Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Ciuman


Inspektur Gilang berkata: "Petugas Ardiansyah! Aku tahu apa yang sedang kulakukan. Lepaskan dulu mereka."


Tentu saja, Nova tidak mengizinkannya, matanya menatap dan berkata, "Tidak! Aku adalah Komisaris polisi dari divisi kriminal. Aku sedang menggunakan hak ku. Orang ini adalah tersangka yang aku tangkap. Kalian yang berani melepaskan siapapun tanpa izinku, akan aku tangkap. "


Dua petugas dari Divisi Pra-sidang sedikit ketakutan. Mereka memandang Inspektur dan Nova bergantian. Meskipun Inspektur Gilang adalah pemimpin di sini, tetapi Nova juga bukanlah orang yang bisa diprovokasi. Terutama, latar belakangnya sangat kuat, tidak akan menguntungkan apabila menyinggung siapapun dari keduanya.


Melihat sikap keras kepala Nova, Inspektur Gilang juga naik pitam, "Nova, kamu ini benar-benar tidak terorganisir dan tidak disiplin. Apakah kamu ingin menentang perintahku?"


Nova berkata, "Tidak. Aku hanya berharap Inspektur Gilang akan bertindak sesuai aturan. Perintahmu saat ini tidak sesuai dengan aturan dan regulasi kita. Aku khawatir kamu akan melakukan kesalahan dengan menggunakan hak yang diberikan oleh negara kepadamu tanpa pandang bulu. "


Melihat Nova yang sama sekali tidak mau mengalah, Inspektur Gilang berkata dengan jujur: "Petugas Ardiansyah, aku hanya menjalankan perintah dari Jenderal Danu. Jika kamu sengaja menghalanginya, maka aku harus mencabut posisimu sekarang juga. "


“Menjalankan perintah Jenderal Danu?” Nova tidak mengerti, dia memandang Friska, dan berkata dalam hatinya: “Rupanya keluarga Wibobo mencari Jenderal Danu sebagai backingan? Alex, kamu beruntung hari ini. Namun, aku tidak akan pernah melepaskanmu. "


"Inspektur, jika Jenderal Danu benar-benar memberi perintah. Maka aku akan mematuhinya.” Nova menatap Alex penuh amarah dan pergi begitu saja.


Inspektur Gilang melambaikan tangannya pada dua petugas yang ada: "Lepaskan juga ketiga orang itu. Aku akan mengambil alih kasus ini mulai sekarang dan akan bertanggung jawab sendiri."


Kedua petugas itu sangat berharap tidak mengadili kasus semacam ini, lalu bergegas menjalankan perintah tersebut.


Ada perkelahian besar-besaran di hotel Emperor, dan orang yang paling ketakutan bukanlah Erika, melainkan nenek Erika.


Erika sekarang semakin memahami Alex, dia bahkan sangat yakin bahwa semua yang dilakukan Alex telah dipikirkan dengan baik. Bahkan jika Alex ditangkap oleh polisi, Erika juga mengira dia bisa menyelesaikannya.


Tapi berbeda dengan Lasmi, meski dia memilih percaya pada Alex pada pertemuan keluarga terakhir. Namun, kepercayaannya dibangun atas dasar bahwa keluarga Wibowo akan membantu Alex.


Kali ini, Alex telah membuat masalah besar. Dengar-dengar lebih dari 200 orang dari kelualga Utama terluka, dan Devan juga terluka parah. Lasmi sangat khawatir, akankah keluarga Wibowo memilih untuk berlawanan dengan keluarga Utama karena Alex?


Satriya juga segera memanfaatkan kesempatan ini, "Nenek. Apa yang aku katakan? Alex memang tak berguna. Apa lagi yang dia ketahui selain sedikit ilmu bela diri? Erika terlalu memanjakannya."


"Nenek, Alex pasti akan masuk penjara kali ini. Apa dia tidak memikirkan bagaimana dengan kita jika dia masuk penjara dan tidak menyelesaikannya? Apa keluarga Utama akan melepaskan kita? "


Melvin juga berkata: "Bu. Kali ini masalahnya terlalu besar. Dengan dendam sedalam itu dan terlalu banyak orang yang tersinggung, cepat atau lambat, mereka pasti akan membalas dendam pada keluarga Buana."


Melisa bahkan lebih penakut, "Bu, kupikir kita juga harus bergegas mengemas barang dan melarikan diri dari Jakarta secepat mungkin."


Lasmi sedang dalam keadaan kebingungan, dia juga tidak tahu harus mengambil keputusan apa sekarang, karena keluarga Buana belum pernah terlibat dalam masalah sebesar ini. Sekarang, keluarga Buana tidak sedang menghadapi kebangkrutan, melainkan kematian.


"Kalian bisa pergi kalau ingin pergi. Bahkan jika aku mati, aku tidak akan pernah meninggalkan kampung halamanku secara paksa. Ayahmu baru saja meninggal tak lama, jika kita semua pergi, siapa yang akan mengurusnya?"


Lasmi mengertakkan gigi dan menghela nafas, "Serahkan saja pada yang di atas."


Saras dan Ferdi menggosok tangan mereka karena cemas dan diam-diam mengeluh atas kelakuan Alex. Mungkin saja, putrinya Erika juga akan terlibat dan masuk penjara.


Melihat hari mulai gelap, tidak ada seorang pun di keluarga Buana yang berselera untuk makan malam. Tepat saat ini, Erika dan Alex kembali.


Anggota keluarga Buana lainnya juga keluar satu per satu, semuanya sangat penasaran dengan penyelesaian dari masalah yang menggemparkan ini.


Erika berkata kepada Lasmi, "Nek, maaf membuatmu khawatir."


Lasmi mengangguk dan bertanya pada Alex, "Alex! Polisi melepaskanmu?"


Alex berkata: "Aku ke kantor polisi hanya untuk membuat pernyataan. Meskipun tim keamaan kami melukai banyak pengawal keluarga Utama, tapi kami hanya melakukan pembelaan yang semestinya atas nama keadilan."


"Selain itu, beberapa penjaga keamanan di hotel Emperor juga terluka. Di antara mereka, seorang bernama Wandi, yang sangat berani dalam pertempuran, ditikam oleh mereka, salah satu lengannya juga patah. Dia sedang dirawat di rumah sakit sekarang."


Lasmi menghela nafas lega, "Baguslah kalau polisi bisa menanganinya dengan adil. Yang aku khawatirkan adalah bagaimana menyelesaikan masalah ini dengan keluarga Utama?"


Alex berkata, "Erika dan aku kembali untuk membicarakannya denganmu. Devan telah menghancurkan bagunan hotel Emperor dan melukai penjaga keamanan kami. Kami harus menyelesaikan permasalahan ini dengannya."


Mata Lasmi terbelalak, "Alex, Erika, apakah kalian berniat untuk mencari keluarga Utama?"


Alex berkata: "Ya! Meskipun polisi mengatakan bahwa masalah ini dan tidak ada hubungannya dengan Devan dan dia kebetulan lewat. Yang memberi perintah adalah Willy, direktur Departemen Pembongkaran perusahaan mereka yang memberikan perintah pembongkaran. Saat ini, Willy telah melarikan diri. Polisi telah mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk menangkap Willy. Tidak masalah jika Willy melarikan diri. Namun, keluarga Utama harus memberikan penjelasan atas bangunan yang rusak dan staf kita yang terluka! Erika dan aku sudah berbicara dengan Rangga lewat telepon. Rangga setuju untuk membicarakannya di Restoran Akira Back besok siang. "


"Apa? Berani-beraninya kamu menantang Rangga dan ingin bernegosiasi dengannya? Alex, kamu pasti gila. Kamu membuat keluarga kita panik dengan masalah sebesar ini. Bahkan matipun maish menyeret kami bersamamu. Sungguh tak tahu malu. "Satriya mengomel.


Alex membalas: "Satriya, kamu sendiri tak berguna dan pengecut, jadi jangan bicara sembarangan di sini. Hal yang dibuat oleh Erika dan aku, pasti akan kami selesaikan sendiri. Tidak peduli seberapa tinggi status Rangga, dia juga tidak bisa seenaknya. Nantikan saja bagaimana masalah ini akan diselesaikan besok siang. "


Setelah kembali ke rumahnya, saat Alex keluar dari kamar mandi, dia melihat Erika berdiri di depan jendela sambil menatap bulan di luar.


Dia diam-diam berjalan dan mengulurkan tangan untuk memeluk pinggang rampingnya, "Erika, kali ini, apakah kamu takut?"


Erika tersenyum, "Aku tidak takut. Bahkan jika langit runtuh, bukankah ada kamu?"


"Alex, aku punya firasat bahwa jika bukan keluarga Utama yang lenyap, maka keluarga Buana lah yang akan lenyap. Apakah kamu benar-benar tidak menyesal berada di sampingku?"


Alex tersenyum, "Erika, aku akan mengabdikan hidupku untuk mencintai dan melindungimu."


Erika khawatir, "Friska juga mengatakan hal yang mirip denganku tadi. Aku dapat melihat bahwa Friska datang ke Jakarta kali ini dengan misi khusus. Jika tidak salah, Friska ingin bersaing dengan Rangga untuk dermaga Teluk Indah. Jika tidak, keluarga Wibowo tidak perlu melakukan yang terbaik untuk membantu kita. Bahkan Jenderal Danu saja sudah maju. "


Erika semakin khawatir, tanpa disadari ia dan Alex menjadi dua bidak catur bagi keluarga Wibowo untuk menguasai Jakarta.


"Jika Rangga tidak mau berdamai dengan kita, maka dia pasti akan menyesal."


Alex mencondongkan tubuh ke depan lagi, lalu memeluk erat pinggangnya, kemudian mencium bibir Erika dengan lembut.


Erika sama sekali tidak menyangka bahwa Alex berani menciumnya tiba-tiba, ia terkejut dan berusaha untuk mendorong Alex. Namun, Alex terlalu kuat. Alex berhasil mencium bibir lembut Erika, begitu bibir keduanya bertemu, Alex terpesona, sulit untuk melepaskannya.