
Setelah melemparkan pistol mitraliur ke samping, Alex membawa Friska dan Amel berjalan turun.
“Apakah kita akan menyusuri tangga sampai bawah?” tanya Amel dengan penasaran.
Alex menggelengkan kepala. “Nggak, kali ini, kita akan naik lift.”
Setelah melihat bahwa waktunya sudah hampir tiba, Alex juga sudah tidak ingin bersembunyi lagi. Dia tahu kali ini, dia sudah boleh langsung turun ke bawah.
Setelah mereka tiba di depan lift, Alex langsung menekan tombol turun ke lantai satu di kelima lift yang ada di hotel. Kemudian, dia menghancurkan CCTV yang ada di dalam semua lift itu. Setelah itu, mereka bertiga masuk ke dalam salah satu lift dan turun ke bawah.
Saat berada di dalam lift, Alex juga tidak beristirahat. Dia melepas lampu di dalam lift dan juga penutup di atas lampu.
“Ayo naik ke atas dulu. Kita akan turun setelah memastikan situasinya aman,” saran Alex.
Friska dan Amel tentu saja tidak menolak. Lagi pula, mereka tahu bahwa Alex adalah orang yang paling familier dengan pertarungan seperti ini. Amel juga dapat melihat bahwa Alex sangat berpengalaman. Dia bahkan memiliki sebuah ilusi bahwa Alex adalah tentara bayaran yang sudah kembali dengan selamat dari peperangan di luar negeri.
Alex baru naik setelah mengangkat kedua wanita itu ke atas lift, lalu dia memasang kembali lampu lift itu. Lift masih melaju ke bawah dengan kecepatan yang tidak termasuk lambat. Tidak lama kemudian, mereka sudah tiba di lantai satu.
Saat ini, mereka mendengar suara yang sangat bising di luar. Alex tahu bahwa itu adalah suara para pengawal yang sedang berjongkok di depan pintu lift untuk menunggu mereka.
Saat pintu lift terbuka, semua pengawal membidik ke arah lift. Akan tetapi, mereka sangat kebingungan karena kelima lift itu kosong melompong.
Mereka masuk ke dalam lift dengan kebingungan dan melihat ke sekeliling, tetapi mereka sama sekali tidak menemukan jejak Alex dan yang lainnya.
Namun, ada seorang pengawal yang memandang ke arah lampu di atas sebuah lift dengan aneh. Dia menyadari bahwa lampu itu terlihat sedikit longgar.
Saat dia hendak mengulurkan tangannya untuk melihat apakah dia bisa menarik turun lampu itu, lampu itu tiba-tiba jatuh. Pengawal itu langsung pingsan tanpa sempat berteriak kesakitan.
Pengawal yang lain menatap lift itu dengan sangat gugup. Tepat di saat mereka mengangkat senjata mereka, Alex turun dari atas lift dan menembak pengawal di luar lift menggunakan dua pistol di tangannya.
Dalam sekejap, sekitar lima orang pengawal jatuh ke atas lantai dan berteriak kesakitan. Pengawal yang tidak terluka berangsur-angsur mencari tempat untuk bersembunyi dan mengarahkan senjata mereka ke arah lift. Akan tetapi, mereka tidak bisa melihat situasi di dalam lift dengan jelas karena masalah sudut pandang.
Saat ini, Morgan sudah tiba di lantai satu dan berteriak ke arah lift, “Alex, cepat keluar dan menyerahlah! Dengan begitu, kami akan mengampuni kalian. Kalau kalian masih keras kepala, kami akan melemparkan bom ke dalam lift!!!”
Namun, Alex hanya bersandar di dalam lift dengan santai. Dia memungut pistol mitraliur yang ada di tangan pengawal di dalam lift, lalu mengembalikan pistol Friska dan Amel kepada mereka.
“Mereka akan melemparkan bom!!!” kata Amel dengan sangat terkejut.
Alex hanya tersenyum, “Tenang saja. Kamu pikir mereka benar-benar akan melempar bom? Kalau bom meledak, orang luar akan tahu masalah di dalam sini. Jadi, mereka nggak akan berbuat begitu. Lagi pula, kalau mereka benar-benar melempar bom, kita juga bisa bersembunyi di atas.”
“Pertunjukkan dimulai!!!” Sebuah senyuman muncul di wajah Alex.
Amel tidak tahu apa maksud kata-kata Alex, tetapi tepat di saat itu, mereka mendengar suara jeritan dari luar. Morgan sama sekali tidak menyangka bahwa di saat seperti ini, ada orang yang datang untuk menolong Alex dan yang lainnya.
“Ada serangan musuh!!!” Fandi menarik Morgan ke samping. Lagi pula, dia juga tahu jika bala bantuan Alex sudah tiba, mereka sudah harus mundur. Sementara tugas Fandi adalah untuk menjamin keselamatan Morgan.
“Nggak mungkin! Kenapa bala bantuan Alex bisa kemari?! Kita sudah memblokir seluruh sinyal di gedung ini, seharusnya mereka tidak mempunyai cara untuk menghubungi orang luar!” kata Morgan dengan sangat terkejut.
Fandi tentu saja tidak mengetahui alasannya. Namun, bagi dirinya, hal terpenting yang harus dilakukannya sekarang adalah membawa Morgan meninggalkan tempat ini.
Andi memimpin di depan dan dengan cepat menembak para pengawal yang sedang panik mencari tempat untuk melindungi diri. Semua peluru yang diluncurkannya tidak ada yang meleset dan mengenai tepat di posisi yang mematikan. Para pengawal itu sama sekali tidak mengerti tokoh seperti apa lawan mereka itu dan kenapa tembakannya sangat akurat.
“Mundur!!!” teriak Morgan dengan wajah penuh keterkejutan. Dia tahu bahwa dia sudah tidak bisa melawan Alex karena mereka bahkan sudah kewalahan dalam menghadapi Alex seorang. Saat ini, bala bantuan Alex sudah datang, jadi mereka lebih tidak mempunyai harapan lagi. Alhasil, Morgan langsung memberi perintah kepada pasukannya tanpa ragu.
Dalam sekejap, semua pengawal dan preman berangsur-angsur melarikan diri. Sementara Andi dan yang lainnya hanya tersenyum dan tidak memedulikan preman-preman itu lagi. Mereka tentu saja akan tetap menembak sasaran mereka, tetapi mereka juga tidak mengejar orang yang sudah kabur.
Andi datang ke depan pintu lift dengan wajah penuh senyum. Dia melihat Alex sedang membongkar pistol mitraliur di tangannya dengan tenang, jadi dia langsung menyapa, “Bos, aku sudah datang!”
Alex mengangguk, “Akhirnya kamu datang tepat waktu untuk yang pertama kalinya.”
Saat menjalankan tugas dulu, Andi selalu datang terlambat. Jadi, mereka sudah terbiasa untuk memperpanjang waktu sebentar dari waktu Andi datang membantu mereka. Dengan begitu, mereka baru bisa bertepatan dengan waktu kedatangan Andi. Kali ini, Alex juga berbuat begitu. Namun, dia tidak menduga bahwa kali ini, Andi ternyata datang tepat waktu.
Andi berkata dengan sedikit malu, “Kebetulan aku berada di sekitar sini, jadi aku langsung kemari. Tapi, bajingan-bajingan ini begitu lemah. Kalau kamu benar-benar ingin bertindak, mereka tentu saja bukan lawanmu.”
Alex berkata dengan acuh tak acuh, “Kita sedang berada di Negara Indonesia. Aku nggak ingin meninggalkan nama buruk di sini karena aku ingin pensiun di tempat ini.”
Andi mengangkat bahunya, “Untung saja aku nggak ingin pensiun di sini. Kalau sudah tua, aku ingin berkeliling dunia.”
Alex membawa Amel dan Friska keluar, lalu berkata pada Amel, “Kamu sudah boleh menelepon Robert untuk kemari sekarang, jadi mereka bisa menangani hal ini.”
Meskipun Amel sedikit geram, dia juga tahu bahwa pasukan Robert tidak akan bisa menghadapi baku tembak seperti ini. Lagi pula, senjata pasukan Robert memang tidak bisa dibandingkan dengan senjata bandit-bandit ini.
Semua bandit ini menggunakan pistol mitraliur dan senapan serbu. Jadi jika Robert benar-benar datang kemari, dia juga sama sekali tidak bisa melawan. Jika Amel memang benar-benar ingin memanggil bantuan, dia setidaknya harus memanggil bantuan pasukan khusus.
Setelah Robert dan pasukannya tiba di Hotel Snow, dia langsung terkejut melihat situasi di seluruh hotel. Dia sama sekali tidak tahu apa yang sudah terjadi di sini. Situasinya sangat mengerikan dan ada bekas peluru di mana-mana. Lagi pula, ada belasan orang yang tergeletak di atas genangan darah karena tertembak.