
Sementara itu, Maura dalam wujud Dewi Srikandi kembali ke dunia manusia. Saat dia kembali keadaan sudah pagi hari, dia muncul dari kamarnya bu kost sesuai tempat dia sebelumnya.
Suasana rumah itu sepi sekali, tanpa dia sadari sebelumnya Mbah Sukinah menghubungi mang Supri minta menghubungi keluarganya bu Hayati untuk membawa mereka ke rumah sakit, karena saat pagi Mbah Sukinah menemukan bu Hayati pingsan di lantai, dan tidak ada Maura.
Saat itu Mbah Sukinah mengira jika Maura kembali ke kamarnya, makanya dia tak terlalu memikirkan semuanya.
Tapi entah mengapa Mbah Sukinah merasa jika dia melihat Maura nampak berbeda dengan gadis lainnya, dia begitu berani dan tak ada rasa takutnya. Saat Maura tertidur dan bermimpi, arwah pelindung Mbah Sukinah yang datang meminta perlindungan, dan saat itu Mbah Sukinah tidak tahu, arwah pelindung itu datang menyamar sebagai Mbah Sukinah.
"Kemana Mbah Sukinah dan bu kost? Kenapa rumah ini begitu sepi?" gumam Maura bingung.
Dia keluar dari rumah itu dan melihat mang Supri sedang membersihkan halaman depan rumah itu.
"Loh, Non Maura kok keluar dari dalam? Kok saya gak tau yah Non Maura ada didalam?" tanya mang Supri kebingungan.
"Em, gak kok Mang.. Tadi saya baru saja masuk mau melihat keadaan bu kost sama Mbah Sukinah, tapi gak ada orang didalam, hehe.. Tadi mang Supri lagi sibuk beberes makanya gak liat" ucap Maura langsung mencari alasan agar tak dicurigai oleh mang Supri.
"Ooh, iya yah.. Mungkin saja, karena saya lagi sibuk tadi madamin api dari rumah tetangga, takutnya merembet sampe sini, emang Non gak tau?" tanya mang Supri.
"Hehe, gak tau Mang.." ucap Maura sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.
"Dasar, tidurnya terlalu nyenyak itu! Tak kirain Non juga nginep di rumah saudaranya, kalau tau masih diatas sudah saya bangunkan, takutnya kalau kenapa-kenapa paling gak amani diri dulu.." ucap mang Supri.
"Iya, Mang.. Maaf" balas Maura merasa tak enak hati.
Kemudian dia keluar dari rumah dan melihat ada mobil kebakaran yang sedang terparkir didepan rumah tetangga, masih ada beberapa tetangga yang lainnya masih menyaksikan aksi pemadaman itu.
Maura juga melihat ada dua mobil ambulans juga, dia melihat ada dua jasad yang terbakar hangus dalam keadaan mengenaskan, semua orang memalingkan wajahnya saat melihat keadaan jenazah, karena hampir tak berbentuk lagi, ada ususnya yang hampir terburai dan kepalanya pecah.
Seeett!
Maura terkejut, dia sekilas seperti sedang melihat bayangan neneknya dari kerumunan orang-orang yang di sana, dia memperhatikan semua orang lagi dan tidak ada neneknya di sana.
"Mungkin aku salah lihat, mana mungkin nenek ada disini.." gumam Maura.
Saat dia ingin membalikkan tubuhnya, betapa terkejutnya dia melihat sosok makhluk mengerikan berada tepat dihadapannya, sosok yang sama persis bentukannya dengan dua jasad nenek dan cucu tetangganya itu.
"Kau pikir ini semua telah berakhir? Tidak! Dia akan datang menjemputmu, dan membalaskan dendamku! Hihihi.." ujar arwah nenek itu.
Kemudian ada seberkas sinar terang berwarna putih kekuningan menarik arwah itu keatas langit, arwah itu berteriak ketakutan dan lalu menghilang begitu saja bersama arwah cucunya juga.
"Apa maksudnya tadi? Siapa yang akan datang?" Maura semakin gelisah saja.
Setelah itu dia kembali lagi kedalam rumah bu Hayati dimana mang Supri nampak sibuk beberes rumah, Maura bergegas bersiap untuk pergi ke kampusnya, dia tak sabar ingin bertemu dengan Ardian dan menceritakan semuanya.
Begitu juga yang dirasakan oleh Ardian, dia juga sudah tak sabar bertemu dengan Maura dan ingin melihat keadaan gadis itu, saat Maura keluar dari rumah kostnya, dia sudah melihat Ardian didepan bersama motor sportnya.
"Hai.."sapa Ardian ramah.
"Ha-hai.. Kok kamu disini, kenapa gak ngabarin kalau mau jemput?" tanya Maura bingung dan kaget, ada senangnya juga.
"Aku sudah menghubungimu, tapi kamu gak balas chatt aku dan teleponku juga gak diangkat.." sungut Ardian.
"Maaf, aku mungkin lagi mandi tadi makanya gak denger.." ujar Maura beralasan, padahal dirinya juga semalaman tak ada didalam kamarnya dan tentu saja ponselnya tinggal didalam kamarnya.
"Btw, ini rumah tetangga kenapa bisa begini? Kapan kejadiannya? Kebakarannya gak nyampe ke kostan kamu kan??" tanya Ardian khawatir.
"Banyak banget nanyanya, satu-satu dong! Pertama, aku gak tau kenapa sampe kebakaran, kedua kejadiannya tadi malam, dan ketiga gak nyampe dan Alhamdulillah semua baik-baik saja, kecuali si punya rumah bersama cucunya tak terselamatkan.." jawab Maura sekaligus.
"Ohhh.." ucap Ardian merespon jawaban Maura, meskipun terlihat biasa saja tapi dia sebenarnya sangat lega saat mengetahui Maura baik-baik saja.
Gadis itu mendengus kesal karena mendapat respon pendek dari Ardian, kemudian dia langsung naik motornya Ardian, mereka pergi ke kampus berdua. Angga memutuskan untuk tidak pergi ke kampus hari ini, karena ada sesuatu yang harus dia urus.
Makanya dia meminta Ardian menjemput Maura sekaligus melihat keadaannya, sedangkan dia menemui Dhania dan Kevin juga Maurice.
"Sebaiknya kita bergerak cepat Dhania, aku merasakan firasat buruk sekarang ini!" ucap Angga setelah sampai di rumah itu.
" maksudmu apa? Coba ceritakan apa yang terjadi sebelumnya, aku tak mengerti.." ucap Dhania jadi penasaran.
"Kenapa, Kak? Apa ada masalah?" tanya Kevin ikut penasaran juga.
Maurice mendengar namanya disebut ikut mendengarkan mereka, dia penasaran kenapa kakaknya itu begitu khawatir dan terlihat gugup.
"Apa ini berkaitan dengan kejadian semalam? Suara guntur dan kilat itu?" tebak Dhania.
"Memangnya kenapa dengan guntur dan kilat, bukannya itu hal biasa kalau mau hujan?" tanya Kevin tak mengerti.
"Dengar Kevin, kamu dan Maurice hanya bisa merasakan dan melihat kehadiran makhluk tak kasat mata, tapi kalian tak memiliki kemampuan untuk melawan atau melindungi diri dari gangguan mereka.
Kejadian semalam bukan fenomena alam biasa, tapi mengandung mistis. Aku semalam sedang berkomunikasi dengan roh pelindungku, katanya akan ada badai sihir yang akan datang tidak akan lama lagi.
Sepertinya nenekku sudah mengetahui keberadaan kalian disini, sebaiknya kalian pergi dari sini sekarang dan kembali ke New York sebelum terlambat.
Di sana kalian akan aman, ada begitu banyak orang yang akan melindungi kalian. Dan pasangan roh pelindungku juga tinggal bersama keluarga kalian, dia akan menjaga kalian juga.
Julian dan Joanna juga Rosario akan memantau situasinya dari jauh, aku sudah menghubungi mereka tadi dan mereka juga faham dan mulai berjaga.." ucap Angga menjelaskan semuanya.
"Bagaimana dengan Maura, Ardian dan kalian?" tanya Maurice nampak khawatir sekali.
"Jangan pikirkan kami, kami bisa menjaga diri. Ada roh pelindung yang menjaga kami, dan ingat tujuan mereka adalah kami terutama Maura, jangan jadikan kalian kelemahannya Maura sehingga nenek sihir itu mendatangi kalian!" ucap Angga lagi.
"Baik, kami mengerti.." ucap Kevin dan berusaha menenangkan istrinya itu.
Mereka bertiga pergi ke kampus, Kevin dan Maurice segera mengurus kepindahan kuliah mereka ke New York sedangkan Dhania juga sedang membicarakan soal kontrak kerjanya dan Angga untuk tidak diperpanjang lagi.
"Kebetulan pak Damar dan bu Vera juga sudah kembali, jadi kami pikir sudah saatnya kami harus kembali lagi ke tempat kami, bu.. Sekalian mau ajak Kevin dan Maurice juga" ucap Dhania kepada kepala yayasan dan rektor universitas tempat dia mengajar itu.
"Wah sayang sekali perpisahan ini begitu cepat, padahal begitu banyak para mahasiswa disini menyukai cara kalian mengajar, begitu mudah difahami. Tapi kami juga tak bisa memaksa, jika kalian memilih untuk pergi tidak apa, tapi kampus ini selalu terbuka pintunya untuk kalian.
Dan saya benar-benar terkejut sekali mendengar bahwa bu Dhania sama pak Angga ternyata sudah bertunangan, kami kira kalian hanya berteman saja dan Kevin dan Maurice juga?
Kenapa dirahasiakan bu, disini banyak yang keluarga satu kampus termasuk saya juga dan bu Vera sama pak Damar, sekarang kita satu keluarga.." ucap bu rektor itu.
"Iya, bu.. Tak apa, ini demi kenyamanan bersama saja.." jawab Dhania malas berbasa-basi.
Sementara itu, Ardian dan Maura nampak serius membahas kejadian tadi malam dikejutkan oleh kedatangan Ichan yang nampak berbeda dari biasanya.
Teman mereka itu biasanya ceria dan pecicilan hari ini begitu murung dan pendiam, wajahnya begitu pucat pasi, lingkaran hitam dibawah matanya nampak begitu jelas seperti tidak pernah tidur saja semalaman.
"Kamu kenapa, Chan?" tanya Maura penasaran sekaligus khawatir.
Anak itu hanya tersenyum dipaksakan dan menggeleng saja, kemudian dia masuk kedalam kelas dan duduk sambil menelungkupkan wajahnya diatas meja, seperti orang yang kelelahan saja.
"Dia sedikit lagi mau mati!" tiba-tiba saja Arga berbicara seperti itu didepan mereka, dan tidak tahu sejak kapan dia sudah berada di sana.
"Hei, jaga mulutmu kalau bicara!" ujar Ardian marah dia menarik kerah baju Arga begitu kuat.
"Ck, katanya kalian ini titisan Dewi dan panglima perang.. Masa tidak bisa mendeteksi bahaya didepan kalian," ejek Arga tak peduli dengan sikap Ardian, dia menepis cengkraman tangan Ardian dikerah bajunya.
"Apa maksudmu? Ada apa dengannya sebenarnya? Aku yakin kau pasti tau sesuatu kan??" tanya Maura penasaran.
"Apa aku harus menjawabnya?? Apa imbalannya untukku??" tanya Arga lagi sambil tersenyum sinis.
"Dasar siluman, kalian tak pernah berubah selalu begitu," ujar Ardian.
"Tenanglah, Ardian.. Dengar Arga, aku bisa melakukan semua keinginanmu tapi tidak jika kau ingin membahayakan manusia dan seisi dunia ini, dan aku pun takkan mau jadi imbalannya" jawab Maura berusaha tenang.
"Ck, sama aja dong! Ujung-ujungnya aku tak mendapatkan apa yang aku inginkan.." ucap Arga nampak kecewa, Ardian tersenyum menang.
"Baiklah, tapi ada satu syaratnya.." Arga masih tak kehilangan akal.
"Apa lagi?!" tanya Maura kesal.
Arga hanya tersenyum sinis penuh arti, lalu dia melihat kesebuah arah dimana pintu gerbang keluar kampus berada.
......................
Bersambung