
Satriya dan Riska datang ke kediaman besar keluarga Buana dengan gembira. Lasmi sedang duduk di ruang baca hari ini sambil berdoa. Satriya menduga dia pasti sedang berdoa untuk Erika.
"Nek, ada yang perlu aku bicarakan denganmu."
Lasmi membuka matanya, "Ada apa, Satriya?"
Satriya berkata, "Nek. Kemarin pagi, sekelompok tentara tiba-tiba datang ke Hotel Emperor untuk menangkap Alex dan Erika. Anda tahu tidak masalah ini?"
Lasmi mengangguk, "Tentu saja aku tahu. Aku dengar Saras bilang mereka hanya bekerja sama dengan polisi dalam penyelidikan kematian Erwin dan anaknya. Ini bukan masalah besar, mereka akan kembali dalam beberapa hari."
Satriya tersenyum, "Nek, banyak pejabat tinggi di keluarga Sutiono. Alex sudah membunuh Erwin dan juga Gery. Apa menurutmu dia masih bisa keluar?"
Lasmi memandang Satriya, "Lalu menurutmu apa yang harus kita lakukan?"
Satriya berkata: "Nek, aku tahu bahwa dulu aku terlalu gegabah dalam bertindak, dan aku juga tidak sehebat Alex. Namun, semua yang aku lakukan sungguh demi keluarga kita. Sekarang, tidak ada orang yang bertanggung jawab atas departemen proyek. Bagaimana kalau ada masalah di lokasi? Nek, gimana kalau aku saja yang memantau lokasi konstruksi untuk sementara?"
Sebelum Lasmi menjawab, tiba- tiba terdengar suara, "Tidak perlu. Aku sendiri yang akan pergi ke lokasi konstruksi!"
Satriya mendongak dan terkejut, rupanya Erika sudah kembali, dan Alex juga berada di belakang.
Satriya terdiam, berbeda dengan Riska yang memanggil kakak dan kakak iparnya.
Lasmi sangat senang melihat Alex dan Erika kembali, dia segera berdiri, lalu berkata, "Akhirnya kalian kembali. Benar-benar membuatku khawatir setengah mati. Cepat beritahu nenek apa yang terjadi sebenarnya?"
Alex berkata, "Bukan masalah besar, Nek. Anda juga tahu kalau Gery mencurigai aku yang membunuh Erwin. Sedangkan Erwin dan aku tidak punya dendam, untuk apa aku membunuhnya? Setelah itu dia datang ke hotel untuk membuat masalah lagi. Lalu dia malah dibunuh oleh seseorang. Lalu, datang sekelompok orang dan membawaku pergi, setelah diselidiki, hal itu memang tidak ada hubungannya denganku. Makanya aku dibebaskan. Maaf sudah membuatmu khawatir, Nek."
Lasmi berkata dengan gembira, "Baguslah kalau kalian berdua baik-baik saja. Aku akan meminta mereka menyiapkan jamuan untuk kalian."
Satriya berjalan keluar dengan kepala tertunduk karena tidak berhasil, terlebih lagi bahkan tidak ada yang menghiraukannya. Semakin memikirkannya, dia semakin marah, dan akhirnya dia pergi dari kediaman besar sendirian.
Alex dan Erika menemani Lasmi makan, setelah itu mereka pulang. Di dalam perjalanan, Alex menerima panggilan tak dikenal, "Siapa?"
Pihak di seberang dengan hormat menjawab: "Kak Alex. Aku ketua Asosiasi Bisnis Kabupaten Wongso, namaku Prasmulyo. Kita pernah bertemu sebelumnya."
Alex punya kesan terhadap Prasmulyo. Dia awalnya adalah orang kepercayaan Rangga. Setelah jatuhnya Rangga, Prasmulyo mengubah haluan dan menyanjung dirinya, dia juga mengundang Alex ke Kabupaten Wongso sebagai tamu beberapa kali. Namun, Alex terus menolak.
Tidak semua orang akan setia pada dirinya seperti Wendy, dan Alex punya cara uniknya sendiri dalam menilai orang.
"Ada apa mencariku, Prasmulyo?"
"Kak Alex. Beberapa anggota penting dari Asosiasi Bisnis Kabupaten Wongso berharap kamu dan Presdir Buana dapat meluangkan waktu untuk datang dan membimbing pekerjaan kami. Selain itu, salah satu panti jompo di Kabupaten Wongso sedang memulai perenovasian dua hari yang lalu, dan aku menyumbangkan satu miliar untuk panti jompo ini atas nama Asosiasi. Saat ini, kepala panti jompo ingin berterima kasih secara langsung. Aku tahu kamu sangat sibuk, tetapi hal ini sangat sulit untuk ditolak."
Alex menutup telepon, dan Erika berkata, "Alex, untuk apa kamu menyetujui permintaan orang licik seperti Prasmulyo?"
Alex berkata: "Pembunuhan yang menimpa keluarga Wendy beberapa hari yang lalu sudah pasti perbuatan anak buah Rangga. Meskipun, pembunuh itu belum mengaku juga sampai sekarang. Namun, berdasarkan analisa laporan yang ada, harusnya itu kerjaan Wanto. Pada saat krisis seperti ini, aku harus memenangkan hati Prasmulyo agar tidak ada lagi orang yang bisa Rangga andalkan. Juga, menghindari tragedi pembunuhan seperti yang Wendy alami."
Erika berkata, "Baiklah. Terserah padamu, aku akan menemanimu ke sana besok."
Malam berikutnya, Prasmulyo telah menyiapkan pesta di rumah. Dia dan istrinya Shinta menyambut Alex dan Erika secara pribadi di vila mewah mereka. Tentu saja, baik Dewita maupun Ridwan tidak muncul. Keduanya berada di ruang tersembunyi di lantai pertama. Di ruangan yang sama, ada juga sekelompok orang kepercayaan yang dibawa Ridwan, orang-orang ini semuanya adalah anggota keluarga Sutiono. Ridwan mulai mengatur tugas untuk mereka.
Prasmulyo mengundang Alex ke ruang makan di lantai tiga dengan antusias, "Haha, Kak Alex, kami semua sudah siap, tinggal menunggumu saja."
Alex melihat sekeliling ruang makan, selain Prasmulyo dan istrinya, ada juga sekitar 7 pria dan wanita berpakaian rapi. Setelah pengenalan Prasmulyo, mereka semua adalah tokoh top di bidang bisnis Kabupaten Wongso. Satu per satu dari mereka bersalaman dengan Alex dan Erika, dan kemudian duduk sesuai dengan tempat duduk mereka dan memulai pesta.
Selama makan, adapula seorang gadis yang memainkan musik lembut, Alex berkata, "Prasmulyo, kenapa rumahmu seolah-olah restoran barat? Ini sangat megah, mewah, dan berkelas. Sungguh membuatku kagum."
Prasmulyo melambaikan tangannya dan berkata, "Mana ada, ini tidak lebih dari hobi pribadi, Kak Alex benar-benar bisa bercanda."
Saat perjamuan hampir selesai, Prasmulyo berkata: "Gimana kalau kita berdansa dulu? Presdir Buana, apa aku bisa mengundangmu untuk berdansa bersama?"
Erika tidak menolak, jadi dia berdansa bersama Prasmulyo. Shinta datang untuk mengundang Alex, dan Alex tersenyum: "Aku tidak bisa, aku takut akan menginjak kakimu nantinya."
Shinta tersenyum lembut, "Apa yang kamu katakan, aku tidak percaya kamu tidak bisa."
Alex benar-benar tidak bisa berdansa, jadi dia kembali menolak. Shinta tidak punya pilihan selain mencari pasangan lain yang bisa berdansa. Namun, hampir semua dari mereka telah melangkah ke lantai dansa dan mulai menari. Alex segera pergi ke arah toilet karena merasakan sedikit kebelet.
Alex datang ke toilet untuk menyelesaikan keperluannya, dan matanya tertuju ke luar vila melalui jendela toilet yang setengah terbuka.
Tiba-tiba, Alex melihat sesosok bayangan melintasi halaman di depan vila, dan kemudian masuk ke semak-semak.
Sosok itu sangat lincah, pasti bukan orang biasa, "Ada apa ini? Prasmulyo diam-diam memasang perangkap di luar vila?"
Alex terkejut, rasa mabuk seketika hilang begitu saja.
Dia menganalisisnya dengan hati-hati. Meskipun Prasmulyo dulu adalah orang kepercayaan Rangga, tapi sekarang dia tidak punya alasan untuk melawanku, kan?
Alex juga tidak menyangka kalau istri Prasmulyo dan istri Zakri yang baru saja meninggal adalah kakak beradik. Makan malam hari ini disiapkan untuk balas dendam.