Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Terpesona


Alex duduk satu meter dari Friska, "Baiklah, langsung ke topiknya saja."


Friska berkata, "Aku benar-benar ingin tahu bagaimana kamu membuat ketiga orang itu 'melompat dari gedung.' Aku bertanya pada Jasmin, tapi dia menolak untuk mengatakannya."


Alex tertawa, "Karena ini rahasia, semakin sedikit orang yang tahu, semakin baik."


Friska memutar matanya ke arahnya, "Yah, aku ngak akan bertanya lagi kalau kamu ngak mau memberitahuku. Ngomong-ngomong, kamu ingat undangan perang keluarga Mahari? Belakangan ini aku belum melihat persiapanmu. Ada tiga orang yang akan ikut dalam petarungan nantinya. Lawan memiliki Tambo, kamu bisa menghadapinya, berapa peluang untuk menangnya? "


Alex berkata, "Jangan tanya, yang jelas kita pasti akan menang! Kamu akan tahu nanti."


“Masih mau main rahasia-rahasiaan denganku?” Friska berdiri, berjalan ke arahnya perlahan, lalu mengerucutkan bibirnya, “Aku ‘kan khawatir!”


Alex berkata, "Kamu cukup mengerahkan seluruh tenagamu untuk proyek rekonstruksi pelabuhan Medan saja. "


“Oke deh.” Friska tidak mendapatkan jawaban apapun, tetapi dia menatap Alex dengan matanya yang indah dan menolak untuk mengalihkan pandangan untuk waktu yang lama.


Semakin banyak kontak dengan Alex, semakin Friska percaya bahwa ini adalah pria yang sangat baik dan pangeran idamannya.


Tok tok, pintu diketuk.


“Itu bukan Erika, kan?” Friska tiba-tiba gugup, meskipun mereka berdua tidak melakukan apapun.


“Masuk.” Alex yang tidak merasa bersalah berkata dengan keras.


Begitu pintu terbuka, Jasmin melangkah masuk dalam satu langkah, "Tuan Alex! Uh ... Nona Friska juga ada di sini."


Friska sudah berjalan ke arahnya dan tersenyum, "Aku membicarakan sebuah masalah dengannya dan hendak pergi. Kalian bicarakan saja, aku pergi dulu."


Saat dia melewati Jasmin, dan berjalan keluar dari ruangan, dia juga sekalian menutup pintu.


Jasmin sedikit gugup, dia melirik ke arah pintu, dan berkata dengan cemas, "Tuan Alex, apa yang baru saja kalian bicarakan?"


Begitu pertanyaan ini dilontarkan, rasanya ingin sekali dia segera menampar dirinya sendiri: Pertanyaan macam apa ini? Ngak baik menanyakan isi percakapan orang lain!


Alex tersenyum, "Ngak ada apa-apa. Ada apa, Jasmin?"


Meskipun Jasmin masih sedikit gugup, tapi melihat Alex tidak marah, dia merasa lebih santai, "Tuan Alex, aku khawatir! Bukannya kamu setuju untuk bertarung dengan keluarga Mahari? Apa kamu sudah mempertimbangkan kandidat untuk pihak kita?"


Alex berkata, "Apa ketua sepertimu bisa ikut serta?"


Jasmin mengangguk, "Asal kamu memintaku ikut, aku pasti bisa ikut!"


Alex merenung, lalu berkata, "Menurutmu, siapa yang lebih hebat, kamu atau Keano?"


Jasmin memikirkannya dengan serius dan berkata, "Tuan Alex, sejujurnya Keano dan aku pada dasarnya seimbang. Dia terlahir dengan tenaga besar, dan gerakannya akan sedikit kasar. Aku ngak punya bakat sepertinya, tapi dari segi teknik, aku lebih baik darinya. Pada dasarnya, kami ngak akan bisa membedakan pemenangnya dalam 500 gerakan."


“Kalau setelah seribu gerakan?” Alex bertanya.


Jasmin sedikit kesulitan, "Eh, kami belum pernah melakukan seribu gerakan sama sekali."


Alex mengangguk, "Yah, kurasa, setelah seribu gerakan, kamu mungkin akan kalah karena kehabisan tenaga."


Meskipun Jasmin tidak terima, tapi dia masih berkata, "Uh, mungkin saja."


Alex tersenyum dan mengangguk, "Jadi, biar Keano saja yang maju kali ini."


Tentu saja Alex tahu dia sedang melamun, dan juga memahami pikirannya, jadi dia mengalihkan topik pembicaraan dan berkata, "Ngak ada masalah, kan?"


"Hah?" Jasmin dengan cepat menarik kembali pikirannya yang melayang, dan berkata dengan sangat cepat, "Meskipun Keano bertanggung jawab untuk 1 ronde, kamu sendiri 1 ronde, tapi masih ada 1 ronde lagi ‘kan?"


Alex mengangkat alisnya secara misterius: "Pada saat itu, akan ada seorang ahli yang akan datang untuk membantu. Tenang saja, kita pasti akan menang. Namun, sebelum dimulainya pertempuran, hal ini harus dirahasiakan."


“Uhm!” Jasmin mengangguk dengan penuh semangat, “Oke, aku paham!” Dia merasa sangat gembira karena Alex bisa menceritakan rahasia ini padanya.


Kemudian, dia terus berdiri diam di depan Alex, tidak berjalan atau berbicara, melainkan sepasang mata besar yang indah tiba-tiba berbinar, matanya terkulai, dan dia tampak sedikit malu.


Akhirnya, setelah beberapa menit yang panjang, dia akhirnya mengumpulkan keberanian untuk mengatakan, "Tuan Alex ..."


“Hm? Ada lagi?” Alex membuang muka.


Jasmin berkata, "Lalu apa yang harus aku lakukan jika ngak perlu bersiap untuk pertempuran?"


Alex berkata, "Kamu dapat membantu Keano mempersiapkan pertempuran, dan juga menjadi pengawal Erika di sisi lain. Meskipun menurut logika, keluarga Mahari ngak akan bertindak sebelum pertempuran. Namun, dalam banyak kasus, kita harus berhati-hati. Keluarga Mahari selalu bisa bertindak di luar nalar."


“Oke, paham!” Jasmin mengangguk dengan kuat: Yang dia katakan sangat masuk akal! Dia selalu begitu bijaksana dan cerdas.


"Udah ‘kan? Kalau begitu, kembali ke tempatmu." Alex menatapnya sambil tersenyum.


"Oh." Jasmin ingin tinggal bersamanya lebih lama lagi, tapi karena Alex berkata begitu, dia hanya bisa bergerak ke arah pintu dengan sangat enggan, tapi kecepatan ini agak lambat, berbeda sangat jauh dengan biasanya.


Akhirnya, ketika sampai di pintu, Jasmin tiba-tiba berhenti, "Tuan Alex, bolehkah aku mengajukan pertanyaan?"


“Hm? Tanyakan saja.” Alex mengikuti di belakangnya, bersiap untuk mengantarnya.


Jasmin tidak berani menoleh ke belakang, dia berkata dengan pelan, "Kalau, maksudku kalau, setelah keluarga Mahari dilenyapkan, apa kamu akan tetap tinggal di Medan?"


Alex berpikir sejenak dan menjawab, "Medan sudah seharusnya menjadi milik kalian, jadi aku akan menyerahkan semua urusan dunia bawah tanah Medan kepadamu saat itu. Kamu pasti bisa mengurusnya dengan baik, kan?"


"Aku ..." Jasmin ragu-ragu sejenak, hatinya kacau: Tuan Alex tetap mau pergi! Emang kenapa meski aku sudah menjadi bos di kota Medan? Aku masih tetap bersedia menemani Tuan Alex!


“Kenapa? Takut?” Alex sengaja membuatnya gelisah.


“Ngak, mana mungkin aku takut.” Jasmin segera membalas, berbalik dan menatap Alex lagi. Dia ingin menghargai setiap momen yang dia habiskan bersama Alex.


Menghadapi Alex, dia ingin bergegas masuk ke pelukannya dan menikmati pelukan hangat, bahkan jika dia hanya tinggal sebentar.


Tapi, dia adalah perempuan!


Setelah menggertakkan giginya, Jasmin berbalik dan pergi! Dia menggigit bibirnya dengan erat, air mata mulai mengalir dari matanya.


Sesampainya di depan pintu kamar Erika, Jasmin tiba-tiba menghapus air mata, menggelengkan kepalanya, dan mengetuk pintu, "Kak Erika, kamu belum tidur?"


Erika merasa sangat terkejut ketika melihatnya, dan tidak memperhatikan kondisinya sama sekali, "Eh, aku masih ada satu dokumen yang belum selesai. Kenapa, Jasmin, ada urusan apa?"


“Ngak apa-apa, ada yang bisa aku bantu?” Jasmin memutuskan untuk menyibukkan diri untuk menghilangkan obsesi terhadap Alex di dalam hatinya. Bagaimanapun, Erika yang ada di hadapannya ini adalah istri Alex!