Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Gadis Cantik Melarikan Diri


Dalam show bulanan Klub Phoenix, Yunita akhirnya berhasil memenangkan kejuaraan, sehingga mewujudkan mimpinya dan menjadi kesayangan di mata banyak pebisnis dan elit. Kesempatan Edi datang, karena Yunita memenangkan kejuaraan, dia bisa menandatangani kontrak sewa dengan Yunita, atau membeli kontrak.


Sifat sewa dan pembelian sangat berbeda. Sewa mengacu pada sewa jangka pendek dengan jangka waktu setengah tahun, dan biaya sewa adalah 1 miliar per bulan, sedangkan membeli  kontrak membutuhkan biaya yang lebih tinggi.


Kontrak dua tahun yang ditandatangani oleh Yunita dengan Klub Phoenix akan berakhir dalam satu tahun. Menurut biaya sewa, seharusnya 13 miliar. Jika dibeli, maka perlu membayar denda setidaknya 26 miliar.


Edi tidak punya uang sebanyak itu, jadi dia memberi tahu Alex sebelumnya bahwa sulit baginya untuk menangani hal ini. Dia benar-benar tidak tega membiarkan gadis kesayangannya menjadi mainan pria lain.


Yunita juga sangat mengagumi pria tangguh seperti Edi.


Dua sejoli yang terpisahkan oleh jarak hanya bisa mengandalkan Alex saat ini.


"Edi, aku baru saja mentransfer 26 miliar untukmu. Sana, beli Yunita. Mulai sekarang, dia akan menjadi tunanganmu." kata Alex.


"Apa? Kak Alex, kapan kamu mentransfer 26 miliar untukku?"Edi buru-buru memeriksa m-banking, dan benar saja, dia baru saja menerima transfer sebesar 26 miliar.


"Kak Alex, kamu benar-benar terlalu baik padaku, biarkan aku bersujud padamu."


Saat Edi hendak bersujud, Alex buru-buru menghentikannya, "Edi, jika kamu masih begini, maka hubungan persaudaraan kita cukup sampai di sini saja."


Edi segera berkata, "Kak Alex, aku akan membeli Yunita sekarang juga."


Edi dan Yunita saling menyukai, hal semacam ini sangat mudah diatasi. Edi segera berkomunikasi dengan pihak Klub Phoenix. Semua akan mudah jika ada uang, dan segera, Edi membawa Yunita kembali.


"Yunita, ini Kak Alex, ini kakak ipar."


Yunita tersenyum, "Kak Alex, kakak ipar."


Alex tersenyum dan mengangguk, lalu bertanya kepada Yunita, "Yunita, kamu orang mana?"


Yunita menjawab sambil tersenyum, "Medan."


Alex mengangguk: "Pertunjukanmu tadi memang luar biasa. Karena kamu dan Edi saling jatuh cinta, maka kamu akan menjadi adik iparku mulai sekarang, duduklah, jangan sungkan."


Alex meminta Yunita untuk menceritakan semua kisahnya di Klub Phoenix, lalu berkata kepada Erika: "Erika, mungkin kita juga bisa mengadakan pertunjukan seperti ini di masa depan."


Erika melengkungkan bibirnya dan berkata, "Untuk apa mencari begitu banyak wanita cantik, kamu mau pilih satu lagi?"


Alex tersenyum: "Aku cukup hanya kamu saja. Maksudku, kita bisa meniru cara Klub Phoenix dan melatih milik kita sendiri. Tujuan utama kita adalah untuk mempromosikan gadis-gadis pemenang ke industri hiburan di masa depan. Di kemudian hari, mereka akan turut andil dalam syuting film dan menjadi artis, bukannya membiarkan mereka menjadi selingkuhan orang kaya."


Erika berpikir sejenak, "Kalau ini boleh juga."


Alex berkata kepada Yunita: "Nantinya Yunita bisa datang ke hotel kakak iparmu untuk membantunya mengembangkan orang berbakat di bidang ini."


Yunita berkata dengan gembira: "Terima kasih, kak Alex, aku pasti akan membantu kakak ipar."


"Oh iya, kak Alex, aku sebenarnya juga ingin menjadi artis," kata Yunita.


Edi di samping berkata: "Apa bagusnya jadi artis? Kamu akan berakting jadi istri orang lama kelamaan. Yun, aku tidak ingin kamu terlibat dalam dunia hiburan. Kamu cukup membantu kakak ipar mengelola hotelnya saja."


Yunita sangat bijak, dia mengangguk, "Aku akan mendengar kata kak Alex dan kakak ipar. Aku akan melakukan apa yang mereka atur."


Erika berkata: "Pertunjukan sudah berakhir, haruskah kita pergi?"


Dalam perjalanan pulang, Alex sedang memikirkan satu hal. Meskipun dia tidak ingin Erika mengambil alih posisi Rangga segera, akan tetapi Jakarta Timur adalah kampung halamannya, dan si Wendy, dia perlu menghubunginya sendiri.


Edi berkata, "Kak Alex, gimana kalau nginap di rumahku?"


Alex melambaikan tangannya, "Tidak perlu. Aku sudah memesan hotel. Selain itu, ada hal lain yang harus kami lakukan besok. Kami akan menghubungimu lagi lain hari."


Edi berkata: "Oke. Kalau begitu kami pergi dulu. Jangan lupa telpon aku. Aku sudah bertekad untuk mengikuti kak Alex."


Alex tersenyum, "Aku akan memerlukanmu di masa mendatang."


Setelah kembali ke hotel, Erika berkata, "Alex, aku lelah, aku akan mandi dulu."


Alex mengangguk setuju. Erika melepas mantelnya dan pergi ke kamar mandi. Ketika dia masuk, dia juga mengingatkan Alex, "Jangan ngintip."


Alex tersenyum, "Jangan khawatir, apa gunanya mengintip? Aku akan melihatnya secara terang-terangan nanti!"


Erika menutup pintu dan mulai mandi. Sekitar setengah jam kemudian, Erika selesai mandi, karena pakaian dalam baru saja dicuci, dan setelah mengeringkannya dengan pengering, Erika berencana untuk menjemurnya sebentar sebelum memakai kembali. Jadi, dia keluar dengan hanya berbalut handuk.


Melihat istrinya yang hanya berbalut handuk tipis, kulit seputih salju dan lekuk tubuh yang menggoda di balik handuk.


Alex menelan saliva: "Erika, kamu benar-benar cantik."


"Apa yang kamu lihat? Cepat mandi sana. "Erika menjulingkan matanya menatap Alex.


Alex bergegas ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Kemudian dia berjalan keluar dan melihat Erika yang sedang membaca berita di ponselnya. Dia diam-diam menghampirinya, memeluk Erika, dan kemudian menurunkan Erika di kasur.


Erika menggerutu, "Dasar! Bisakah kita lakukan setelah pulang?"


Alex berkata, "Apa yang harus ditakuti? Kita ini pasangan sah, Erika, biarkan aku merasakannya lagi, ya?"


Erika melepaskan diri dari Alex dan berkata sambil tersenyum,"Aku serius. Baru-baru ini, polisi sedang menindak perbuatan ilegal. Kita tidak membawa surat nikah. Jika tertangkap, bukankah kita cari masalah sendiri?"


Alex mendengus, "Siapa yang berani menggangguku? Tentara bayaran iblis saja tidak berani, apalagi polisi."


Setelah Alex selesai berbicara, dia tidak bisa menahan dirinya lagi, dia melepaskan handuk Erika, dan menekannya...


Setelah selesai, keduanya berpelukan dan beristirahat bersama. Erika berkata, "Sayang, Wendy sudah beberapa kali mengundang kita untuk makan malam. Kamu tidak pernah menerimanya, aku khawatir dia punya dendam dengan kita. "


Alex berkata, "Tenanglah, aku akan berbicara dengannya kali ini."


Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang berantakan di luar pintu, disertai perkataan, "Ini kamarnya."


Alex merasa risih, "Ada apa ini?"


Pintu dibuka, dan tiga petugas polisi masuk ke dalam. Yang berada di depan berteriak: "Jangan bergerak, polisi akan memeriksa ruangan."