RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Tari 2


Mereka berdua masih bingung harus bagaimana, sedangkan bi Marni hanya diam saja. Dia juga bingung harus memberi pembelaan seperti apa untuk membantu mereka.


Mereka berdua sudah kepergok sedang bercinta, mau memberi alasan apapun Tari pasti tidak akan percaya. Dari awal dia tidak percaya dengan segala bentuk tentang takhayul meskipun pernah mengalaminya langsung.


Ceklek!


Suara pintu depan terbuka, ternyata Angga dan Dhania sudah datang. Angga sudah tahu kalau kakaknya sudah kembali ke Amerika lewat suaminya.


Sebenarnya Tari tidak ingin keluarganya tahu kepulangannya, tapi suaminya bersikeras ingin terus berhubungan baik dengan keluarga istrinya itu.


Angga ditelpon Tari bahwa dia akan datang ke apartemen keluarganya di New York setelah itu dia akan kembali ke Los Angeles, Angga tidak ingin melewati kesempatan ini untuk bertemu kembali dengan kakaknya itu.


Perjalanan lumayan jauh antara California ke New York tidak dia perdulikan, karena sangat jarang sekali kakaknya itu mau bertemu dengan mereka. Akibat masa lalu hubungan mereka tidak baik.


Kevin sengaja menelpon kakaknya Dhania dan menceritakan situasi saat ini, dia minta kakaknya itu menemani Angga takutnya dia emosi dan tidak bisa mengendalikan diri.


"Hai semuanya, apa kabar?" katanya menyapa, dia memberikan sambutan hangat kepada kakaknya dan suaminya itu.


"Ada apa ini? Kenapa Maura dan bocah ini duduk seperti itu? Ada masalahkah?" tanyanya heran.


"Mereka mau aku nikahkan, jika tidak mau mereka harus kembali ke Indonesia. Setidaknya di sana mereka akan mendapatkan nilai budaya dan tata krama dan bisa menjaga suatu hubungan.


Kelamaan tinggal disini kalian sudah kayak apa, aku menyesal pulang kesini kalau harus melihat dan melakukan sesuatu hal yang tak kusukai" ujarnya ketus.


Maura sudah tak tahan lagi dengan ocehan kakaknya yang begitu pedas, dia mengambil keputusan begitu saja tanpa harus mendengarkan pendapatnya terlebih dahulu.


"Kalau begitu pergi saja dan jangan kembali, kami juga tak butuh kehadiranmu. Kau datang dan pergi seenaknya saja, pandai sekali bicaranya menasehati orang tentang tata krama.


Kamu sendiri bagaimana? Aku tidak akan mendengarkan ucapanmu!" teriaknya.


"Maura, cukup! Ada apa ini? Ada yang bisa memberikan penjelasan kenapa mereka bertengkar? Bi, Kevin? Ayolah jelaskan sesuatu, Maurice?!" tanya Angga kepada semua orang.


Mereka semua diam, mereka juga bingung harus mengatakan apa. Bi Marni terlihat lemas sekali, dia tidak menyangka kehadiran Ardian akan membawa bencana besar seperti ini.


"Baiklah, saya akan bertanggung jawab atas semua ini. Menikah atau tidak, saya tetap akan bersamanya selalu" ujar Ardian menatap lurus kearah Tari.


"Hei, tanggung jawab apa?!" kesal Angga merasa diabaikan oleh semua orang.


"Mereka berdua ketahuan berbuat mesum" ujar Tari tenang sambil meminum airnya.


"A-apa?!" teriak Angga dan Dhania bersamaan, mereka terkejut mendengar pernyataan Tari tadi.


"Maafkan kelakuan mereka Angga, Tari. Mereka masih sangat muda, belum bisa mengontrol emosinya.


Aku tahu kalian tidak akan percaya dengan apa yang kalian dengar nanti, tapi apa salahnya mendengar penjelasan dari mereka" ucap bi Marni, dia yang dari tadi diam saja akhirnya berbicara.


"Bi, mereka ini sudah tertangkap basah apa lagi yang harus dibela lagi? sudahlah, aku tahu mana yang terbaik untuk mereka" ujar Tari.


Bi Marni terdiam, dia tak bisa berkata lagi didepan Tari. Gadis kecilnya sudah tumbuh dewasa dan tak butuh lagi nasehat darinya, pikir bi Marni.


"Kita sudah tak punya waktu lagi, terutama kalian berdua. Aku tahu semuanya meskipun aku malas mengakuinya tentang 'dunia' kalian itu.


Dari kecil aku sudah bisa melihat mereka, aku sadar itu tapi memilih untuk mengabaikannya. Sehingga lambat laun itu menghilang sendiri, tapi anehnya aku malah dapat penglihatan dari mimpi. Si*l! Kenapa aku harus mengalaminya lagi" ujar Tari nampak kesal.


"Maksudmu apa, Tari?" tanya bi Marni heran dan tak mengerti dengan ucapannya.


"Akhir-akhir ini setiap malam dia selalu bermimpi hal yang sama, agak sulit juga dijelaskan mungkin kalian tidak percaya tapi ini benar terjadi.


Terakhir dia bermimpi bahwa kakekku yang sudah sepuh akan meninggal beberapa hari kemudian ternyata mimpinya terjadi" ujar suaminya, Daniel Park menjelaskan.


"Oh, jadi itu kau kembali. Karena keluarga suamimu pasti takut denganmu kan? Kamu pasti pernah membocorkan rahasia seseorang, kan?" tanya lagi Angga.


"Kenapa kamu tahu, Angga?" tanya Daniel heran.


"Tentu saja aku tahu, karena sejak kecil dua juga sudah biasa begitu. Bahkan pernyataannya tentang mimpi itu pernah membuat sepasang suami-istri bercerai" ujar Angga menggelengkan kepalanya mengingat kejadian waktu itu.


"Jadi, kalian bertiga saudar ini indigo semua?" tanya Daniel penasaran.


"Hanya mereka berdua, aku enggak. Dan aku bersyukur soal itu, hehe" jawab Angga membuat Tari kesal dan memukul kepala dengan tas kecilnya.


"Jadi, bagaimana dengan mereka ini?" tanya Angga lagi.


"Mereka tak bisa lagi dipisahkan, jiwanya hampir menyatu karena hasrat itu. Sebenarnya pemilik hasrat itu sudah tak memiliki rasa itu lagi, tapi sudah terlanjur menyatu ditubuh Ardian.


Karena pemiliknya dulu sering bersemayam di tubuhnya, dan kebetulan Ardian juga memiliki rasa itu. Iya kan?" kata Tari sambil menatap Ardian tajam.


Ardian serba salah dia kikuk dan canggung menghadapi semua mata memandang kearahnya, termasuk Maura.


......................


Bersambung