
Alex tidak boleh kalah! Walaupun dia memenangkan Cartel, tapi Tambo pasti akan mengambil kesempatan untuk bertindak. Oleh karena itu, Alex berada dalam situasi yang sangat sulit hari ini, karena tidak ada yang bisa menandingi Tambo di pihaknya.
Alex mengatur nafasnya perlahan dan berusaha keras untuk menghemat energinya.
Oleh karena itu, dalam pertempuran berikutnya, Cartel menyerang, dan Alex terus melakukan pertahanan.
Keano sangat gembira, sedangkan Jasmin sangat khawatir. Dia dan Friska tahu betul akan situasi hari ini. Begitu Alex kalah, maka hasilnya akan sulit diperkirakan!
Dia dan Friska saling memandang, mereka mencoba mencari cara untuk menyelamatkan PT. Atish dari krisis.
Sedangkan di pihak keluarga Mahari, mereka mengirim beberapa ahli untuk memblokir pintu agar tidak ada satupun yang dapat pergi.
Cartel meningkatkan serangannya, dan taktiknya menjadi semakin cepat sehingga orang-orang yang berada di pinggir semakin tidak dapat melihat taktiknya dengan jelas.
Alex mundur selangkah demi selangkah, tapi dia bisa bertahan dengan akurat setiap saat meskipun terus mundur.
Tiba-tiba, Cartel menghentikan serangannya!
Alex mundur dua langkah lagi untuk mengamati lawan di hadapannya dengan hati-hati.
Sulit bagi Cartel untuk membayangkan bahwa dia tidak bisa menyerangnya untuk waktu yang lama hari ini! Meskipun orang di depannya tampak sedikit lemah, tapi hanya Cartel yang tahu bahwa kekuatan Alex tidaklah lebih buruk daripada Tambo!
Dia yang terus menyerang sedari tadi merasakan penurunan yang drastis pada energi fisiknya.
Karena tidak ada cara lain, maka Cartel memutuskan untuk menggunakan jurus mematikannya! Dia memberi jurusnya ini sebuah nama yang bagus: Kehadiran Dewa Kematian.
Kemudian, Cartel mulai mengumpulkan energi, lalu tubuhnya terbang di udara seperti burung besar, dan posturnya menjadi kaki di depan dan kepala di belakang. Sosok di udara masih sedikit bergoyang, lalu menargetkan tepat di bagian dada Alex seperti peluru kendali!
Kehadiran Dewa Kematian yang memiliki kekuatan besar selalu membuat lawannya muntah darah dan meninggal setiap kali saat di pasar gelap dulu.
Cartel sangat percaya diri dengan jurusnya ini.
“Awas!” Friska tiba-tiba merasa sangat cemas.
Ada senyum di wajah Kennedy dan Tambo: Bagus, Cartel ingin mengakhiri pertarungan ini dengan satu jurus!
Kehadiran Dewa kematian Cartel menyelimuti Alex dan menyegel semua jalan mundur Alex dengan kekuatan mentalnya sendiri.
Cartel terbang sangat cepat di udara, Alex bisa dibilang benar-benar kebingungan dibuatnya, dia menatap kosong ke arah Cartel yang mendekat tanpa membuat postur siaga.
“Tuan Alex!” Bahkan Jasmin sendiri sudah tidak tahan lagi untuk berteriak cemas.
Tiga meter, dua meter, sisa satu meter lagi!
Semua orang merasa mata mereka menjadi kabur! Sosok Alex tiba-tiba menyerang dengan cepat ke depan! Tidak hanya itu, saat menyerang ke depan, dia meluncur dengan punggung membelakangi lawan!
Hal terpenting adalah pada saat ini, ketika Alex meluncur dan sampai tepat di bawah tubuh Cartel, tubuhnya yang meringkuk tiba-tiba menjadi tegak!
Kaki Alex menikam ke ... bagian penting Cartel seperti lembing. Itu adalah bagian yang mematikan!
Dengan demikian, ketika Cartel yang terbang di udara tiba-tiba kehilangan target, dia merasa pantatnya terkena hantaman yang dashyat!
Apa yang dilihat para penonton adalah tubuh bagian tengah Cartel tiba-tiba terpukul, dan kedua ujungnya sisi merendah, lalu tiba-tiba terbang lagi!
Bang! Tubuh Cartel menghantam atap aula di lantai pertama, dan seluruh ruangan bergetar.
Kemudian tubuh Cartel mulai jatuh dengan cepat, sedangkan saat ini Alex sudah berguling dan berdiri kembali seolah menunggu karung pasir yang jatuh dengan cepat, lalu memutar tubuhnya dan menendang kepala Cartel!
Akibatnya, Cartel yang belum sempat mendarat di tendang lagi, dan tubuhnya berputar seperti gasing sebanyak lima atau enam putaran. Setelah menabrak tembok, dia pun ambruk ke tanah.
Kedua pengawal keluarga Mahari sangat sial, tubuh bagian atas mereka terkena hantaman Cartel, akibatnya mereka berdua jatuh bersama dan keduanya tidak sadarkan diri.
“Tuan Cartel!” teriak Tambo terkejut!
"Cartel!" teriak Mr. Brown. Kedua pengawal di sampingnya segera bergegas membantu Cartel berdiri.
Alex mundur dua langkah dan menatap Kennedy dengan acuh tak acuh, "Lanjut lagi besok."
"Haha! Alex, jangan mimpi kamu! Aku akan membunuhmu sekarang juga!" Tambo tertawa cukup lama, dia tiba-tiba melintas bagai hantu, dan berdiri di hadapan Alex, kemudian meluncurkan sebuah pukulan!
“Main curang!” Keano berteriak dengan marah, tapi dia juga tidak berani menghentikan Tambo dengan sembarangan, karena pukulan Tambo sudah cukup untuk meyakinkan Keano tentang perbedaan besar antara keduanya.
“Brengsek, bisa-bisanya main keroyokan! Ngak tahu malu!” Hengky juga mulai mengutuk keras, mencela keluarga Mahari.
Tapi Tambo sudah bertarung dengan Alex, dan tidak ada seorang pun di tempat itu yang bisa memisahkan keduanya.
Alex masih menggunakan posisi bertahan, situasinya tampak gawat saat berada di bawah serangan bertubi-tubi dari Tambo.
Situasinya tetap sama setelah 10 menit berlalu.
Cartel telah dipapah kembali ke timnya, dia membungkuk seperti udang dengan tangan menutupi bagian intimnya, jelas sekali bagian itu terluka parah.
Trik Alex yang satu ini memang sangat kejam dan juga melegakan, dia langsung melukai Cartel dengan parah.
Kemudian, sosok Tambo dan Alex tiba-tiba terpisah sejauh lima meter dan keduanya saling menatap.
Bagaimanapun, Tambo sudah membuat persiapan yang cukup untuk mematikan musuhnya dalam keadaan lelah, jadi ekspresinya jauh lebih tenang daripada Alex saat ini, sedangkan Alex sudah mulai terengah-engah.
“Hyaaaa!” Tambo kembali bergerak, lengannya berputar seperti kilat, tampak seperti dewa seribu tangan, dan bergegas menuju ke arah Alex seperti pusaran angin.
Dia tidak boleh memberi Alex kesempatan untuk bernafas, jika tidak, usaha Cartel sebelumnya akan sia-sia.
"Bener-bener ngak tahu malu!" Keano menghentakan kakinya karena terlalu marah, namun dia tidak dapat membantu Alex.
Sorot mata Jasmin dan Friska berubah, mereka ingin sekali membunuh Tambo dengan satu tembakan.
Di dagu Alex terdapat butiran besar keringat menetes!
Tetapi saat melihat Tambo menyerang kemari, dia juga bergegas maju seperti adu banteng!
Alex tidak lagi menghindar, melainkan mengandalkan kekuatannya untuk bertarung langsung dengan Tambo!
Buk! Empat telapak tangan saling bertabrakan, dua kekuatan besar terjerat bersama, dan yang dirasakan oleh para penonton hanyalah angin puyuh kecil yang tampaknya bertiup di depan mereka!
Setelah angin itu melintas, keempat telapak tangan itu masih saling menempel.
"Hyaaa!" Keduanya bergerak pada saat yang sama, menggunakan kekuatan serangan balik untuk mundur pada saat yang sama, lalu terus saling menatap seperti sabung ayam sambil mengumpulkan kekuatan mereka, dan bersiap untuk pertarungan berikutnya.
Orang-orang di kedua sisi tidak berani bersuara agar tidak mempengaruhi duel kedua ahli ini.
"Hyaa!" Keduanya berteriak hampir bersamaan, dan kembali beradu tangan!
Buk! Lagi-lagi muncul pusaran angin.
Setelah debu-debu menghilang, keduanya masih saja mempertahankan posisi telapak tangan yang saling menempel.
Tambo terus mengerahkan kekuatannya untuk mencoba melukai Alex yang sudah kelelahan.
Namun, meskipun Alex berkeringat hebat, dia tetap saja mengatupkan giginya rapat-rapat dan tidak menyerah sama sekali.
“Huh!” Tiba-tiba, seiring sebuah omelan yang terdengar centil, sebuah sosok muncul di antara keduanya seperti keajaiban.
Plak!, sosok itu menampar wajah Tambo, "Dasar tua bangka ngak tahu malu, strategi keroyokanmu terlalu curang, sana enyah!"