Dewa Naga Kehancuran

Dewa Naga Kehancuran
Seni Kehancuran: Bilah Kehancuran Mutlak


Bintang Tianyu, Sekte Pedang


Cahaya menyilaukan menyinari seluruh arena pertarungan. Kekuatan yang ditampilkan oleh Qing Cao membuat para penonton terkejut. Mereka semua sangat mengagumi level kekuatan yang ditampilkan oleh Qing Cao.


Menurut pendapat para penonton, serangan yang akan dilancarkan oleh Qing Cao pasti akan mampu menghancurkan banyak bagian arena luas tersebut.


Sementara untuk Jie Yan, ia hanya tersenyum kejam menatap hal itu. Sekuat apapun serangan Qing Cao, ia tidak akan takut. Yang ia pikirkan saat ini adalah, apakah Qing Cao akan tewas dalam satu serangan dengan tipe kekuatan Kehancuran yang ia miliki. Teknik itu juga diberikan oleh Xiao Bai tetapi ia belum mencobanya sampai saat ini.


Jika Perisai Yin-Yang merupakan teknik pertahanan terkuat, maka serangan yang ingin ia lancarkan adalah teknik serangan terkuat dari Xiao Bai.


“Teknik Pedang Bulan Terlarang!”


“Penghancuran Cahaya Bulan!”


Bussssh!


Saat kekuatan terkuat yang bisa dikumpulkan oleh Qing Cao cukup, ia langsung melesat dengan kecepatan penuhnya. Saat bergerak, terlihat otot-ototnya membengkak dengan urat-urat tebal tanda bahwa teknik tersebut sangat membebani tubuhnya.


Setiap tempat yang ia lewati akan hancur. Disekitarnya terlihat bulan sabit berwarna hijau pucat terus mengintarinya.


Ketika mencapai jarak hampir lima meter dari Jie Yan, Qing Cao berputar sekali lalu mengayunkan pedangnya yang telah dilapisi oleh niat pedang Ekstrim serta konsep Cahaya Bulan terkuat yang dimilikinya.


Di sekitar pedang Qing Cao terlihat bundaran bundaran kecil yang mengalami banyak retakan, itu seperti sebuah bulan yang akan hancur.


“Matilah!”


Qing Cao melancarkan serangan dengan gaya horizontal dan berniat membelah leher Jie Yan dengan satu tebasan terkuat.


“Seni Kehancuran, Perisai Yin-Yang!”


Dung!


Lingkaran dengan pola Yin-Yang menutupi seluruh tubuh Jie Yan. Inilah yang ia rencanakan sebelumnya, yaitu menahan serangan terkuat Qing Cao lalu melawan balik sesudahnya. Di saat Perisai Yin-Yang muncul, ia juga membuat kuda-kuda menyerang.


Trang!


Jrezh!


Qing Coa melewati Jie Yan dalam sekejap. Energi pedang yang ia lancarkan berbelok ke banyak tempat karena tidak mampu menembus Perisai Yin-Yang milik Jie Yan.


Jrezh!


Jrezh!


Duar! Duar!


Setiap energi pedang yang beredar ke segala arah akan meledak lalu ledakan yang mengambil bentuk bulan yang hancur pun terlihat.


“Seni Kehancuran, Bilah Kehancuran Mutlak!”


Jie Yan langsung membuat gaya tebasan horizontal. Ia masih membelakangi Qing Cao saat mengayunkan pedangnya ke arah belakang.


Sraing!


Kilatan berwarna hitam terlihat ketika Jie Yan melancarkan serangannya dengan semua kekuatan yang ia miliki agar Qing Cao tidak memiliki kesempatan untuk bertahan.


“Tidak mungkin...” Qing Cao bergumam ketakutan saat mengetahui serangannya sama sekali tidak menimbulkan goresan pada Jie Yan. Ketika ia sedikit berbalik, ia semakin takut dan mencoba untuk menyerah karena tau bahwa nyawanya sedang berada di ujung tali.


Jrezh!


Drrrrtttt! Blar! Blar! Blar!


Tebasan energi Jie Yan yang mengikuti garis ayunan pedang semuanya meledak. Ledakan itu juga tampak mengerikan karena ruang itu sendiri dihancurkan.


“Gawat!” Tetua Pertama yang berada di udara langsung membuat gerakannya memperkuat penghalang di pinggiran arena. Ia tidak menyangka bahwa sisa energi serangan Jie Yan akan sekuat itu. Ia langsung tau bahwa Qing Cao pasti terbunuh oleh ayunan pedang mematikan Jie Yan.


Untuk Qing Long yang sedang menonton juga tidak tinggal diam. Ia langsung menghilang dan muncul di pinggir arena lalu mengarahkan telapak tangannya ke arah arena. Niat pedang Ekstrim muncul dalam sekejap dan menekan robekan ruang di tempat Qing Cao berada.


Jika dibiarkan, robekan ruang itu akan langsung melebar lalu menelan semua yang ada di sana.


Inilah betapa mengerikannya teknik Kehancuran yang diberikan oleh Xiao Bai kepada Jie Yan. Serangan itu mengabaikan pertahanan, menghancurkan segala sesuatu di area tebasan tidak terkecuali ruang itu sendiri. Itulah sebabnya ruang langsung robek akibat konsep Kehancuran yang dipadatkan dan dibuat setajam mungkin.


Para penonton juga terkejut ketika melihat itu. Mereka tentu melihat bahwa Tetua Pertama dan Master Sekte Pedang langsung bergerak menghentikan efek serangan Jie Yan yang artinya itu dapat menghancurkan arena tersebut.


“Hm? Niat pedang masih bisa digunakan seperti ini? Itu dapat menekan ruang itu sendiri!” Batin Jie Yan saat melirik ke arah robekan ruang ia buat. Dari hal itu ia tau bahwa niat pedang yang dikembangkan ke level ektrim melampaui puncak niat pedang Jantung Pedang, itu pasti setara dengan semua 33 Konsep Kuno.


Jie Yan juga sedikit menebak bahwa salah satu konsep Kuno adalah sesuatu yang mirip dengan niat pedang.


Setelah sedikit tenang, Jie Yan menyimpan pedangnya lalu berjalan ke arah tempat Perseta berada tanpa melihat ke arah Qing Cao yang membatu di tempat.


“Apa yang terjadi?”


“Kenapa Jie Yan pergi?”


“Apakah dia akan menyerah?”


“Qing Cao masih berdiri di arena, yang artinya Jie Yan ingin menyerah?”


Saat para penonton berdiskusi, para Tetua hanya memasang wajah gelap karena mereka sudah tau apa yang terjadi.


“Pemenang babak kedua adalah Jie Yan!” Teriak Tetua Pertama di udara.


Ketika para penonton terkejut, di saat itu juga tubuh Qing Cao ambruk di permukaan arena. Tidak ada luka sama sekali, hanya ada darah yang terus-menerus merembes dari dalam mulut Qing Cao.


“Dia tidak bernafas lagi! Sungguh serangan yang menakutkan! Membelah leher Qing Cao tanpa memisahkan kepala Qing Cao dari lehernya! Hanya ada kulit yang tersisa yang membuat leher Qing Cao tidak terlepas dari lehernya!” Batin Qing Long. Ia tidak menduga bahwa Jie Yan menggunakan konsep yang tidak dikenal yang sedikit mirip dengan konsep Petir.


Zhep!


Tetua Kelima muncul tepat di depan Jie Yan yang hampir turun dari arena. Dengan wajah dingin, ia pun langsung menyerang ke arah Jie Yan.


“Matilah! Murid yang selalu membunuh sesama murid, tidak dibutuhkan oleh Sekte Pedang!” Teriak Tetua Kelima saat mengayunkan pedang yang muncul di tangannya ke arah leher Jie Yan.


Jie Yan terkejut karena ia sama sekali tidak menyadari kemunculan Tetua Kelima. Jantungnya berdetak sangat cepat karena ia sama sekali tidak mampu merespon kecepatan seseorang sekuat Tetua Kelima.


Tap!


Namun tebasan Tetua Kelima langsung di tangkap oleh seseorang yang membuat Tetua Kelima memasang wajah yang sangat jelek, lebih jelek dari pada mayat membusuk.


“Apa yang kau lakukan Tetua Kelima? Mencoba menyerang murid di depan umum, bahkan kami para Tetua tidak akan membiarkanmu pergi dengan mudah!” Pemimpin Tetua Aula Penegak Hukum berkata dengan nada bermartabat ketika melihat ke arah Tetua Kelima.


“Sesepuh, anda harus melihatnya! Tidak hanya kali ini dia membunuh sesama murid! Bahkan sudah berkali-kali! Seseorang seperti dia tidak layak sama sekali menjadi murid Sekte Pedang! Suatu hari nanti dia akan menghabisi semua murid lainnya!” Teriak Tetua Kelima dan di dengar oleh semua yang ada di arena.


Kata-kata Tetua Kelima membuat semua yang ada di arena membeku di tempat, terutama para murid. Mereka semua saat ini menatap Jie Yan dengan tatapan sedikit waspada.


Hal ini membuat Tetua lainnya terutama untuk Qing Long memasang wajah muram karena mereka tau bahwa Tetua Kelima sengaja melakukannya agar Jie Yan menjadi musuh publik.


Untuk Tetua Aula Penegak Hukum, ia juga menyerit saat ini karena ia tau bahwa serangan Tetua Kelima bukan serangan terkuatnya yang artinya Tetua Kelima telah menunggu seseorang menghalanginya lalu memberi kata-kata mati untuk Jie Yan agar dimusuhi oleh semua orang yang ada di sana.