
“Hah?” Jasmin menekan tenggorokannya dan berseru pelan setelah 'terserang', sekujur tubuhnya tiba-tiba menjadi lemas, dia hampir menggantungkan diri di siku Alex dengan lengannya!
Selain itu, matanya setengah tertutup, dan wangi tubuhnya sangat kuat sehingga Alex benar-benar sulit untuk melepaskan tangannya.
Alex diam-diam berkata dalam hatinya: Aku tidak memukulmu lho! Ngapain kamu bereaksi seperti ini?
Jasmin berpegangan pada lengan Alex dengan kedua tangan, lalu menengadahkan wajahnya yang cantik dengan ekspresi memelas, dan menatapnya, "Tuan Alex, aku lelah, boleh bawa aku istirahat?"
"Aku saja!" Keano yang tidak peka melangkah ke sana dengan cepat.
“Kamu masih ngak cepetan balik tidur?” Jasmin ingin sekali rasanya mencekik anak bodoh ini sampai mati.
Langkah Keano terhenti sejenak, dia menggaruk kepalanya dan berkata, "Uh, aku ngak ngantuk."
Alex tertawa diam-diam, dan segera berkata, "Sudah larut ini, ayo balik bareng. Masing-masing dari kita masih ada hal yang harus dilakukan besok.
“Oke.” Meskipun Jasmin enggan, tapi dia tidak berani meninggalkan kesan buruk di depan Tuan Alex, jadi dia dengan patuh meninggalkan lengan bertenaga Alex yang membuatnya terpana, lalu mereka bertiga meninggalkan gym PT. Atish bersama.
Alex kembali ke kamarnya terlebih dahulu, dan kedua bersaudara itu berjalan di belakang, kemudian Keano berkata dengan suara pelan, "Kak, kok mukul aku?"
Suara Jasmin, "Kamu minta dihajar."
"Lho, emang apa salahku?"
"Aku hanya ingin menghajarmu!"
Dia memukul kepala Keano lagi.
Melihat kakaknya marah, Keano tidak berani melawan, jadi dia hanya bisa membiarkannya memukul.
Setelah kembali ke kamarnya dalam kondisi lelah, Jasmin segera mandi, adegan kontak fisik dirinya dengan Alex terus-menerus berputar ulang di benaknya.
Dalam ketidaktahuan semacam ini, Jasmin memang memperoleh banyak hal, setelah merasakan kekuatan Alex yang layaknya dewa, dia menjadi semakin mengagumi Alex.
Namun bagi keluarga Mahari, mereka tidak pernah begitu menyedihkan!
Kematian Andreas dan Nelson menyelimuti seluruh villa dengan suasana yang mencekam. Makanya, ketika acara pemakaman dimulai, sudah ada selebriti dari semua lapisan masyarakat di kota Medan yang datang untuk memberi penghormatan kepada mereka.
Pada saat ini, ada 3 anak buah yang meninggal secara tak terduga kemarin lusa, dan keluarga mereka juga sedang mengadakan pemakaman.
Sedangkan pembunuh yang membunuh orang-orang ini malah masih hidup dengan baik! Bahkan polisi tidak dapat menemukan bukti kejahatannya.
Orang-orang dari keluarga Mahari sudah panik, jika orang ini sedang senang dan datang berkeliling di villa keluarga Mahari lagi, entah siapa yang akan sial nantinya.
Kennedy, yang tidak perlu menghadiri pemakaman malah telah memasang cctv di ruang berkabung untuk memantau situasi di ruang berkabung setiap saat. Di satu sisi, dia ingin melihat orang dekat mana yang belum datang, di sisi lain dia juga takut akan ada yang terjadi di ruang berkabung.
Dia dan Tambo membangkitkan semangat untuk memperhatikan perubahan kondisi di ruang berkabung.
Kennedy berkata, "Menurutmu Cartel, pengawalnya Mr. Brown, gimana?"
"Apa Cartel akan datang? Bagus kalau gitu!" Mata Tambo berbinar, "Cartel pernah bermain melawanku 5 tahun yang lalu. Meskipun dia mengalahkanku, tapi itu sangat sulit. Namun, setelah tenggelam 5 tahun, kurasa, Cartel, yang baru berusia 30 tahun tahun ini, pasti sudah berada di puncak kehebatannya! Entah seberapa hebat dia sekarang?"
Kennedy menyeringai, "Bela diri Cartel, dihasilkan dengan darah dan daging cincang di arena tinju bawah tanah Negara M! Aura pembunuhnya saja tidak lagi sebanding dengan kamu maupun aku."
“Ya, pengawal Mr. Brown yang satu ini adalah ahli psikopat dari Korps Marinir! Kalau ngak, Mr. Brown juga ngak akan mempekerjakannya.” Tambo berseru, “ Dulu Cartel juga legenda dalam angkatan marinir, hanya saja karena sifatnya yang emosian, jadi mau ngak mau dia diberhentikan."
Kennedy berkata, "Kurasa Cartel mungkin telah mencapai tingkat menengah dewa perang, atau bahkan di atasnya!"
Tambo kembali menghela nafas, "Generasi muda akan mengalahkan generasi tua! Jika Cartel dapat membunuh Alex, maka akan lebih mudah bagiku untuk berurusan dengan sisanya."
Kennedy berkata dengan penuh semangat, "Kita harus memenangkan pertarungan ini! Alex harus dibasmi! Kita harus balas dendam untuk Andreas dan Nelson!"
Setelah beberapa saat, dia berkata, "Aku telah membuat janji dengan Mr. Brown. Tanggal 29, Mr. Brown akan membawa serta Cartel dan tiba di MEdan lebih cepat dari jadwal. Setelah istirahat sebentar, dia akan menghadapi Alex keesokan harinya!"
“Bagus! Tuan, berapa bayaran yang harus dibayar untuk Cartel?” Tambo tak tahan untuk bertanya.
Kennedy menghela nafas, "100 ribu dolar. Namun, aku mau memperoleh kembali uang ini dari PT. Atish!"
Tambo tiba-tiba terkejut, mahal sekali biaya Cartel untuk sekali tampil? Aku bertanding hidup dan mati untuk keluarga Mahari sepanjang hidupku, dan Tuan hanya memberiku saham senilai 200 miliar.
Jika dipikir-pikir, ini memang tidak adil.
Namun, Keluarga Mahari adalah rumahnya juga! Makan, minum, dan kebutuhannya yang lain semuanya gratis.
Setelah pemakaman, keluarga Mahari tenang selama beberapa hari, tetapi pada tanggal 22, berita lain datang: Proyek rekonstruksi Pelabuhan Medan telah dimulai! Upacara peletakan batu pertama benar-benar diadakan!
Ketika berita ini sampai ke telinga Kennedy, dia memukul cangkir batu gioknya sampai berkeping-keping!
"Ghaston! Kemarilah sekarang, atur orang-orang mengacau di lokasi konstruksi! Jangan biarkan proyek mereka berjalan terlalu lancar!" Kennedy sangat marah sampai mondar-mandir di tempat.
"Tuan, tolong tenangkan diri." Tambo buru-buru membujuk, "Lokasi konstruksi cukup dengan beberapa orang yang diatur Bernard saja."
"Oke, beritahu Bernard, minta dia mengaturnyar," kata Kennedy dengan marah.
Memang ada banyak proyek untuk rekonstruksi pelabuhan. Gedung kantor pelabuhan yang baru dibangun berskala besar, dan kondisi di lokasi konstruksi juga berjalan lancar. Untungnya, Erika memiliki bakat manajemen yang baik. Selain itu, Friska dan Jasmin juga cakap, sehingga berbagai proses di lokasi konstruksi terorganisir dan dilakukan secara tertib.
"Presdir Buana, PT. Tiga Gerobak yang bertanggung jawab atas pasokan semen, baru saja memberitahu kita bahwa ada kekurangan semen dan hanya dapat memasok 50 ton per hari, ini jelas jauh dari kebutuhan kita yang awalnya 1.000 ton per hari, bedanya terlalu jauh! Jika ini terus berlanjut, masa konstruksi kita tidak akan dapat dijamin!"
"Apa?" Erika, yang menerima laporan itu, segera menjadi cemas, "Fris, cepat hubungi Pak Asman dari PT. Tiga Gerobak dan minta dia untuk menyediakan cukup semen untuk PT. Atish. Jika tidak, dia sama saja dengan membatalkan kontrak secara terbuka, maka kita akan berjumpa di pengadilan!"
Sebelum Friska pergi, seseorang segera datang untuk melaporkan, "Presdir Buana, pemasok baja baru saja memberitahu kita bahwa tidak akan ada baja besok! Mereka meminta kita memikirkan solusinya!"