Dewa Naga Kehancuran

Dewa Naga Kehancuran
Babak Final


Bintang Tianyu, Sekte Pedang


“Aku menyerah.” Qing Lan Yu berkata dengan nada pahit karena ia tau bahwa ia memang lebih lemah dari pada Yun Che. Walaupun ia mengeluarkan pedang lainnya dari cincin ruang miliknya, itu tidak akan membuat banyak perbedaan.


“Pertandingan kedua babak semifinal dimenangkan oleh Yun Che!” Teriak Tetua Pertama sekeras mungkin.


“Woaaaa...!”


Para penonton bersorak keras walaupun tidak semuanya. Para murid wanita hanya bisa menang wajah cemberut karena idola mereka telah dikalahkan oleh Yun Che.


“Kemampuan yang luar biasa di tingkat kultivasi seperti itu! Serangan sebelumnya bahkan dapat membunuh kultivator tingkat Penguasa Abadi tahap awal secara instan!” Batin Tetua Aula Penegak Hukum ketika menatap ke arah Yun Che. Walaupun ia tidak dapat melacak aura qi Raja Yun Che.


“Tampaknya keputusanku memang benar untuk mengirim Yun Che bersama dengan mereka ke Sekte Pedang Utama setelah kompetisi ini selesai!” Batin Qing Long.


Sementara untuk Kaisar Shi, matanya berbinar tetapi langsung redup ketika ia mengingat bahwa Qing Long ingin mengirim Yun Che ke Sekte Pedang Utama.


Yun Che yang telah memenangkan pertarungan pun langsung menyarungkan pedangnya. Ia perlahan berjalan ke arah kursi peserta untuk menunggu babak final melawan Jie Yan.


“Final kompetisi Tahap ketiga akan di tunda selama satu jam agar kedua peserta memulihkan kekuatan mereka ke puncaknya.” Teriak Tetua Pertama dan langsung memerintahkan pengurus arena untuk memperbaiki arena sekali lagi.


Tetua Pertama tidak berdaya karena tampaknya kompetisi kali ini memang diisi oleh para monster yang membuat arena harus diperbaiki setiap peserta selesai bertanding.


Para penonton tidak keberatan dengan hal itu karena mereka juga ingin melihat kedua Perseta dengan kekuatan penuh untuk bertanding.


Di tempat perjudian, banyak kultivator yang memasang wajah muram karena mereka semua telah kehilangan taruhan.


Untuk pemimpin tempat perjudian, dia selalu memasang wajah cerah karena semua sumber daya yang dipertaruhkan telah masuk ke dalam sakunya.


Memikirkan kembali taruhan Yun Che sebanyak 2.500.000 batu roh kelas atas, pemimpin tempat perjudian sama sekali tidak peduli karena semua prediksi kultivator yang memasang taruhan meleset.


Hanya beberapa dari mereka yang memasang Jie Yan dan Yun Che menjadi pemenang, dan itu hanya beberapa ratus batu roh kelas atas.


Walaupun perbandingan 1 : 5, pemilik tempat perjudian tidak peduli sama sekali karena jumlah yang dia dapat saat ini telah mencapai puluhan kali lipat jumlah hasil yang akan diperoleh oleh Jie Yan jika menjadi juara kompetisi.


Para penonton yang bertaruh juga mengutuk Jie Yan dari waktu ke waktu karena mereka ingat akan taruhan tersebut. Yun Che juga dikutuk terus-menerus karena sangat banyak kalangan besar yang memasang taruhan tinggi yang akhirnya hangus bahkan sebelum pertandingan final berlangsung.


Siapa yang akan menduga bahwa kedua peserta yang memiliki tingkat kultivasi paling lemah akan memasuki final? Tidak ada yang menduga hal itu sedari awal.


Bahkan Tetua Utama yang memasang taruhan besar memasang wajah jelek dari waktu ke waktu. Tentu jutaan batu roh bukanlah sumber daya yang sedikit.


Kali ini, tempat perjudian masih membuka meja pertaruhan. Tetapi karena ini adalah final, maka kemenangan hanya akan mendapatkan 50% dari pertaruhan yang ditaruhkan.


Hal itu sangat wajar terjadi karena itu adalah pertandingan final. Jika para kultivator ingin merebut kembali batu roh yang telah kalah di taruhan sebelumnya, mereka harus memilih dengan cermat antara Jie Yan dan Yun Che. Namun, banyak yang ragu bertaruh karena jumlah yang di dapat hanya 50% jumlah yang dipertaruhkan.


Untuk pertandingan melawan Yun Che, Jie Yan sangat menantikannya. Walaupun Yun Che kuat, ia tentu memiliki keyakinan untuk menang.


Sementara itu, Yun Che yang sedang bermeditasi juga memikirkan banyak cara untuk melawan Jie Yan. Tentu ia akan memikirkan banyak langkah saat ini.


Apa yang ada di pikiran Yun Che saat ini adalah cara untuk menahan Roh Kontrak Jie Yan walaupun ia tidak tau bahwa Xia Yue'er dan Xiao Ziya tidak akan berpartisipasi.


Jika Jie Yan mengetahuinya, ia hanya akan tertawa kecil karena itu akan membagi fokus Yun Che.


Jie Yan bukanlah petarung yang jujur, dalam pertarungan, ia tentu akan melakukan segala cara untuk menang tetapi bukan dengan cara yang kejam. Tentu saja cara yang ia lakukan sedikit licik, siapa yang membuat musuhnya kuat? Ia harus menggunakan segala cara yang bisa untuk mengelabuhi Yun Che.


Selain dari itu, Jie Yan juga memiliki tujuan tertentu ketika melawan Yun Che. Dan itu adalah mempelajari niat pedang agar ia menerobos ke level Mata Pedang.


Jika Yun Che mampu menerobos ke level itu di tingkat Jiwa Abadi tahap akhir, Jie Yan juga yakin bahwa dia juga akan bisa.


Ketika Yun Che bertarung sebelumnya, Jie Yan melihat dengan seksama seperti apa sebenarnya niat pedang level yang dimiliki oleh Yun Che.


Dengan Mata Dewa, Jie Yan memperhatikan dengan cermat lalu mencoba mempelajarinya.


Mempelajari niat pedang sama sulitnya dengan meningkatkan level konsep. Bisa dikatakan, level niat pedang Mata Pedang itu setara dengan konsep tingkat kedua.


Namun, untuk konsep yang dikuasai oleh Jie Yan yaitu konsep Ruang dan Waktu serta Kehancuran, hanya dengan mencapai tingkat Penguasa Abadi itu dapat menembus tingkat selanjutnya karena persyaratan yang tinggi.


Waktu terus berlalu, tanpa sadar satu jam telah berlalu semenjak Yun Che bertarung melawan Qing Lan Yu.


“Maaf membuat semua tamu yang ada di sini menunggu. Kita akan segera memulai final kompetisi tahap ketiga!”


“Peserta Jie Yan dan Yun Che diharapkan untuk naik ke arena!” ucap Tetua Pertama.


Ketika kata-kata Tetua Pertama jatuh, para penonton semuanya bersemangat karena akhirnya pertandingan final akan berlangsung.


Jie Yan yang sedang bermeditasi pun perlahan membuka matanya. Ia melihat ke arah Yun Che yang telah berjalan lebih dulu ke arah arena. Tanpa membuang waktu, ia pun perlahan berdiri lalu berjalan ke arah arena dengan santai.


Saat mencapai tengah arena, Jie Yan dan Yun Che menatap ke arah lawan masing-masing dengan tatapan serius.


Jie Yan tidak pernah meremehkan Yun Chen begitu juga sebaliknya.


“Apakah kalian berdua siap?” Tanya Tetua Pertama menatap ke arah Jie Yan lalu ke arah Yun Che.


“Ya.” jawab keduanya saat Jie Yan mengeluarkan pedangnya lalu Yun Che menarik pedangnya dari sarungnya.


“Tidak perlu membuang-buang waktu lagi! Final kompetisi yang diadakan setiap sepuluh tahun sekali oleh Sekte Pedang, yang di tahun ini di duduki oleh Jie Yan vs Yun Che, Dimulai!” Teriak Tetua Pertama sekeras mungkin yang membuat semua penonton bersorak keras.