Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Terlalu Lancar


“Tenang saja, Yah. Semua perusahaan yang ikut Bid Rigging adalah teman kita.” lapor Ghaston hormat sambil berdiri di samping Ayahnya.


Kennedy berkata dengan mata tertutup, “Hm, Ton, kamu tuh selalu saja tenang. Kalau ngak, bisnis keluarga kita juga ngak akan diserahkan padamu. Aku ngak perlu khawatir kalau kamu yang menanganinya.”


Ghaston kembali membungkukkan badan dan berkata, “Terima kasih banyak, Ayah.”


Kennedy berkata, “Hanya saja aku perlu mengingatkanmu, meskipun hal tersebut sudah cukup pasti, kamu juga ngak boleh lengah. Keluarga kita bisa jadi perusahaan konsorsium pertama di Medan bukan mengandalkan keberuntungan.”


“Baik, Yah. Aku paham.” Ghaston selalu berlagak patuh di depan sang Ayah.


Saat masih muda, dia juga pernah menguasai dunia bawah tanah dan dunia bisnis dengan Ayahnya, Ghaston masih mengingat dengan jelas betapa kejam dan sadisnya proses tersebut hingga saat ini.


Yang membuatnya takjub adalah, dalam belasan tahun terakhir, Ayahnya dengan tegas mencuci semua harta keluarga Mahari. Tindakannya ini menjadikan keluarga Mahari sebagai perusahaan besar yang didukung oleh pemerintah, dan juga menjadikan keluarga Mahari sebagai keluarga besar yang paling dihormati di kota Medan.


Ghaston memiliki pemahaman yang mendalam terhadap kekejaman dan tekad bijak Ayahnya. Ayahnya adalah idola yang dikaguminya hingga saat ini.


Dari mana pencapaian dan status keluarga Mahari saat ini? Tentu saja berkat kemampuan mereka! Kemampuan bela diri dan finansial yang telah melebihi kota Medan.


Di setiap proyek pembangunan kota Medan pasti akan terlihat bayangan keluarga Mahari. Ghaston yang berperan sebagai pengelola kekayaan keluarga Mahari juga telah merasakan kegembiraan yang luar biasa dalam mengendalikan dunia.


Kennedy berkata, “Perusahaan kecil sama sekali ngak mungkin mampu menerima proyek sebesar ini. Tapi, kita juga harus waspada kalau tiba-tiba ada yang muncul.”


“Baik, aku akan berhati-hati.” ucap Ghaston mengiyakan lagi.


Ponselnya berdering, dia merasa heran dalam hati, “Kok masih ada pesan jam segini?”


Perlu diketahui bahwa biasanya sebagian besar urusan bisnis di perusahaan akan diserahkan pada Andreas, hanya masalah yang sangat penting saja yang akan dilaporkan kepada Ghaston.


Ghaston mengeluarkan ponselnya dan melihat sekilas, lalu tersenyum, “PT. Atish menyerahkan dokumen tender kemarin? Andreas terlalu melebih-lebihkan perusahaan kecil ini sampai segera melaporkannya padaku.”


Sekilas cahaya melintas di mata Kennedy, “PT. Atish? Perusahaan apa itu? Gimana kemampuannya?”


Ghaston berkata sambil menahan tawa, “Itu perusahaan kecil yang didukung oleh Suprianto, direktur mereka adalah saudara ipar Suprianto, makanya Ayah ngak tahu. Kemampuan mereka sungguh lemah, sama sekali ngak bisa dibandingkan.”


Sorot mata Kennedy menjadi dingin, “Ton, kamu terlalu ceroboh! Cepat selidiki PT. Atish! Kalau ngak punya modal triliunan, mana mungkin PT. Atish punya hak untuk ikut tender?”


“Benar juga! Aku tahu modal PT. Atish jika dijumlahkan ngak lebih dari 2 triliun. Kenapa bisa punya hak ikut tender?” Ghaston hanya bisa mengagumi penilaian Ayahnya yang dapat menangkap inti permasalahan.


Dia segera mengirim pesan kepada Andreas, “Segera selidiki PT. Atish, harus pastikan apakah ada pergerakan belakangan ini? Apa ada suntikan modal mendadak?”


Andreas membalas emoji “OK” padanya, lalu Ghaston kembali duduk menikmati tehnya dengan tenang.


Ghaston berkata, “Yah, sudah larut, sudah waktunya Anda istirahat. Setelah pulang, aku pasti akan menyelidiki PT. Atish dengan baik, Anda ngak perlu khawatir.”


“Hm, pulanglah.” ujar Kennedy menganggukan kepala sambil melambaikan tangan.


Setelah Ghaston pergi, Kennedy berkata seolah-olah sedang bergumam, “Sepertinya Ghaston terlalu lancar beberapa tahun belakangan.”


“Tam, jangan membelanya. Aku khawatir dia ngak bisa digunakan. Gimana kita bisa mati dengan tenang kalau ngak ada yang mewarisi aset keluarga sebanyak puluhan triliun?”


Tambo berkata sambil tersenyum, “Ghaston sudah cukup bisa mengendalikan semuanya, Anda juga ngak perlu terlalu khawatir.”


Kennedy mengangguk, “Tentu saja aku berharap bisa menikmati masa pensiunku dengan tenang! Besok, kita jalan-jalan keluar saja untuk merasakan kehidupan rakyat biasa.”


“Oke! Asal Anda mau, saya akan menemani Anda kapan saja.” Terlihat jelas betara setianya Tambo kepada Kennedy.


Setelah meninggalkan rumah Kennedy, Ghaston langsung pergi ke rumah seorang kekasih gelapnya dengan mobil dan bersenang-senang dengannya, dia tidaklah memikirkan masalah PT. Atish yang ikut serta dalam tender.


Siapa sangka, saat dirinya tengah asyik bersenang-senang dengan sang kekasih, ponselnya pun berdering.


“Kak, ponselmu bunyi.”


“Biarin saja, kita lanjut.”


“Bunyi terus tuh, aku ngak mood, kamu lihat saja dulu.”


“Oke deh, bantu ambilkan.”


Saat Ghaston melihat pesan dari adiknya, “mood” nya juga seketika menghilang, dia membaca pesan itu dari awal hingga akhir sekali lagi.


 Rupanya, Andreas bertanya langsung pada Suprianto saat menyelidiki masalah ini. Suprianto yang sebelumnya pernah dipukuli tentu saja terus memperhatikan urusan PT. Atish belakangan ini. Dia juga pernah bertanya pada Charles mengenai perpindahan kepemilikan PT. Atish, tapi Suprianto tidak ikut campur ke dalamnya karena mendengar saran Ayah dan pamannya.


Ketika paman keduanya, Andreas bertanya masalah ini, Suprianto langsung menceritakan tentang Alex dan orang-orangnya yang menempati PT. Atish secara paksa. Kemudian, dia berkata, “Paman, Ayah dan paman kelima hanya menangani masalah ini dengan sederhana. Orang luar seperti ini harus dimusnahkan lebih awal kalau menurutku.”


“Oke, aku sudah tahu.” Andreas juga sudah mengalami banyak hal, dia tahu alasan Suprianto tidak melawan orang yang merebut paksa PT. Atish beberapa hari ini pasti karena kemampuan pihak tersebut tidak bisa dianggap enteng.


Oleh karena itu, saat Andreas melaporkan hal ini kepada kakak sulungnya, dia secara khusus menambahkan tebakannya: Alex yang merebut paksa PT. Atish pasti punya kemampuan yang luar biasa.


Ghaston membalas: Selidiki lagi!


Lalu tertawa sambil melihat pesan itu, “Alex punya kemampuan luar biasa? Emangnya kemampuan keluarga Mahari ngak hebat? Saudara-saudarku ini benar-benar makin penakut.”


Kemudian, dia merangkul kekasihnya dan ingin melanjutkan perang mereka.


Tak lama kemudian, dia menerima laporan dari Andreas lagi: PT. Atish setidaknya punya modal 4 triliun! Selain itu, ada hal yang sangat aneh, keluarga Ehsan tiba-tiba pindah dari Medan, dan perusahaannya juga dialihkan.


Ghaston lagi-lagi “dipaksa berhenti” oleh kabar ini, dia melihat pesan itu 2 kali dan membalas sambil mengerutkan kening: Mana Larry? Sudah tanya dia belum? Ehsan kan muridnya.


Ngak bisa dihubungi! Entah kemana lagi dia pergi.