muda dari Provinsi Sulawesi Tenggara datang ke kota ini, kemudian menemukan jalan di kota yang sangat cocok untuk mobil balap. Kota ini pun sering dikunjungi orang untuk balapan mobil dan para pengusaha yang melihat peluang bisnis datang ke kota ini untuk berbisnis."


Setelah Roselline menjelaskan, Alex menyadari beginilah keadaan kota kecil ini.


Itu berarti kota kecil ini telah diubah oleh orang-orang kaya.


Alex merasa penasaran dan bertanya, "Bagaimana dengan para penduduk itu?"


Roselline tersenyum dan berkata, "Inilah poin yang lebih serius. Kamu tahu, anak-anak muda ini memang orang kaya. Beberapa penduduk desa yang nggak ingin tinggal di tempat ini langsung diberi satu set rumah, sehingga mereka bisa pergi dan tinggal di dalam kota."


Alex terdiam selama beberapa saat. Anak-anak orang kaya ini benar-benar berani melakukan apa saja.


Roselline berkata dengan datar, "Karena itulah sekarang malam hari kota ini akan sangat ramai, tapi siang harinya sepi. Kendati demikian, akan sangat menguntungkan kalau bisa membuka beberapa toko atau semacamnya di tempat ini. Bagaimanapun juga, orang-orang yang datang ke sini untuk bermain nggak kekurangan uang. Nggak masalah kalau kamu menjual sebotol air mineral seharga 40 ribu."


Alex tertawa setelah mendengar itu. "Karena kamu bilang seperti itu, aku jadi ingin membuka toko sendiri. Begitu bagus untuk menghasilkan uang."


Roselline memutar bola matanya. Seorang direktur PT. Atish yang membanggakan ingin datang ke sini untuk membuka toko kecil? Siapa yang akan percaya pada kata-kata seperti itu?


"Tapi apakah kamu menemukan jejak keberadaan Stevan?" Roselline bertanya dengan rasa ingin tahu.


Alex melihat sekeliling. "Untuk saat ini belum. Kita harus terus mencari. Anak-anak muda di sini nggak begitu saling mengenal. Dengan begitu banyak tim, kurasa mereka nggak akan tahu kalau ada orang asing yang ikut serta."


Roselline menganggukkan kepalanya dan berkata, "Iya, ini membuat kita lebih sulit menemukan Stevan."


Alex berkata tanpa daya, "Wajar saja kalau kita nggak bisa menemukannya, tapi jangan khawatir. Aku akan melakukan yang terbaik untuk menemukannya."


Roselline tersenyum. "Aku percaya padamu."


Pada saat ini sebagian jalan di kota ini langsung dibersihkan. Ada empat atau lima mobil yang berdampingan dan terdengar suara mesin yang sangat jelas dan tajam.


Masing-masing mobil sport ini harganya tidak kurang dari 4 miliar rupiah dan dimainkan oleh anak muda yang suka mobil sport.


Ratusan orang berdiri di kedua sisi jalan sambil terus berteriak. Pemandangan malam hari seolah merangsang energi mereka dan membuat darah mereka mendidih.


Masih ada pria dan wanita yang berpelukan dan berciuman.


Hal semacam ini membuat Alex mendecakkan lidah, sementara Roselline tetap bersikap acuh. "Apakah kamu nggak melihat pemandangan seperti ini di luar negeri?"


Alex tersenyum dan berkata, "Tentu saja pernah. Aku telah melihat lebih banyak kekacauan, tapi ini pertama kalinya aku melihat ini di Negara Indonesia. Aku pun penasaran. Mungkinkah sekarang Negara Indonesia perlahan menjadi internasional sampai keterbukaan pikiran seperti ini juga menyebar?"


Roselline hanya berjalan maju dengan acuh, tetapi pada saat ini, seorang pria menghentikan langkah Roselline.


"Cantik, mau minum nggak?" Yosen bertanya sambil tersenyum.


Dia sudah menunjukkan ekspresi penolakan, tetapi masih ada orang yang tidak takut mati untuk mendekat dan berbicara dengannya.


Roselline paling kesal dengan orang-orang ini.


Yosen dengan sengaja menggelengkan kepalanya sehingga rambutnya beterbangan. "Kamu bisa minum di mobilku."


Dia menunjuk ke sebuah Lamborghini yang tidak jauh dari situ. Kedua Lamborghini berwarna jingga ini harganya sekitar 26 miliar.


Alex berdiri di samping dan menonton dengan penuh minat. Bagaimanapun juga, dia tahu sekarang situasinya sangat rumit. Mungkin Roselline bisa menahan amarahnya demi menangkap Stevan.


Orang-orang di sekitar yang mengenal Yosen mulai mencemooh dan seorang pria muda berteriak, "Yosen, kamu hebat juga bisa langsung mendapatkan gadis secantik itu."


Yosen berkata dengan bangga, "Cantik, 'kan? Penglihatanku ini nggak pernah salah."


Dahi Roselline berkerut. Dia sangat marah, tetapi Yosen sama sekali tidak menyadarinya. Alex berjalan dan berkata sambil tersenyum, "Sekarang kita di sini untuk mencari Stevan. Kalau kamu mengacau, kita nggak akan bisa menangkapnya."


Roselline menarik napas dalam-dalam setelah mendengar ucapan Alex, kemudian melihat sekeliling dan menyadari kalau semua orang sedang melihat ke arahnya.


Akhirnya dia pun mengulurkan tangannya dan meraih lengan Yosen.


Semua orang agak penasaran dengan apa yang ingin Roselline lakukan, tetapi apa yang terjadi selanjutnya menyebabkan keheningan sejenak di tempat.


Tiba-tiba melakukan gerakan banting!


Benar-benar gerakan bantingan yang tepat!


Roselline menjatuhkan Yosen ke tanah. Pria itu sama sekali tidak menduga Roselline akan melakukan itu. Wajahnya terlihat kesakitan dan kebingungan.


Roselline berkata dengan datar, "Ingin merayuku? Bisakah kamu mengalahkanku?"


Semua orang di sekitar langsung bersorak. Mereka sama sekali tidak menyangka Roselline akan melakukan ini.


Yosen tercengang. Tetapi setelah mendengar ini, dia melompat dari tanah dan menunjuk ke arah Roselline sambil berkata, "Tadi aku belum siap. Kalau nggak, apa menurutmu kamu bisa lolos begitu saja?"


Roselline melambaikan tangan ke arah Yosen dan semua orang bersorak lebih keras lagi. Yosen pun tidak punya pilihan selain menerjang ke depan.


Sementara itu, Alex mengamati sekelilingnya. Penyamaran Stevan benar-benar mulus, tetapi Alex tidak pernah menggunakan matanya untuk menemukan Stevan.


Dia menggunakan indra perasanya.


Alex tahu kalau dia menggunakan matanya untuk mencari Stevan yang menyamar, dia tidak akan bisa menemukannya. Lagi pula, penyamaran orang itu telah mencapai titik di mana dia bisa mengacaukan yang asli.


Setelah berada di arena internasional, Stevan telah mencoba menyamar sebagai pemimpin negara, mengadakan konferensi nasional secara rahasia dan meninggalkan negara itu setelah menyelesaikan misinya.


Semua orang tidak tahu kalau pemimpin negara itu adalah Stevan yang sedang menyamar.


Hal ini cukup untuk menunjukkan kalau teknik penyamaran Stevan sedemikian rupa, sehingga orang yang sangat dekat dengan orang yang terlibat tidak bisa mengenalinya.


Dalam keadaan seperti itu, sama sekali tidak ada cara bagi Alex untuk mengenalinya kalau hanya mengandalkan matanya saja.


Kalau hanya mengandalkan inderanya juga sangat sulit. Lagi pula, dia juga tahu dia dan Stevan sudah tidak pernah berhubungan selama beberapa tahun.