
Warna rambut pembunuh itu putih keperakan dan wajahnya lumayan rupawan dengan anting di telinganya.
Dia mengenakan setelan jas berwarna hitam, terdapat sebilah pisau tentara di tangannya.
Ada lubang yang dalam pada pisau tentaranya, fungsinya adalah untuk memasukkan udara ke dalam tubuh musuhnya.
Luka akan sangat sulit untuk sembuh kalau ada udara di dalamnya. Selain itu, rasa sakitnya juga akan lebih parah daripada luka biasa.
Umumnya, pisau tentara digunakan oleh pasukan khusus, jadi otak Ilody mulai tidak henti-hentinya berputar dan mengingat pasukan khusus mana yang telah menjadi pembunuh.
Dengan segera dia mengetahuinya.
“Kamu adalah pembunuh lepas, Arka, 'kan?” Ilody tersenyum, menatap Arka.
Arka membalikkan badannya dan bergerak mundur, wajahnya semakin muram.
Selama percakapan, Ilody juga tidak berhenti menyerang. Hanya saja insting Arka sangat kuat, dia tahu arah serangan Ilody.
“Kamu nggak boleh seperti ini. Bahkan Alex sudah membawa Erika turun ke lantai dasar, tapi kamu masih bermain-main dengan orang yang nggak penting sepertiku di atas.” Ilody tertawa terkekeh.
Tapi Arka sama sekali tidak panik, dia tahu kalau saat ini banyak benang halus yang tak terlihat di depannya. Benang halus tersebut mampu membuat tubuhnya terbelah.
Benang halus ini adalah senjata Ilody dan juga merupakan teknik Ilody dalam membunuh orang di dunia, pembunuhan yang tidak terlihat. Bahkan kalau Ilody ada di tempat kejadian dan membunuh orang, tetap saja tidak ada orang yang akan tahu kalau dialah yang melakukan pembunuhan.
Karena benang halus ini tidak bisa dilihat dengan mata telanjang.
Tapi, Arka tidak menyerah dan pergi begitu saja, dia mengangkat sebuah pot tanaman di dalam kantor dan melemparkannya ke arah Ilody.
Sret, sret sret!!
Pot tanaman itu langsung terbelah di hadapan Ilody. Saat ini Arka melesat ke depan secara tiba-tiba, tubuhnya membuat gerakan yang tidak bisa dilakukan oleh orang biasa.
Dia berhasil melewati benang halus dan tiba di depan Ilody.
“Walaupun senjatamu tak terlihat, asalkan aku menggunakan barang untuk melewati benang halusmu, maka aku bisa mengetahui di mana posisinya!”
Pisau tentara di tangan Arka sudah siap sejak awal, jadi dia langsung menusukkan pisau tentara dengan cepat saat dia mendekati Ilody. Pisau tentara yang dia genggam itu memantulkan cahaya.
Gerakannya sangat cepat, dalam sekejap mata saja, pisau tentara itu sudah tiba di hadapan Ilody dengan jarak beberapa sentimeter dari lehernya.
Ilody berseru nyaring. Pakaian di sekujur tubuhnya pun bergetar. Dia menebas lengan Arka dengan telapak tangannya untuk menangkis serangan Arka.
Telapak tangan Ilody tebal dan berwarna kemerahan. Terlihat ada asap putih saat dia menghempaskan telapak tangannya, tapi sangat tipis, jadi sulit untuk menyadarinya.
Telapak tangannya menebas lengan Arka dan Arka meringis kesakitan. Dia langsung memutar badannya, lalu menarik kembali tangannya dan menendangkan kakinya ke arah pinggang Ilody.
Ilody merespon dengan menghindar ke belakang.
Brak!!
Serangan Arka gagal, dia malah membuat meja kerja di sebelah hancur.
Keduanya saling menatap dan saling menyerang, tidak ada satupun yang mau mengalah. Mereka terus menyerang dan menangkis dengan dua teknik yang berbeda.
Teknik Ilody lebih condong ke seni bela diri Indonesia kuno. Setiap gerakannya begitu cermat, tapi tenaganya juga sangat kuat.
Sedangkan teknik Arka lebih condong ke gaya pertarungan bebas. Setiap gerakannya mengarah ke bagian vital, bertujuan untuk menjatuhkan musuhnya dengan satu pukulan.
Tinju dan telapak tangan saling menyilang dan mengeluarkan bunyi yang sangat keras. Seluruh ruangan kantor pun hancur, dokumen-dokumen beterbangan, meja dan kursi hancur dan terbelah usai terkena serangan.
Sepasang tinju Arka ditumbukkan ke sepasang lengan Ilody yang sedang menangkis, sehingga membuat Ilody terdorong ke belakang, Arka tersenyum, “Nggak disangka, Ilody yang dulu membuat seluruh dunia gempar itu ternyata kini sudah menjadi selemah ini. Tampaknya waktu memang telah menguras banyak kekuatanmu. Selain itu, dilihat dari badanmu, kamu pasti sudah pensiun, bukan?”
Ilody menyipitkan matanya dan tersenyum, “Apa hubungannya denganmu?”
“Aku hanya bersimpati saja. Dulu kamu bisa menghancurkan sebuah organisasi yang begitu kuat hanya dengan seorang diri, kala itu kekuatanmu pasti berada di puncaknya, 'kan?” sindir Arka.
Ilody masih tersenyum. Dia tidak terburu-buru ingin berduel dengan Arka. Apalagi semakin dia mengulur waktu, maka situasi semakin menguntungkannya.
Arka menggeleng-gelengkan kepala, “Sebenarnya aku pernah mendengar sebuah desas-desus, kala itu kamu menghancurkan organisasi itu karena seorang wanita, 'kan? Demi menyelamatkan wanita itu, setelah itu kamu membawa wanita itu kembali ke Indonesia dan pensiun. Sayangnya nggak pernah terpikirkan olehmu kalau wanitamu nggak mati di tangan musuh, melainkan mati di tanganmu sendiri.”
Senyuman Ilody sirna, emosinya membumbung tinggi, sedangkan Arka semakin senang, seolah-olah dia telah membuka luka lama Ilody. Dia sangat menikmati raut wajah Ilody yang tampak menyedihkan.
“Jadi, apakah kamu marah sekarang? Aku percaya kamu nggak pernah menerima kenyataan itu selama di Indonesia, ternyata wanita yang kamu cintai dengan sepenuh hati itu datang untuk membunuhmu.”
Usai berbicara, sekali lagi pisau tentara di tangan Arka bergerak. Kali ini dia melontarkan pisau tentara dari tangannya. Ujung pisau tentara itu diikat dengan kawat.
Ilody bergerak satu langkah. Dia mengulurkan tangannya dengan sangat pelan, tapi gerakan yang pelan semacam itu berhasil menangkap pisau tentara dengan tepat.
Raut wajah Arka berubah, dia langsung melepaskan pisau tentaranya dan mundur ke dalam ruangan kantor.
Ilody langsung melangkahkan kakinya, dia menghempaskan pisau tentara dari tangannya. Bagaikan peluru, pisau tentara itu langsung menembus parasut yang Arka bawa ke sini.
Kekuatan semacam itu bisa dibandingkan dengan peluru asli, bahkan lebih kuat daripada peluru, apalagi peluru tidak bisa menembus parasut.
Ilody melangkah ke depan, dapat dilihat kalau gerakannya sangat cepat, bahkan Arka tidak sempat memberikan respon saat Ilody muncul di hadapannya.
Ilody sudah kembali ke kondisinya yang paling optimal. Arka sama sekali tidak menyangka kalau ternyata Ilody bisa seperti ini.
Arka terperanjat dan bergerak mundur, tapi dia akan jatuh ke bawah kalau dia terus mundur, jadi dia hanya bisa menghentakkan kakinya dan langsung menerkam ke arah Ilody.
Ilody mengulurkan telapak tangannya dengan tenang.
Bruk!!
Seluruh ruangan kantor pun bergetar, sedangkan Arka terhempas keluar dan tubuhnya terjun ke bawah.
Tempat ini berjarak dua sampai tiga ratus meter dari permukaan tanah, bahkan orang terkuat pun akan mati kalau jatuh ke bawah.
Ilody berjalan keluar dari ruangan kantor usai menyelesaikan semua ini. Dia melihat ke kejauhan. Saat ini ekspresi bingung di dalam matanya tampak sudah berkurang banyak.
Alex telah membawa Erika ke lantai dasar. Dia langsung melancarkan tinjunya saat pintu lift terbuka.
Ternyata ada pembunuh yang sedang berjongkok di depan pintu lift, dan pistol di tangannya sudah terangkat.
Tapi gerakan Alex lebih cepat, dalam sekejap mata saja, badan pembunuh itu pun terasa sakit dan dia melayang keluar.
Tepat pada saat ini, Marvel dan Markus sudah tiba di sisi Alex. Mereka sangat waspada, dan mereka ditemani oleh tujuh atau delapan orang yang handal.
“Ayo keluar!” Untuk sementara, Alex tidak tahu ada berapa jumlah pembunuh. Untuk berjaga-jaga, akan lebih aman kalau dia segera pergi ke kantor cabang Biro Red Shield.
“Jaga keselamatan Pak Alex!” Alex memeluk Erika. Dia melihat ke sekelilingnya, lalu mengambil senjata api di lantai dengan kakinya sebelum berjalan keluar.
Marvel berseru, “Mobil sudah disiapkan di luar!”