Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Pertemuan Pertama Kali


“Rusell sudah mati! Terus, Rico dan tukang kunci itu juga mati…” Nova tidak berdaya ketika menyampaikan hal ini kepada Alex melalui telepon.


Alex tersenyum pahit, “Bukankah mereka semua di bawah kendali pihak polisi? Kenapa bisa mati?”


Nova berkata dengan lemas, “Aku telah menyelidiki secara menyeluruh, tapi nggak menemukan keanehan. Awalnya, beberapa orang ini berada di pusat penahanan dan dijaga ketat, tapi mereka tiba-tiba meninggal! Selain itu, mereka semua meninggal karena gagal jantung.”


“Gagal jantung? Apakah ada obat yang setelah dikonsumsi akan terlihat mati seperti gagal jantung?” tanya Alex.


Nova menggelengkan kepala, “Dokter forensik kami telah melakukan otopsi dan nggak menemukan bahan obat penenang yang serupa.”


Alex berkata, “Mungkinkah itu semacam seni bela diri yang bisa menyerang jantung sehingga menimbulkan gejala seperti ini?”


“Seni bela diri?” Nova sedikit bingung, “Seni bela diri macam apa yang bisa menyebabkan efek begini?”


Alex juga merenung, “Em, aku juga nggak bisa memastikannya. Seingatku ada jurus telapak beracun yang tercatat di buku tradisional seni bela diri. Mau pukul ke punggung atau dada juga akan mempengaruhi jantung, dan bisa membuat jantung berhenti berdetak, selain itu nggak akan meninggalkan bekas luka. Aku rasa, gejala ini sama seperti gagal jantung yang kamu sebut.”


“Jurus telapak beracun? Ini adalah zaman modern, emangnya masih ada orang yang berlatih jurus semacam itu?” tanya Nova curiga.


Alex berkata, “Jika bukan pengaruh obat, maka itu karena seni bela diri dan yang melakukan ini pastinya seorang master yang tingkatannya sudah tinggi. Kalau nggak, mana mungkin orang biasa bisa masuk jika pusat penahanan memiliki penjaga yang begitu ketat?”


Nova merasa masuk akal, “Iya, setelah mendengar perkataanmu, aku juga merasa seperti itu. Tapi, siapa yang bisa melakukan hal ini dan berani pergi ke pusat penahanan untuk membunuh orang?”


Alex berkata, “Banyak orang yang punya nyali besar. Misalnya, Tuan Richard.”


Nova berkata, “Kami tentunya juga mencurigai Richard, tapi saat ini nggak ada bukti apa-apa! Seperti perihal mereka mencelakai Bibi Oktavia, kita juga hanya dapat menemukan Yudo, sedangkan Yudo sampai mati pun nggak mau mengakui bahwa itu adalah hasutan Richard, kita nggak bisa berbuat apa-apa.”


“Richard pasti akan tergulingkan,” ucap Alex dengan yakin.


“Aku ingin dia mendapatkan hukuman setimpal karena telah melakukan banyak kejahatan!” ucap Nova dengan kesal.


“Andi, kamu pernah dengar nggak seni bela diri apa yang bisa membuat orang terkena gagal jantung setelah dibunuh?” tanya Alex pada Andi melalui telepon.


Andi menjawab, “Bos, kamu saja nggak tahu hal ini, lalu gimana aku bisa tahu? Oh ya, Grup Athena sudah berhasil diakuisisi, sekarang tinggal tunggu kakak ipar untuk mengambil alih.”


“Oke,” jawab Alex sebelum mengakhiri panggilan. Saat sedang berjalan-jalan di jalanan, dia merasakan ada orang yang mengikutinya. Setelah berjalan cukup lama, orang itu masih saja mengikutinya. Kemudian, Alex berjalan ke sebuah kedai kopi dan duduk dengan tenang.


Setelah memesan secangkir kopi, Alex pun mengaduknya sehingga mengeluarkan suara gesekan dengan cangkir.


Dia mengaduk dengan serius, mata juga melihat ke bawah sehingga terlihat sangat fokus.


Cahaya di depannya sedikit redup, lalu ada seorang pria yang berumur sekitar 30 tahunan muncul di sampingnya. Tubuhnya terlihat sangat perkasa dengan balutan pakaian sport sehingga terlihat bersih dan rapi.


Alex menengadahkan kepalanya dengan pelan. Dia merasa orang di hadapannya ini memiliki ilmu bela diri yang hebat, selain itu dia sepertinya pernah menjadi tentara. Alex mengangguk dalam hati ketika melihat wajah orang tersebut, “Umm, pria perkasa.”


“Tuan Alex, bolehkah aku duduk di sini?” Pria itu berbicara dengan sopan dengan tatapan yang terlihat murni.


Pria perkasa mengangguk, “Aku kenal dengan Tuan Alex, tapi Tuan Alex nggak kenal aku, karena kita nggak pernah bertemu. Aku akan memperkenalkan diri dulu, namaku Damian Rinal, juga dikenal sebagai Damian si kaki besi di Sulawesi Utara. Tentu saja, ini juga karena pujian para teman.”


“Um, kamu sangat oke. Waiter, tolong tambah secangkir kopi lagi,” kata Alex  setelah menjentikkan jarinya.


“Em, Tuan Alex, nggak usah memesankan kopi untukku. Gimana kalau kita pindah tempat dan minum bir?” tanya Damian dengan ramah.


“Oke! Aku nggak familiar terhadap Tomohon, kamu saja yang cari tempatnya,” ucap Alex.


“Oke!” Damian terlihat sangat senang, “Nggak jauh dari sini ada sebuah restoran, hidangan ikan liar di sana sangat enak, itu juga merupakan hidangan khas mereka. Gimana kalau ke sana saja?”


“Ok!” Mereka berdua sependapat, sedangkan Damian berjalan di depan untuk memandu Alex dengan sangat senang.


Sebenarnya Alex tahu nama Damian si kaki besi, karena nama ini sangat terkenal di Sulawesi Utara, tapi nggak ada yang tahu nama aslinya. Hari ini, Damian si kaki besi langsung mengatakan nama aslinya ketika bertemu Alex, tampaknya dia sangat mempercayai Alex.


Dikatakan bahwa Damian si kaki besi terus-menerus mencari master selama bertahun-tahun. Namun, enam tahun yang lalu dia kembali ke Sulawesi Utara, kemudian menetap di pinggiran kota Tomohon. Dia juga bertarung melawan beberapa master di sana dan nggak pernah ada yang gagal.


Namun, dia tidak pernah berhubungan dengan Richard. Meskipun Richard mengundangnya bergabung sekali pun, Damian juga menolaknya dengan tegas. Dia mengatakan dirinya terobsesi dengan seni bela diri, dan tidak ingin berpartisipasi dalam perkelahian dan pembunuhan.


Namun, kedatangan Damian si kaki besi hari ini terlihat tidak sesederhana itu.


Dekorasi restoran ini cukup mengutamakan privasi dan memiliki ruangan pribadi, tampaknya sangat mewah, pantas saja bisnis mereka sangat bagus.


Langkah kaki Damian cukup ringan, setelah memasuki pintu utama, dia segera melangkahkan kaki ke sebuah ruang VIP. Pelayan juga segera mengikutinya dari belakang, “Kak Damian, aku sengaja menyimpan ruang VIP ini untukmu. Mau makan apa?”


Damian si kaki besi memperkenalkan Alex, “Ini adalah tamu terhormatku, biar dia saja yang pesan.”


Alex buru-buru menolak, “Ehem, aku nggak familiar dengan tempat ini, Kak Damian saja yang pesan.”


Damian si kaki besi mengangguk, “Baiklah, empat hidangan, dua daging dan dua sayur. Harus ada hidangan khas ya, yang sayur atur saja. Lalu, keluarkan dua bir bagus yang kusimpan di sini.”


“Kak Damian, sepertinya nggak perlu minum bir yang begitu bagus.” Alex sedikit terkejut. Dengar-dengar dengan status Damian si kaki besi, palingan hanya mengajar beberapa murid secara pribadi. Dia biasanya mencari nafkah dari bertani dan beternak, jadi penghasilannya seharusnya tidak begitu tinggi sampai sanggup meminum bir sekelas whiskey.


Damian berkata, “Tuan Alex, sebenarnya aku sudah lama memperhatikanmu, kuharap kamu nggak tersinggung.”


Alex mengangguk, “Memperhatikanku? Jika kamu bisa mengatakannya sejujur ini, aku juga nggak perlu merasa tersinggung.”


“Haha! Bagus!” Damian tertawa, kemudian berkata dengan suara kecil, “Tuan Alex, beberapa waktu ini, kamu mengutus orang untuk membeli gedung kantor di Jalan Hoki, juga membeli Grup Athena, bahkan membunuh Yudo dan mengalahkan Aldo. Sebenarnya aku terus berpikir, ngapain Tuan Alex datang ke sini?”


“Hm?” Alex merasa terkejut. Damian si kaki besi benar-benar bukan orang sembarangan! Jika dia tahu tentang hal lain, maka itu wajar saja. Tapi, perihal pertarungannya dengan Aldo bukan terjadi di tempat umum, jadi harusnya agak sulit baginya untuk mengetahui hal ini.


Selain itu, dia bukan seorang pengusaha, bagaimana dia bisa tahu bahwa dia membeli Grup Athena?