
Alex secara singkat menceritakan proses pembunuhan 2 dari 5 orang anggota keluarga Mahari. Mata Jasmin membelalak mendengarnya, "Apa? Andreas dan Nelson sudah mati? Sekarang seluruh keluarga Mahari pasti sedang heboh! Polisi mungkin akan segera mengambil tindakan! Karena itu, Tika tidak boleh muncul! Harus dikirim keluar dari kantor pusat PT. Atish malam ini juga! Oh iya, kamu harus punya bukti alibi, jika tidak, maka kamulah pembunuhnya!"
“Yah, kamu bisa mengaturnya.” Alex mengangguk pada Jasmin.
"Oke." Jasmin menjawab dengan cepat, lalu berbalik dan keluar, dan mulai memikirkan cara untuk memanipulasi cctv, sehingga Alex tampaknya terus berada di PT. Atish sepanjang waktu, dan tidak keluar sama sekali pada malam hari.
"Pembunuhan! Ada yang mati!" Seorang wanita berteriak dengan sangat ngeri, suaranya membelah langit malam di villa keluarga Mahari.
Sebagai pelindung keluarga Mahari, Tambo adalah yang pertama muncul di atap bagian tertinggi villa setelah mendengar suara itu. Dia berteriak tajam, "Siapa? Beraninya datang membuat masalah di keluarga Mahari? Tambo ada di sini, silakan keluar!"
Di tim patroli, seseorang segera berlari menghampiri, "Tuan Tambo! Tidak ada musuh yang ditemukan! Tapi, Tuan kedua ... sudah mati."
“Apa? Andreas? Maksudmu, Andreas, dia sudah mati?” Bagaimana Tambo bisa mempercayainya?
Anggota patroli merasakan sosok di depan matanya jadi samar. Tambo terbang turun dari atap seperti burung besar. Saat dia sampai di hadapannya, dia meraih lehernya dan berkata, "Katakan! Ada apa sebenarnya?"
"Nyonya muda kedua! Nyonya muda kedua barusan berteriak! Dia bilang, Tuan kedua sudah mati! Saya di sini untuk melaporkannya." Anggota patroli itu menjelaskan dengan cepat.
Di bawah kemarahan Tambo, dia melemparkan anggota patroli tersebut sejauh 6 meter, dan kemudian terbang menuju kediaman Andreas.
Pada saat yang sama, Tambo menggunakannya ilmu bela dirinya dan berteriak, "Semuanya, dengarkan baik-baik! Masing-masing melakukan tugasnya dan tetap di tempatnya, jangan kacau! Jangan panik! Siapa yang berani berlarian akan dibunuh tanpa ampun!"
Suara Tambo bergema di langit malam villa keluarga Mahari. Semua orang merasa seolah-olah sedang berbicara di samping telinga mereka karena terdengar begitu jelas.
Ini adalah efek dari ilmu bela dirinya!
Kennedy juga terbang ke mari. Begitu Tambo tiba di lantai 2 rumah Andreas, Kennedy pun tiba, "Dre ... ada apa denganmu?"
Tambo meraih bahu Kennedy, "Tuan, jangan masuk! Aku akan memeriksanya dulu."
Dia segera memerintahkan Sony yang datang setelah mendengar berita itu, "Papah Tuan!"
Pada saat ini, Ghaston dan Bernard juga telah tiba. Mereka segera membantu Kennedy berdiri, "Yah, jangan khawatir, Andreas akan baik-baik saja."
Bernard mengangguk dan berkata, "Ya! Yah, Andreas juga punya bela diri yang hebat, bahkan jika dia adalah dewa sekalipun juga tidak mungkin membunuhnya di sini! Jangan khawatir, jaga kesehatanmu. Dengan adanya guru di sini, dia pasti akan bisa menghidupkan kembali Andreas."
Tambo yang sudah melihat Andreas, pasti akan memarahi Bernard jika dia mendengar kata-katanya tadi: Brengsek! Kepalanya sudah hancur begitu, gimana aku bisa menghidupkannya?
Sebuah batu besar menimpa dadanya. Dia diam-diam menutupi kepala Andreas dan berbalik. Ketika melihat ekspresi cemas Kennedy, Tambo menggelengkan kepalanya dengan sedih, "Tuan, mohon maaf."
“Apa? Andre benar-benar mati?” Meskipun Kennedy telah mengalami banyak hujan badai dan ombak, tapi dia juga sulit menerimanya saat mendengar berita kematian putranya.
Ghaston dan Bernard buru-buru memegangnya agar tidak terjatuh, "Ayah! Jaga kesehatanmu!"
"Baik! Beritahu semua orang, tetap tinggal di rumah mereka sendiri, jangan keluar! Tunggu penyelidikan!" Bernard juga segera bereaksi dan buru-buru mengeluarkan perintah.
Kemarahan Tambo meluap, dia tidak sabar untuk segera menemukan si pembunuh dan menghancurkannya menjadi berkeping-keping!
Dia mengalihkan pandangannya, dan tiba-tiba merasa sedikit aneh: "Ber, sudah ketemu Nelson?"
"Nelson? Eh! Di mana kamu? Nelson! Di mana kamu? Keluar! Terjadi hal sebesar ini tapi kamu malah sembunyi!" Nada bicara Bernard langsung meninggi.
Dia tahu betul kalau Nelson paling suka berhubungan dengan perawan. Mungkinkah dia keluar mencari mangsa lagi malam ini? Sialan, bisa-bisanya tidak di rumah di saat seperti ini?
Tambo tiba-tiba memiliki firasat buruk. Dia menggunakan ilmunya dan berkata dengan suara keras, "Segera periksa kediaman Nelson, lihat dia ada di sana atau tidak! Siapa yang telah melihat Nelson malam ini? Datang dan laporkan kepadaku segera!"
Bernard sudah terbang ke kediaman Nelson, "Nel, keluar! Keluar woi!" Setelah berteriak lama, nada bicaranya juga telah berubah, karena dia juga punya firasat buruk!
Dia terbang ke atas bangunan kecil milik Nelson. Bernard langsung masuk begitu melihat pintu terbuka lebar. Ketika dia memasuki ruangan, dia melihat Nelson yang telah meringkuk di sudut dan sudah mati.
“Nelson!” teriak Bernard, dia bergegas mendekat dan memeluk Nelson, air matanya mengalir deras, “Nel! kamu kenapa? Bangun woi! Jangan nakutin kakak.”
Dia memiliki hubungan yang sangat baik dengan Nelson, melihat adik bungsunya terbaring dalam genangan darah, keterkejutan yang tiba-tiba datang membuat pikirannya kosong.
Tambo merasakan keanehan Bernard, dia muncul di samping Bernard seperti hantu, "Nelson... juga mati?"
"Ya! Guru, ini dendam kesumat! Guru! Kita harus balas dendam!" Bernard sedikit kehilangan kendali.
Tambo mengangguk, "Tentu saja kita harus membalaskan dendam ini. Tapi yang harus kita lakukan sekarang adalah memanggil polisi terlebih dahulu."
“Panggil polisi?” Bernard bingung, “Guru, ini pasti karena dendam! Musuh kita pasti Alex! Apa gunanya memanggil polisi?”
Tambo diam-diam berkata dalam hatinya: Dengan kemampuan Alex, apa yang bisa kita lakukan terhadapnya jika kita tahu kalau dia pembunuhnya? Serahkan saja pada polisi, setidaknya biarkan polisi yang menentukan bahwa Alex adalah pembunuhnya.
Selanjutnya, baru pikirkan cara untuk menyingkirkan Alex.
“Panggil polisi guna untuk menemukan pelaku sebenarnya.” Tambo berkata perlahan, “Letakkan dulu Nelson, tunggu polisi datang menyelidiki tempat kejadian.”
“Ah? Oke!” jawab Bernard mengerti, lalu meletakkan Nelson, dan menelpon polisi, “Halo? Saya…”
"Lindungi tempat kejadian!" pesan Tambo sebelum menghilang. Setelah beberapa saat, dia muncul di kediaman Kennedy. Melihat Kennedy masih dalam keadaan linglung, dia pun menempelkan telapak tangan kanannya ke punggung Kennedy, menggunakan ilmunya untuk menenangkan pikirannya.
Hoek! Setengah jam kemudian, Kennedy akhirnya memuntahkan seteguk darah hitam, dan perlahan sadar, "Andreas! Anakku! Kenapa kamu mati? Bisa-bisanya aku melihat kematian anakku! Ukh..."
Tambo juga sangat sedih, dia meraih tangan Kennedy dan berkata, "Tuan, turut berduka cita! Masih ada berita buruk lagi, Nelson, juga mati!"