
Bintang Tianyu, Hutan Purba
Jleb!
Jie Yan tanpa ampun menusuk kepala Qing An menggunakan pedang. Karena dirinya diincar, ia tidak akan memberikan belas kasihan kepada musuh.
“Jie Yan, jika tidak salah, ketika kompetisi tahap pertama, pria ini bersama dengan dua pria lainnya.” ucap Xia Yue'er yang tampak sedang berpikir.
“Ya, mereka bertiga pastilah murid Tetua Kelima. Tetapi aku penasaran bagaimana cara mereka melacak kita.” ucap Jie Yan saat ia mengambil cincin ruang milik Qing An.
Ketika Jie Yan memeriksa cincin ruang, ia sedikit terkejut bahwa Qing An memiliki kekayaan mencapai 10.000 batu roh kelas atas. Bisa dipastikan bahwa jumlah itu sudah sangat banyak untuk seseorang dengan tingkat kultivasi Jiwa Abadi. Memikirkan kembali bahwa Qing An adalah murid Tetua Kelima, ia pun hanya bisa menghela nafas karena sebagai murid Tetua, sudah pasti sumber daya yang diterima Qing An sangatlah banyak.
Setelah memindahkan semua benda-benda penting, Jie Yan mengambil token milik Qing An. Ia mencoba menyalurkan qi-nya untuk melacak jumlah Poin.
Namun, ketika melakukan itu, mata Jie Yan menyipit tajam karena ia menemukan fitur pelacakan pada token tersebut. Dan memikirkan kembali tentang Qing An datang secara tiba-tiba, ia yakin bahwa targetnya memang dirinya sedari awal.
“Tidak disangka bahwa Tetua Kelima akan melakukan sesuatu seperti ini!” Batin Jie Yan. Ia sedikit waspada saat ini. Tanpa membuang waktu, ia pun menyalurkan Poin token Qing An ke dalam token miliknya.
Poin Jie Yan yang semula adalah 280, langsung naik menjadi 400 Poin. Namun, setelah itu sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Token milik Qing An hancur seketika. Yang ia ketahui, walaupun Poin di dalamnya di serap, token tidak akan hancur karena tidak ada fitur seperti itu. Dengan kata lain, Tetua Kelima telah bersiap jika muridnya gagal agar tidak ada jejak kecurangan yang tersisa.
“Sangat licik! Aku tidak menyangka bahwa Tetua Kelima telah memperhitungkan kemungkinan muridnya tewas. Apa mungkin dikarenakan murid lainnya? Atau sedari awal Tetua Kelima menyadari bahwa aku mampu membunuh muridnya?” Jie Yan memikirkan banyak hal saat ini dan memperhitungkan pemikiran Tetua Kelima.
Namun Jie Yan hanya menggelengkan kepalanya untuk saat ini. Karena kejadian ini, ia pun akhirnya waspada terhadap dua murid Tetua Kelima yang tersisa. Untuk menghadapi Qing An, ia harus berusaha sangat keras.
Jika bentrok secara langsung di tempat yang sunyi, ia tidak akan khawatir karena ia bisa menggunakan bantuan binatang roh. Tetapi jika banyak saksi mata, maka semuanya akan lebih sulit.
“Ayo pergi! Sudah waktunya mengumpulkan binatang roh lagi.” ucap Jie Yan dan langsung bergerak ke arah acak setelah menyimpan mayat Qing An agar diserahkan kepada Tetua Kelima nantinya. Kali ini ia bergerak ke arah pusat Hutan Purba.
Meskipun nantinya tidak ada ditemukan murid lainnya, Jie Yan akan menggunakan bantuan para binatang roh untuk menghabisi binatang roh tingkat tinggi agar Poin miliknya terus naik.
Selain dari itu, ketika memeriksa peringkat Poin, peringkat miliknya naik kembali ke peringkat pertama yang semula telah turun ke peringkat lima besar.
“Peringkat kedua adalah murid yang bernama Qing Lan Yu. Tampaknya ada murid wanita yang cukup kuat kali ini. Selain dari itu, Yun Che berada di peringkat ketiga. Untuk peringkat keempat adalah murid bernama Qing Mo, dan peringkat kelima Qing Fei.” Batin Jie Yan.
Jie Yan merasa sedikit aneh saat ini karena tampaknya kebanyakan anggota Sekte Pedang yang sangat berbakat berasal dari Klan Qing. Ia juga mendapatkan informasi bahwa sebelum nama Qing menjadi sebuah Klan, mereka adalah anggota Kerajaan yang akhirnya bubar dan membentuk Sekte Pedang Cabang. Kejadian itu terjadi ratusan ribu tahun yang lalu.
“Tampaknya Klan Qing ini tidak sederhana sama sekali.” Batin Jie Yan dengan sedikit kerutan di dahinya. Ia pun menggelengkan kepalanya lalu terus bergerak mencari binatang roh ke arah Pusat Hutan Purba.
**
Sekte Pedang
Saat ini suasana di arena pun cukup panas, semakin hari semakin banyak murid yang datang untuk melihat daftar peringkat. Kebanyakan dari mereka tentu akan memasang taruhan bagi para peserta.
“Hm? Dia naik kembali ke peringkat pertama? Tampaknya dia memang tidak sederhana. Tetapi siapa yang jatuh? Tidak ada peringkat 20 besar lainnya yang bergeser saat ini. Walaupun begitu, jumlah tambahan 120 Poin tidaklah sedikit.” Huoyun Ying'er yang terus berada di arena menatap ke arah papan peringkat dengan penuh minat.
Bahkan Jian Xu juga semakin tertarik pada Jie Yan karena sudah pasti pemilik Poin 120 bisa dipastikan memiliki kekuatan paling tidak berada di tingkat Jiwa Abadi tahap akhir. Dan Jie Yan menjatuhkan murid setingkat itu yang membuat penilaiannya tentang kekuatan tempur Jie Yan semakin tinggi.
Para murid juga semuanya berdiskusi tentang Jie Yan yang naik kembali ke peringkat pertama.
Sosok tersebut tidak lain adalah Tetua Kelima yang saat ini mengeluarkan giok kehidupan milik Qing An yang sudah hancur.
Alasan mengapa Tetua Kelima sangat marah saat ini tentu kata-kata Jie Yan yang ia lihat secara langsung melalui giok kehidupan Qing An sebelum hancur.
Walaupun itu sangat buram, ada hal yang menjadi perhatian khusus Tetua Kelima. Yaitu, siapa yang membantu Jie Yan melawan Qing An karena sebelum kematiannya, dari sudut pandang Qing An, ada satu sosok berwarna hitam berdiri di belakang Jie Yan.
Dan melalui gerakan bibir Jie Yan, ia dapat sedikit memahaminya bahwa Jie Yan mengatakan bahwa itu adalah kemampuan unik.
“Bocah bajingan! Tidak hanya membunuh muridku, kau juga tidak melepaskannya ketika Qing An hendak menyerah! Selain dari itu, kau mencoba mempermainkanku! Tunggu saja, apa pun rahasiamu pasti akan aku bongkar ketika waktunya tiba!” ucap Tetua Kelima dengan wajah sangat muram.
Jika saja Tetua Kelima tau bahwa sosok buram yang membantu Jie Yan adalah binatang roh, maka ia pasti akan melaporkan hal ini kepada Sekte. Tetapi sangat disayangkan bahwa pandangan Qing An sangat buram ketika Jie Yan meledakkan teknik Perisai Yin-Yang.
**
Hutan Purba
Di suatu tempat di Hutan Purba, terlihat satu sosok yang terluka dan terbang di udara menggunakan pedangnya. Ia tidak lain adalah Yun Che yang saat ini diburu oleh seseorang.
“Bocah! Jangan lari! Kau tidak akan bisa lolos dariku!” Satu sosok pria terus melompat dari satu dahan ke dahan lainnya mengejar Yun Che yang berada di udara.
Jika Jie Yan dan Xia Yue'er berada di situ, keduanya akan langsung mengenali siapa yang mengejar Yun Che.
“Qing Cao! Apa kau hanya bisa memburu seseorang yang jauh lebih lemah darimu? Sesuai yang diharapkan dari murid Tetua Kelima, Tetua Utama terlemah dan paling licik di Sekte Pedang!” ucap Yun Che dingin saat menatap Qing Cao yang terus mengejarnya.
Wajah Qing Cao muram ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Yun Che.
“Bocah sialan! Aku akan membunuhmu!” Teriak Qing Cao saat ia mengayunkan pedangnya ke arah udara sekuat tenaga.
Sraing!
Bilah raksasa berwarna emas melesat dengan kecepatan tinggi ke arah Yun Che.
Menatap hal itu, Yun Che hanya mendengus dingin. Ia dengan mudah menghindarinya karena kecepatan Pedang Awan Abadi di udara memang sangat tinggi.
“Kejarlah aku sampai ke ujung Hutan Purba ini!” Yun Che mendengus jijik dan meningkatkan kecepatannya. Tetapi dalam hatinya, ia bersumpah akan memberi Qing Cao kematian paling mengerikan karena memburunya satu harian sehingga ia tidak bisa berburu bintang roh. Ini juga membuat ia menjadi peringkat ketiga dan selisih Poin dengan peringkat keempat hanyalah 5 Poin.
Menatap Yun Che yang semakin jauh setiap menitnya, wajah Qing Cao berubah sehitam pantat wajan. Ketika ia hendak menyerang kembali, ia merasakan seseorang berada di dekat tempat tersebut.
“Cih! Yun Che bajingan! Aku akan memburumu nanti! Lain kali kau akan tewas seketika sehingga kau tidak bisa kabur!” ucap Qing Cao marah. Ia pun langsung berdiri di salah satu dahan menatap ke arah sumber kekuatan besar yang sebentar lagi tiba.
Namun, ketika melihat sosok yang datang, wajah Qing Cao pucat seketika.
“Sial! Kenapa aku harus bertemu orang ini?” Qing Cao kabur secara langsung ke arah acak menjauh dengan buru-buru dari sosok yang mendekat.
Dikejauhan, sosok dengan jubah hitam putih berhenti di atas pohon karena tau bahwa Qing Cao melarikan diri. Sosok tersebut menatap ke arah kepergian Yun Chen dengan mata menyipit.
“Guru, aku tidak mengerti mengapa kau berniat membantu kedua pemula itu. Tugas membantu Yun Che telah usai, kali ini jika ada masalah pada Jie Yan, aku akan membantunya satu kali.” sosok yang merupakan seorang wanita itupun menggelengkan kepalanya. Ia tidak lain adalah Qing Lan Yu, murid dari Tetua Aula Penegak Hukum.
Qing Lan Yu tidak tau mengapa Gurunya sangat ingin membantu dua murid baru di kompetisi tahap kedua jika ada masalah. Ia pun langsung bergerak kembali ke arah pusat Hutan Purba untuk berburu kembali, mengabaikan Yun Che yang menatapnya dari kejauhan dengan tatapan penasaran.