
Bintang Tianyu, Sekte Pedang
Suasana di arena berubah seketika ketika Jie Yan yang merupakan peserta terakhir akhirnya tiba.
Jie Yan dengan santai berjalan ke arah bangku peserta yang disediakan di pinggiran arena.
Ketika mendekat ke bangku peserta, Jie Yan memperhatikan Yun Che untuk pertama kalinya. Ia tidak terkejut ketika melihat Kultivasi Yun Che telah mencapai tingkat Jiwa Abadi tahap akhir juga sama seperti dirinya.
“Aku kira kau tidak akan berani datang ke kompetisi ini!” Qing Cao yang sangat membenci Jie Yan berkata dengan nada dingin.
Qing Mu yang merupakan murid Tetua Kelima juga menatap Jie Yan dengan tatapan membunuh. Jika sekarang berada diluar Sekte Pedang, ia akan langsung menerjang ke arah Jie Yan.
Untuk Qing Lan Yu, Qing Mo, Qing Fei dan Qing Yufeng, keempatnya hanya diam melirik ke arah Jie Yan. Kejadian di Hutan Purba memang membuat mereka jengkel tetapi itu jelas karena mereka kurang mampu sehingga kalah. Strategi yang dibuat Jie Yan merupakan bagian dari kemampuan sehingga mereka hanya bisa diam saat ini.
Jie Yan hanya berjalan melewati Qing Cao dan Qing Mu yang membuat keduanya semakin marah.
“Beraninya kau mengabaikan aku?” Qing Cao melebarkan matanya dan matanya hampir saja menyemburkan api ketika melihat sikap Jie Yan.
“Hm?” Jie Yan berhenti dan menatap ke arah Qing Cao lalu menggali lubang telinganya lalu melanjutkan, “Apakah kau berbicara denganku?”
Qing Cao hampir saja memuntahkan seteguk darah merah karena dipermainkan oleh Jie Yan. Wajahnya yang semula merah berubah menjadi hijau. Niat membunuhnya merembes perlahan dan ia siap menerjang kapan saja ke arah Jie Yan.
“Tenang saudaraku.. akan ada waktunya memberi pelajaran kepada bocah ini!” Qing Mu juga sangat marah tetapi menahannya dan mencoba menghentikan Qing Cao melakukan kesalahan.
Qing Cao menarik nafasnya dalam-dalam dan menenangkan dirinya agar tidak membuat kekacauan. Ia tau jika menyerang Jie Yan saat ini, ia pasti akan didiskualifikasi.
“Berharaplah agar kau tidak bertemu denganku!” ucap Qing Cao dingin.
Jie Yan hanya menyeringai lalu berjalan kembali ke arah tempat Yun Che berada. Ia pun langsung duduk di sebelah Yun Che mengabaikan peserta lainnya yang menatapnya dengan seksama.
Untuk Qing Lan Yu dan Qing Mo, keduanya tidak meremehkan Jie Yan karena ketika kultivasi Jie Yan berada di tingkat Jiwa Abadi tahap menengah, kekuatannya sudah sangat kuat. Keduanya percaya bahwa Jie Yan saat ini mampu bertarung dengan semua peserta lainnya.
Untuk Yun Che, ia hanya melirik sekilas ke arah Jie Yan lalu menatap kembali ke arah arena.
Tidak sampai sepuluh menit kemudian, Tetua Pertama yang merasa waktunya telah tiba pun berbicara di tengah arena.
“Selamat datang di Kompetisi yang diadakan oleh Sekte Pedang selama sepuluh tahun sekali. Kali ini kompetisi telah memasuki babak ketiga yang merupakan babak akhir kompetisi. Kali ini delapan peserta yang lolos akan bertanding di arena.”
“Tamu yang terhormat sekalian, saya sebagai juri kompetisi babak ketiga akan memperkenalkan kedelapan peserta kali ini.” Setelah Tetua Pertama berbicara, ia pun memanggil Perseta satu persatu sambil memperkenalkan mereka.
Ketika Jie Yan dan Yun Che dipanggil, perkenalkan tentang mereka membuat banyak murid berseru keras karena tidak menyangka bahwa keduanya belum lama masuk ke Sekte Pedang tetapi pencapaian keduanya sangat tinggi tidak hanya dalam hal kultivasi dan niat pedang, tetapi juga kecemerlangan keduanya di kompetisi tahap pertama dan kedua.
Setelah perkenalan singkat, Tetua Pertama mengibaskan tangannya lalu sebuah kotak muncul tepat di hadapannya.
“Peserta yang jatuh diluar arena akan dianggap kalah. Dan juga, jika salah satu peserta menyerah, peserta lainnya dilarang menyerang. Jika melakukan itu, mereka akan didiskualifikasi. Apakah ada pertanyaan?” Tanya Tetua Pertama menatap kedelapan peserta.
“Apakah ada larangan pembunuhan? Jika peserta lainnya tidak mau menyerah disaat itu juga, maka peserta lainnya tidak akan didiskualifikasi jika tidak sengaja membunuh peserta yang tidak mau menyerah bukan?” Jie Yan pun bertanya dengan senyum hangat diwajahnya.
Tetua Pertama menatap dalam-dalam ke arah Jie Yan untuk beberapa saat lalu melirik ke arah tempat Qing Long berada.
Qing Long yang berada di kursi khusus menonton kompetisi hanya mengangguk kecil karena ia tentu tau apa yang ditanyakan oleh Jie Yan. Ini juga merupakan perintah dari Sekte Pedang pusat sehingga kompetisi kali ini sangat berbeda dengan kompetensi sebelumnya yang diadakan di Sekte Pedang.
“Ya, jika peserta yang tidak mampu bertarung lagi tidak menyatakan menyerah, maka peserta lainnya memiliki hak untuk membunuhnya. Jadi, untuk para peserta yang tidak yakin akan kemenangan, segera nyatakan menyerah ketika pertandingan sedang berlangsung.” ucap Tetua Pertama.
Ketujuh peserta lainnya memasang ekspresi serius karena mereka tau bahwa peraturan kompetisi kali ini sangat berbeda dengan Kompetisi yang lalu.
“Baik, yang pertama adalah Jie Yan. Ambil undian nomormu.” ucap Tetua Pertama menatap ke arah Jie Yan karena Jie Yan adalah peringkat Pertama kompetisi tahap kedua.
Jie Yan langsung maju lalu mengambil undian berupa sebuah bola di dalam kotak tersebut. Ketika ia mengambilnya, nomor empat terlihat di permukaan bola kecil tersebut.
“Nomor Empat, pertandingan kedua.” ucap Tetua Pertama lalu di papan daftar pertandingan, nama Jie Yan muncul.
“Silahkan kembali ke tempat duduk peserta.” ucap Tetua Pertama dan setelah Jie Yan pergi, ia pun melanjutkan, “Yun Che.”
Ketika Yun Che mengambil undian, dia pun mengambil nomor enam, yaitu pertandingan ketiga.
Selanjutnya adalah Qing Lan Yu, menhanbil undian nomor delapan. Setelah itu Qing Mo dengan undian nomor satu. Selanjutnya adalah Qing Fei dengan undian nomor tujuh. Dan Qing Yufeng undian nomor dua.
Selanjutnya adalah Qing Cao. Matanya tampak menunjukkan kebahagiaan saat ini karena hanya Jie Yan dan Yun Che yang belum memiliki lawan. Ketika ia mengambil undian, senyum diwajahnya semakin lebar.
“Nomor tiga.” ucap Qing Cao dengan kilatan pembunuhan dimatanya.
Jie Yan yang menatap itu juga tersenyum. Ia merasa bahwa ini juga merupakan waktu yang tepat karena lawannya ternyata adalah Qing Cao. Dan untuk Qing Mu, dia otomatis melawan Yun Che.
Para penonton pun langsung bersorak di bangku penonton. Mereka semua langsung memasang taruhan untuk pertandingan yang akan datang.
Hanya Qing Mo dan Qing Yufeng yang tersisa di arena saat ini setelah peserta lainnya kembali ke bangku peserta.
Ketika Qing Cao datang ke bangku tunggu peserta, ia pun menyeringai jahat karena ia sedari awal sudah berniat membunuh Jie Yan. “Bocah, lihatlah apakah kau masih bisa sombong ketika waktunya tiba!”
Jie Yan melirik ke arah Qing Cao lalu tersenyum kecil dan membalas, “Cuci lehermu dengan bersih. Mungkin aku akan mengumpulkan mayatmu nantinya. Kebetulan aku sebelumnya memenggal seseorang bernama Qing An di Hutan Purba!”
Ketika Qing Cao mendengar itu, matanya hendak menyemburkan api karena marah. Ia sudah tau bahwa Jie Yan lah yang membunuh Qing An. Tetapi ia yakin bisa membunuh Jie Yan karena kekuatan Qing An hanya setara dengan Qing Mu dan dirinya satu langkah di depan keduanya.
Sementara itu, Tetua Kelima yang berada di tempatnya menonton, menaikkan sudut bibirnya karena akhirnya ada kesempatan untuk menghabisi Jie Yan.