
Karena sudah kembali dengan selamat, maka dia nggak perlu berbohong lagi. Setidaknya dia nggak akan membuat Erika khawatir lagi.
“Apa?” Erika segera teringat dengan ‘pria tua itu’. Saat itu dia sangat berhati-hati karena pria tua itu bukanlah orang biasa!
Ternyata pria itu menggunakan nyawanya untuk mengancam Alex bersaing dengannya!
Erika segera mengerti alasan Alex tidak memberitahunya, kemudian tidak membiarkannya melihat lukanya. Semua ini karena dia ingin melindunginya!
Hatinya merasa sakit. Dia berlangkah ke depan untuk memegang tangan Alex. “Kamu seharusnya nggak usah menyembunyikan hal ini dariku.” Ketika dia mengatakan ini, suaranya serak dan matanya berkaca-kaca.
Kemudian dia mengambil dua seragam satpam dari Friska, “CEO Friska, kamu meminjam dua baju ini untuknya, kan? Ini benar-benar merepotkanmu.”
Kemudian Erika meletakkan baju itu di tubuh Alex sambil berkata, “Kamu tahu aku akan sedih. Apakah kamu nggak tahu CEO Friska juga akan sedih kalau membantumu mengoleskan obat?”
Friska merasa canggung, “Em, sebenarnya aku nggak merasa sedih kok.”
Erika menatapnya. “Maksudku adalah semua karyawan PT. Atish akan merasa sakit hati kalau Alex terluka.”
“Oh! Iya iya, tentu saja.” Seketika Friska nggak tahu dirinya harus mengakui atau tidak mengakui.
Saat ini, Erika sibuk dengan hal-hal penting, tentunya bukan orang yang basa-basi. Setelah dia kembali ke kamar, Erika pun bertanya, “Bagaimana kabarmu sekarang? Perlukah ke rumah sakit?”
“Nggak perlu, kamu jangan khawatir.” Alex menggenggam tangan lembutnya, “Benar-benar nggak apa-apa. Sayangnya…”
“Em?” Erika menatapnya, “Sayang apaan? Apa karena aku mengganggumu dan Friska?”
“Bukan, uhuk huk. Apa sih yang kamu pikir? Maksudku adalah sayang aku nggak bisa menentukan kemenanganku dengan Raja Kaki Utara karena diganggu orang.” Alex segera menjelaskan.
“Apa pria tua itu adalah Raja Kaki Utara? Apa ilmu seni bela dirinya lebih hebat darimu?” Erika melihat Alex dengan khawatir, “Bagaimana kamu bisa pergi menemuinya sendirian?”
Alex menggunakan waktu yang cukup lama untuk menghibur Erika sebelum wanita itu mengampuninya. Setelah itu, mereka pun tidur bersama.
Sayangnya, Alex yang ingin melakukan sesuatu di malam ini ditolak oleh Erika, tapi Erika berjanji padanya kelak dia akan menebusnya setelah cederanya sembuh…
“Pak Bagus, apa ada pergerakan di sisimu?” Suseno sudah berjongkok dua jam sampai tubuhnya membeku. Dia benar-benar tidak tahan lagi, jadi dia menghubungi Bagus.
Bagus berkata, “Nggak ada pergerakan apa-apa. Apakah lawan mendapat informasi tentang kita atau di antara kita ada pengkhianat?”
Suseno menggelengkan kepalanya. “Nggak mungkin! Semua bawahanku adalah pasukan khusus yang gigih dalam politik, jadi mereka nggak akan berkolaborasi dengan musuh.”
Bagus berkata, “Iya, aku juga berpikir begitu. Tapi, apa yang terjadi? Kenapa Dakson nggak datang?”
Suseno berkata, “Pak Bagus, kita sebaiknya terus mengawasi situasi di sini! Kalau dia dalam semalam ini nggak datang, maka kita baru pulang.”
“Baik! Hanya bisa begini.” Bagus juga nggak ada cara lain.
Bukan hanya mereka, Nova juga sangat cemas: Bukankah Dakson mau menyerang Keluarga Japari? Kenapa mereka mengingkar janji?
Stevanus juga bingung: Dakson telah mengundang master baru. Kalau dia mau datang, bagaimana mungkin dia tiba-tiba berubah pikiran? Apakah terjadi sesuatu pada Dakson?
Pada pertemuan eksekutif rutin PT. Atish, Erika membagikan urusan bisnis penting perusahaan.
Pembangunan jalan tol menjadi tanggung jawab CEO Friska, sedangkan Damian akan membantunya. Mulai dari desain hingga konstruksi, itu semua adalah masalah integrasi dan relatif mudah.
Namun, pembangunan Stadion kota Tomohon sungguh rumit. Hanya penawaran saja sudah membutuhkan komunikasi dengan beberapa perusahaan besar dalam hal teknologi dan konstruksi. Makanya, hal ini dipimpin oleh Erika, sedangkan Alex menjadi asistennya dan Andi bertanggung jawab atas masalah dana.
Eksekutif PT. Atish sangat bersemangat. Bagaimanapun juga bisa memenangkan tender jalan tol dari Richard sudah termasuk hal yang hebat. Dalam sejarah kota Tomohon selama puluhan tahun, nggak ada yang berani merebut proyek dari Richard!
Sekarang PT. Atish yang di bawah kepemimpinan Alex dan Erika sudah melampaui Richard.
Masa depan PT. Atish benar-benar cemerlang! Semua orang pun tahu akan hal ini, jadi mereka sangat menghargai kesempatan untuk bekerja di PT. Atish.
Egy secara pribadi datang ke kantor polisi kota Tomohon, lalu membahas kasus ini dengan Suseno, Bryan, Marvin dan Nova.
“Dakson bersiap menyerang Keluarga Japari, tapi dia nggak muncul. Menurut kalian, apa alasannya?” Egy mengetuk meja.
Suseno tiba-tiba berdiri. “Lapor Komandan, semalam aku dan Pak Bagus juga membahas hal ini, tapi satu hal yang bisa dikesampingkan adalah nggak ada pengkhianat di Tim Baja! Jadi Dakson nggak datang pasti karena masalah lain.”
Beberapa orang ikut mengangguk, lalu Bryan berkata, “Tapi, masalah apa? Aku benar-benar nggak paham.”
Nova menghela napas, “Iya, Dakson itu sungguh licik.”
Nova pun keluar dari ruang rapat untuk menelepon Alex dan menjelaskan situasi saat ini.
Alex berkata, “Apa kamu yakin kalau personel SWAT kalian yang ikut berperang bersembunyi dengan baik?”
“Em, seharusnya iya.” Nova ragu sejenak.
Alex berkata, “Dalam perjalanan ke kediaman Keluarga Japari, Dakson pasti menemukan polisi khusus atau tim pasukan khusus tentara yang bersembunyi, jadi mereka pun mundur.”
“Apa? Mungkin saja begitu.” Nova tiba-tiba paham, “Apa kamu yakin?”
Alex berkata, “Nggak yakin. Tapi nggak ada alasan lain lagi yang dapat membuat Dakson merubah keputusannya selain hal ini.”
“Benar juga!” Meskipun itu hanya tebakan, tapi Nova harus mengakui kalau tebakan Alex lebih mendekati kebenaran.
Setelah Nova kembali ke ruang rapat, dia pun mengulangi tebakan Alex pada mereka.
Egy dan Bryan saling menatap, lalu mengangguk.
Bryan berkata, “Richard adalah ketua Konferensi Politik Provinsi. Kalau kita mau mengendalikan Keluarga Japari, maka kita harus memiliki bukti kriminal yang cukup. Bahkan kalau kita ingin menggeledah, juga perlu persetujuan dari kejaksaan. Nova, Marvin, kalian kumpulkan bukti kejahatannya. Begitu buktinya sudah pasti, maka aku dan Egy akan melaporkan hal ini ke komiter partai provinsi!”
Nova menggertakkan giginya, “Iya! Tapi, Pak Bryan, meskipun Richard adalah bos di dunia bawah tanah, tapi setiap kejahatan akan dilakukan oleh bawahannya. Jadi kami hanya bisa mendapatkan pengakuan lisan dan sangat sulit menemukan bukti nyata.”
Egy berkata, “Saat ini Stevanus sudah berada di dalam negeri. Meskipun dia bersembunyi dengan baik, suatu saat pasti akan ketahuan. Suseno, kamu bekerja sama dengan pihak polisi untuk mencari Stevanus! Inilah kunci untuk mengalahkan Richard.”
Bryan menganggukkan kepalanya. “Benar! Kalau aku bisa menemukan Stevanus serta menangkap anak buah Stevanus yang masuk secara ilegal, maka kita akan memiliki bukti kuat.”