
Bintang Tianyu, Hutan Purba
Kompetisi tahap kedua terus berlanjut. Hanya tersisa tiga hari sebelum kompetisi selesai. Saat itu juga, para murid semakin jarang bertemu karena banyak murid yang telah gugur.
Selain dari itu, para murid kini sangat waspada. Bahkan mereka tidak ingin melawan binatang roh ketika dekat dengan pusat Hutan Purba. Ini dikarenakan kemungkinan murid lainnya akan keluar ketika pertarungan usia lalu menyerang mereka yang telah kelelahan.
Untuk Jie Yan saat ini, ia terus bergerak. Ia telah sangat dekat ke pusat Hutan Purba. Ia sengaja membuat para binatang roh yang sudah lebih banyak ia kendalikan lebih jauh menjaga jarak. Jika terjadi sesuatu yang tidak ia inginkan, maka ia pasti akan melepaskan semua binatang roh itu.
Bahkan ketika pergi ke arah pusat Hutan Purba, Jie Yan telah menundukkan puluhan binatang roh tingkat Jiwa Abadi tahap akhir. Banyak dari mereka yang memiliki kekuatan tingkat Jiwa Abadi tahap puncak sehingga mereka semua menjadi ancaman bagi para peserta lainnya.
Jie Yan saat ini telah berhenti di sebuah bukit yang cukup besar. Di jarak pandang Mata Dewa miliknya, ia dapat melihat banyak peserta yang telah mendekat ke pusat Hutan Purba yang tidak lain adalah sebuah gunung raksasa yang aktif.
Gunung berapi tersebut akan meledak setiap dua belas jam sekali yang artinya gunung itu meletus sebanyak dua kali sehari. Dan waktu meletus gunung itu juga berada di jam yang sama.
Melihat fenomena alam itu, Jie Yan sama sekali tidak terkejut. Apa yang membuatnya tertarik adalah lokasi di bawah gunung tersebut. Walaupun itu sangat tandus karena letusan gunung setiap waktu, beberapa sumber daya langka tumbuh di sana.
Di aliran sungai lava, terlihat beberapa herbal yang hanya akan tumbuh di tempat yang suhu panas ekstrim yang tidak pernah turun. Selain dari itu, apa yang semakin menarik perhatian Jie Yan adalah ada tiga binatang roh kuat di tempat tersebut, tepat di kaki gunung.
“Apa kau melihat para peserta lainnya?” Tanya Xia Yue'er penasaran.
“Ya, jumlah peserta yang telah mendekat belum mencapai angka 50 peserta.” Balas Jie Yan.
“Apakah kita akan langsung menyerang mereka satu per satu?” Tanya Xia Yue'er bersemangat.
Jie Yan memutar bola matanya ke arah Xia Yue'er karena itu bukan saran cemerlang. Harus diketahui bahwa saat ini para murid lainnya juga mengunci aura peserta lainnya. Jika ada pertarungan terjadi, mereka pasti akan datang mengambil kesempatan untuk meraih piala gratis.
“Tidak Yue'er, itu bukan keputusan bijak. Saat ini kita tidak bisa melakukan hal sembrono. Kita harus melakukan sesuai dengan rencana awal. Lagi pula, musuh utama saat ini adalah binatang roh tingkat Penguasa Abadi tahap menengah yang sama kuatnya dengan Harimau Neraka yang pernah kita lawan.” ujar Jie Yan.
“Oh? Ada binatang roh sekuat itu di gunung itu?” Xia Yue'er langsung tertarik. Ia tentu tau bagaimana kuatnya Harimau Neraka, bahkan semua serangan gabungan dirinya dengan Jie Yan dan Xiao Ziya hanya mampu melukai Harimau Neraka sedikit.
“Ya, dengan kekuatan kita, mustahil untuk melawannya. Murid lainnya juga telah memperhitungkan hal ini dan mereka juga pasti berniat menggunakan murid lainnya untuk menjatuhkan binatang roh terkuat.” ujar Jie Yan.
Sebelum ada yang berbicara lagi, Jie Yan dan Xia Yue'er menyipitkan mata mereka karena ada dua aura kuat yang mengunci mereka.
Tatapan Jie Yan dan Xia Yue'er tertuju pada arah tertentu dan menemukan dua murid yang mereka pernah lihat, dan keduanya sebelumnya bersama dengan Qing An di kompetisi tahap pertama.
“Mereka berdua tampaknya familiar..” Xia Yue'er menyipitkan matanya dan berpikir keras di mana ia pernah melihatnya.
“Keduanya bersama dengan murid Tetua Kelima yang pernah kita habisi. Mereka bertiga selalu bersama ketika berada di kompetisi tahap pertama.” Jie Yan menjelaskan dengan menghela nafas panjang.
“Oh? Ya, aku ingat.” Xia Yue'er mengangguk serius dan melanjutkan, “Tampaknya keduanya ingin melawan kita.”
Jie Yan juga tau bahwa kedua murid Tetua Kelima yang tersisa yang tidak lain adalah Qing Cao dan Qing Mu ingin menghabisi mereka.
“Tampaknya Qing An telah gagal!” ucap Qing Mu sedikit marah. Tentu ia marah karena saudara seperjuangannya gagal dan hidup mati Qing An tidak diketahui saat ini.
“Apakah kita akan langsung menyerangnya? Ini adalah kesempatan yang jarang muncul karena tidak lama lagi akan semakin banyak murid yang muncul! Jika kita berlama-lama, para murid lainnya akan mengambil kesempatan saat kita bertarung!” ucap Qing Cao dengan niat membunuh yang perlahan merembes.
“Ya, ayo kita habisi bocah itu agar mendapatkan apa yang diinginkan oleh Guru!” Balas Qing Mu.
Ketika keduanya hendak bergerak, satu aura mengunci mereka dengan intens. Itu adalah penguncian untuk melakukan serangan mendadak secara langsung. Hal ini membuat Qing Cao dan Qing Mu memasang wajah gelap lalu menatap ke arah aura mengerikan yang mengunci mereka.
Tetapi, ketika melihat sosok tersebut, wajah Qing Cao dan Qing Mu semakin gelap seperti pantat wajan yang hangus.
“Wanita bajingan! Sebelumnya dia menghalangi kita menangkap Yun Che! Kali ini dia ingin menghalangi kita menangkap Jie Yan?” Qing Cao ingin muntah darah karena sosok yang mengawasinya adalah Qing Lan Yu.
Bahkan Qing Mu tidak tahan dengan perlakuan seperti itu. Ia sadar bahwa Qing Lan Yu memang lebih kuat dari mereka. Tetapi jika mereka bekerja sama, keduanya tidak akan kalah.
“Apakah dia berpikir bahwa dengan kekuatan serta statusnya kita takut dengannya? Tampaknya lebih baik membereskan Qing Lan Yu lebih dulu karena mencoba menghalangi kita!” ucap Qing Mu dengan amarah yang telah mencapai ubun-ubun.
Qing Lan Yu yang saat ini berjarak hampir empat puluh meter dari Qing Cao dan Qing Mu, mencabut kedua pedang yang ada di pinggangnya. Niat bertarungnya perlahan merembes karena ia bersiap-siap untuk menembak Qing Cao dan Qing Mu kapan saja.
Ketika ketiganya saling menatap dan hendak bertarung, sosok lainnya pun muncul tidak jauh dari ketiganya, berdiri tepat di atas pohon. Ia menatap ke arah kedua kekuatan tempur yang hendak pecah dengan tatapan tertarik.
“Qing Mo!” Mata Qing Cao hampir menyemburkan api karena orang yang paling ia benci adalah Qing Mo, murid Tetua Pertama.
Qing Mo memiliki kepribadian yang tidak masuk akal, dan sangat senang membuat orang marah sampai mati. Tetapi, jika seseorang mengetahui bahwa Qing Mo pernah hampir memuntahkan darah karena aksi Jie Yan di kompetisi tahap pertama, para murid lainnya pasti akan merasa heran.
“Kalian bertiga lanjutkan. Jangan hiraukan aku.” Qing Mo melambaikan tangannya dengan acuh tak acuh dan sangat terlihat seperti seorang penonton yang menunggu pertunjukan.
Mata Qing Cao dan Qing Mu hampir melotot keluar karena tentu tidak akan percaya dengan kata-kata Qing Mo. Mereka tau ketika mereka melawan Qing Lan Yu, Qing Mo pasti akan mengambil kesempatan untuk menjatuhkan salah satu dari mereka.
Suara Qing Mo sangat kecil, tetapi dapat di dengar oleh semua yang ada di sana di jarak hampir seratus meter.
“Oh? Tampaknya suasana di sini cukup ramai.” Di arah lainnya, sosok pemuda muncul di atas dahan pohon yang sangat tinggi, ia tidak lain adalah murid Tetua Kedua, Qing Fei.
Dan di arah lainnya, murid Tetua Keempat juga muncul, dia tidak lain adalah Qing Yufeng.
Melihat semua murid terkuat telah berkumpul, Qing Cao dan Qing Mu tau bahwa tidak mungkin membuat kekacauan untuk saat ini.
Sedangkan Qing Lan Yu, wajahnya tetap terlihat acuh tak acuh. Ia melirik sekilas ke arah Jie Yan karena ia telah selesai menjalankan perintah Gurunya untuk membantu Jie Yan dan Yun Che agar tidak dilawan terlalu dini oleh murid tingkat tinggi.
Jie Yan juga menatap adegan itu dengan cermat. Ia dapat melihat bahwa semua murid yang muncul tidak jauh darinya sangat kuat, terutama untuk wanita bernama Qing Lan Yu, ia merasa bahwa ia tidak akan mampu melawannya dalam tiga putaran yang membuktikan betapa mengerikannya wanita itu.