
Terkadang firasat wanita sangat sensitif, Mariana memeluknya sambil bertanya, “Hans, ada apa denganmu? Apa ada masalah yang ngak bisa ditangani?”
“Ngak ada kok. Sudah Mar, tidurlah.” Hans memeluk Mariana sambil membelainya, “Sayang, aku mencintaimu.”
Mariana memeluknya, lalu mencium pipinya, “Aku juga mencintaimu, yang.”
Dalam hati Hans merasa menderita dan sakit ketika memeluk Mariana, alhasil dia memeluk Mariana dengan erat dan tidak tahu harus berkata apa dalam seketika.
“Sayang, aku merasa kamu ada masalah, ada apa denganmu? Entah sesulit apa itu, aku mungkin bisa membantumu jika kamu mengatakannya.” Mariana menatapnya dengan cemas.
“Ngak apa-apa kok. Mar, aku akan berusaha untuk membuatmu hidup dengan lebih baik.”
Hingga detik ini, Hans tahu jelas bahwa dirinya sudah terjerumus dalam jalan buntu.
Dia tidak punya cara untuk kembali ke masa lalu, jadi dia hanya bisa terus melangkah ke depan.
Tikus hidup di dalam kegelapan. Tapi sekarang, hal yang dilakukannya lebih gelap dan kejam.
Banyak karyawan PT. Atish adalah rekan-rekannya, jadi otomatis hubungan di antara mereka sangat baik. Tapi sekarang, jika dia harus menghancurkan PT. Atish dengan tangannya, maka banyak rekannya yang akan kehilangan pekerjaan dan kesulitan untuk bertahan hidup!
Tapi Hans tidak punya pilihan! Dia hanya bisa berbuat seperti itu, meskipun harus melihat masalah itu terjadi.
Istri dan anak adalah kebahagiaan terbesar dalam hidup Hans, tapi sekarang, dia benar-benar serba salah!
Bagaimana mungkin dia menyerah akan nyawa istri dan anaknya? Jika tidak mau, maka dia harus terus melanjutkannya, dan hasilnya tidak diketahui.
Hans tidak tidur semalaman sehingga dia pergi bekerja dengan sepasang mata panda. Erika memperhatikannya ketika bertemu dengannya, “Pak Hans, tampaknya kamu tidak begitu semangat? Kamu harus menjaga kesehatan ya.”
“Hah? Iya iya, Bu Erika, aku baik-baik saja.” Dalam hati Hans merasa sangat bersalah: Aku sedang berencana untuk mencelakainya, tapi dia malah peduli padaku! Aku benar-benar bukan manusia!
Begitu tiba di ruang kerjanya, Friska pun berjalan kemari, “Pak Hans, ini tugas yang perlu kamu kerjakan hari ini…em, kenapa denganmu? Kamu sakit? Kamu ngak perlu memaksakan diri, sebenarnya aku bisa mencari orang lain untuk mengerjakan tugas ini.”
Hans lagi-lagi merasa sangat bersalah, tapi dia hanya bisa menjawab, “Bu Friska, Anda tenang saja, aku pasti akan menyelesaikan tugas ini!”
Friska berkata, “Beberapa saat ini beban semua orang sangat besar, jika Pak Hans tidak sanggup lagi, maka bisa istirahat beberapa hari. Kamu jangan khawatir karena aku akan menjamin kamu bisa libur tanpa memotong gaji.”
“Eh! Iya iya, Bu Friska, aku paham, aku pasti bisa.” Hans merasa sangat hangat dalam hatinya karena ada eksekutif yang begitu baik, jadi bagaimana mungkin dia tidak bekerja dengan baik?
Tak lama kemudian, Jasmin datang, “Semuanya berhenti dulu, ada yang perlu kusampaikan! Kita semua sudah tahu konflik antara kita dengan keluarga Mahari, kan? Tapi yang berkaitan dengan para karyawan kita adalah keluarga Mahari pasti akan balas dendam dan memberi tekanan pada PT. Atish, bahkan mereka akan menggunakan berbagai cara licik untuk melawan karyawan kita. Jadi, aku perlu mengingatkan kalian semua untuk tidak sering keluar rumah dan segera menghubungiku jika bertemu masalah! Apa kalian semua sudah ingat?”
“Bu Jasmin, apa Anda juga akan mengatasinya jika kami ada konflik dengan orang lain?” tanya seorang karyawan.
Jasmin berkata, “Ini adalah masa-masa yang penting, jadi apapun yang terjadi pada karyawan, perusahaan akan mementingkannya dan menyelesaikannya secepat mungkin! Kalian semua jangan khawatir akan merepotkan perusahaan, karena seluruh karyawan perusahaan adalah satu keluarga! Perusahaan berterima kasih kepada setiap karyawan atas konstribusinya dan pasti akan melakukan yang terbaik untuk memastikan keselamatan setiap orang dari kalian!”
“Baik!” Sudah ada karyawan yang berdiri untuk bertepuk tangan, dan yang lain juga menyusul.
Hans juga ikut berdiri dan bertepuk tangan dengan kaku.
Tapi Hans merasa bahwa mereka seperti bersekongkol untuk mengatakannya kepada Hans!
Namun kenyataannya, ketiga CEO ini hampir setiap saat melakukan hal seperti ini!
Berapa banyak karyawan yang telah mereka bantu untuk menyelesaikan bahaya dari luar? Berapa banyak masalah keluarga yang telah diselesaikan? Berapa banyak kekhawatiran yang telah diselesaikan?
Fokus PT. Atish saat ini telah mencapai kondisi yang luar biasa, ini tentu saja karena manajemen manusiawi dari tiga CEO wanita.
Kedekatan yang mereka tunjukkan serta perhatian tulus kepada karyawan telah membuat satu per satu hal tersebut terukir di hati para karyawan!
Setelah ketiga CEO pergi, para karyawan pun berkumpul bersama dan mulai berdiskusi.
“Menurut kalian, apa Bu Erika baik pada kita?”
“Tentu saja baik! Meningkatkan bonus kita ke jumlah tertinggi dalam sejarah, selain itu juga peduli dengan kesulitan keluarga kita. Sekarang jarang ada pemimpin baik seperti ini.”
“Iya, pas putriku sakit, Bu Friska menyuruh orang mengantarnya ke rumah sakit, dia juga mengatur kamar terbaik dan membantu membayar biaya pengobatan…sampai sekarang aku masih tidak percaya ketika mengingatnya.”
“Waktu itu aku tabrakan, Bu Erika langsung datang untuk membantuku mengatasi masalah. Hahh, saat itu aku benar-benar tidak tahu harus mengucapkan rasa terima kasih seperti apa.”
“Iya iya, pas anakku mau sekolah, juga Bu Erika yang bantu carikan!”
…
Pikiran Hans malah seolah-olah melayang saat mendengar rekan kerjanya mengomentari ketiga CEO cantik itu.
Dia tahu apa yang dikatakan mereka adalah kebenaran, sehingga rasa serba salah di dalam hatinya semakin kuat.
Hans tiba-tiba merasa tatapan semua orang tertuju padanya saat dia memegang racun di sakunya! Seperti semua orang tahu dia adalah pengkhianat!
Dia lekas menyelinap dari kerumunan dan datang ke kamar mandi untuk membasahkan rambutnya dengan air.
Hans melewati hari ini dengan kacau dan masalah pekerjaannya juga diselesaikan dengan berantakan.
Ketika dia menyerahkan laporan kepada Friska, Friska pun mengerutkan kening setelah melihatnya.
Hans pun tercengang dan berkata tanpa tak sadar, “Bu Friska, aku bisa mengerjakannya lagi jika laporan ini tidak bagus.”
Friska tiba-tiba tertawa dan menatap Hans, “Pak Hans, aku sudah memperhatikanmu sedari tadi. Apakah ada masalah hari ini? Mengapa tidak fokus pada pekerjaan? Ngak apa-apa, jika kamu ada masalah keluarga, silakan katakan saja. Aku harap kamu bisa bekerja dengan tenang, jadi aku pasti akan membantumu mengatasi masalah itu.”
“Ngak ada apa-apa! Bu Friska, aku sungguh baik-baik saja.” Hans lekas menjelaskan, “Aku akan lembur untuk membuat ulang laporan itu.”
“Ngak perlu, aku akan membantumu merevisinya. Pak Hans, aku ngak akan bertanya lagi jika kamu ngak ingin mengatakannya. Kuharap kamu bisa segera menyelesaikan masalahmu, dan kembali fokus pada pekerjaan.” Friska melambai tangan dan memberi dia isyarat untuk pergi.