Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Bab 524 Mengarahkan Musuh Untuk Menyerang ke Arah yang Salah


Sementara Trevor malah berkata dengan dingin, “Sudahlah. Suruh orang yang lain untuk lebih waspada. Mereka sudah punya pistol. Suruh mereka untuk dapatkan kembali pistol itu baru serang lagi. Saat ini, gerakan mereka sudah berada di bawah pengawasan kita. Lagi pula, asalkan kita sudah memblokir semua jalan keluar, kita pasti bisa menangkap mereka dengan gampang!”


“Meskipun begitu, kamu juga tahu bahwa kita nggak punya banyak waktu. Kita juga nggak bisa mempertanggungjawabkannya pada Keluarga Bazel kalau kita menyegel Hotel Snow terlalu lama. Masalah seperti ini harus diselesaikan dengan cepat. Kalau kita nggak bisa menghabisi Alex dan yang lain dengan cepat, kita harus cepat-cepat meninggalkan tempat ini.”


Morgan mengerti situasi mereka. Mereka tidak bisa terus menerus bertahan dan harus langsung menyerang!


“Apakah orang yang lain masih belum sampai?” tanya Trevor pada Fanda.


Jumlah mereka tidak hanya sesedikit ini. Namun, karena sebagian orang itu masih harus menunggu kedatangan senjata, serangan mereka pun tertunda.


Fanda berkata dengan tidak berdaya, “Mereka sudah siap dan tiba di lobi. Hanya saja, amunisi yang mereka bawa adalah semua amunisi kita yang tersisa.”


Trevor menganggukkan kepala. “Amunisi masih bisa pelan-pelan dikumpulkan lagi. Tapi kalau ada sesuatu yang terjadi pada kontrak itu, akan ada banyak perusahaan dan keluarga yang terlibat.”


Bagaimana mungkin perusahaan dan keluarga yang terekspos itu akan melepaskan mereka? Jika hal ini benar-benar terekspos, posisi PT. Zrank di Provinsi Sulawesi Tenggara akan goyah. Mereka juga akan kehilangan kepercayaan keluarga dan perusahaan lain.


Setelah tiba di tangga yang aman, Alex lanjut berjalan ke atas. Sementara Amel malah menjadi kebingungan. “Bukankah kita harus turun kalau ingin keluar? Kenapa kita malah naik? Bukankah kita akan semakin sulit melarikan diri kalau kita naik ke atas?”


Alex tersenyum dan berkata, “Kita pancing mereka ke atas dulu. Dengan begitu, nggak akan ada orang yang tersisa di bawah dan kita bisa langsung pergi menuju pintu keluar. Nanti, akan ada orang yang menjemput kita.”


Setelah mendengar kata-kata itu, Amel baru mengerti maksud Alex. Namun, dia masih penasaran. Jika mereka berjalan ke atas, pasti ada juga orang yang berjaga di pintu atas. Jadi, bagaimana mereka bisa menerobos kepungan itu?


Tepat di saat itu, terdengar suara tembakan.


Ting! Ting! Ting!


Peluru meluncur ke arah pagar pembatas dan mengejutkan Amel dan Friska. Sementara Alex hanya mengerutkan alisnya, “Orang-orang ini benar-benar hebat, ya. Mereka bahkan punya pistol mitraliur.”


Amel menatap Alex dengan panik, sedangkan Alex malah berkata, “Berjalanlah mendekati dinding, jangan mendekati pagar pembatas. Dengan begitu, mereka nggak akan bisa menembak kita.”


Setelah ketiga orang itu naik enam lantai, mereka akhirnya tiba di taman bunga langit yang berada di lantai paling atas. Alex memandang ke sekeliling, lalu berkata, “Oke, kita akan memancing mereka ke tempat ini. Dengan begitu, musuh yang kita temui saat turun nanti akan berkurang banyak.”


Taman bunga langit ini terbuka dan sebenarnya adalah atap hotel. Hanya saja, atap ini didekorasi dengan cantik. Jadi, kadang-kadang ada orang yang menyewa tempat ini untuk mengadakan pesta.


Alex membawa kedua wanita itu bersembunyi di balik kotak listrik, “Nanti saat penyerangan dimulai, kalian bisa menembak pada waktu yang tepat. Tapi, lawan kita mempunyai pistol mitraliur, jadi bidikan pertama kalian harus tepat mengenai sasaran.”


Kali ini, ekspresi Alex sangat serius karena dia tahu jika Amel dan Friska tidak dapat langsung mengenai sasaran, serangan musuh akan langsung ditujukan ke sekitar mereka. Setelah itu, mereka hanya bisa bersembunyi di balik kotak listrik hingga musuh mengepung mereka.


Setelah kedua wanita itu mengangguk, Alex baru pergi ke atap pintu masuk yang berada di sisi lain dan diam-diam menunggu di sana.


Brak!


Seorang pengawal botak memberikan isyarat tangan pada semua pengawal lain dan mereka bersiap untuk menyebar. Sementara Alex diam-diam melompat turun ke belakang mereka.


Pengawal botak itu berkata, “Kalian semua hati-hati! Mereka bertiga ada di sini, hanya saja kita nggak tahu posisi tepatnya. Langsung bunuh saja mereka setelah kalian menemukan mereka!”


Baru saja dia selesai berbicara, Alex langsung menepuk bahu pengawal botak itu.


Pengawal botak itu tercengang dan langsung mengangkat senjatanya. Setelah berbalik dan melihat Alex, pupilnya langsung menyusut. Dia bermaksud untuk menembak, tetapi Alex sudah melewati posisi senjatanya dan berada di hadapannya. Jika dia ingin menembak Alex, dia harus menarik kembali pistol mitraliurnya.


Akan tetapi, dia tidak bisa melakukan hal itu. Dia tahu Alex mampu langsung membunuhnya saat dia menarik pistol mitraliurnya. Jadi, dia tidak berani bergerak. Namun, Alex juga tidak berencana untuk langsung membunuhnya.


Pengawal yang lain juga sudah menyadari situasi di samping mereka dan langsung mengangkat senjata mereka untuk menembak Alex. Namun, saat mereka berbalik, mereka mendengar ada suara tembakan yang datang dari sekitar mereka.


Dua pengawal langsung tumbang dan semua pengawal lain pun terkejut, jadi mereka buru-buru mengarahkan senjata mereka ke luar. Dalam sekejap, mereka menyadari bahwa mereka sudah diserang dari luar dan dalam oleh ketiga orang itu.


Apakah mereka ini tim terlatih? Kenapa mereka bisa merancang taktik seperti ini padahal jumlah mereka hanya begitu sedikit?


Dalam seketika, mereka menjadi sedikit panik. Sementara Alex tersenyum dan bertanya, “Coba katakan, ada berapa orang di bawah?”


“Apa kamu pikir aku akan memberitahumu? Alex, hari ini, kamu harus mati di sini. Meskipun kamu membunuh kami, kamu tetap nggak bisa melawan kawan-kawan kami di bawah. Jumlah mereka akan langsung membuat kalian merasa putus asa!”


Pengawal botak itu sangat profesional. Meskipun nyawanya sudah terancam, dia masih melayangkan ancaman.


Alex hanya tersenyum saat mendengarnya, “Benarkah? Tapi bukankah saat ini, kamu seharusnya memikirkan nyawamu sendiri? Nyawamu berada di tanganku, jadi aku bisa membunuhmu dengan gampang.”


Pengawal botak itu menggertakkan giginya, tetapi dia masih keras kepala.


Alex hanya tersenyum, lalu melayangkan sebuah tinju ke arah pengawal botak dan membuat pengawal botak itu langsung pingsan.


Tepat di saat itu, pengawal lain yang tidak menemukan tempat persembunyian Friska dan Amel langsung berbalik untuk menyerang Alex. Namun, tepat di saat mereka berbalik, Friska dan Amel menembak lagi dan menjatuhkan dua pengawal lain.


Kali ini, semua pengawal benar-benar ketakutan. Hati mereka bergetar karena merasa bahwa di momen berikutnya, mereka akan ditembak oleh peluru yang entah dari mana datangnya!


Mereka semua sudah tidak peduli. Wajah mereka dipenuhi oleh ekspresi ngeri dan mereka hanya bisa menyebar dengan cepat, lalu mengamati sekeliling mereka dengan waspada.


Alex mengikuti seorang pengawal dan menjatuhkannya ke atas lantai. Kemudian, Alex mengambil pistol mitraliurnya dan tidak berhenti menembak ke arah beberapa pengawal lain yang sedang bersembunyi.


Di bawah guyuran peluru, semua pengawal itu tidak berani menunjukkan kepala mereka.


Alex memberi isyarat pada Friska dan Amel, lalu kedua wanita itu bergegas datang ke samping Alex. Setelah itu, Alex menunjuk ke arah pintu dan ketiga orang itu berhasil mundur ke belakang pintu. Kemudian, Alex sekalian mengunci pintu itu menggunakan tongkat besi.