Dewa Naga Kehancuran

Dewa Naga Kehancuran
Tetua Kelima Yang Licik


Bintang Tianyu, Sekte Pedang


Kata-kata Tetua Kelima membuat banyak orang terdiam. Jika di pikir-pikir kembali, apa yang dikatakan oleh Tetua Kelima memang benar. Murid yang suka membunuh sesama murid lainnya memang sangat berbahaya.


Murid serta tamu undangan berdiskusi satu sama lainnya. Hal ini tentu membuat Tetua Kelima puas di dalam hati. Jika Jie Yan memiliki reputasi yang buruk, jika itu terjadi dalam waktu yang cukup lama, ia pasti bisa mengambil kesempatan membereskannya. Ketika itu terjadi, tidak akan ada yang menyalahkannya karena membunuh Jie Yan yang dikatakan suka membunuh sesama murid.


“Permisi, Tetua Kelima.. bukankah kompetisi ini sudah dijelaskan peraturannya. Seharusnya sejak awal Qing Cao lebih baik menyerah. Sebagai seorang kultivator dan juga murid Tetua Kelima, dia harusnya memiliki kesadaran diri mengenai kekuatannya.”


“Sekarang, karena ketidakmampuannya, dia terus berusaha untuk melawanku padahal sudah jelas dalam pertarungan beberapa menit melawanku, dia sama sekali tidak memiliki keunggulan. Kenapa di saat itu dia tidak menyerah melainkan menyerang menggunakan teknik terlarang seolah-olah hendak membunuhku? Aku hanya membela diri, sebagai seseorang yang memiliki kekuatan lebih tinggi, akan aneh jika aku mengalah padanya.” ucap Jie Yan dengan nada aneh dan menatap ke arah Tetua Kelima seolah-olah melihat idiot.


Wajah Tetua Kelima gelap ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Jie Yan. Ia langsung sadar bahwa kata-kata Jie Yan merujuk pada dirinya sendiri yang tidak kompeten mengajar seorang murid.


“Kau...” Tetua Kelima ingin menekan Jie Yan sekali lagi tetapi Jie Yan lebih dulu berbicara.


“Selain dari itu, sebagai seorang Tetua anda harusnya tau bahwa murid anda tidak mampu melawanku. Namun, kenapa anda tidak menghentikannya? Kenapa setelah murid anda tewas lalu anda datang kepadaku? Ini sangat aneh. Apakah anda sengaja melakukan itu?” Tanya Jie Yan dengan nada heran.


Wajah Tetua Kelima yang awalnya ungu berubah hijau dalam sekejap. Jika menghentikan pertarungan sebelumnya, ia tentu memiliki kemampuan dalam waktu singkat. Dan sebagai Tetua, dia bisa menghentikan pertarungan jika muridnya tidak mampu tetapi premisnya adalah muridnya dinyatakan kalah.


Suara Jie Yan walaupun tidak kuat masih dapat di dengar karena semua yang ada di sana adalah kultivator. Mereka semua menatap ke arah Tetua Kelima dengan tatapan ragu karena semua yang dikatakan oleh Jie Yan memang kenyataan.


“Aku yakin pada kemampuan muridku. Tetapi sebagai sesama murid Sekte Pedang, kau harus memiliki kesadaran diri dan tidak membunuhnya! Selain dari itu, jangan lupa bahwa kau juga membunuh beberapa murid sebelumnya sehingga kau dihukum!” Tetua Kelima langsung menyangkal semua tuduhan Jie Yan dengan kata-kata sederhana.


“Aku memang memiliki kesadaran diri. Aku tidak tau dia begitu lemah sehingga akan tewas dan tidak mampu bertahan dari seranganku. Yang aku ketahui, dia adalah murid anda, Tetua Kelima. Dia pasti kuat, bahkan murid lainnya juga berpikiran demikian. Siapa yang tau bahwa dia begitu rentan? Apakah aku salah melakukan hal itu?” Tanya Jie Yan dengan nada heran.


Wajah Tetua Kelima semakin hijau karena semua kata-kata Jie Yan. Semua yang ada di sana juga setuju dengan pikiran Jie Yan. Murid lainnya juga tau bahwa Qing Cao sangat kuat, tetapi siapa yang menyangka bahwa dia begitu rentan dihadapan Jie Yan?


“Tetua Kelima, apa yang dikatakan oleh Jie Yan benar. Murid anda seharunya tau bahwa dia bukan tandingan Jie Yan tetapi dia bersikeras terus melawan. Lagi pula peraturan kompetisi kali ini berbeda dengan kompetisi yang lalu!” ucap Tetua Aula Penegak Hukum. Nadanya sedikit pahit karena ia sangat tidak menyetujui peraturan tersebut tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa karena itu perintah dari Sekte Pedang Utama.


Tentu kematian murid seperti Qing Cao merupakan kerugian besar pada Sekte Pedang. Berapa banyak murid yang mampu bersaing dengan Qing Cao? Itu tidak banyak. Hal itu membuktikan bahwa Qing Cao memang salah satu talenta terbaik.


“Tetua Kelima, kembalilah!” ucap Qing Long karena tau jika ini terus berlanjut, Sekte Pedang akan kehilangan muka di depan para tamu yang diundang.


“Master Sekte, anda akan menyesali ini nanti!” ucap Tetua Kelima dan langsung pergi dari tempat itu.


Qing Long hanya diam dan kembali ke tempat duduknya setelah memberi isyarat kepada Tetua Pertama.


Untuk Tetua Aula Penegak Hukum, ia ingin berbicara tetapi tidak jadi lalu setelah itu ia pergi juga. Sementara Jie Yan, ia kembali dengan senyum kecil diwajahnya. Ia melupakan sesuatu, yaitu menyerahkan mayat Qing An. Namun itu akan bisa dilakukan dikemudian hari.


Tetua Pertama yang berperan sebagai juri pun memerintahkan seseorang untuk memperbaiki arena serta mengambil mayat Qing Cao.


Pertandingan di tunda dalam waktu beberapa menit. Tetapi, kali ini sudah banyak diskusi diantara para penonton, terutama untuk pemimpin kekuatan tingkat menengah.


Hal ini membuat eselon atas Sekte Pedang sedikit tidak berdaya. Mereka tidak mengharapkan kejadian seperti ini terjadi. Mereka tidak bisa menyalahkan Jie Yan dan Tetua Kelima karena keduanya memang tidak salah walaupun dari sudut pandang tertentu keduanya tetap salah.


Sementara untuk Qing Mu, ia menatap Jie Yan dengan permusuhan yang sangat besar. Tetapi ia tidak lagi berani memprovokasi Jie Yan secara langsung karena ia tau bahwa ia akan tewas begitu ia bertarung dengan Jie Yan.


Tidak sampai lima menit kemudian, karena arena telah diperbaiki, Tetua Pertama yang berada di udara pun berbicara, “Maaf karena perbaikan arena membutuhkan waktu. Kompetisi akan dilanjutkan ke pertandingan berikutnya.”


“Peserta Yun Che dan peserta Qing Mu diharapkan datang ke arena.”


Setelah itu, Yun Che yang sudah siap pun langsung berjalan perlahan ke arah arena, tidak jauh di belakangnya, Qing Mu mengikuti.


Setelah keduanya berada di tengah arena berhadap-hadapan, Tetua Pertama pun berbicara seperti sebelumnya.


“Apakah kalian siap?”


“Ya.”


“Pertandingan ketiga, Yun Che melawan Qing Mu dimulai!” Teriak Tetua Pertama.


Setelah kata-kata itu jatuh, Yun Che dan Qing Mu pun langsung menyerang.


Kecepatan Yun Che terlihat setara dengan Qing Mu walaupun kultivasinya lebih rendah. Selain dari itu, ketika keduanya bentrok dalam waktu dua menit, para penonton langsung tau bahwa niat pedang Yun Che tidak sederhana sama sekali.


Trang! Trang! Trang!


Keduanya terus mengayunkan pedang terus-menerus tanpa henti. Percikan api kecil terlihat jelas di mana-mana ketika dua pedang saling berbenturan setiap waktu.


Para eselon atas Sekte Pedang ketika menatap itu memiliki mata berbinar. Bahkan untuk Jie Yan, Qing Lan Yu dan Huoyun Ying'er yang menonton menyipitkan mata mereka masing-masing menatap pertandingan tersebut.


Trang!


Bussssh!


Yun Che dan Qing Mu melompat mundur bersama-sama. Dalam pertukaran singkat tiga menit tersebut, Qing Mu terlihat sedikit kelelahan tetapi Yun Che masih tampak biasa-biasa saja.


“Apa-apaan dengan bocah ini? Kenapa niat pedangnya terasa lemah tetapi ketika berbenturan dengan niat pedangku itu akan langsung ditekan?” Batin Qing Mu menggertakkan giginya dengan kuat.


“Tampaknya hanya ini yang kau punya, jika begitu sudah waktunya kau kalah!” ucap Yun Che saat membuat kuda-kuda satu kaki ke depan satu kebelakang, keduanya di tekuk sedikit dan ia memegang Pedang Awan Abadi sebelah tangan dengan bilah sedikit rendah.


Gigi Qing Mu terasa gatal karena itu seperti ia sedang diremehkan. Namun, ketika aura emas merembes dari tubuh Yun Che, semua yang ada di sana terkejut.


Bahkan untuk Qing Long, Tetua Aula Penegak Hukum bahkan Kaisar Shi langsung berdiri di tempat.


Dengan wajah bersemangat, Qing Long yang sangat tau level niat pedang Yun Che, langsung berbicara, “Niat Pedang, Mata Pedang!”