Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Alex Beraksi


Arkan hendak bertanya saat melihat peluru yang dibawa Olivia  mirip dengan peluru biasa, hanya warnanya saja yang sedikit berbeda, dan ada beberapa huruf merah di peluru itu, tetapi Olivia terlebih dulu mengatakan, "Ini peluru penembus zirah DU! Menghancurkan badan besi tank biasa bukanlah masalah, tetapi tank jenis baru ini tidak dapat ditembus, jadi kita harus bekerja sama!"


Ternyata Olivia sudah mengujinya di lantai tiga. Dia menggunakan proyektil depleted uranium ini untuk menembak ke bagian pelindung samping tank. Dikatakan bahwa peluru ini bisa menembus pelat baja 17mm pada jarak 1500 meter, tapi hasil sebenarnya malah gagal menembus badan baja tank ini.


Peluru penembus zirah jelas-jelas mengenai sisi tangki, tetapi malah hanya melesat melintasi permukaan tank saja dengan goresan percikan api. Ternyata tank lawan juga sudah diperbarui.


Melihat tiga monster baja mendekat selangkah demi selangkah, dan juga mendengar Arkan sedang berteriak marah di lantai dua, dia tiba-tiba punya ide baru, oleh karena itu dia segera membawa senjatanya dan bergegas turun ke bawah.


Dia ingin bekerja sama dengannya untuk melubangi tank tersebut. Arkan segera mengerti apa yang dia maksud. Dia memasukan peluru uranium ke dalam senapannya, dan saat hendak menembak, Olivia berkata, "Paman, kekuatan peluru ini beberapa kali lebih kuat dari peluru lain. Berhati-hatilah!"


Arkan tidak mau kalah, "Tidak perlu dikatakan, sudah banyak peluru yang aku gunakan sebelum ini." Arkan segera menarik pelatuk dan menembakkan peluru tersebut, moncong senapan mengeluarkan asap seiring bunyi nyaring, dan tekanan balik yang kuat membuat Arkan terduduk di lantai.


Olivia tidak punya waktu untuk menggubrisnya, dia memperhatikan target lewat senapannya. Tembakan Arkan tidak meleset sama sekali, dia mengenai tepat di sisi kiri tank terdepan, kemudian dia sendiri juga segera melepaskan tembakan, julukannya sebagai penembak jitu TOP memang tidak salah, tembakannya tepat sasaran mengenai bekas tembakan Arkan.


Tank berhenti bergerak setelah berguncang sebentar, sepertinya pengemudi di dalam sudah tewas tertembak. Arkan bangkit dari tanah, dia berseru melihat tank pertama berhenti, "Bagus! Ayo, kita lakukan lagi!"


Selesai mengatakannya, dia kembali mengisi peluru penembus zirah. Kali ini keduanya bekerja sama dengan lebih baik karena sudah punya pengalaman. Setelah dua tembakan, tank kedua juga terpaksa berhenti...


Sekelompok gangster berteriak dengan penuh semangat, “Bagus! Hebat!” Olivia berteriak, “Berhenti berteriak, ambil kesempatan untuk musnahkan mereka!”


"Drrtttt..." "Boom" Semua jenis senjata di tangan para gangster ditembakkan secara serentak dan tak ada habisnya ke arah bawah, para tentara yang awalnya bersembunyi di balik tank seketika menjadi panik, dan di antara mereka yang sudah terlambat untuk bersembunyi tewas tertembak satu per satu. Dua pertiga pasukan gugur dalam sekejap akibat tembakan beruntun dari pihak musuh.


Tentara yang tersisa bersembunyi di belakang tank yang berhenti dan tidak berani menunjukkan kepala mereka, Mayor Darwin juga hampir tidak berani bernapas akibat tekanan tembakan musuh. Dia juga bertanya-tanya dalam hati, "Sialan, kenapa peluru mereka seperti tiada habisnya, serangan kali ini bahkan lebih dahsyat dibanding kelompok pertama tadi!"


Dia tidak tahu kalau musuh di dalam telah menemukan gudang persenjataan.


Sekarang hanya ada satu tank yang tersisa. Komandan yang melihat kedua “rekannya” tertembak sedemikian rupa memerintahkan secara khusus, "Kita tidak boleh menembak untuk menghindari memicu ledakan pada gudang! ", pasukan yang berada di dalam kedua tank tersebut hampir muntah darah saking kesalnya karena tidak dapat melakukan apapun.


Tembakan berhenti sejenak, dan suara Komandan Beni terdengar dari alat komunikasi Mayor Darwin: "Kelompok kedua segera mundur. Cepat, cepat mundur di bawah perlindungan tank!"


Mayor Darwin sendiri juga tidak pernah bertarung dalam pertempuran yang tidak berguna seperti ini! Melihat rekan-rekan di sekitarnya jatuh satu per satu, tapi dia tidak dapat membalasnya. Melihat sebagian besar rekan-rekannya berkorban, dia juga tidak dapat menjalankan rencana penyerangan. Apalagi yang bisa dilakukannya?


Alex sudah mengenakan rompi anti peluru dan sedang memeriksa senjata. Nova berada di sisinya, dia berkata kepada Inspektur dari pihak kepolisian, "Sekarang giliran kita, Pak."


Komandan Beni berjalan menghampiri dan memegang tangan Alex dengan erat, "Alex, operasi kali ini tidak lebih baik dari biasanya. Kamu juga sudah melihatnya, serangan dari 2 kelompok kami gagal total, dan juga begitu banyak orang yang berkorban. Tampaknya musuh sangat kejam dan sadis, selain itu mereka juga tahu kelemahan kita yang tidak bisa menggunakan senjata berat."


Alex memberi hormat militer, "Tenang, Komandan. Kami akan menyelesaikan tugas, menaklukkan musuh dan menyelamatkan sandera!"


Pak Harun juga datang untuk berjabat tangan dengan Alex dan memeluknya, matanya sudah lembab, dia hanya mengatakan sepatah kata dengan tulus, "Tolong!"


"Lapor!" Pada saat ini, Evan berlari kemari, "Saya meminta izin untuk berpartisipasi dalam operasi!"


Nova memelototinya, "Apa yang kamu lakukan di sini? Ini bukan kasus menangkap pencuri biasa. Pihak musuh adalah ******* berdarah dingin, mereka tidak kalah dari para tentara khusus. Kamu juga sudah melihatnya tadi, kamu yakin bisa menanganinya?"


Alex sedang memastikan perlengkapan pisau pendek dan pistol lainnya satu per satu. Mendengar mereka berdebat, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak melihat, "Ada apa? Oh, kamu mau ikut? Oke, anggap saja sebagai latihan. Bagus juga bisa terjun langsung daripada berlatih puluhan tahun!"


Nova berkata, "Kenapa kamu malah ikut-ikutan? Kamu tidak lihat situasinya? Ini bukan waktunya untuk berlatih! Nyawa taruhannya kalau sudah bertindak!”


Alex tersenyum dan berkata: "Menurutku tidak masalah. Semangat dan kemampuannya juga bagus, apalagi dia sendiri yang mengajukan diri, orang biasa tidak mungkin mau!"


Evan menjadi lebih semangat, "Kapten, Kak Alex saja sudah bilang. Tolong beri aku kesempatan! "Evan adalah pengagum Alex, dan dia juga sangat ingin membuktikan dirinya di depan Nova.


Menurut temperamen Nova, dia pastinya tidak akan membawa pemula seperti ini bersamanya. Tapi karena Alex bilang oke, jadi dia juga tidak enak hati mengatakan lebih banyak, dan akhirnya dia mengangguk. Evan melompat kegirangan dan segera pergi untuk berganti pakaian.


Ketiganya keluar dari pos komando dan datang ke sekitar gudang bahan peledak. Sebuah helikopter militer sedang menunggu mereka, selain itu juga ada 8 orang pasukan khusus lainnya yang dipilih dengan cermat juga bersiaga di sana. Mereka akan berpartisipasi dalam serangan khusus ini bersama-sama.


Nova menjabat sebagai kapten dan memberikan arahan singkat di depan helikopter, "Dalam operasi berikutnya, kita akan menghadapi puluhan tentara bayaran Petir dari luar negeri. Mereka sudah membunuh banyak pasukan kami, selain itu mereka juga menculik Nyonya Ningsih dan menggunakan gudang bahan peledak sebagai ancaman. Dalam operasi ini, kita harus singkirkan mereka, menyelamatkan sandera, dan pastikan keselamatan penduduk Jakarta! Mengerti?"


“Dimengerti!” kedelapan prajurit itu menjawab serempak, meskipun hanya sedikit orang, tetapi semangat mereka luar biasa. Nova berkata, "Saya akan menjadi kapten dari misi penyerangan ini. Jika saya gugur dalam penyerangan, maka Alex yang akan menggantikan saya! Sekarang, periksa waktu masing-masing."