Dewa Naga Kehancuran

Dewa Naga Kehancuran
Kemenangan Penuh


Bintang Tianyu, Sekte Pedang


Ledakan besar terjadi di arena yang membuat semua bagian permukaan arena telah hancur.


“Woaaaaa!”


Para penonton bersorak keras karena pertarungan epik yang hampir tidak pernah mereka saksikan. Bahkan para eselon atas Sekte Pedang dan juga para Penguasa kekuatan tingkat menengah yang menjadi tamu terkejut dengan pertandingan tersebut.


“Siapa yang menang?”


“Apakah itu Qing Mo?”


“Kemungkinan besar ya, karena serangan terakhir adalah Qing Mo yang melancarkannya!”


Para penonton dan murid berdiskusi dan menatap ke arah arena tanpa berkedip.


“Omong kosong apa! Pasti tuan Jie Yan yang akan menang!”


“Serangan seperti itu pasti akan di tahan oleh tuan Jie Yan!”


“Ya, itu benar! Jangan asal ngomong bajingan!”


Para murid wanita berteriak ke arah para murid pria yang membuat spekulasi bahwa Qing Mo pasti adalah pemenangnya. Hal ini membuat para murid pria memasang wajah gelap dan semakin membenci Jie Yan karena menarik perhatian semua murid wanita.


“Siapa yang akan menang?” Kaisar Shi menatap ke arah Qing Long dan bertanya.


Qing Long terdiam beberapa saat lalu menggelengkan kepalanya dan hanya menatap ke arah arena yang masih di tutupi oleh debu.


Melihat Qing Long tidak berbicara, Kaisar Shi hanya diam dan melihat ke arah arena juga.


Sementara itu, di bangku penonton, Yun Che yang menatap ke arah arena bergumam kecil, “Jie Yan pasti keluar sebagai pemenangnya!”


“Bagaimana kau tau?” Tanya Qing Lan Yu penasaran menatap ke arah Yun Che.


“Jie Yan sebelum terkena serangan dahsyat dari Qing Mo menggunakan kemampuan pertahanan yang pernah dia perlihatkan. Dan itu kemampuan pertahanan yang sangat kuat, serangan Qing Mo tidak akan bisa menembusnya!” ucap Yun Che dengan mata sedikit menyipit ketika menatap ke arah Jie Yan yang masih di dalam debu dan ledakan qi serta niat pedang.


Qing Lan Yu menatap kembali ke arah arena dan ingin tau apakah yang dikatakan oleh Yun Che benar atau tidak.


Di arena, debu perlahan mereda. Di saat itu juga, satu sosok terhempas ke pinggiran arena. Sosok tersebut tidak lain adalah Qing Mo. Saat ia mendarat, ia muntah seteguk darah merah sambil berlutut dengan satu kaki dan pedang yang ia pegang untuk menopang dirinya agar tidak jatuh.


“Ugh.. serangan berbasis qi Raja sebelumnya sangat menyakitkan! Benar apa yang dikatakan Guru, para kultivator yang mampu menggunakan Belitan Qi Raja memang layak menjadi calon penguasa di Alam Abadi!” Batin Qing Mo saat memegang dadanya lalu memuntahkan seteguk darah merah sekali lagi.


Tetua Pertama melihat keadaan muridnya yang menyedihkan saat ini. Ia tidak mencoba melacak Jie Yan karena ingin melihat dengan matanya sendiri. Ia cukup bangga dengan muridnya karena mampu menampilkan pertarungan seperti itu. Walaupun Qing Mo akan kalah, ia tidak akan kecewa karena ia tau jika Jie Yan berhasil bertahan dari serangan pamungkas muridnya, maka Jie Yan akan keluar sebagai pemenang.


Di tempat Jie Yan berada, debu perlahan menghilang.


Saat debu turun, semua yang ada di arena terkejut karena Jie Yan bahkan tidak mengalami luka sedikitpun walaupun terlihat bahwa dia kelelahan saat ini.


Wusssh!


Perisai Yin-Yang perlahan memudar dan Jie Yan menatap ke arah Qing Mo yang berlutut di kejauhan. Ia tidak bergerak sama sekali dan tau bahwa Qing Mo pasti akan menyerah.


Dan sesuai harapan Jie Yan, Qing Mo yang menatap Jie Yan masih sehat dan hanya sedikit kelelahan, langsung frustasi dan berkata dengan lemah, “Aku menyerah.”


“Pemenang babak semifinal pertama adalah Jie Yan!” Teriak Tetua Pertama sekeras mungkin. Setelah itu, ia juga langsung memerintahkan tim medis untuk membawa Qing Mo ke tempat perawatan medis.


Para penonton semuanya bersorak dan kali ini, mereka tidak lagi ragu bahwa Jie Yan adalah kandidat terkuat untuk menang karena bahkan mampu bertahan dari serangan pamungkas Qing Mo tanpa cidera sama sekali.


“Dia benar-benar menang tanpa cidera!” Qing Lan Yu menatap Jie Yan dengan takjub dan tau bahwa mungkin dirinya hanya memiliki peluang kecil untuk menang melawan Jie Yan.


Untuk Yun Che, ia tidak heran sama sekali karena sudah menduga hal itu. Ia melirik ke arah Qing Lan Yu dan ingin tau seberapa kuat sebenarnya murid wanita itu yang menurut rumor menjadi pedoman para murid wanita dengan skill pedang tipe kecepatan.


“Pertandingan selanjutnya akan di tunda sampai arena diperbaiki!” Tetua Pertama berteriak keras sambil memerintahkan banyak pengurus arena memperbaiki arena.


Jie Yan di sisi lain, perlahan berjalan ke arah bangku peserta dengan wajah acuh tak acuh. Ia duduk di sebelah Yun Che seperti biasa tanpa berbicara sepatah katapun dan mulai bermeditasi untuk memulihkan kekuatannya ke puncaknya.


Sepuluh menit kemudian, setelah arena diperbaiki, Tetua Pertama yang melayang di langit pun berbicara dengan nada yang dapat di dengar oleh semua penonton.


“Baik, karena arena telah diperbaiki, maka kompetisi akan kembali dilanjutkan. Peserta Yun Che dan Qing Lan Yu dipersilahkan untuk naik ke arena.”


Yun Che dan Qing Lan Yu pun berjalan perlahan ke arah arena dengan perlahan. Keduanya tidak terburu-buru saat ini karena mereka masih mengumpulkan banyak rencana untuk mengalahkan lawan.


Sesampainya di arena, keduanya saling menatap dengan datar. Walaupun keduanya tampak biasa saja, aura tak kasat mata saling beradu satu sama lain.


Untuk Tetua Pertama yang berada di langit tentu dapat melihat hal itu. Bisa dikatakan, aura itu adalah semangat juang keduanya.


“Apakah kalian berdua siap?” Tanya Tetua Pertama menatap ke arah Yun Che dan Qing Lan Yu.


“Ya.”


“Pertandingan kedua semifinal antara Yun Che dan Qing Lan Yu, dimulai!” Teriak Tetua Pertama.


Yun Che dan Qing Lan Yu pun menarik pedang masing-masing lalu mengayunkannya dari jarak hampir sepuluh meter secara bersamaan.


“Pedang Awan Abadi, Tebasan Ringan!”


“Gaya Dua Pedang, Bilah Qi!”


Sraing!


Wussssh!


Kedua serangan melesat secara bersamaan dan langsung bentrok.


Duar!


Ketika kedua serangan hancur, Yun Che dan Qing Lan Yu pun melesat dengan kecepatan tinggi.


Saat keduanya tiba di depan musuh masing-masing, keduanya pun langsung mengayunkan pedang masing-masing.


Trang!


Bussssh!


Jie Yan yang berada di kursi peserta pun membuka matanya dan menatap pertarungan tersebut dengan mata serius.


Siapapun yang menang pasti akan menjadi lawan yang sulit. Hanya dari dua kali bentrokan, ia dapat mengetahui bahwa kekuatan keduanya tidak lebih rendah dari dirinya. Perbedaannya hanya dalam segi kemampuan masing-masing.


“Qing Lan Yu, ilmu pedang ganda tipe kecepatan! Dia pasti bisa menahan kemampuan ruang yang aku miliki! Untuk Yun Che yang memiliki niat pedang kuat, itu juga mampu menyetabilkan kemampuan Ruang milikku!” Batin Jie Yan. Yang manapun yang ia lawan itu pasti akan menyulitkannya. Tetapi, ia bersemangat karena hanya keduanya yang mampu membuatnya mengeluarkan seluruh kemampuannya.