Dewa Naga Kehancuran

Dewa Naga Kehancuran
Bertemu Musuh Kedua


Bintang Tianyu, Hutan Purba


Jie Yan menggelengkan kepalanya lalu pergi ke mayat tanpa kepala Wong Pei Hu. Ia pun mengambil cincin ruang Wong Pei Hu lalu memindahkan poin yang ada di token Wong Pei Hu ke token miliknya.


“Hm? 600 Poin? Sungguh tidak terduga.” Gumam Jie Yan karena saat ini Poin miliknya langsung naik menjadi 1.000 Poin.


Selain dari itu, tidak ada hal menarik lainnya di dalam cincin ruang Wong Pei Hu sehingga ia hanya melempar cincin ruang itu ke dalam cincin ruang miliknya. Mungkin beberapa benda berharga di tingkat Jiwa Abadi akan berguna suatu hari nanti sehingga ia tidak membuang apapun dari dalamnya.


“Lawan kali ini sangat lemah. Ayo cari lawan lainnya.” Xia Yue'er yang terbang di depan wajah Jie Yan berkata dengan penuh semangat.


Jie Yan sedikit berkedut ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Xia Yue'er. Jika saja itu pertarungan satu lawan satu, pasti lama bagi Xia Yue'er menjatuhkan Wong Pei Hu yang kini telah masuk ke dalam neraka.


“Ayo...” Jie Yan pun langsung terbang ke arah pusat Hutan Purba dengan Xia Yue'er di bahunya seperti biasa.


Tidak sampai sepuluh menit Jie Yan dan Xia Yue'er pergi, satu sosok turun dari langit dan menatap ke arah mayat Wong Pei Hu.


“Murid lainnya telah tewas. Aku sekarang bertanya-tanya apakah saran dari pusat Sekte Pedang ini benar atau tidak dengan mengijinkan Pembunuhan sesama murid di dalam kompetisi.” Sosok tersebut yang tidak lain adalah Tetua Pertama menghela nafas panjang lalu mengumpulkan mayat Wong Pei Hu dengan tatapan rumit.


Kompetisi kali ini peraturannya dibuat oleh Sekte Pedang pusat sehingga para eselon atas Sekte Pedang di Bintang Tianyu tidak dapat menolak.


Dalam benak Tetua Pertama, ia membuat spekulasi bahwa Sekte Pedang Utama pasti sedang mengevaluasi murid yang selamat dalam pertarungan hidup dan mati lalu menyerap mereka ke Sekte Pedang Utama. Hal ini dapat dimaklumi karena murid yang tidak berguna pasti terbunuh. Percuma untuk memberikan sumber daya kepada mereka terus-menerus apa lagi terhadap murid seperti Wong Pei Hu yang hanya stagnan di tingkat Jiwa Abadi tahap akhir tanpa adanya perkembangan di usia ratusan tahun.


Setelah mengumpulkan mayat Wong Pei Hu, Tetua Pertama pergi kembali dari tempat itu untuk mengumpulkan semua mayat murid Sekte Pedang yang dibiarkan ketika terbunuh.


Jie Yan sama sekali tidak mengetahui hal itu karena Xiao Ziya juga tidak melacak keberadaan Tetua Pertama. Kemungkinan itu dikarenakan jarak ruang lingkup pelacakan Xiao Ziya terbatas dan Tetua Pertama datang ke tempat Wong Pei Hu tewas ketika mereka telah pergi cukup jauh.


**


Sementara itu, kedua murid Tetua Kelima telah bertemu satu sama lainnya dan keduanya pun berkerja sama menjatuhkan murid lainnya. Tetapi keduanya menghindari Qing Lan Yu, Qing Mo, Qing Fei dan Qing Yufeng. Mereka berdua paham bahwa kekuatan mereka saat ini sulit untuk menjatuhkan mereka semua sehingga mereka hanya mengincar yang lainnya di daftar 20 besar.


Di sisi lain, Jie Yan terus bergerak ke arah pusat Hutan Purba. Untuk Xiao Ziya, dia terus-menerus melacak semua daerah di sekitar Jie Yan berada.


“Hm? Jie Yan, ada dua kultivator yang mendekat ke arahmu. Salah satunya dengan tingkat kultivasi Jiwa Abadi tahap akhir dan satunya lagi tingkat Jiwa Abadi tahap puncak. Mereka mendekat dari arah timur!”


Ketika suara Xiao Ziya terdengar, wajahnya menjadi serius seketika. Sudah lebih setengah hari semenjak ia menghalangi Wong Pei Hu dan sedikit terkejut bahwa dalam waktu sedekat itu akan ada kultivator ditemukan di Hutan Purba yang sangat luas.


Selain dari itu, salah satu dari mereka memiliki tingkat kultivasi Jiwa Abadi tahap puncak. Dengan bantuan satu rekannya yang lain, Jie Yan tau bahwa dengan gabungan dirinya, Xiao Ziya dan Xia Yue'er akan sulit mengalahkan mereka.


“Tampaknya sudah waktunya menggunakan semua binatang roh itu.” Batin Jie Yan dan mengirim perintah agar semua binatang roh mendekat secara diam-diam lalu menyerang jika ada kesempatan.


Sangat sulit untuk bertemu murid lainnya sebelum mencapai pusat Hutan Purba. Ia tidak akan melewatkan kesempatan menjatuhkan dua murid sekaligus. Ini sudah diperhitungkan oleh Jie Yan karena ia yakin ketika berada di Pusat Hutan Purba tempat berkumpulnya semua murid, menjatuhkan yang lainnya memiliki peluang besar, tetapi Poin yang diterima kemungkinan akan direbut oleh murid lainnya.


Tentu saja peserta lainnya akan menjarah Poin secara cuma-cuma jika ada yang bertarung di dekat mereka. Hal ini membuat Jie Yan yakin bahwa ketika berada pusat Hutan Purba, Pertarungan kelompok akan terjadi. Selain dari itu, Jie Yan juga telah memikirkan bahwa pasti ada sesuatu yang istimewa di pusat Hutan Roh. Kemungkinan itu adalah binatang roh tingkat Penguasa Abadi yang sudah pasti menjadi target utama.


Dalam analisis Jie Yan, ia menduga bahwa binatang roh tingkat Penguasa Abadi pastilah memiliki Poin ribuan jika intinya diserap oleh token sehingga itu akan menarik minat semua peserta.


Tap!


Jie Yan berhenti di salah satu cabang pohon lalu menatap ke arah tertentu tempat para kultivator datang yang disebutkan oleh Xiao Ziya.


“Ada apa?” Tanya Xia Yue'er yang tidak menghubungkan koneksi spiritualnya dengan Xiao Ziya dan Jie Yan.


“Ada dua peserta yang datang ke tempat ini.” Balas Jie Yan dan menyebutkan kekuatan dari kedua peserta tersebut.


“Oh? Kali ini tampaknya lawan cukup kuat! Jie Yan, serahkan murid tingkat Jiwa Abadi tahap akhir itu padaku! Aku ingin mencoba pertarungan satu lawan satu dan ingin melihat apakah aku mampu mengalahkan lawan seperti itu dalam waktu singkat.” Setelah mendengar apa yang dikatakan Jie Yan, Xia Yue'er langsung bersemangat dan menantikan kedua musuh yang akan datang.


Jie Yan terdiam beberapa saat lalu mengangguk kecil. Semula ia ingin menjatuhkan peserta tingkat Jiwa Abadi tahap akhir dan selanjutnya mengeroyok peserta tingkat Jiwa Abadi tahap puncak. Tetapi karena permintaan Xia Yue'er, ia pun langsung setuju.


Untuk para binatang roh, Jie Yan telah memutuskan untuk membunuh kultivator tingkat Jiwa Abadi tahap puncak menggunakan mereka. Ia tidak akan mengijinkan murid tersebut kabur karena jika musuh kabur, maka konsekwensinya akan mengerikan karena ia saat ini mencoba menggunakan binatang roh membantunya melawan musuh.


Tidak lama kemudian, dua sosok murid terlihat mendekat. Keduanya menyipitkan mata ketika melihat ke arah Jie Yan yang tampak menunggu kedatangan keduanya.


“Saudaraku, dia adalah Jie Yan. Kau pasti ingat bukan?” Murid bernama Dong Hui berbicara.


Murid lainnya yang bernama Dong Fang menyipitkan matanya ke arah Jie Yan. Amarahnya tampak naik sedikit karena sebelumnya, berkat apa yang dilakukan oleh Jie Yan di kompetisi tahap pertama, para murid Tetua lainnya menertawakannya karena terkena jebakan murid tingkat rendah.


“Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu! Penghinaan yang aku terima akan dibalas ribuan kali lipat!” ucap Dong Fang dingin. Kekuatan tirani tingkat Jiwa Abadi puncak pun meledak seketika dibarengi oleh niat pedang yang sangat kuat.


Angin kencang berhembus ke segala arah ketika kekuatan Dong Fang meledak. Untuk Xia Yue'er, wajahnya cerah karena tampaknya lawan memang sangat kuat.


Dan untuk Jie Yan, ia memasang wajah bermartabat saat ini. Tetapi ia tidak takut sama sekali walaupun Dong Fang jauh lebih kuat darinya.


“Ingin membalas dendam? Lakukanlah! Berhati-hatilah karena kemungkinan besar kepalamu akan terpisah dari lehermu!” ucap Jie Yan dengan senyum kejam saat pedang miliknya muncul di tangan kanannya.