
Max mengangguk. “Jangan sebar masalah ini. Hanya kita berdua yang boleh tahu. Aku tahu adik sepupu kamu adalah bos PT. Zrank. Kita tahu apakah dia melanggar hukum atau nggak. Kalau dia nggak melanggar hukum, Biro Red Shield akan membuktikan kebenarannya. Namun, kalau dia melanggar hukum, dia harus ditindak berdasarkan aturan hukum.”
Robert terdiam sejenak, lalu berkata, “Aku balik kerja dulu, masih ada bagian akhir kasus yang belum selesai diurus.”
Max mengangguk. Dia ingin kembali melanjutkan rapat, tapi dia merasa saat ini sudah nggak perlu lagi.
Jadi dia pergi ke kantornya, lalu segera meninggalkan kantor kepolisian.
Gordon sedang berdiri di depan pintu sambil minum air. Dia tersenyum saat melihat Robert berjalan kemari. “Pak Robert, Alex itu jelas sengaja melanggar hukum. Kalau sekarang nggak ditindak dengan tegas, nanti dia akan semakin semena-mena!”
Robert berkata dengan jengkel, “Fokus saja pada tugasmu sendiri. Jangan ikut campur dalam masalah ini. Kita juga nggak bisa ikut campur.”
Gordon merasa heran setelah mendengarnya. “Latar belakangnya sekuat itu sampai bisa mempengaruhi kita?”
Robert tidak menjelaskan lebih lanjut karena saat ini dia masih emosi. Jadi Gordon kembali ke meja kerjanya dengan lesu.
Setelah kembali ke meja kerjanya, dia mengambil ponsel dan mengirimkan pesan singkat pada temannya.
Pada saat ini, Alex membawa Friska dan Amel ke sebuah rumah makan. Setelah memesan lauk, Alex menatap Amel sambil tersenyum.
Dia mengajaknya makan di luar tentu karena ada hal yang ingin dibicarakan.
“Waktu itu bukankah aku janji akan bantu kamu cari buktinya? Sekarang kamu bisa ceritakan apa yang akan kamu selidiki dan bukti apa yang ingin kamu cari.” Dia menatap lurus pada Amel.
Amel menundukkan kepalanya dan terdiam, seakan sedang berusaha keras mengingat kembali seluruh kejadian pada saat itu.
Dia menatap Alex dengan sangat serius. “Masalah ini sebenarnya juga alasan mengapa aku menjadi polisi. Aku harap kamu nggak akan menyebarkan masalah ini setelah mendengarnya.”
Alex mengangguk.
Lalu Amel bertanya, “Apa kamu tahu tentang gerakan penghapusan dua belas tahun yang lalu?”
Setelah dipikir-pikir, Alex menceritakan apa yang dia ketahui, “Gerakan penghapusan adalah gerakan untuk menghapuskan sebagian besar faksi kejahatan dalam waktu satu bulan. Namun, aksi ini menemui hambatan yang amat besar pada bulan Desember. Sepertinya ada campur tangan dari tokoh besar.”
“Pada saat itu, tim kepolisian yang berjumlah belasan orang memasuki markas dari sebuah faksi kejahatan. Akan tetapi, mereka disergap oleh lawan karena sepertinya faksi kejahatan itu telah mendapat kabar. Pada akhirnya, hanya dua orang yang berhasil keluar.”
Alex menatap Amel. “Mereka adalah Morgan Lideks dan Trevor Sukardi.”
Tatapan Amel memancarkan kebencian. “Awalnya aku juga tidak mengira mereka adalah pengkhianat. Pengakuan mereka setelah itu juga sangat sempurna. Namun, aku menemukan catatan ayahku saat pindah rumah yang sepertinya jatuh di kolong ranjang dan lupa dibersihkan.”
Alex sadar bahwa ada rahasia di baliknya. Mungkin Morgan dan Trevor telah mengkhianati ayahnya Amel.
Amel berkata dengan sangat marah, “Dulu ayahku adalah ketua tim dan gugur di markas faksi kejahatan itu. Ayah bahkan nggak mendapat penghargaan apa pun atas kegugurannya. Itu malah menjadi titik kelemahan dalam hidupnya.”
“Jadi kamu ingin menemukan bukti pengkhianatan Morgan dan Trevor terhadap tim gerakan penghapusan?” Alex menatap Amel dengan penasaran.
Amel melihatnya dengan tatapan yang sangat teguh. “Iya, aku ingin mereka mendapat karma buruk atas perbuatan mereka di tahun silam! Aku ingin mereka dijerat hukum!”
“Kalau begitu, apa bukti yang ingin kamu cari?” tanya Alex dengan penasaran.
Alex memahaminya, tapi masih sedikit bingung. “Semua ini hanya dugaanmu?”
“Iya.”
“Kalau ini hanya dugaanmu, selanjutnya apa yang akan kamu lakukan jika nggak ada buku keuangannya?” tanya Alex.
Amel langsung tercengang setelah mendengarnya. Dia sama sekali tidak memikirkan tahap berikutnya. Dia yakin bahwa PT. Zrank pasti memiliki buku keuangan tersebut.
Morgan dan Trevor pasti tidak akan putus hubungan dengan faksi kejahatan. Kalau tidak, mereka pasti akan dikorbankan oleh faksi kejahatan.
“Oh iya, sebenarnya siapa faksi kejahatan yang kamu maksud?” tanya Alex lagi.
“PT. Mega. Sekarang sudah dicuci menjadi PT. Mega,” kata Amel dengan emosi.
Dia benar-benar tidak mengerti mengapa para penjahat pada akhirnya bisa berkeliaran bebas. Hal yang paling konyol adalah PT. Mega pernah dipilih menjadi perusahaan unggul pada tahun tertentu.
Alex tidak menyangka PT. Mega memiliki latar belakang seperti itu. Namun, dia kagum pada kehebatan Anwar sampai dapat menjadi seperti sekarang.
Amel menatap Alex. Lalu Alex mendesah, “Aku mengerti. Aku akan bantu kamu cari sebisaku, tapi jangan terlalu berharap. Kamu sendiri yang bilang ini hanya dugaanmu. Bagaimana kalau dugaanmu salah? Kalau mereka sama sekali tidak meninggalkan bukti, apa yang akan kamu lakukan?”
Amel menggelengkan kepala sambil tersenyum getir. “Aku juga tidak tahu.”
Alex mengernyit. “Bahkan jika buku keuangannya berhasil ditemukan, bukti ini juga tidak cukup kuat untuk membuktikan peristiwa belasan tahun yang lalu. Apalagi belum tentu ada buku keuangan ini.”
Amel semakin merasa tidak berdaya. Setelah mendengarnya, Friska yang disamping bertanya dengan heran, “Selain buku keuangan, apakah tidak ada bukti lain yang dapat menunjukkan bahwa mereka adalah pengkhianat?”
Amel menggelengkan kepalanya. “Nggak ada. Hanya mereka berdua yang berhasil selamat pada saat itu. Nggak peduli seperti apa pengakuan mereka, juga nggak ada yang akan menyangkal mereka karena anggota lainnya sudah tewas.”
Pada kenyataannya, masalah ini benar-benar sangat sulit ditangani. Alex juga tahu, tapi dia tetap ingin mencoba karena dia telah menjanjikan hal ini pada Amel.
Setelah mengantar Amel pulang ke kantor kepolisian, Alex mengantar Friska ke kamarnya. Lalu, dia pergi keluar sendirian. Seketika itu, dia sedang jalan-jalan di taman yang dekat dengan PT. Zrank.
Dia mendongakkan kepala melihat gedung PT. Zrank di kejauhan dan menyipitkan matanya.
Sekarang belum saatnya. Pada malam hari akan lebih mudah untuk menyelundup.
Tepat ketika itu, Andi muncul di sebelahnya dan tampak sangat bersemangat. “Kak Alex, kami sudah menemukan jejak Dakson.”
Alex menoleh padanya dengan ekspresi bingung.
Andi berkata, “Di rumah Keluarga Bazel. Dakson pasti berada di rumah Keluarga Bazel.”
Alex mengangguk. “Kalau dia berada di rumah Keluarga Bazel, kalian bisa pancing dia keluar dan bunuh dia, kan?”
Andi merasa nggak berdaya. “Aku juga berpikir begitu, tapi sekarang rumah Keluarga Bazel memiliki pertahanan yang sangat kokoh dan jauh lebih tangguh dari sebelumnya. Mereka bahkan punya dua sampai tiga puluh penembak jitu.”