
Mendengar itu, Robert langsung bengong karena tidak paham mengapa direktur memarahinya.
Dia bertindak mengikuti peraturan yang ada. Alex memang memukul orang lain dan mereka semua telah melihatnya dengan mata sendiri.
Jadi dia bergegas menjelaskan, “Pak Max, jadi begini. Alex Gunawan diduga mencederai orang lain. Dua korban yang dipukulinya bahkan sudah berbaring di rumah sakit.”
Ekspresi Max tampak jengkel. Tadi saat sedang rapat, tiba-tiba dia mendapat panggilan telepon dari petinggi yang memanggil namanya. Dia kira ada apa.
Namun, petinggi langsung mencaci maki dia bahwa bawahannya telah menangkap anggota Biro Red Shield dan hendak diinterogasi.
Max tercengang, sama sekali tidak tahu dirinya dimarahi karena masalah apa. Namun, dia tahu kesalahan itu ada pada bawahannya. Jadi hal terpenting saat ini adalah pulang untuk melihat situasinya.
Rapat ditunda untuk sementara waktu karena dia tahu masalah anggota Biro Red Shield lebih penting.
“Diduga apa? Kamu hanya menambahkan masalah untukku. Kenapa polisi senior sepertimu bisa melakukan kesalahan semacam ini? Kamu bahkan tidak mengenal rekanmu sendiri dan menangkapnya!” maki Max sambil menyangga tangannya di pinggang. Dia benar-benar tidak mengerti mengapa anggota Biro Red Shield bisa ditangkap oleh bawahannya.
Bukankah bisa menunjukkan kartu identitasnya sendiri?
Max menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Dia bertanya dengan kesal, “Di mana kamu kurung rekan dari Biro Red Shield yang kamu tangkap itu?”
Robert tampak penasaran, tapi dia tetap membawa Max berjalan ke dalam.
Sesampainya di depan pintu penjara, dia berdehem saat melihat Amel sedang berbincang dengan Alex.
Amel bergegas berdiri. Melihat itu adalah Max, dia memberi hormat padanya dan menjelaskan, “Pak Max, aku sedang mendengar pengakuan mereka, sama sekali nggak memihak.”
Saat ini Max tidak sempat memikirkan banyak hal, dia hanya ingin tahu apakah Alex tersinggung.
Melihat Alex bangkit berdiri dengan tenang, akhirnya dia tersenyum. “Rekan dari Biro Red Shield ya? Benar-benar maaf sekali. Kami nggak tahu identitas aslimu sehingga terjadi salah paham begini. Maaf sekali.”
Alex berkata acuh tak acuh, “Ini nggak apa-apa, tapi ada kasus yang harus aku selidiki sendiri. Aku sangat marah karena kalian membuang-buang waktuku dengan seperti ini.”
Max menoleh pada Robert dan berkata dengan tegas, “Kenapa bengong saja? Cepat buka pintunya! Memangnya kamu bisa bertanggung jawab kalau menunda misi rekan dari Biro Red Shield?”
Mata Robert membelalak. Tak terpikir olehnya akan terjadi perubahan situasi dalam waktu yang begitu cepat. Sebelum dia sempat bereaksi, Alex sudah menjadi rekan dari Biro Red Shield dan tampaknya memiliki kedudukan yang sangat tinggi.
Kalau tidak, direktur tidak akan berekspresi dan bertindak seperti ini, bahkan meninggalkan rapat untuk melepaskan Alex.
Ini dapat mencerminkan kedudukan Biro Red Shield di dalam negeri.
Tanpa perlu diperintah oleh Max, dengan patuh Robert maju dan membuka pintu penjara untuk membiarkan Friska keluar.
Max menatap Alex sambil tersenyum. Alex juga tersenyum. “Oke, benar-benar sangat berterima kasih Bapak bisa datang untuk melepaskan kami. Aku kira kami akan dikurung sampai besok pagi.”
Max buru-buru berkata dengan wajah senyum, “Bagaimana mungkin? Kami memang salah karena sudah mengurung kalian. Kalau masih membuang-buang waktu kalian, itu adalah kelalaian dari kepolisian kami.”
Alex mengangguk. “Kalau nggak ada hal lain, aku pulang dulu. Masih ada banyak tugas yang harus kukerjakan.”
Max memimpin Alex dan yang lainnya berjalan keluar.
Sesampainya di depan pintu, Alex menoleh pada Amel yang berdiri di baris belakang. “Ayo jalan, kenapa bengong saja? Aku traktir kamu makan.”
Amel tidak menyangka Alex akan mengajaknya. Dia tetap tidak dapat menerima kenyataan bahwa Alex adalah anggota Biro Red Shield.
Itu adalah suatu hal yang sangat terhormat. Hanya orang hebat yang sangat setia pada Negara Indonesia yang dapat bergabung dalam Biro Red Shield. Namun, tidak peduli dilihat bagaimanapun Alex tidak tampak seperti orang yang setia kepada Negara Indonesia.
Sekarang Alex mengajaknya, dia tentu berjalan menghampirinya dengan gembira.
Dengan wajah muram Robert melihat mereka bertiga pergi, tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Lalu dia menoleh pada Max. “Pak Max, aku tetap nggak mengerti. Benarkah Alex adalah anggota Biro Red Shield? Kenapa kelihatannya nggak mirip menurutku?”
Max berkata dengan jengkel, “Memangnya harus mirip seperti apa menurutmu? Dasar bodoh. Kelak kamu jangan ikut campur dalam masalah Alex. Pada umumnya, kita nggak dapat ikut campur dalam misi Biro Red Shield.”
Robert merasa tidak berdaya. “Dia memang telah mencederai orang lain di PT. Zrank. Ini jelas adalah pelanggaran hukum. Kita juga tidak boleh ikut campur?”
Max sedikit emosi. “Kamu ini bodoh ya? Dia mencederai orang lain, tapi kamu tidak memikirkan perusahaan seperti apa PT. Zrank itu? Dari pengawalnya, siapa yang nggak punya catatan kriminal?”
Max benar-benar tidak tahu dari siapa Robert belajar jadi bodoh seperti ini. Sudah tahu kalau masalah yang terkait dengan PT. Zrank akan sangat sulit ditangani, tapi Robert masih saja ikut campur.
Kalau bukan karena dia sangat mengenal sifat Robert, dia bahkan curiga apakah kali ini Robert disogok oleh PT. Zrank.
Jika tidak, mengapa Robert selalu membantu PT. Zrank?
Robert keras kepala. “Itu adalah dua hal yang berbeda. Meskipun mereka punya catatan kriminal, mungkin mereka sudah bertobat dan ingin menjadi orang baik.”
Max melambaikan tangannya. “Aku nggak mau berbicara panjang lebar denganmu. Kamu pikir sendiri saja. Seberapa banyak yang kukatakan juga nggak ada gunanya. Apa kamu nggak paham apa tujuan Biro Red Shield mengutus anggotanya ke sini? Mengapa Alex nggak mengganggu perusahaan lain dan hanya mengganggu PT. Zrank? Apa sudah kamu pikirkan?”
Robert terbengong, lalu dia menatap Max dengan kaget. Ada banyak hal yang terselubung dalam masalah ini.