Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Menekan Orang Dengan Kekuasaan


“Mana pengawal di luar?” ujar Astrid sembari memakai selimut, dia seolah-olah mendapatkan sedikit rasa aman, tapi dia tidak tahu siapa Alex, hanya  saja Astrid merasa kalau dia akan sungguh-sungguh menembak dengan pistol di tangannya, jadi dia tidak berani berteriak.


Alex menatapnya dengan tajam, “Jangan banyak bicara! Cepat telpon Larry!”


Sebuah ide muncul di benak Astrid saat melihat moncong pistol yang sudah diarahkan padanya, dia tiba-tiba melepaskan selimut dan berkata, “Kak, Pamanku sangat hebat, kamu harus hati-hati kalau menghadapinya.”


Alex seketika menurunkan pistolnya, lalu maju dan menampar Astrid, “Cepat telpon! Aku ngak tertarik padamu!”


“Hah?” Astrid awalnya ingin menggunakan kecantikannya untuk menenangkan Alex sementara waktu, dia juga ingin memanfaatkan kesempatan untuk memuaskan nafsunya. Akan bagus kalau Pamannya bisa pulang tepat waktu dan menangkap si idiot yang berani melawan keluarga Mahari ini. Tapi, siapa sangka Alex tidak masuk jebakannya!


Oleh karena itu, setelah terjatuh ke lantai, dia segera kembali mengambil selimut dan memakainya, kemudian menyentuh pipinya yang sakit dan berkata terisak-isak, “Ponselku… ada di… lemari dekat kasur.”


Alex melemparkan ponsel padanya, lalu berkata, “Cepat telpon dia, katakan Alex sedang menunggunya.”


“Oke.” Karena tahu Alex bukan orang yang lemah lembut, maka Astrid pun hanya bisa melupakan triknya itu dan menelpon Larry, “Halo, Paman, lagi di mana? Ada yang menerobos masuk ke villa kita nih, dia maksa aku buat nelpon, dia bilang namanya Alex, buruan pulang ya.”


 Baru saja dia menyelesaikan kata-katanya, pihak di seberang telpon sudah memutuskan panggilan tersebut, dia jadi punya firasat buruk: Lho, Paman kenapa? Ngak mau ngurusin aku lagi?


Dalam sekejap, berbagai macam pikiran muncul di dalam hatinya: Sialan, sia-sia aku korbankan tubuh mudaku, kamu bahkan ngak kasihan padaku?


“Cepat pakai bajumu!” perintah Alex dengan nada dingin.


“Iya.” Dia berjalan ke samping kasur, melihat Alex sedang memandanginya, dia tiba-tiba memutar badannya, “Gimana aku ganti bajunya kalau kamu menatapku terus?”


Alex membalikkan badannya, lalu berkata sambil membelakanginya, “Cepat ganti, ngak usah banyak ngomong.”


Di saat Astrid berganti pakaian, Alex sungguh tidak menoleh sedikitpun.


Selesai berganti pakaian, Astrid menyentuh sesuatu di dalam saku bajunya dan tiba-tiba menepiskan tangan ke arah Alex!


Syut! Entah dari mana Alex mendapatkan sebuah papan kayu, dia menggunakannya sebagai tameng, gerakannya sangat akurat.


Kertas yang dilempar Astrid barusan tentu saja tidak dapat menembus papan kayu, jadi kertas itupun berhenti tepat saat menyentuh papan dan terbakar menjadi abu.


Klak! Alex membuang papan kayu tersebut dengan sembarangan, lalu mendekati Astrid dengan marah, “Beraninya mencelakaiku!”


Astrid langsung ketakutan setengah mati, “Ampun! Ampuni aku! Yang kupakai tadi cuma Ilmu Penyelamat Diri, sebenarnya aku bisa kabur, tapi kertas itu tidak mengenaimu tadi, jadi aku juga tidak bisa kabur.”


“Ilmu Penyelamat Diri? Apa bahayanya kalau kena?” tanya Alex sambil menahan emosinya.


Astrid berkata, “Pamanku pernah bilang kalau ngak terlalu bahaya, paling-paling orang yang kena akan langsung pingsan, terus aku bisa kabur ke suatu tempat, benar-benar ajaib ‘kan.”


Amarah Alex semakin meluap, “Maksudku, apa yang akan terjadi pada orang yang kena!”


Astrid mengedipkan matanya, lalu berkata, “Ya pingsanlah.”


Alex benar-benar hampir meledak, “Lalu? Kapan bangunnya?”


Di hadapan Alex, dia awalnya mengira Alex akan membunuhnya.


Melihat Alex tidak berniat membunuhnya, barulah dia bisa tenang, lalu berdiam diri di sudut dan tidak berani lagi berbicara.


Di luar jendela adalah langit malam yang tak terlihat ujung nya, Alex menanti kedatangan Larry dengan sangat gelisah.


“As, mana Alex?” saat suara Larry terdengar, Astrid langsung bergegas bangun. Namun, begitu dia melihat mata Alex, dia kembali terdiam.


Alex berkata, “Beritahu dia!”


“Paman! Aku di kamar lantai 3! Cepat selamatkan aku!” teriak Astrid.


“Oke!” Larry terlalu sombong, sampai-sampai dia merasa kekuatannya lebih dari cukup untuk menghadapi Alex yang hanya seorang pemuda dari luar kota.


Setiap langkahnya sangat pasti, selangkah demi selangkah dia berjalan ke lantai 3, dia memakai jubah pria berwarna lilac dengan rambutnya yang panjang, serta sikapnya yang agung. Setelah muncul di lorong lantai 3, dia pun berteriak, “Alex, keluarlah! Orang yang kamu cari adalah aku, bukan Astrid!”


Klak! Pintu kamar terbuka, Alex muncul seorang diri tanpa membawa Astrid.


“Paman! Akhirnya kamu datang juga!” Astrid berlari keluar dari belakang Alex langsung menuju ke Larry.


Alex dapat mengetahui kalau Larry sudah berumur sekitar 60 tahun, tapi memang dia masih punya aura yang luar biasa. Namun, kasih sayang pada saat dia melihat Astrid justru terdapat hal yang tidak seharusnya ada.


“As, dia ngak ngapa-ngapain kamu ‘kan?” dia berkata sambil merangkul Astrid, Larry menatap Alex dengan tatapan tajam.


“Paman, dia menamparku 2 kali, terus mau melecehkanku, untung saja aku memberontak, kalau ngak habislah.” ujar Astrid manja sambil memeluk Larry erat-erat, dan juga disisipkan dengan kebohongan.


“Beraninya kamu!” ujar Larry sambil melotot, “Kalau kamu bersujud minta ampun sekarang, aku akan berbaik hati untuk tidak membunuhmu.”


“Konyol sekali!”, Alex menatap Larry dengan marah, “Muridmu Ehsan mencelakai Manager kami, kudengar dia menggunakan racun penta. Setelah itu aku mencarinya, lalu dia menggunakan Ilmu Penyelamat Diri untuk melukai rekanku. Sekarang dia sudah kabur, jadi aku hanya bisa datang mencarimu selaku Gurunya untuk meminta keadilan.”


Sebenarnya, Larry terus mendeteksi aura Alex, dengan ketajaman inderanya selama bertahun-tahun, meskipun dia merasakan aura yang sangat kuat dari sosok Alex, tapi auranya tidak menentu, hal ini membuatnya bingung: Apa jangan-jangan kekuatan anak ini sudah melebihiku? Mana mungkin?


Kekuatan Larry juga merupakan yang terhebat di dalam Aliran Elang saat ini, kalau ingin membandingkan tingkatan ilmu bela diri, maka setidaknya dia sudah berada di tingkat master.


Oleh karena itu, dia begitu percaya diri dapat menundukkan Alex.


“Heh, Ehsan hanya pakai racun penta?” ujar Larry sambil tersenyum tipis, “MInta keadilan? Nak, kita bicarakan nanti kalau nyawamu masih selamat!”


Dia mendorong Astrid ke samping, lalu berkata, “As, minggir dulu. Aku akan memberi anak tidak tahu diuntung ini pelajaran.”


Adil? Apa anggota keluarga Mahari perlu membicarakan keadilan dengan orang lain? Mereka selalu menggunakan kekuasaan untuk menekan orang!


Astrid mencium wajah Larry, lalu berkata, “Paman, kamu harus memotongnya jadi ratusan bagian, lalu beri makan anjing!”


“Oke! Aku akan mengabulkan permintaan Astrid sayang.” Larry melangkah maju dengan pelan, “Nak, ayo!”