
Ranti turun ke lantai bawah dengan perasaan was-was, dia menggenggam ponselnya dengan erat dan bersiap menyalakan kameranya dan berniat menangkap basah Maura.
"Kali ini aku pasti bisa membuktikan ucapanku, setelah ini tidak akan ada lagi memperdulikan anak itu lagi. Aku paling tidak suka dengan anak baru itu!" gumamnya.
Setelah sampai di bawah, dia melihat lampu-lampu sudah dimatikan dan mengira Maura sengaja mematikan lampu agar tidak ketahuan aksinya. Pelan-pelan dia membuka pintu depan, dan mengarahkan ponselnya kedepan.
"Kok gak ada? Kemana dia? Hem, jangan-jangan dia sudah tahu kalau aku memergokinya?! Dasar licik, tidak heran kenapa dia mematikan semua lampu itu!" gumamnya kesal.
Saat dia hendak berbalik, sekilas dia melihat bayangan dibalik pohon mangga itu, sejenak dia mengira itu Maura dan hendak menghampirinya, tapi dia takut kalau-kalau yang dia lihat itu sesuatu yang mengerikan.
"Tapi, aku penasaran ada apa dibelakang pohon itu?! Ah, biarin ajalah nanggung! Kepalang tanggung aku mau liat ada di sana, kali saja Maura lagi naruh sesajen dibawah pohon itu!" gumamnya lagi.
Berlahan tapi pasti dia melangkah menuju pohon mangga itu, dia mengarahkan ponselnya kearah depan dan berharap mendapatkan sesuatu, sementara dia bersemangat dengan aksinya, diujung gang menuju rumah kostnya itu, ada dua orang hansip sedang berpatroli untuk jaga malam dan menyoroti lampu senternya kearah rumah itu.
"Ngapain tuh bocah keluar malam-malam begini?" ujar salah satu hansip itu heran.
"Lagi nyari barangnya kali, ketinggalan atau jatuh di sana" sahut temannya santai.
"Tapi lagaknya aneh, dan... Astaga, Din.. Din!" temannya terlihat kaget dan ketakutan sambil terus menyoroti senternya kearah rumah kost itu.
"Ada apa sih, Jang?!" tanya temannya gusar karena ditarik-tarik terus sama si Ujang, teman hansipnya.
"Tu-tu-tu... Tu-tuyull!!" si Ujang menunjuk arah pohon mangga didepan rumah kost itu.
"Tuyul?! Ngarang kamu! Mana ad-" betapa terkejutnya Udin si hansip melihat diatas pohon itu melihat sosok anak kecil berwajah mengerikan menatap mereka dengan seringai.
Baru saja dia ingin menjerit dan berbalik, si Ujang temannya sudah berteriak dan lari terbirit-birit meninggalkannya.
"Sialan tuh bocah, woi! Tungguin!" kejarnya sambil berlari ketakutan.
Ranti melihat kedua hansip itu heran karena berlari seperti itu, dia pikir mungkin keduanya kebelet ingin buang air kecil dan berlari karena sudah tak tahan.
"Kenapa dengan mereka? Aneh banget!" gumamnya heran.
Pluk!
Ada yang melemparinya dari atas pohon itu, dia celingukan mencari siapa yang melemparnya, dia menemukan putik mangga dibawah kakinya.
"Siapa sih yang iseng?! Btw, si Maura kemana?! Dasar, pasti dia sudah masuk dari tadi! Huh, dia ingin mengerjain aku rupanya!" gerutunya.
Dia berbalik ingin masuk ke rumah kembali, dan tiba-tiba di terkejut mendengar suara tawa anak kecil, yang mencoba menarik perhatiannya.
"Hihihi, Kaaaak... Main yuk?" ajaknya pelan.
Perasaan Ranti tak menentu, dengan gemetaran dia kembali berbalik dan menatap kearah suara itu, dia ingin sekali menjerit tapi suaranya tidak keluar. Dengan menitikkan air matanya, dia berjalan mundur kearah pintu sambil tak berkedip menatap kearah pohon mangga itu.
"Ya Tuhan, tolong aku!" rintihnya sambil menangis.
Dia memutar kenop pintu dan membuka berlahan, setelah terbuka dia langsung masuk dan menutup pintu itu dengan cepatnya. Dia terduduk didepan pintu itu sambil menangis ketakutan.
"Kenapa menangis?" Ranti mendengar suara menegurnya dari arah dapur.
Dia mengira itu bi Surti dengan daster tidurnya, dia berlari menujunya dan memeluknya menangis ketakutan.
"Aku takut, Bi! Di-diluar ada hantu anak kecil, sangat mengerikan!" katanya tersedu diperlukannya.
"Masa sih?! Apa sebegitu mengerikannya?" tanya lagi sosok itu.
"Benar dia seperti-" saat dia ingin menjelaskan sosok apa yang dia lihat diluar itu, dia mendongak menatap wajah yang dipeluknya itu.
"Aakh!" dia menjerit ketakutan dan pingsan seketika.
Ternyata yang dipeluknya saat itu adalah ibu si makhluk kecil itu, bukan bi Surti! Kuntilanak itu tertawa nyaring memekikkan telinga hingga membangunkan seluruh penghuni rumah itu.
"Sialan, Ini benar-benar berlebihan! Apa maunya sebenarnya?! Bukankah aku sudah berkata akan membantunya tapi dia masih saja mengganggu para penghuni di rumah ini!" geram Maura.
Dia keluar dari kamarnya dan ternyata diluar sudah banyak anak kost yang keluar tapi tak berani turun kebawah, mereka menatap Maura dan terlihat sedang menyelidikinya.
"Kami semua mendengar suara tawa nyaring mengerikan sebelum mendengar suara jeritan Ranti di lantai bawah, kami takut ada sesuatu yang mengerikan dibawah.
Tapi, sebelumnya dia berkata bahwa... Bahwa dia melihatmu ada dibawah sana.." Rizka ingin menceritakan kejadian sebelumnya saat Ranti ingin membuktikan kepada mereka apa yang dia lihat.
"Apa maksud kalian? Dari tadi aku di kamar, mungkin dia salah lihat atau apa! Baiklah, ayo kita lihat apa yang terjadi dibawah bersama-sama" ajak Maura.
Tapi semuanya tidak berani, mereka malah memintanya turun sendirian. Dengan sedikit kepura-puraan dia turun dengan hati-hati dengan sekali-kali melirik kearah teman-temannya ketakutan.
"Cepetan! Lihat apa yang terjadi dengan Ranti dibawah sana!" kata mereka semuanya.
Maura mengangguk sambil ketakutan, tapi dalam hatinya dia tertawa geli melihat tingkahnya sendiri seperti orang bodoh. Setelah turun, dia melihat bi Surti sedang berusaha membangunkan Ranti, sedangkan Maria duduk di kursi meja makan sambil menatapnya.
"Bi?!" sapa Maura.
"Non, maaf bisa bantu Bibi angkat non Ranti keatas sofa sana?" tanyanya sambil menunjuk sofa di depan ruang TV sana.
Maura membantu bi Surti mengangkat tubuh Ranti menuju ruang TV itu dan menyalakan lampu kembali, setelah terang Maria pun pergi tak keliatan lagi.
Dan anak-anak penghuni kost yang ada di lantai atas maupun yang dibawah langsung keluar kamar, dan menemui mereka. Memperhatikan Ranti yang masih pingsan, sedangkan bi Surti, Maura dan Rizka sibuk membalurkan minyak kayu putih ketubuh Ranti. Dan untungnya anak itu langsung tersadar dari pingsannya, setelah bangun dia langsung menangis ketakutan sambil menatap kesegala arah.
"Kamu kenapa, Ranti?! Kenapa sampai bisa begini? Apa yang terjadi?" tanya bi Surti penasaran.
"Bi, setan! Aku liat setan!" teriaknya sambil menangis.
"Setan?!" gumam mereka semuanya.
Seketika semuanya merasa merinding dan ketakutan, kecuali bi Surti dan Maura tentunya. Mereka berusaha menenangkan anak itu, setelah tenang Ranti akhirnya bisa diajak bicara lagi.
"Jelaskan sekali lagi, ada apa sebenarnya?" tanya bi Surti dengan antusias.
"Semuanya gara-gara dia! Dia penyebab semuanya" tunjuknya kearah Maura.
Membuat semuanya heran tak mengerti kecuali beberapa orang termasuk Maura, karena mereka tahu bahwa sebelumnya Ranti sangat begitu penasaran dengan apa yang dilakukan Maura selama ini.
"Kenapa gara-gara Maura, memangnya ada apa?!" tanya bi Surti penasaran.
"Semenjak kedatangannya kostan kita jadi horor, Bi! Aku yakin dia pasti sedang melakukan sesuatu, pesugihan atau apa! Sehingga para hantu berdatangan ke kost ini!" teriak Ranti sambil menatap Maura tajam.
"Apa maksudmu berkata seperti itu? Aku datang kesini sama dengan kalian, apa hubungannya denganku atas apa yang kau lihat selama ini?!
Jangan-jangan justru kau yang datang membawa mereka kesini?" ungkap Maura kesal dituduh begitu saja.
"Heh, jaga ucapanmu! Jika memang aku melakukan sesuatu apa buktinya?!" tanya Ranti tak terima tuduhan Maura
"Lantas apa buktinya kau bisa menuduhku begitu?!" tanya Maura balik.
Dia terdiam, dia tak bisa membalas ucapan Maura. Semua teman-temannya hanya melihatnya kesal, dan kembali ke kamarnya masing-masing kecuali mereka berdua dengan bi Surti.
"Sudah, sudah! Jangan bertengkar lagi! Ranti, kamu balik lagi ke kamar karena harus beristirahat, habis pingsan pasti sangat lelah sekali" ujar bi Surti menengahi mereka berdua.
Ranti langsung naik keatas sambil melengos kearah Maura, bi Surti hanya menghela nafasnya dengan berat melihat tingkah anak-anak itu.
Kini, tinggallah Maura dan bi Surti. Bi Surti ingin berbalik masuk ke kamarnya tiba-tiba tangannya dicekal oleh Maura.
"Bibi sebenarnya bisa melihat dan mendengarnya juga, kan?!" tanya Maura penuh selidik.
Bi Surti tak terkejut dengan pertanyaan Maura, dia hanya menghela nafas kecil dan tersenyum.
"Aku tau,, puluhan tahun ini dia bersamaku" jawabnya sambil menatap lurus kedepannya.
Dan terlihat si Kunti sudah berubah menjadi Maria lagi dan menangis sendu menatap bi Surti.
......................
Bersambung