
Bintang Tianyu, Hutan Purba
“Sudah waktunya.” Jie Yan yang dalam waktu kurang dari sehari terus bersantai pun perlahan berdiri. Tanpa menggunakan giok penyelamatan diri, tubuhnya tampak seperti di tarik ke suatu tempat. Ia langsung mengirim Xia Yue'er ke dalam Ruang Jiwa agar tidak tertinggal di Hutan Purba.
Di luar Hutan Purba, Tetua Pertama, Kedua dan Ketiga telah menunggu kedatangan semua murid.
Di formasi tempat mengirim murid sebelumnya, dua puluh murid pun muncul dalam sekejap.
Mereka semua adalah murid yang masuk ke dua puluh besar. Tetapi hanya delapan dari mereka yang akan maju ke babak berikutnya.
“Bajingan sialan!” Qing Cao menatap langsung ke arah Jie Yan. Ia tentu sangat marah saat ini karena Jie Yan mengambil semua Poin yang membuat Jie Yan tetap berada di peringkat pertama.
Walaupun Qing Cao adalah murid dari Tetua Kelima, sumber daya yang diterima oleh peringkat pertama kompetisi tahap kedua jauh lebih besar dari pada yang ia terima dalam waktu beberapa tahun.
Itulah mengapa semua murid lainnya mencoba menduduki peringkat pertama tidak terkecuali untuk Qing Lan Yu sekalipun karena hanya itu kesempatan untuk mereka semua langsung menembus tingkat Penguasa Abadi tanpa memenangkan kompetisi tahap ketiga.
Qing Mu, Qing Fei, Qing Yufeng menatap ke arah Jie Yan dengan tatapan marah. Bahkan Qing Mo tidak terkecuali, walaupun wajahnya tampak biasa saja, dia sangat ingin menghajar Jie Yan di tempat.
Selain dari Jie Yan, Yun Che juga menjadi pelampiasan amarah mereka. Semua murid delapan besar lainnya selain dari Jie Yan dan Yun Che bersumpah bahwa ketika mereka bertemu di babak ketiga, mereka akan memberikan pelajaran paling menyakitkan kepada keduanya.
Yun Che yang merasakan semua yang ada di sana menatapnya hanya melirik sekilas lalu mengabaikannya. Ia tidak takut sama sekali dengan mereka. Ia yakin ketika ia mencapai tingkat Jiwa Abadi tahap akhir, maka ia pasti akan setara dengan para murid tingkat Jiwa Abadi tahap puncak.
“Selamat kepada kalian semua karena telah memasuki dua puluh besar.” Tetua Pertama langsung mengucapkan selamat kepada semua murid lalu melanjutkan, “Untuk semua yang masuk peringkat dua puluh besar akan menerima hadiah sesuai dengan peringkatnya.”
“Peringkat pertama adalah Jie Yan. Sebagai peringkat pertama, tentu hadiah yang diberikan akan lebih tinggi dari peringkat lainnya.” Setelah mengatakan itu, Tetua Pertama mengeluarkan cincin ruang lalu mengendalikannya dengan qi tepat ke depan Jie Yan.
“Cincin ruang ini berisi 50.000 batu roh kelas atas, satu pil Jiwa Agung, satu pedang tingkat Penguasa Abadi dan satu Giok Pemahaman Niat Pedang Esensi Pedang yang sempurna.” ucap Tetua Pertama.
Hadiah yang dikatakan oleh Tetua Pertama membuat banyak murid sangat iri, terutama untuk Pil Jiwa Agung, itu adalah pil yang memungkinkan siapa saja menerobos satu tahap di tingkat Jiwa Abadi tanpa adanya efek samping.
Inilah mengapa para murid tingkat Jiwa Abadi tahap puncak sangat ingin menduduki Peringkat pertama. Dengan Pil Jiwa Agung serta dengan tambahan sedikit sumber daya, mereka pasti akan mencapai tingkat Penguasa Abadi tahap awal.
“Oh?” Jie Yan tidak menyangka bahwa hadiah kompetisi tahap kedua akan sangat murah hati. Selain dari itu, ada juga Giok Pemahaman Niat Pedang Sempurna di tingkat Esensi Pedang. Dengan kata lain, jika ia mempelajarinya secara sempurna, ia hanya satu garis tipis menuju Niat Pedang Mata Pedang.
“Untuk Peringkat Kedua yang tidak lain adalah Yun Che, hadiah yang kau terima adalah 30.000 batu roh kelas atas, satu pil Jiwa Agung tidak sempurna dan satu pedang tingkat Penguasa Abadi.” ucap Tetua Kedua saat memberikan cincin ruang kepada Yun Che.
Yun Che yang menerima itu tidak memiliki ekspresi sama sekali tetapi ia sedikit bersemangat di dalam hati karena walaupun itu Pil Jiwa Agung tidak sempurna, dengan tambahan batu roh ia akan dapat menembus tahap selanjutnya tanpa hambatan.
“Untuk Peringkat Ketiga Qing Lan Yu, hadiah yang diterima adalah 20.000 batu roh kelas atas dan satu pedang tingkat Penguasa Abadi.” ucap Tetua Pertama mengerahkan cincin ruang kepada Qing Lan Yu.
Qing Lan Yu yang menerima itu tersenyum sedikit pahit karena yang ia inginkan adalah pil Jiwa Agung yang sangat langka bahkan di tangan para Tetua. Walaupun itu seperti milik Yun Che, itu masih berharga hampir ratusan ribu batu roh kelas atas. Itulah betapa berharganya Pil Jiwa Agung.
Lalu Tetua Pertama pun memberikan hadiah kepada murid lainnya yang membuat wajah mereka sedikit jelek karena hanya mendapatkan batu roh dan Senjata di tingkat Penguasa Abadi.
“Baiklah, karena kompetisi tahap kedua telah selesai, kita akan kembali ke Sekte. Sebelum itu, aku akan menjelaskan tentang kompetisi tahap ketiga.”
“Kompetisi tahap ketiga akan diadakan di Arena Utama Sekte Pedang. Akan banyak tamu yang diundang saat itu. Dari dua puluh peringkat besar, peringkat pertama sampai ke delapan akan lolos ke babak berikutnya.”
“Kompetisi tahap ketiga sangat sederhana. Delapan murid akan bersaing untuk menjadi pemenang. Dan pemenangnya tentu akan mendapatkan hadiah yang cukup besar yang mungkin tidak akan kalian bayangkan. Dan lawan kalian akan ditentukan ketika beberapa menit sebelum kompetisi tahap ketiga berlangsung.”
“Dan kompetisi tahap ketiga akan diadakan dalam waktu seminggu dari sekarang. Apakah ada pertanyaan?” Tanya Tetua Pertama setelah menjelaskan tentang kompetisi tahap ketiga secara kasar.
Delapan murid yang masuk ke babak ketiga kompetisi tidak berbicara sama sekali yang membuat Tetua Pertama mengangguk kecil.
“Peraturan babak ketiga akan dijelaskan ketika kompetisi berlangsung. Ayo kembali, kalian harus meluangkan waktu untuk berisitirahat sebelum kompetisi tahap ketiga dimulai.” ucap Tetua Pertama lalu menatap ke arah Tetua Kedua dan Ketiga.
Tetua Kedua dan Ketiga mengangguk kecil lalu Tetua Kedua mengeluarkan alat transportasi agar mereka tiba dalam waktu beberapa jam di Sekte Pedang.
“Ayo, aku akan mengantar kalian ke Sekte.” Tetua Kedua memimpin para murid masuk ke alat transportasi tersebut lalu pergi dari tempat tersebut.
Tetua Pertama dan Tetua Ketiga menatap kepergian alat transportasi dengan seksama.
“Sudah waktunya mengundang mereka semua. Kita hanya punya waktu dua hari. Dengan alat transportasi, kita akan menyelesaikannya ketika berpisah. Yang kita undang kali ini hanya kekuatan tingkat kedua, bukan kekuatan tingkat pertama.” ucap Tetua Pertama lalu mengeluarkan alat transportasi kecil dan naik ke atasnya lalu pergi ke arah tertentu meninggalkan Tetua Ketiga.
Tetua Ketiga hanya diam dan langsung pergi ke arah lainnya untuk mengundang beberapa Penguasa tingkat kedua di Bintang Tianyu.