Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Peralatan Elektronik


Peralatan elektronik yang terkena gelombang energi ini untuk sementara tidak dapat digunakan, tetapi jika fatal, mungkin saja akan dihancurkan total oleh energi yang sangat besar.


Setelah lebih dari 10 menit, sistem listrik, sistem komputer, dan sistem komunikasi dalam jangkauan serangan hancur total.


E-bomb cukup untuk melumpuhkan pusat komando sepenuhnya dalam waktu singkat: listrik terputus, komputer mati, sinyal telepon terputus, dan senjata berteknologi tinggi yang kuat juga akan rusak, dan berubah menjadi tumpukan senjata rongsokan.


Setelah pesawat tempur utama menjatuhkan e-bomb, ia segera putar balik dan meninggalkan pembangkit listrik tenaga nuklir secepat kilat. Api di bagian ekor pesawat semakin membesar dan tidak mungkin untuk kembali ke bandara. Setelah pilot menghubungi komandan di daratan, dia mengunci sebuah area terbuka di bawah dan menekan tombol kursi lontar untuk menyalakan parasut darurat.


Komandan Beni meminta bawahannya untuk segera mencari dan menyelamatkan pilot yang terjun payung, dia mengerutkan kening dan bertanya kepada Alex yang berdiri di sebelahnya: "Bagaimana menurutmu tentang situasi saat ini?"


Alex melihat dari awal sampai akhir. Dari luar dia tampak tenang, tetapi dia sebenarnya sangat cemas. "Komandan, para penjahat ini tidak mudah dihadapi! Mereka adalah kartu truf tentara bayaran. Tidak hanya luar biasa dalam bertempur, tetapi juga punya banyak prajurit yang mahir tentang ilmiah dan teknologi. Namun, jika e-bomb berhasil dilempar kali ini, maka itu akan menjadi pukulan fatal bagi sistem elektronik komunikasi mereka."


Komandan Beni mengangguk: "Memang tidak boleh meremehkan mereka. Metode tempur mereka sudah bisa menandingi tentara reguler kami, dan bahkan melampaui prajurit kami. Juga, tindakan mereka sangat sadis, dan segala cara digunakan untuk mencapai tujuan, sedangkan kita harus mengkhawatirkan keamanan gudang bahan peledak, dan pengaruh lain!"


"Benar!" Alex berkata, "Aku meminta instruksi untuk bergabung dalam perang. Aku akan memimpin sekelompok kecil tentara dan melawan mereka dalam pertempuran jarak dekat! Rencana besar dan serangan penyerbuan hanya akan memperbanyak korban."


Komandan Beni memandangnya: "Tenang saja dulu, kamu bisa maju nanti jika serangan kali ini gagal."


Pak Harun mengatakan: "Tim SWAT provinsi mengirim 8 orang agen khusus lagi, mereka sedang dalam perjalanan dan akan tiba 20 menit lagi dengan helikopter."


Sekarang di dalam gedung kontrol utama, para gangster juga sedang kebingungan. Dua bom telah dilemparkan ke dalam gedung dan tengah bergelinding di koridor, dan juga terus memancarkan cahaya biru. Para gangster belum pernah melihat benda seperti itu dan segera melarikan diri.


Bahkan Arkan juga ikut ketakutan: "Orang-orang ini benar-benar ingin mati? Bisa-bisanya mereka ingin meledakkan gudang dan mati bersama puluhan juta penduduk?"


Namun kedua bom tersebut hanya bergelinding di sana dan tidak meledak. Seorang prajurit radar tiba-tiba menyadari keanehan, "Itu bukan bom biasa, tapi e-bomb! E-bomb yang akan membakar komponen elektronik asli!"


Ternyata begitu. Arkan, Olivia dan yang lainnya ingin memindahkan peralatan komputer mereka dan peralatan elektronik lainnya, tetapi sudah terlambat. Saat kedua bom itu bergelinding, keduanya sudah menghasilkan suara tinnitus dari gesekan elektroda.


Seiring dengan meledaknya cahaya biru yang tiba-tiba, percikan api biru dengan cepat menyembur ke sekeliling di lantai. Komputer dan peralatan lainnya terkena arus listrik, dan mengeluarkan suara letupan, lalu layar tiba-tiba menjadi gelap, dan mengeluarkan asap hitam.


Para gangster yang datang untuk mengambil peralatan elektronik itu merasa dihantam oleh aliran arus listrik, dan seluruh tubuh mereka gemetar, mulut dan mata mereka miring, tubuh mereka terombang-ambing dan jatuh ke lantai.


Arkan mengangkat senapan sniper dan hendak memukul e-bomb untuk melampiaskan amarahnya. Namun, dia kembali dihentikan oleh Olivia, "Jangan, Paman! Kita akan mati jika meledakkannya." Dia tidak berbohong. Bom akan melepaskan gelombang elektromagnetik jika meledak, dan suhu udara di sekitarnya akan naik drastis ribuan derajat. Tubuh manusia dalam jarak sepuluh meter akan kering terpanggang olehnya.


“Lalu, gimana?” teriak Arkan.


“Kita pergi ke zona aman dulu." Olivia memerintahkan semua orang, "Letakkan semua peralatan elektronik itu, kita akan pergi ke bawah. Dalam waktu kurang dari 3 menit, energi elektromagnetik dari dua e-bomb akan habis, dan menjadi besi rongsokan!"


Sekelompok orang buru-buru turun ke lantai bawah. Baru saat itulah Arkan ingat kalau Nyonya Ningsih masih terkunci di ruang jaga di lantai pertama. Dia menendang pintu hingga terbuka dan memarahinya, "Dasar wanita sialan, suamimu benar-benar biadab. Dia ingin memanggang kita sampai mati di sini, bagus, bagus sekali,kalau begitu aku akan mempermainkan istrinya sampai mati dulu untuk melampiaskan amarahku!"


Olivia mengikuti dari belakang, "Paman! Sekarang situasinya mendesak, kita harus bertindak dengan tenang!"


Arkan menampar wajah Nyonya Ningsih, "Aku sangat tenang! Dia bahkan tidak peduli dengan nyawa istrinya sendiri, apa pantas dia disebut manusia? Sini, katakan padanya, jika dia berani berbuat seenaknya, aku akan melepaskan pakaianmu dan membiarkan mereka mempermainkanmu sampai mati!"


Setelah itu, dia mengeluarkan telepon dan ingin Nyonya Ningsih menelpon Pak Harun, tetapi rupanya ponselnya juga rusak akibat arus listrik. Dia sangat marah sehingga mengumpat lagi dan melempar ponselnya sampai hancur!


"Kalian sudah tidak bisa lari!" kata Nyonya Ningsih, "Sebaiknya kalian menyerah saja. Jika terus melawan, kalian hanya akan mati. Kalian tidak akan mungkin bisa menang dari kami!"


Olivia berkata: "Jangan lupa, kami sudah menanam bom di tumpukan bahan peledak di gudang. Jika kalian berani memaksa kami, maka hanya dengan satu tekanan saja, puluhan juta orang akan dikubur bersama kami!"


Arkan berteriak: "Sudah kukatakan 24 jam. Jika aku tidak mendapatkan uangnya dan juga kepala Alex pada saat itu, maka kalian semua harus mati! Kalian harus mati semua!"


Sekarang semua peralatan elektronik telah terbakar, jadi tidak mungkin lagi menggunakan keunggulan kamera cctv untuk menembak pasukan di luar, mereka hanya bisa memperkuat pertahanan di dalam gedung. Arkan memanggil Sandi: "Pergi ke gudang penyimpanan dan ambil semua senjata ringan dan berat di dalamnya, kita akan bertarung dengan mereka. Asalkan kita bisa bertahan selama 24 jam, maka mereka semua akan tamat!"


Sandi keluar dan memanggil Lintar 8 untuk ikut dengannya. Lintar 8 berjalan tertatih-tatih sambil menunjuk pakaiannya yang terbakar: "Aku terluka, panggil saja yang lain!"


“Luka jidatmu!” Sandi menendang pantatnya, “Yang tidak mati ikut denganku! Setelah pertempuran ini, kita akan punya banyak uang, dan kalian bisa bermain sepuasnya dengan wanita cantik di seluruh dunia!”


Lintar 8 bergumam, “Aku bahkan tidak tahu bisa keluar hidup-hidup atau tidak? Wanita cantik pun tidak berguna kalau begitu!” Meski demikian, dia tetap dengan enggan mengikuti Sandi ke gudang untuk mengambil senjata.