
Setiap harinya mereka melakukan banyak hal, terutama berlatih mengatur strategi perlawanan nanti. Mereka juga banyak merencanakan aturan saat penyerangan nanti, agar bisa fokus ke misi sebenarnya.
"Ingat, fokus saja dengan latihan bela diri kalian. Ini bukan soal menyerang atau tidaknya, melainkan strategi mengenai siapa yang paling kuat." Ujar Ardian memberikan pengarahan.
"Pernah baca atau tahu kisah seorang prajurit berjumlah 300 orang melawan musuh berjumlah 3000 orang? Dalam hal jumlah saja mereka berkali-kali lipat sudah kalah.
Tapi mereka bisa menang melawan 3ribu prajurit musuh mereka, jadi mental lah yang menguatkan segala. Ditambah juga latihan dan strategi, jangan lupa saling melindungi dan percaya satu sama lain itu penting" Angga ikut memberi pengarahan.
Semua orang berkumpul di apartemen Maura, termasuk Julian dan Joanna juga Rosario tentunya. Sebelumnya Ardian sudah menceritakan semuanya tentang mereka, termasuk tujuan dan misinya.
"Aku dan Bi Marni akan mengawasi kalian dari sini, kami akan membantu kalian dari jarak jauh. Sedangkan Daniel dan Angga juga bersama kami, tapi tugas mereka memastikan kalian tidak teralihkan fokusnya.
Mereka akan memantau kalian lewat kamera yang akan dipasang di pakaian kalian, agar mudah dipantau. Dan juga memasang sensor suhu tubuh, kali aja ada yang terluka jadi bisa terdeteksi dari suhu tubuh dan detak jantung kalian.
Sampai disini kalian mengerti kan?" tanya Tari kepada mereka semua.
Kevin mengacungkan jarinya ingin bertanya, dia nampak serius dan bersemangat. Entah mengapa dia merasa terpacu andrenalinnya untuk hal itu.
"Untuk aku dan Maurice, kami ditugaskan kemana?" tanyanya.
"Kau dan Maurice akan berjaga disekitar gedung itu, kalian bertindak setelah mendapat arahan dari kami. Maka dari itu jangan lepaskan kamera dan sensor ditubuh kalian, agar kami juga bisa memantau kalian" ujar Tari menjelaskan.
"Kemungkinan juga kalian ikut bertarung, maka dari itu kalian harus berlatih bela diri juga. Bergabunglah dengan Maura dan yang lainnya" ujar bi Marni menambahkan.
"Tapi, Bi... Untuk bertarung aku belum siap, masih takut. Bagaimana mau melawan mereka, bertemu juga pasti gemetaran" sahut Maurice.
"Tenang saja, ada aku akan melindungimu" ujar Kevin sambil membusungkan dadanya, seolah pria gentleman.
"Alah, sok mau melindungi padahal sendirinya juga penakut!" ujar Dhania ngeledek Kevin.
"Hei, jangan salah gini-gini sabuk hitam loh" Kevin tidak mau kalah dengan kakaknya itu.
"Iya, percaya. Tapi yang kamu lawan tu jin sama iblis, bukan manusia" sahut Dhania lagi.
Kevin mendengus kesal dengan kakaknya itu, yang lain hanya tertawa geli melihat kelakuan kakak adik itu.
"Sudah, sudah! Becanda mulu, serius nih?!" ujar Angga kepada mereka berdua.
"Ini serius kok!" jawab Kevin dan Dhania bersamaan.
"Ini baru namanya dimensi kakak adik sama-sama ngotak kalau kayak gini" ujar Angga geleng-geleng kepala.
"Baiklah, tinggal beberapa hari lagi. Semangat semuanya!" seru Tari memberi semangat kepada semuanya.
"Semangat!" semuanya kompak menjawab.
Dan mereka kembali ketempat masing-masing memulainya latihan dan rencana mereka.
//
Sementara itu, di Alam lain Arion Gaharu bersama para panglima dan prajuritnya mengadakan pertemuan mengenai rencana mereka untuk menghadiri acara peresmian gedung baru yang dibangun Marino de Paquillo.
Gedung itu juga akan menjadi tempat bagi mereka menggaet mangsanya, mereka akan mencari manusia yang memiliki hati lemah dan gampang dipengaruhi.
Apalagi kalau mengenai soal harta, tahta dan hal-hal manusiawi lainnya. Akan mempermudah mereka menambah pengikut atau mangsa untuk mereka.
"Gedung itu akan menjadi pintu masuk bagi kita semua, jangan lewatkan kesempatan ini. Kalian harus berjaga dan melindungi gedung itu.
Jangan sampai Dewi Srikandi dan kawanannya menyerang apalagi menghancurkan gedung itu, jika itu terjadi maka rencana dan usaha kita sia-sia dalam hal menyebarkan ilmu dan menjaga kelompok kita ini." Ujar Arion Gaharu memberikan pengarahan.
Semuanya mengangguk tanda mengerti, sama halnya dengan Maura dkk mereka pun melakukan persiapan untuk menyambut hari yang sudah lama mereka tunggu-tunggu.
//
//
Disebuah gedung tinggi, Marino sedang menatap sebuah lemari kayu terbuat dari pohon Gaharu. Pohon dimana tuannya dilahirkan.
Dia berencana menjadikan lemari kayu besar itu sebagai pintu masuk bagi kawanannya, lemari kayu itu diletakan paling bawah digedung itu.
Basemen yang biasanya digunakan tempat parkir itu, digunakan juga untuk kegiatan lainnya. Termasuk minimarket dan restoran.
Dibawah basemen itu ada sebuah ruang rahasia, tempat dia menaruh lemari kayu yang penuh dengan ukiran dan tulisan mantra sebagai pelindung atau penjaga tempat itu.
"Aku yakin, Dewi Srikandi dan panglima Arialoka bersama kawanannya akan menyerang hari itu nanti. Maka dari itu, aku sudah menyiapkan semua persiapan untuk menyambut mereka.
Dasar naif, mereka tidak tahu diantara mereka ada pengkhianat. Aku sudah tahu semuanya, manusia itu lemah terhadap harta dan kekuasaan. Termasuk orang itu, hehe!
Aku sudah tak sabar menunggu hari itu, akan banyak kejutan nantinya" ujarnya sambil menyeringai.
Tiba-tiba ada asap putih keluar dari lemari kayu itu, Arion Gaharu bersama beberapa panglimanya datang menemuinya.
Marino terkejut, dia langsung duduk bersujud didepan tuannya itu.
"Tuan, kenapa anda tidak memberitahu padaku jika ingin datang menemuiku?" ujarnya gugup.
"Kenapa? Apa kau tak suka aku datang menemuimu tanpa memberitahukan mu terlebih dahulu?" tanya Arion Gaharu dengan suara berat.
"Ti-tidak, Tuanku. Ampun, Tuanku..." ujar Marino semakin menundukkan tubuhnya.
"Aku kesini hanya ingin melihat apa saja persiapanmu selama upacara penyambutan nanti, sekalian mencoba pintu ajaibku ini" ujar Arion Gaharu datar.
"Semua sudah terlaksana sesuai keinginanmu, Tuan" ujar Marino.
"Bagus kalau begitu, kita sambut juga mereka dengan sukacita. Whahahaha!" ujar Arion Gaharu sambil tertawa menggelegar.
Maura dan kawan-kawannya tidak pernah tahu, jika itu semua juga jebakan buat mereka. Sebenarnya, siapa si pengkhianat itu?
......................
Bersambung