
Alex memberi tahu Ruby lokasi beberapa master yang hidup tertutup, lalu menambahkan pesan terakhir, “Oh iya, kalau mereka bertanya bagaimana kamu bisa mengetahui tentang mereka, katakanlah kalau ada seseorang yang memberitahumu. Tapi, kamu nggak boleh memberi tahu mereka kalau itu adalah aku atau menjelaskan rupaku pada mereka.”
Ruby menatap Alex dengan keheranan, “Kenapa?”
“Nggak apa-apa, pokoknya jangan beri tahu mereka kalau aku yang memberitahumu. Kamu harus ingat! Kalau nggak, kamu akan mencelakaiku.” Alex mengangkat bahunya dengan tidak berdaya.
Ruby hanya bisa mengiakannya, tetapi dia sangat penasaran kenapa Alex tidak ingin orang-orang itu mengetahui situasinya.
Setelah tiba di gerbang sekolah, mereka melihat ada banyak murid yang mengerumuni sebuah mobil. Mobil sport berwarna merah muda itu sangat keren sehingga banyak murid yang mengambil fotonya.
Alex tahu bahwa mobil Andi pasti tidak akan terlihat biasa, tetapi dia tidak menduga bahwa mobilnya akan begitu menarik perhatian.
Dia berkata pada Ruby, “Ayo naik ke mobil dan tinggalkan tempat ini! Orang-orang yang ingin membunuhmu pasti nggak akan berhenti. Kita perlu mencari sebuah tempat yang lebih aman.”
Ruby tentu saja tidak akan berpendapat. Saat ini, dia akan mengikuti seluruh rencana Alex karena dia sudah sepenuhnya memercayai Alex.
Salah satu murid yang mengerumuni mobil adalah teman sekelas Ruby. Saat melihat Ruby berjalan keluar bersama Alex, dia sedikit kebingungan. Baru saja dia bermaksud untuk menyapa, Alex sudah membuka pintu mobil sehingga semua murid pun mulai berbisik.
Ruby hendak berjalan ke sisi penumpang, tetapi murid itu langsung menarik Ruby, “Ruby, lihatlah mobil ini!!! Keren sekali!”
Ruby hanya tersenyum tipis, “Maaf, aku ada urusan dan harus pergi. Nanti kita bicara lagi saat aku kembali, ya.”
Selesai berbicara, Ruby langsung membuka pintu mobil sehingga wajah murid itu langsung berubah kaget.
Setelah masuk ke dalam mobil, Ruby hanya memandang ke depan dengan cuek. Sementara Alex langsung menginjak pedal gas, mengepot dan melaju keluar dari sana.
Saat ini, semua murid tidak mengetahui identitas Alex dan berspekulasi apakah dia adalah orang keluarga Bazel.
Alex bertanya dengan cuek, “Orang yang tadi itu temanmu, ya?”
Ruby mengangguk.
Alex menyeringai, “Baguslah kalau begitu! Sepertinya popularitasmu di sekolah lumayan bagus. Dia masih bisa menarikmu ke samping untuk mengobrol!”
Ruby hanya diam dan menatap tangannya. Dia tidak ingin meneruskan percakapan ini.
Alex juga tahu pemikiran Ruby, jadi dia berkata dengan misterius, “Apa kamu tahu ke mana aku mau membawamu kali ini?”
Ruby menggeleng.
Alex juga tidak mengatakannya, “Kamu akan tahu begitu kita tiba. Tempat itu sangat aman. Bahkan meskipun orang keluarga Bazel bernyali besar, mereka juga nggak akan berani datang ke tempat itu secara terang-terangan.”
Ruby masih tidak tahu tempat apa yang dimaksud Alex.
Saat melihat Alex menyetir ke jalan yang semakin terpencil, Ruby menatap Alex dengan sedikit kebingungan, “Maksudmu bukan meninggalkan tempat ini, ‘kan?”
Alex menggeleng, “Tentu saja nggak. Kalau kita meninggalkan tempat ini, kita harus menghabiskan banyak waktu untuk pergi ke pengadilan. Semakin banyak waktu yang kita habiskan di perjalanan, hal yang tak terduga juga akan semakin banyak. Memangnya kamu kira orang keluarga Bazel nggak berani menghabisimu dalam perjalanan ke pengadilan?”
Saat ini, Alex hanya mengangkat bahunya dengan santai, “Apa yang harus aku lakukan adalah membawamu ke tempat yang bahkan keluarga Bazel juga nggak berani datang.”
Tak lama kemudian, sebuah gerbang besar muncul di depan mata mereka.
Ruby langsung tercengang. Dia sama sekali tidak menduga bahwa Alex begitu cerdas hingga bisa memikirkan tempat ini.
Alex tersenyum, “Seperti kataku sebelumnya, ini adalah tempat yang paling aman lantaran dilengkapi dengan berbagai macam senjata militer. Kalau orang keluarga Bazel berani datang, mereka pada akhirnya pasti akan dihabisi oleh para penjaga di tempat ini.”
Ruby berkata dengan tidak berdaya, “Tapi bagaimana kamu yakin mereka akan membiarkanmu masuk? Memangnya kamu nggak lihat tanda itu?”
Ruby menunjuk ke arah pelat besi yang tergantung di depannya yang bertuliskan, ‘Area militer! Orang yang tidak berkepentingan dilarang masuk!’
Alex tersenyum, “Itu hanya berlaku untuk orang yang nggak berkepentingan. Jangan meremehkan aku! Aku adalah orang pemerintah, loh. Bukankah wajar kalau aku datang ke sini untuk mencari perlindungan?”
Alex melaju hingga depan gerbang. Saat ini, ada seorang penjaga yang menghampiri mereka dan menatap Alex dengan penuh waspada.
“Siapa kamu? Untuk apa kamu datang kemari?” tanya tentara itu.
Tempat ini adalah markas militer. Alex sudah memikirkan tempat apa yang paling aman sepanjang perjalanan. Pada akhirnya, dia hanya kepikiran tempat ini.
Sampai sidang dimulai, Ruby akan aman bila tinggal di tempat ini. Meskipun orang keluarga Bazel ingin melakukan sesuatu terhadap Ruby, mereka juga tidak akan berhasil lantaran tempat ini dikelilingi oleh pertahanan dari tembok besi.
Jika dibandingkan dengan pertahanan markas militer, pertahanan kediaman Bazel bukanlah apa-apa. Bagaimanapun juga, markas militer dilengkapi dengan senjata berat seperti tank, pesawat tempur dan meriam!
Alex membuka pintu mobil dan tersenyum, “Halo, aku datang untuk meminta perlindungan. Siapa opsir tertinggi markas militer ini? Bisakah kamu menyuruhnya untuk keluar sebentar? Kalau nggak, kamu juga bisa membawa kami masuk.”
Tentara itu hanya menatap Alex dengan acuh tak acuh. Dia sama sekali tidak menghiraukan kata-kata Alex dan lanjut menginterogasi Alex.
“Ini adalah markas militer. Harap segera pergi! Kalau nggak punya izin, kalian dilarang masuk ke dalam markas militer!” kata tentara itu dengan tegas.
Alex juga tidak berdaya lantaran tidak menduga bahwa tentara ini akan mempersulitnya. Awalnya, dia kira tentara ini akan menyuruh opsir yang ada di dalam untuk keluar sehingga dia bisa mengungkapkan identitasnya. Namun, sama saja!
Alex berkata pada tentara yang berjaga itu, “Sebenarnya, aku adalah anggota Biro Red Shield. Aku datang kemari untuk meminta kalian membantuku melindungi seorang saksi yang sangat penting.”
Saat mendengar tentang Biro Red Shield, tentara itu mengerutkan keningnya. Dia sama sekali tidak memercayai kata-kata Alex.
Alex mendesah, “Sudahlah. Aku akan menghubungi kaptenku dan menyuruhnya untuk langsung melaporkannya pada pemimpin kalian.”
Alex pun menghubungi Roselline, sedangkan Roselline hanya mengiakannya dan langsung menutup telepon.
Sekitar lima menit kemudian, seorang pria paruh baya yang mengenakan seragam militer berjalan keluar dengan cepat. Ekspresinya terlihat sangat serius dan dia buru-buru bertanya pada Alex setelah sampai di depannya, “Apakah kamu Alex?”
Alex mengangguk.
“Aku adalah Zaki, mayor dari markas militer ini. Aku sudah mendengar tentang situasimu dari kaptenmu. Kami akan melakukan yang terbaik untuk memastikan keamanan saksi penting ini, jadi kamu nggak perlu khawatir. Sekarang, ikutlah aku masuk ke dalam. Aku akan mengatur semuanya,” kata Zaki dengan yakin.