Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Berikan Dia Padaku


Alex mengerutkan alisnya dan berdiri di tempatnya, tidak lagi sembarangan bertindak. Kelima orang itu menyebar lagi menjadi setengah lingkaran dan perlahan mendekat, tetapi mereka dapat merasakan lawannya memancarkan aura mencekam, meskipun berdiam diri di tengah.


Fabian menginstruksikan semua orang untuk terus mendekati Alex sambil menyemangati dirinya sendiri: "Memangnya kenapa jika ilmu anak ini sangat tinggi? Dengan jumlah kami, Apa mungkin masih tidak bisa mengalahkannya?"


Seiring perintah Fabian, mereka berlima membentuk lingkaran untuk mengepung Alex, dan lingkaran itu berputar dengan cepat, berputar tiga kali searah jarum jam, dan kemudian berputar berlawanan arah jarum jam.


“Bunuh!” Di bawah perintah Fabian, kelimanya menyerang pada saat bersamaan, menyerang Alex yang berada di tengah dari lima arah berbeda. Fabian berkata di dalam hatinya: "Aku ingin lihat bagaimana kamu menghindarinya."


Alex masih berdiri diam di sana. Dia tidak bergerak sedikitpun sampai saat serangan lawannya hampir menyentuh pakaiannya. Pada saat ini, lawan-lawan itu merasa bahwa mereka telah memukul Alex, tetapi malah lewat begitu saja.


Pukulan Fabian melewati ketiak Alex, dan memukul dagu Veri dengan keras. Tendangan Veri melewati pinggangnya dan menendang ke perut bagian bawah Tino. Tino jelas-jelas memukul dadanya demgan ganas, tapi tidak tahu bagaimana itu malah meleset dan berbenturan dengan tinju Sandi, sedangkan telapak tangan Winto malah mengenai pipi Fabian.


Karena banyaknya orang, maka terdengar teriakan "Aduh" terus-menerus, mereka berlima saling mengeluh, "Mengapa kamu memukulku? Pukul dia! Dasar bodoh!"


Alex sudah keluar dari pengepungan mereka saat ini, melihat lima orang yang sedang kacau, dia bertanya: "Hei, kalian sepertinya bersenang-senang. Katakan padaku, apa nama game ini?"


Fabian marah, lalu berteriak, “Pukul dia!” Empat orang lainnya tersadar dan berdiri dengan pose mereka. Kali ini, mereka tidak berani menyerang dengan gegabah.


Sandi yang berdiri di sudut barat laut pandai menggunakan senjata tersembunyi, sekarang dia ingin menyerang secara diam-diam. Dia menyentuh sekilas pinggangnya, dan sebuah pisau sudah berada di antara jari tengah dan jari telunjuknya.


Namun, dia menjadi ragu karena takut akan melukai saudaranya dengan tak sengaja, lalu dia menggerakkan kakinya perlahan untuk mencari peluang.


"Ayo!" Fabian mengeluarkan perintah lagi, dan Alex tepat berada dalam jangkauan Sandi. Sandi yang melihat kesempatan langka ini, mengangkat tangan kirinya untuk membuat gerakan palsu, dan melemparkan pisau terbang dengan tangan kanannya.


Gerakannya sangat berbahaya, sangat tersembunyi, dan kuat. Dalam latihannya yang biasa, dia dapat menembus papan setebal 5 cm dalam jarak 20 meter, dapat dikatakan bahwa dia tidak pernah meleset.


Serangan pisau Sandi sangat etrsembunyi, tapi kebetulan terlihat jelas oleh Friska yang berada di sebelahnya. Meskipun Friska terbaring di sana karena terluka, tapi dia tetap memperhatikan pertempuran yang terjadi, lalu berteriak, "Alex, hati-hati, ada senjata tersembunyi! "


Mendengarkan peringatannya, Alex langsung melihat pisau itu sedang mengarah ke tenggorokannya.


Dia tidak panik, melainkan mengulurkan jari telunjuknya dan menjentik pisau itu. Pisau terbang itu berputar di depannya dan terbang ke arah lain secara diagonal.


Winto di sebelahnya tidak bisa mengelak, lalu berteriak. Merasakan hidung dingin dan ada cahaya merah di depan matanya, kemudian menyekanya dengan tangannya. Ternyata pangkal hidungnya sudah terpotong.


Dia berteriak, karena dia kehilangan hidungnya dan tidak bisa bernapas normal, suaranya terdengar aneh, tapi masih bisa mendengar perkataannya dengan jelas: "Brengsek, Sandi, kemana kamu melempar pisaunya, kembalikan hidungku!"


Mereka masing-masing mengerahkan kehebatan mereka, Winto mengkhususkan diri menyerang tubuh bagian atas Alex. Tino menyerang bagian depan dan belakang Alex. Veri fokus pada kedua lengan lawannya. Sandi juga berhenti menggunakan pisau terbang dan fokus pada tubuh bagian bawah Alex. Fabian yang menginstruksikan mereka.


Kelima orang ini tiba-tiba bekerja sama dengan baik dalam hal menyerang maupun bertahan, seketika bahaya berada di mana-mana. Untuk sesaat, Alex kalah.


Begitu 5 orang itu melihat diri mereka unggul, mereka semakin percaya diri. Mereka juga tahu bahwa jika hanya kekuatan satu orang, tidak satupun dari mereka berlima adalah tandingan Alex. Jika pemuda ini tidak dapat dikalahkan hari ini, kemungkinan tidak akan ada kesempatan lagi di masa mendatang, dan tidak akan mudah bagi beberapa orang ini untuk pergi hidup-hidup!


Kelima orang itu menyerang dengan semakin ganas di bawah komando Fabian sehingga membuat Alex mundur selangkah demi selangkah. Friska yang berada di samping juga melihat bahwa situasinya tidak baik, tetapi dia hanya bisa panik tanpa dapat berbuat apapun.


Alex awalnya ingin mencari celah dari pihak lawan, tetapi dia tidak bisa menemukannya meskipun telah mengamati berulang kali. Hal ini membuatnya sedikit cemas. Tepat pada saat ini, ketika giliran Fabian menyerang, dia melompat dan mengarahkan salah satu tangannya ke arah tenggorokan Alex.


Serangan Fabian ini sepertinya berguna, dia merasa senang melihat ujung jarinya menusuk ke dalam tenggorokan Alex. Dia berpikir untuk membunuhnya untuk mengakhiri pertempuran ini.


Faktanya, ini adalah tipuan Alex. Setelah bertarung sekian lama, Alex juga tahu bahwa akan sulit baginya untuk menang dengan cara ini. Jika ingin menghancurkan formasi, maka perlu menghadapi Fabian terlebih dahulu. Memikirkan hal ini, dia menggunakan trik seperti itu untuk memikat Fabian agar mengambil inisiatif.


Dia mundur setengah langkah saat tangan Fabian menyerangnya agar Fabian membuat serangan lagi. Ketika telapak tangannya masuk lagi, Alex tiba-tiba mengapit lehernya dan menahan telapak tangan Fabian.


Dia segera mengangkat tangannya dan meraih telapak tangan Fabian, krak, punggung tangan Fabian patah di tempat, dan pada saat yang sama, dirinya langsung berlutut di depan Alex. Melihat orang yang memberi perintah terluka, empat orang lainnya seketika tidak tahu harus berbuat apa.


Alex meluncurkan tangannya ke arah dahi Fabian seperti kilat. Lawannya dengan cepat mengelak dan sebuah pukulan jatuh pada bahu kirinya, krak, tulang selangkanya patah, satu lengannya pun sudah tidak berguna lagi.


Fabian berteriak, dan berguling kesakitan, Dia menjauh hingga lebih dari sepuluh meter, dan akhirnya berhasil mempertahankan nyawanya. Keempat orang yang tersisa bergegas maju ketika melihat kejadian itu, kemudian menyerang sembarangan.


Di saat ini, Erika datang diam-diam. Dia tidak tahu akan ilmu bela diri apa pun, dia juga tidak mengetahui trik apa pun, tetapi ketika Alex mengangkat tangannya, seseorang berteriak dan berguling, mengetahui bahwa suaminya telah mengalahkan satu orang, dia berteriak kegirangan, "Bagus! ”


Friska yang berbaring di sampingnya berkata: "Oh? Kamu juga dapat melihat bahwa ilmu bela dirinyabagus? Beberapa hari yang lalu, kamu masih mengatakan telah menikah dengan sampah! Apa ada sampah yang sehebat ini? Begini saja, jika kamu benar-benar tidak suka, katakan secepatnya, dan berikan dia padaku! "


"Eh! Aku benar-benar takjub padamu!" Erika berkata, "Sudah dipukuli sampai begini saja masih punya mood untuk bercanda!"


Hengky juga mendekat dengan tertatih-tatih. Dia tahu dirinya tidak bisa ikut campur, jadi dia hanya bisa menjaga dua wanita itu. Kemudian bergumam: "Aku tahu Alex luar biasa, tapi aku tidak menyangka dia begitu luar biasa! Sungguh hebat, satu lawan lima."


Keempatnya terlihat menyerang dengan ganas, tetapi karena tidak ada arahan dari Fabian, mereka jadi menyerang sembarangan, bagi Alex, ancamannya tidak terlalu besar.


Alex bertahan dengan tenang, ketika saatnya tepat, dia tiba-tiba berubah dari bertahan menjadi menyerang. Dia menendang Veri terlebih dulu, lalu memanfaatkan hal ini, dan mengulurkan tangan untuk meraih baju Sandi. Dia mengangkatnya ke atas dengan satu tangan dan membantingnya ke kepala Winto. Keduanya jatuh ke tanah dan saling menimpak.