Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Cinta dan Keluarga


Baru saja menutup telepon, pintu kamar terbuka, Erika masuk dengan mengenakan piyama merah muda tembus pandang. Aura wanita dewasa nya berakibat fatal bagi pria. Rambutnya terurai di pundaknya, leher putih yang jenjang, piyamanya itu menonjolkan lekukan bagian dadanya, dan dadanya yang setengah terbuka terlihat sangat menggoda! Benar-benar memancing hasrat pria.


Sinar bulan menyinari tubuhnya, membuatnya terlihat luar biasa indah. Erika memegang dua buah gelas di tangannya yang berisi anggur merah Perancis.


Ketika sampai ke sisi Alex, dia menyerahkan segelas anggur kepadanya.


“Erika, kenapa suasana hatimu terlihat baik? Ibu tidak marah lagi?” Alex bertanya setelah mengambil gelas anggur.


Erika tersenyum tipis, "Ya, aku membujuknya untuk waktu yang lama, dan juga berjanji untuk meminjamkan 432 juta pada pamanku. Itulah sebabnya dia tidak marah lagi. Apa yang kamu lakukan? Sepertinya ada sesuatu?"


Alex menggelengkan kepalanya dan berkata, "Bukan apa-apa. Aku tidak sengaja melihat langit malam tadi dan merasa sedikit emosional."


Erika berbisik, "Alex, apakah kota yang ramai ini menarik bagimu?"


Alex terkejut, "Erika, mengapa kamu tiba-tiba menanyakan ini?"


Erika berkata: "Alex, aku tidak menyadarinya sebelumnya. Kakek benar. Kamu bukan manusia biasa, aku benar-benar ingin tahu apa yang menarik bagimu di Jakarta?"


Alex menjawab: "Jakarta, ada dirimu!"


Erika menggelengkan kepalanya, "Dunia ini lebih indah dariku, dan ada begitu banyak wanita yang cakap. Jangan berbohong padaku, aku ingin tahu alasan sebenarnya."


Alex berkata: "Hanya ada satu alasan, yaitu, aku menyukaimu!"


Erika mengerutkan kening, "Kalau begitu, apakah kamu benar-benar bersedia tinggal bersamaku di kota kecil seperti ini?"


Alex berkata, "Aku membuat keputusan ini setahun yang lalu. Keinginan terbesarku dalam hidup ini adalah bersamamu selamanya."


Erika berkata, "Namun, seseorang yang memiliki ilmu bela diri yang tiada tara, memiliki pikiran yang tenang, tidak gegabah, dan selalu dapat mengalahkan musuh, bagaimana dia bisa mengakhiri hidupnya di kota kecil untuk orang biasa sepertiku?"


Penampilan Alex dalam beberapa hari terakhir sudah cukup untuk membuktikan kekuatannya, mana mungkin Erika tidak bisa melihatnya?


“Alex, sebenarnya untuk apa kamu datang ke sisiku?” Erika mengatakannya sambil menatap langit berbintang.


Alex tersenyum: "Erika, kamu terlalu banyak berpikir. Aku tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku sungguh mencintaimu!"


Erika tersenyum pahit, "Jika kamu tidak ingin mengatakannya, lupakan saja. Aku selalu merasa bahwa kamu tidak seharusnya tinggal Jakarta."


Alex tertawa, "Erika, aku bukan lagi diriku yang dulu! Aku hanyalah suamimu sekarang, dan Jakarta adalah rumahku selamanya."


Erika mengangguk dan meraih tangan Alex, "Kamu telah melihat situasiku saat ini. Devan tidak akan menyerah begitu saja, bahkan dia munkgin akan semakin kejam. Meskipun Friska membantuku, tapi aku masih saja khawatir. Aku khawatir akan menyeretmu dan keluarga Buana dalam masalah ini. "


"Erika! Jangan khawatir tentang ini, karena ada aku di sini. Awalnya aku memiliki dunia yang besar, tetapi aku sama sekali tidak bahagia di dunia itu. Aku terus mencari dengan putus asa, sampai suatu hari aku tiba-tiba mengerti. Kebahagiaanku ada bersamamu! Oleh karena itu, aku menyerah akan apa yang aku miliki sebelumnya, dan aku hanya perlu dirimu. "


Alex sangat ingin memeluk tubuh yang menarik ini dengan erat, lalu menaruhnya di tempat tidur dan mendapatkan dia sebanyak yang dia inginkan.


Tapi dia tidak melakukan itu setelah berpikir. Entah kenapa pesona unik wanita ini memberi Alex sebuah rasa keluarga.


Orang bilang butuh waktu lama untuk bisa mendatangkan rasa kekeluargaan satu sama lain, tapi kenapa aku memiliki perasaan seperti ini bahkan sebelum kita benar-benar saling mencintai?


Setelah meminum segelas anggur merah, Erika sedikit kelelahan, lalu berkata dengan lembut, "Alex, aku mengantuk."


Alex membantunya ke tempat tidur. Erika yang melihat bahwa Alex masih berbaring di lantai kemudian berkata dengan pelan: "Alex?"


Alex mengangkat kepalanya dan bertanya, "Erika, ada apa?"


Erika ingin berkata: “Kamu bisa tidak perlu tidur di lantai.” Namun, dia tidak bisa mengucapkan kata-kata ini.


“Tidak apa-apa, aku hanya sedikit takut.” Erika mengubah kata-katanya, aneh, mereka sudah menikah selama 1 tahun, tapi malah seperti cinta pertama.


Jantung Erika masih berdegup kencang. "Aku akan merasa lebih nyaman jika memegang tanganmu."


Alex tersenyum, bersandar di sisi tempat tidur, lalu mengulurkan tangannya untuk dipegang Erika, "Erika, aku di sini, jangan takut. Bahkan jika langit runtuh, aku akan menahannya untukmu. "


"Ya, aku percaya padamu.” Erika memegang tangan Alex dan mulai tertidur.


Mobil Volkswagen Golf yang telah diperbaiki dikendarai oleh Saras sekarang. Keluarga Saras mengadakan pertemuan kecil hari ini untuk membahas pernikahan paman Erika.


Saras memiliki 3 saudara, Saras adalah anak kedua, kakak perempuan tertua bernama Leni Darmono, adik perempuan bernama Siska Darmono, dan adik bungsu adalah Rino Darmono.


Rino sudah berusia tiga puluhan, tapi tidak pernah memiliki karir yang benar. Dia mencari nafkah dengan menjual kembali beberapa bahan bangunan dari perusahaan konstruksi Buana yang membuatnya tidak perlu memikirkan beban hidup. Namun, paman Erika ini memiliki hobi yang buruk yaitu berjudi.


Baru-baru ini Rino mendapatkan seorang pacar, kedua orang tua dari kedua belah pihak juga sudah bertemu, pihak wanita hanya akan menikah jika sudah membeli rumah di pusat kota, tapi mana mungkin Rina punya uang sebanyak itu?


Orang tua Saras masih hidup, tetapi umur mereka sudah hampir 70 tahun. Kedua orang tua sudah tidak mampu membayar untuk pernikahan putra mereka. Oleh karena itu, beban berat ini jatuh pada ketiga orang kakak.


Saras akan kembali ke rumah keluarganya hari ini dengan mengemudikan BMW X5 itu. Erika khawatir dengan skill mengemudi ibunya tidak cukup, jadi dia berkata: "Bu. Kamu bisa membawa mobilnya, bagaimana kalau biarkan Alex yang menjadi sopirmu?"


Saras juga paham bahwa putrinya khawatir dia akan menabrak mobilnya, dan ditambah dia menerima surat ancaman kemarin, dia juga khawatir seseorang akan mencelakainya. Meskipun Alex tidak berguna, tapi dia tangguh, seharusnya tidak masalah jika berurusan dengan preman biasa. Jadi, dia setuju.


Alex mengantar Saras dari Jakarta Pusat ke Jakarta Timur. Jakarta Timur terletak di sebelah timur kota Jakarta, dan daerah itu dekat dengan laut. Perjalanan ini hanya memakan waktu 40 menit.


Tak lama kemudian mereka sampai di rumah keluarga Saras. Begitu mobil tiba, keluarga Saras menyambut mereka. Kakak tertua dan adik perempuannya memegang tangan Saras dengan akrab, kemudian memutari BMW X5 baru tersebut.