Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Kesulitan Seumur Hidup


“Apa? Bos! Kamu tidak boleh pergi! Kamu tidak boleh mati!”seru Hoki dan ketiga orang lainnya sambil menangis. Bruk! Mereka pun berlutut secara serempak.


“Apa kamu sudah tidak menginginkan hubungan persaudaraan di antara kita lagi?”


“Bos, kami adalah saudara-saudaramu! Kami tidak akan membiarkanmu mati!”


“Ya! Kami akan ikut bersamamu untuk melawan si Alex itu!”


“Benar! Ayo kita lawan si keparat itu!”


Tangan kanan Adi membelai kait yang menempel di tangan kirinya dan dia menghela napas sambil menggeleng, “Berhenti bicara omong kosong! Cepat masuk mobil!”


“Tapi… Bos, jangan-jangan kamu sudah mengatur pemakaman untukmu seandainya kamu mati hari ini?” tanya Leopard dengan kepala yang tertunduk. Saat ini, dia bahkan tidak berani menatap mata Adi.


“Masuk!” Adi membuka pintu penumpang di samping pengemudi dan duduk di sana.


Leopard pun duduk di kursi pengemudi dan menyalakan mesin mobil sedangkan Hoki, Mason, dan Liam duduk di kursi belakang.


“Bos, perkataan Leopard ada benarnya. Kamu harus mengurus apa yang akan terjadi setelah ini, kalau gak... aku khawatir kota AL akan menjadi kacau,” ujar Hoki.


Adi yang sudah dikuasai keputusasaan pun menggeleng dan berkata, “Apanya yang akan menjadi kacau? Aku, Adi, adalah orang yang merangkak keluar dari para orang mati! Bahkan meski terjadi kekacauan sekali pun, tetap saja nggak ada hubungannya denganku. Ada banyak sekali orang yang berbakat di generasi zaman ini dan pada akhirnya, pasti akan muncul sosok orang yang menonjol di antara lainnya.”


Makam Willim sekeluarga terletak di sisi sungai kecil di sebuah kaki gunung. Fengshui makam itu cukup bagus karena dikelilingi gunung dan aliran air.


Nova yang sudah mempersiapkan dupa dan uang kertas pun bersujud dengan hormat begitu tiba di depan makam. Dia menyalakan dupa dan membakar uang kertas itu, lalu membungkuk tiga kali dengan penuh ketulusan.


Bruk! Alex menarik Jaz keluar dari dalam bagasi dan melemparkannya hingga dia tersungkur di depan makam!


“Aduh! Jangan! Tolong jangan bunuh aku!” Saat ini, Jaz akhirnya menyadari bahwa nyawanya berada dalam genggaman Alex. Dia dan ayahnya, beserta empat pengawal terhebat, bahkan tidak memiliki sedikitpun keberanian untuk melawan.


Alex mengeluarkan belatinya dan memotong tali yang mengikat Jaz. Jaz langsung bersujud di hadapan Alex, “Bos Alex, tolong ampuni aku! Kumohon, ampuni nyawaku! Tolong ampuni nyawaku yang rendahan ini!”


“Bersujudlah sebanyak seribu kali kepada Willim sekeluarga dan aku akan mengampunimu. Hitung sendiri,” sahut Alex.


“Hah?! Ba ... baiklah!” Jaz bahkan tidak memikirkan cedera pada kakinya lagi. Dia menyeret kedua kakinya yang patah, lalu bersujud di hadapan ketiga makam itu sambil menghitung,  “Satu ... dua ... tiga ... empat ...”


Tulang di kedua kaki Jaz terasa sakit luar biasa sejak sujud pertamanya, tapi dia tidak berani berhenti!


Adi dan keempat anak buahnya pun tiba di lokasi. Mereka sudah bisa melihat rupa menyedihkan Jaz yang sedang bersujud tanpa perlu turun dari mobil. Hati Adi terasa sakit dan penyesalan merasuki hatinya. Seandainya saja sedari awal dia tahu bahwa Willim memiliki dukungan yang begitu kuat, dia tidak akan mungkin mau membunuh mereka, tidak peduli seberapa berharganya kodok giok itu!


Lihat akibatnya sekarang! Bukan hanya dia yang Alex akan injak-injak kepalanya, tapi putra dan saudara-saudaranya sendiri juga ikut terlibat!


Adi pergi menghampiri makam dan membungkukkan tubuhnya. Dia membungkuk hormat sebanyak tiga kali, lalu menatap Alex, “Tuan Alex, aku, Adi, sudah hidup di dunia ini selama lebih dari 20 tahun dan sudah melakukan banyak hal jahat. Aku akui, aku pantas mendapatkan bayaran atas semua tindakanku. Tapi, putraku, Jaz, masih muda. Aku mohon padamu, tolong biarkan dia pergi.”


Hoki dan ketiga orang lainnya menggertakkan gigi perak mereka kuat-kuat saat melihat Jaz yang terluka masih terus bersujud. Seandainya saja mereka bisa membunuh Alex dengan satu serangan!


“Kalian berlima, berlututlah dan bersujudlah,” ujar Alex.


“Ugh ...” Adi terlihat ragu-ragu.


“Kamu nggak bersedia bersujud?” tanya Alex sambil tertawa pelan.


“Aku bersedia karena akulah yang membunuh Willim, tapi saudara-saudaraku sama sekali tidak tahu apa-apa!” sahut Adi.


“Hentikan! Apa kamu nggak mendengar ucapanku, Hoki?!” Adi segera menghentikan anak buahnya karena dia takut Alex akan menghabisi mereka begitu mereka menyerang!


Leopard balas mencibir dengan kesal, “Bos Adi, memang katanya si Alex ini mengalahkan Raja Kaki Utara, Dodo Tamiang, tapi rumor seperti itu nggak bisa dipercaya! Menurutku reputasi bajingan satu ini hanya dibuat-buat!”


“Kalian berempat nggak percaya?” balas Alex sambil tersenyum datar.


Hoki dan ketiga orang lainnya mengepalkan tangan mereka erat-erat dan memelototi Alex tanpa mengatakan apa pun yang secara tersirat berarti mereka menyetujui pertanyaan Alex.


“Baiklah kalau begitu. Sekarang, masing-masing dari kalian berenam harus bersujud sebanyak 2.000 kali atau aku akan membunuhnya,” kata Alex sambil tersenyum dengan tenang.


Hoki berseru marah dan melayangkan tendangannya ke arah Alex! Caranya menendang ini membuat udara berdesing dan menunjukkan betapa berpengalamannya dia dalam bela diri!


Amarah dan kebencian yang sama juga merayapi hati Mason, Liam, serta Leopard. Mereka berempat menyerang Alex pada waktu yang hampir bersamaan!


Alex tiba-tiba menghilang tepat di hadapan Adi dan muncul di depan Hoki dalam sekejap. Plak! Alex memukul wajah Hoki dan secara bersamaan mencekal kakinya satu per satu. Krak! Betis kanan Hoki pun patah oleh serangan Alex!


“Ugh!” Hoki kehilangan keseimbangannya dan tersungkur di atas tanah. Dia menopang tubuhnya dengan kedua tangannya, mencoba untuk meninggalkan arena pertarungan.


“Mundur!” seru Hoki keras-keras! Sayang sekali, sudah terlambat.


Sosok Alex melintas di hadapan Mason, Liam, dan Leopard dengan begitu cepat. Krak! Krak! Krak! Mereka bertiga mengalami patah satu kaki secara beruntun dan terjatuh di atas tanah dengan postur yang berbeda-beda!


Saat ini, Adi sudah benar-benar putus asa. Dia segera berbalik badan menghadap makam dan bersujud dengan sungguh-sungguh, “Hoki! Kalian berempat, cepatlah bersujud di hadapan Willim!”


Tindakan Adi ini sudah pasti bertujuan untuk menyelamatkan nyawa Hoki dan ketiga anak buahnya yang lain.


Bos penguasa di kota AL itu bahkan tetap menunjukkan kesetiaannya meski di hadapan kematian.


“Bos Adi ...” Hoki merasa sakit hati, tapi dia tetap merangkak ke sisi Adi dengan gigi yang terkatup erat. Dia menghela napas dengan sedih, lalu bersujud! Hatinya begitu nggak rela, air mata menggenangi pelupuk matanya.


Mason, Liam, dan Leopard juga merangkak ke sisi Adi dan bersujud secara serempak. Kekuatan Alex membuat mereka tercengang!


Alex berdiri di depan makam dengan penuh wibawa. Dia memperhatikan keenam orang itu bersujud. “Hitung sendiri. Kalau sampai ada yang salah hitung, akan kupatahkan lagi kakinya yang sebelah.”


Telinga Alex mendengarkan hitungan keenam orang itu yang dilakukan secara serempak. Tidak ada hitungan yang kacau, suara masing-masing orang terdengar sangat jelas.


“Paman, Bibi, Adik, aku sudah membalaskan dendam kalian!” seru Nova sambil berlutut di depan makam dan menangis dengan penuh kesedihan.


Nova bersujud sambil menangis. Tidak lama kemudian, dia menangis tersedu-sedu sampai hampir tidak bisa bernapas. Sudah terlihat jelas betapa dekatnya hubungan yang dia miliki dengan Willim sekeluarga.


Hati Alex terasa tersayat-sayat melihat Nova yang menangis menjerit seperti itu. Dia membungkuk mendekat, tapi tidak tahu harus menghibur seperti apa. Dia hanya berkata, “Aku turut berduka cita, Nova.”


“Paman! Bibi! Orang yang ada di hadapan kalian adalah musuh kalian! Akan kubuat dia menebus kesalahannya dengan nyawanya!” seru Nova sambil menangis.


Alex menatap Adi, “Berhenti membuang-buang waktu, Adi! Mulai detik ini, kalau kamu nggak mati dalam lima menit ini atau menunda satu detik pun, aku akan membunuh salah satu dari mereka!”


“Hah?!” Adi mengeluarkan belatinya dan menggenggamnya. Belatinya bergetar karena tangannya gemetaran.


Kematian adalah hal tersulit yang dihadapinya seumur hidup! Adi tahu nyawanya sudah berada di ujung tanduk, tapi dia masih belum rela meninggalkan dunia ini.


“Ayah!” Jaz tidak berani berhenti bersujud, tapi dia menangis kesakitan di celah setiap sujudnya. Air mata membasahi wajahnya dan tubuhnya tidak bisa berhenti gemetar.