Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Memeras


"Ukh." Asman mengambil kartu bank dan menggelengkan kepalanya dengan senyum masam, "Jika kami tidak memasok semen kepada PT. Atish, kerugian PT. Tiga Gerobak harusnya ngak hanya segini, kan?"


Bernard tersenyum datar, "Itu kerugian kantor pusat PT. Tiga Gerobak, bukan kerugian pribadimu. Walaupun PT. Tiga Gerobak dapat menghasilkan beberapa triliun, tapi berapa banyak uang yang dapat kamu miliki? Tentunya itu bahkan tidak sampai 200 juta, kan?"


Asman tertawa dan berkata, "Oke! Tuan Bernard, Anda benar! Mari minum tehnya."


Siapa sangka saat dia baru saja mengambil cangkir tehnya, ponselnya pun berdering. Dia terkejut saat melihat nama penelpon, "Pak Chiko?"


Dia buru-buru menjawab panggilan tersebut sambil berdiri dengan hormat, "Halo Pak Chiko, iya ini Asman."


Suara Chiko terdengar sangat marah, "Asman! Pekerjaanmu di kota Medan ngak benar, aku akan mengajukan pada dewan direksi untuk memecatmu! Oh iya, aku sedang mempertimbangkan kembali penanggung jawab baru di kota Medan. "


"Ah? Pak Chiko! Jangan! Kenapa pekerjaan saya tidak benar? Pekerjaannya berjalan dengan baik kok, Pak! Pak Chiko, Anda tidak boleh mendengarkan rumor." Bulir-bulir keringat Asman segera menetes!


Di sini lain, Alex menelpon Erika, “Nanti kalau Asman menelponmu, entah ada urusan apa itu, kamu harus menolaknya."


“Ah? Dia akan menelponku? Kita lagi butuh pasokan semennya, bagaimana aku bisa menolaknya?” Erika bingung.


Alex berkata, "Orang seperti ini harus diberi pelajaran sebelum dia bisa bekerja dengan jujur. Kamu dengarkan saja kataku."


"Oke." Erika setuju.


Asman dibanjiri keringat, dia berulang kali mengiyakan perkataan Chiko. Akhirnya, setelah Pak Chiko menutup telepon, Asman ambruk di kursinya, "Ya Tuhan! Kenapa masalah berhenti memasok semen kepada PT. Atish bisa sampai ke telinga Pak Chiko? Gimana ini?"


Bernard menatapnya, "Asman, kamu ngak boleh plin-plan!"


Asman mengeluarkan kartu bank tersebut, dan berkata dengan sangat berat hati, "Tuan Bernard, maaf, masalah ini telah diketahui oleh eksekutif perusahaan. Aku bahkan ngak bisa menjamin pekerjaanku sekarang. Aku juga ngak punya pilihan selain segera melanjutkan pasokan semen kepada PT. Atish."


"Apa? Asman, emang kamu ngak bisa bikin pemalsuan? Jangan pulihkan pemasokannya!" Bernard cemas, "Jika kamu berani memulihkan pemasokannya, percaya ngak aku akan membuat perhitungan denganmu?"


Asman menangis, "Tuan Bernard, aku tahu kamu hebat, tapi jika aku ngak memulihkan pasokan, maka seseorang akan segera menggantikan posisiku, dan pasokan semen akan tetap diberikan kepada PT. Atish."


“Lagi pula, kamu sudah mengambil uangku, jika kamu berani ngak bekerja untukku… hmph! Pikirkan baik-baik!” Bernard berbalik dan meninggalkan ruangan, lalu membanting pintu.


“Lihat, Bernard sudah keluar.” Jasmin masih sedikit bingung ketika melihat Bernard, “Kok dia kelihatan marah?”


Alex mengedipkan matanya, lalu berkata, "Mungkin, dia kebelet?"


Pfftt! Jasmin terhibur olehnya, "Tuan Alex, Anda benar-benar pandai omong kosong."


Setelah beberapa saat, Asman berlari keluar dengan keringatan, dia melihat sekeliling seakan sedang mencari seseorang.


“Ayo turun! Dia pasti mencari kita.” Alex membuka pintu mobil dan berjalan turun.


“Pak Asman, lagi nyari siapa?” Jasmin menyapanya dengan senyuman dan berjalan cepat.


"Ah? Nona Jasmin! Anda masih di sini rupanya! Baguslah! Kami memutuskan untuk segera melanjutkan pasokan semen untuk PT. Atish! Dan akan memasok secukupnya, sebanyak yang kalian inginkan. Kami akan memastikan proyek rekonstruksi pelabuhan berjalan lancar, anggap saja berkontribusi pada pembangunan kota Medan." Sanjung Asman.


Alex mengedipkan mata padanya segera, artinya: Jangan setuju.


Jasmin juga sangat gesit, dia segera meraih lengan Alex dan berkata, "Pak Asman, Tuan Alex dan aku datang untuk minum teh, kami ngak ingin membicarakan masalah bisnis denganmu."


"Ah? Nona Jasmin! Dengarkan aku, aku baru saja menelpon Presdir Buana, dia bilang kamu ada di kedai teh, dan memintaku menemuimu, kamu bisa pergi minum teh dulu, bahas nanti juga sama saja!" Asman sudah hampir memohon.


“Nanti? Ngak bisa dong, Tuan Alex ngak bisa menunggu kita.” Jasmin mengedipkan mata pada Alex, dan terus menggandeng Alex masuk ke dalam kedai teh.


Asman langsung berlutut, “Nona Jasmin, tolong bicarakan masalah bisnis denganku segera, kumohon!”


"Ah?" Jasmin tidak menyangka Asman akan berlutut sungguhan. Dia melirik Alex dengan heran, lalu berbalik dengan cepat, "Pak Asman, jangan begini, cepat bangun!"


Gimana Asman bisa tidak cemas? Baru saja Pak Chiko mengatakan kepadanya bahwa jika dia tidak dapat memasok semen kepada PT. Atish dengan lancar dalam waktu setengah jam, maka dia akan segera memindahkan Asman dan mengganti penanggung jawab atas kota Medan dengan orang lain.


Jika Jasmin tidak mau bekerja sama, Asman akan segera kehilangan pekerjaannya! Sumber penghasilannya ini bukanlah pekerjaan biasa, setiap tahunnya dia akan mendapatkan penghasilan miliaran rupiah.


Demi pendapatan miliaran, berlutut bukanlah apa-apa.


Alex menghentikan Jasmin, "Ngapain bantu dia? Tanpa Asman, nanti juga akan ada Asmin dan Asmon. Pada saat itu, proyek kita akan berlanjut seperti rencana. Ngak perlu ngurus penjahat seperti ini."


Jasmin menyeringai, "Uh, Pak Asman, maafkan aku. Aku harus mendengarkan kata-kata Tuan Alex."


"Ah? Tuan Alex!" Asman menangis sampai belepotan air mata. Dia merangkak ke arah Alex, dan bersujud sambil merangkak, "Tuan Alex, tolong ampuni aku, kumohon biarkan aku kembali memasok semen untuk PT. Atish!"


Jasmin belum pernah melihat pemandangan seperti itu. Apakah Asman salah minum obat? Bukankah sebelumnya dia sombong dan tidak menganggap PT. Atish sama sekali? Kenapa sekarang berubah?


Alex berkata, "Penuhi 2 syaratku, dan kamu dapat memasoknya lagi."


Dia sengaja melakukan gerakan mengetuk kepada Jasmin, yang berarti dia ingin memerasnya!


“Oke, oke! Aku janji, aku akan penuhi semua syaratnya!” Asman tidak punya cara lain, dia hanya bisa berulang kali mengiyakan.


Alex berkata, "Pertama, tampar dirimu sendiri sebanyak 50 tamparan dan mulai sekarang juga. Kedua, setiap kantong semen yang dipasok untuk PT. Atosh setidaknya harus lebih murah 1% dibanding harga pasar."


“Hah?” Asman sudah mulai menampar dirinya sendiri, tapi ketika dia mendengar harganya harus diturunkan 1%,  dia pun tercengang dan mulai bersuara, “Tuan Alex, tidak bisa! Jika itu masalahnya, aku ngak akan bisa menjelaskannya pada kantor pusat!"


Sementara dia berbicara, tangannya tetap menampar dirinya sendiri.


Jasmin semakin bingung: Apa otak Tuan Asman kemasukan air?


Alex meraih tangan Jasmin, "Karena Tuan Asman ngak setuju, ayo pergi minum teh."


“Aku setuju!” Asman tampak sedih, dan terus menampar dirinya sendiri, “Aku setuju! Semua semen, terlepas dari labelnya, akan dikurangi 1%!”


Sakit daging dan sakit hati! 1% bukanlah jumlah yang kecil! Setidaknya itu bisa membuat PT. Tiga Gerobak rugi puluhan miliar! Tentunya, Asman bukannya tidak berdaya, tapi dia akan diceramahi.