Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Wanita Asing yang Mempersembahkan Dirinya


Alex hanya tersenyum sinis melihat kejadian itu. Tentu saja dia tidak percaya bahwa Anwar begitu baik hati. Anwar hanya belum mengetahui dengan jelas latar belakang Alex, jadi dia menghentikan bawahannya.


“Ternyata kamu memang sangat pandai berbicara. Sudah lama aku tidak bertemu dengan anak muda yang begitu arogan di hadapanku di kota Kendari. Bahkan Farraz juga harus menyapaku saat bertemu denganku,” kata Anwar dengan dingin.


“Hentikan omong kosongmu. Kamu tidak datang hanya untuk omong kosong, kan?” Alex menatap Anwar dengan dingin.


“Hei, jangan terlalu sombong! Ini adalah kota Kendari. Kalau Pak Anwar ingin kamu mati, jangan harap kamu bisa keluar dari Hotel Snow hari ini!” Pria paruh baya berambut panjang yang berdiri di sebelah kiri menggertak dengan marah.


Pria berambut cepak di sebelahnya terlihat sangat kuat, tetapi dia tidak mengatakan apa-apa. Hanya saja, ada pandangan membunuh yang melekat di matanya.


Dia adalah tipe orang yang kejam tapi tidak banyak berbicara.


Alex tertawa di dalam hati. Ketiga orang ini seperti sedang bersandiwara.


Dia sudah sengaja memprovokasi Anwar, tapi Anwar masih tidak berencana untuk bertindak. Dia jelas adalah orang yang sangat tenang. Sebelum mengetahui dengan jelas kekuatan Alex, Anwar tidak akan mau bertindak.


Alex tersenyum, “Oh iya, Farraz yang kamu sebut itu juga sudah aku hajar kemarin. Orang yang setipe biasanya akan berkumpul bersama. Berhubung putramu dan Farraz sudah pernah aku hajar, jadi sangat wajar kalau dia menyapamu.”


Anwar mengerutkan alisnya setelah mendengar kata-kata itu, tetapi dengan cepat dia menggelengkan kepalanya, “Kamu benar-benar masih muda dan energik. Tapi Alex, aku akan tetap memberimu sebuah nasihat. Di kota Kendari, sebaiknya kamu jangan terlalu sombong meskipun kamu sangat hebat. Ini adalah pesanku untukmu.”


Setelah selesai berbicara, Anwar langsung membalikkan badannya dan pergi. Dia sama sekali tidak berniat untuk melakukan apa pun pada Alex.


Pria berambut panjang itu menatap Anwar dengan sedikit bingung. Saat mereka telah masuk ke dalam mobil, dia baru bersuara, “Pak Anwar, kenapa kamu tidak membiarkanku menghabisi bocah itu? Lagi pula, itu adalah hal yang sangat gampang.”


“Maple, Pak Anwar pasti punya alasannya sendiri untuk tidak bertindak. Kamu hanya perlu menuruti perintah Pak Anwar.” Pria kuat berambut cepak itu buru-buru mencelanya.


Pak Anwar hanya melambaikan tangannya, “Dia sudah menyinggung Farraz, jadi aku juga tidak perlu bertindak duluan dan hanya perlu menunggu tindakan dari Keluarga Bazel. Sekarang, sudah ada orang yang akan membantuku membereskannya, kenapa aku harus turun tangan sendiri?”


Maple baru tiba-tiba sadar dan mengerti. Dia menatap pria kuat itu, “Yessi, kamu mengerti apa? Aku hanya bertanya karena tidak mengerti dan ingin mengerti. Apakah itu salah?”


Baru saja Yessi ingin memakinya, Anwar pun menggelengkan kepalanya, “Sudahlah, jangan ribut lagi. Kata-kata Paulina benar. Kita tunggu saja! Kalau bahkan Keluarga Bazel juga tidak bertindak, PT. Mega juga tidak perlu bertindak. Kalau mereka tidak merasa malu, kenapa kita harus merasa malu?”


Setelah selesai berbicara, Anwar tersenyum licik.


Namun dengan cepat, dia mengerutkan alisnya lagi, “Alex? Aku sudah ingat! Maple, nanti setelah pulang, coba kamu selidiki apakah Alex yang menghancurkan Richard adalah bocah yang kita temui tadi?!”


Maple menatap Anwar dengan bingung, “Pak Anwar, maksudmu PT. Atish akan masuk ke kota Kendari? Mustahil! Mereka masih belum memiliki waktu yang cukup untuk mencerna industri-industri itu. Kalau mereka masih ekspansi di saat seperti ini, bukankah akan muncul kerugian yang sangat besar?”


Meskipun dia bukanlah seorang pebisnis, dia masih mengerti prinsip sederhana seperti ini. Ada beberapa model bisnis yang diketahui oleh semua orang, tetapi model bisnis ekspansi sudah ketinggalan zaman. Jika mereka menggunakan model bisnis ekspansi di saat ini, mereka akan mengalami kerugian yang sangat besar.


Jadi, Maple merasa Alex seharusnya tidak akan begitu cepat datang ke kota Kendari.


Anwar menggelengkan kepalanya, “Bagaimanapun juga, tidak ada salahnya kita selidiki dengan jelas. Kalian harus selidiki dengan jelas identitas Alex dan siapa yang menyokongnya di belakang. Dia tidak mungkin berani begitu arogan di depanku kalau dia tidak mempunyai latar belakang apa-apa.”


Maple berkata, “Aku mengerti. Aku akan memastikannya nanti.”


Alex yang masih berdiri di depan resepsionis merasa sedikit aneh. Dia mengira bahwa kedatangan Anwar tadi adalah untuk membalaskan dendam putranya, tapi dia malah pergi begitu saja.


Dia menganalisisnya sebentar dan segera tahu alasannya.


Alex membalikkan badannya dan berjalan ke atas. Namun tepat di saat itu, pintu lift terbuka dan ada seorang wanita yang menabraknya. Wajah wanita itu sangat merah. Dia mencengkeram Alex dan berkata setelah mengambil napas dalam-dalam, “Kakak, bawa aku ke kantor polisi.”


“Apa?” Alex sedikit tidak mengerti akan situasi saat ini.


Tepat di saat itu, ada dua pria paruh baya yang berjalan mendekati mereka. Setelah melihat wanita itu, mereka tersenyum sombong, “Aku kira kamu sudah pergi entah ke mana, ternyata kamu di sini, ya! Ayo, naik dan lanjut bermain!”


Kedua pria paruh baya itu sampai di hadapan Alex saat berbicara. Mereka mengulurkan tangan untuk meraih wanita itu, tetapi Alex lebih cepat selangkah dan sudah melangkah mundur sambil memeluk wanita itu. Dia bertanya dengan wajah kebingungan, “Siapa kalian? Kalian mau membawa pacarku ke mana?”


Morgan tercengang sekejap, “Dia itu pacarmu?”


Alex mengangguk.


Raut wajah Morgan tiba-tiba berubah, “Jangan bercanda! Dia adalah teman kami. Lagi pula, dia tidak pernah mengatakan bahwa dia sudah punya pacar!”


Trevor, pria paruh baya lainnya mengangguk dengan pasti, “Kami sudah mengenalnya begitu lama dan tidak pernah mendengar bahwa dia punya pacar. Apa kamu mau menculik orang?”


Namun, Alex menjawab dengan natural, “Dia adalah pacarku. Dia memintaku untuk menjemputnya dan bahkan langsung memelukku begitu pintu lift terbuka.”


“Kalau begitu, coba katakan siapa namanya?” tanya Morgan.


“Mawar.” Alex sama sekali tidak ragu saat menjawab.


Morgan langsung tersedak.  Apa-apaan? Kenapa namanya begitu ketinggalan zaman?


“Namanya bukan Mawar!” teriak Trevor.


Alex bahkan tidak mengedipkan matanya, “Kalau kamu bilang namanya bukan Mawar, jadi siapa namanya?”


“Namanya adalah Febriani.”


Alex mencibir, “Lucu sekali! Memangnya ada orang yang bernama seperti itu? Jelas-jelas kamu yang mengarangnya!”


Keringat di dahi Trevor bertambah banyak, sedangkan Morgan diam-diam mengirim sebuah pesan.


Alex berkata pada wanita di dalam pelukannya, “Sayang, ayo kita pulang.”


Wanita itu hanya mengiyakan dengan suara yang pelan, tapi itu cukup membuat semua orang percaya bawa Alex benar-benar adalah pacar wanita itu.


Namun, Trevor malah menahan Alex. Dia tersenyum dingin, “Bro, kamu bekerja di mana? Berani-beraninya kamu ikut campur dalam masalah PT. Zrank.”


“PT. Zrank?” Alex menatap Trevor dengan kebingungan, terutama setelah melihat ekspresinya yang bangga setelah menyebutkan nama PT. Zrank.


Sebenarnya perusahaan seperti apa itu hingga bisa membuatnya merasa begitu bangga? Seolah-olah dirinya sudah menjadi penyelamat dunia dan dikagumi oleh semua orang.


Apakah dia sudah gila?


“Perusahaan macam apa itu? Aku bahkan tidak pernah mendengarnya. Apakah sangat hebat?” ujar Alex dengan penuh hinaan.