Dewa Naga Kehancuran

Dewa Naga Kehancuran
Mangsa Pertama


Bintang Tianyu, Hutan Purba


Jie Yan, Xia Yue'er dan Xiao Ziya membutuhkan waktu dua hari keluar dari Alam Surga. Dan kali ini, hari kompetisi tersisa selama 1 minggu. Saat dalam perjalanan, ia beberapa kali memperbudak binatang roh tingkat Jiwa Abadi tahap akhir yang membuat kekuatan pasukannya bertambah banyak.


Dengan semua binatang roh itu, Jie Yan tidak khawatir lagi tentang para peserta dengan tingkat kultivasi Jiwa Abadi tahap puncak.


“Ziya, Apakah kau telah menemukan seseorang?” Jie Yan berkata dalam pikirannya karena saat ini Xiao Ziya telah kembali ke dalam Ruang Jiwa.


“Sebentar, aku akan mencoba melacak ke daerah yang lebih luas.” Balas Xiao Ziya dan menggunakan kekuatan spiritualnya mencari musuh ataupun binatang roh.


Tidak sampai satu menit kemudian, Xiao Ziya yang memiliki pelacakan terkuat pun merasakan keberadaan seseorang yang bergerak ke arah pusat Hutan Purba.


“Jie Yan, di arah tenggara aku melacak peserta dengan tingkat kultivasi Jiwa Abadi tahap akhir!”


Ketika mendengar suara Xiao Ziya, Jie Yan menaikkan sudut bibirnya. Jika tingkat kultivasi seperti itu, dirinya dan Xia Yue'er saja sudah cukup untuk menjatuhkannya.


Tanpa membuang waktu sama sekali, Jie Yan langsung bergerak ke arah murid tersebut dengan kecepatan penuhnya. Tentu saja ia akan terbang di udara menggunakan sayap karena itu lebih nyaman serta itu akan menghindari serangan atau Jebakan murid lainnya yang memiliki kemampuan untuk bersembunyi dengan sangat baik.


Di arah yang di tuju oleh Jie Yan. Terlihat seorang peserta yang tampak cukup tua, dengan wajah usia sekitar 28 tahun. Jika penampilan seperti itu dikaitkan dengan tingkat kultivasi, bisa dipastikan bahwa murid tersebut pasti telah berusia ratusan tahun.


“Hm? Ada yang mendekat!” pria itupun mengerutkan keningnya lalu tersenyum jijik karena telah melacak kekuatan Jie Yan. Ia tidak menyangka bahwa seseorang dengan tingkat kultivasi Jiwa Abadi tahap menengah akan berani mengejarnya. Oleh karena itu, ia pun langsung berhenti di tempat lalu menunggu kedatangan Jie Yan.


Tidak lama kemudian, Jie Yan yang terbang di langit menatap ke arah seorang murid yang berdiri di atas cabang pohon menunggu kedatangannya karena ia tidak menyembunyikan auranya sama sekali.


Ketika melihat Jie Yan yang berada di udara, wajah murid tersebut pun berubah seketika karena ia tentu kenal dengan Jie Yan yang mengacau di kompetisi tahap pertama.


“Aku tidak menyangka bahwa kau adalah peserta yang datang ke tempatku! Memang sulit melawanmu karena kau bisa terbang di udara! Apakah kau memiliki nyali untuk turun? Jika tidak, maka aku tidak tertarik melawanmu. Walaupun kau bisa terbang, percuma menyerangku dari udara. Kekuatanku di atasmu, tidak mungkin menyerangku dengan kekuatanmu saat ini!” murid tersebut tersenyum jijik ke arah Jie Yan walaupun ia sangat iri dengan kemampuan terbang di bawah tingkat kultivasi Penguasa Abadi.


“Oh? Tampaknya dia sangat percaya diri. Ayo kita penggal dia.” ucap Xia Yue'er acuh tak acuh.


Jie Yan tersenyum kecil lalu perlahan mendarat di dahan pohon tidak jauh dari murid tersebut.


Melihat Jie Yan yang mendarat, murid tersebut tersenyum kejam. Ia adalah salah satu murid yang sengsara karena Jie Yan di kompetisi tahap pertama. Tentu ia menaruh dendam pada Jie Yan sehingga kali ini ia bertekad untuk membunuh Jie Yan di tempat.


“Kau tau...?” Murid tersebut mengeluarkan pedangnya lalu melanjutkan, “Aku sangat membencimu karena kau membuat kekacauan di kompetisi tahap pertama. Serahkan tokenmu lalu berlutut dan aku akan mengampunimu. Tentu saja kau bisa melarikan diri dengan cara terbang untuk membuktikan kepengecutanmu.”


Murid itu langsung memprovokasi Jie Yan agar tidak melarikan diri. Ini adalah harga diri para kultivator, jika mereka menerima ejekan seperti itu, sebagian besar dari kultivator akan langsung marah dan tidak akan melarikan diri dari pertarungan.


Jie Yan tidak membalas dan hanya mengeluarkan pedang miliknya.


“Oh? Kau pasti menerima banyak hadiah ketika di kompetisi sebelumnya bukan? Karyaku memang luar biasa!” Xia Yue'er di sisi lain tidak peduli dengan kata-kata orang lemah karena apa yang ia ingat saat ini adalah kompetisi tahap pertama. Ia sangat yakin bahwa peserta di depannya adalah salah satu yang menerima hadiah hangat yang ia tinggalkan.


Wajah murid tersebut gelap ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Xia Yue'er. Niat pedang miliknya meledak dalam sekejap. Tentu amarahnya memuncak ketika mengingat bahwa dirinya hangus di dalam jebakan yang ditinggalkan oleh Xia Yue'er.


“Kalian berdua akan mati hari ini juga! Ingat di dalam neraka bahwa orang yang menghabisi kalian adalah Wong Pei Hu!” ucap Wang Pei Hu dingin lalu melesat seperti meteror yang membuat dahan pohon yang ia injak langsung patah.


“Seni Pedang Air, Tebasan Pusaran Air!”


Sraing!


Ketika berada di udara, Wong Pei Hu langsung mengayunkan pedangnya dengan memutar tubuhnya.


Niat pedang bercampur qi dan konsep langsung meledak membentuk pusaran air layaknya tornado lalu melesat ke arah Jie Yan. Semua pohon yang lewatinya langsung dicabik-cabik oleh pusaran air yang sangat tajam.


Melihat pusaran air tersebut, Jie Yan dan Xia Yue'er tetap tenang. Walaupun serangan itu cukup kuat, keduanya tidak khawatir sama sekali.


“Seni Rahasia, Tebasan Dimensi!”


Jie Yan mengayunkan pedangnya dari belakang ke depan dengan kecepatan yang sangat tinggi saat qi, niat pedang dan konsep Ruang yang cukup besar dipadukan.


Sraing!


Jrezh!


Wong Pei Hu yang awalnya bangga dengan serangan langsung merubah raut wajahnya.


“Formasi Alam, Kelahiran Alam!”


Xia Yue'er tidak tinggal diam dan langsung membuat formasi untuk menyerang.


Tanaman merambat dalam jumlah yang sangat besar pun keluar dari dalam tanah lalu melesat ke arah Wong Pei Hu.


“Sial!” Wong Pei Hu merasakan bahaya dari tanaman merambat tersebut. Ia pun langsung mengerahkan qi-nya dalam jumlah yang besar serta niat pedang berwarna emas meledak dari pedangnya.


“Seni Pedang Air, Ratusan Bilah Air!”


Wong Pei Hu berputar dengan sangat cepat dan setiap kali ia berputar, puluhan tebasan pun dilepaskan.


Sraing! Sraing!


Bilah air yang dikompresi menggunakan niat pedang meledak terus-menerus membelah semua tanaman merambat tersebut.


Jie Yan yang menatap itu, menaikkan sudut bibirnya. Ia menekuk sedikit kakinya lalu membuat kuda-kuda menyerang dengan cara pedang ke arah belakang tepat di pinggangnya.


“Seni Rahasia, Tebasan Kecepatan Teleportasi!”


Mata Dewa Jie Yan memperhatikan celah pada Wong Pei Hu. Ketika ia melihat bahwa Wong Pei Hu hendak menyelesaikan tekniknya, Jie Yan pun langsung bergerak.


Sementara itu, Xia Yue'er yang paham langsung membuat lingkaran formasi di tangan kanannya.


Sraing!


Jie Yan melesat layaknya Sambaran petir melewati Wong Pei Hu yang baru saja selesai melakukan tebasan untuk memusnahkan tanaman merambat.


Srak!


Jrezh!


Wong Pei Hu sangat terkejut dan merasa ngeri saat ini. Luka yang sangat dalam tercetak di pinggangnya. Jika pertahanan qi otomatis tubuhnya tidak aktif, ia pasti akan terbelah menjadi duga bagian. Keringat dingin bercucuran di dahinya karena merasa bahwa Jie Yan bukan murid sembarang. Sebab, ia sama sekali tidak mampu bereaksi terhadap tebasan Jie Yan.


Wong Pei Hu dengan buru-buru mengeluarkan giok penyelamatan diri karena tau bahwa jika ia tetap berada di sana, maka ia pasti akan tewas.


Tetapi Xia Yue'er yang telah muncul di belakang Wong Pei Hu sama sekali tidak memberi kesempatan.


“Formasi Cahaya, Pedang Cahaya!”


“Seni Roh, Bilah Cahaya!”


Xia Yue'er yang sangat mungil memegang pedang cahaya yang sangat besar di tangannya lalu mengayunkannya ke arah leher Wong Pei Hu tanpa ampun.


Srak!


Wong Pei Hu yang hampir saja memecahkan giok penyelamatan diri pun terkejut ketika pandangannya berputar. Ia melihat ke arah tubuhnya dengan ngeri bahwa lehernya kini tanpa kepala dan ia tau bahwa ia telah di penggal. Ia pun menutup matanya dengan enggan serta menyesal karena telah memprovokasi Jie Yan.


Sementara itu, Jie Yan menatap ke arah Xia Yue'er dengan tatapan kosong karena ia tidak tau bahwa Xia Yue'er pandai menggunakan pedang. Namun, melihatnya menggunakan pedang yang memiliki ukuran jauh lebih besar darinya, Jie Yan hanya bisa tersenyum kecut.


“Hm.. itulah yang kau dapatkan ketika mencoba memprovokasi kami!” Dengus Xia Yue'er saat pedang di tangannya menghilang lalu ia melesat ke arah kepala Wong Pei Hu di udara lalu menendangnya dengan kuat.


Bam!


Kepala Wong Pei Hu berputar dengan cepat melesat ke arah pohon lalu memantul beberapa kali.


Melihat hal itu, Jie Yan semakin terdiam dan tidak mengerti mengapa Roh Peri yang dikatakan sangat ramah lingkungan akan seperti itu.