
Ichan masih duduk termenung dibawah pohon itu, memikirkan arti dari mimpinya barusan. Ada dua sosok mendekatinya berlahan dan mengendap-endap berjalan kearahnya, tapi anak itu masih tak menyadarinya.
"Hayo, melamun!" Maura mengagetkannya sambil menepuk bahu Ichan, sehingga anak itu terlonjak kaget.
"Astaghfirullah, Maura!" ucapnya terkejut.
"Haha, lagian sore-sore melamun aja dibawah pohon, entar kesambet setan baru tahu rasa lo! Hehe.." ujar Maura menggodanya.
"Iya nih, kalau kesurupan beneran gak ada yang nolongin kan sepi udah gak ada orang.." sahut juga Ardian sambil memperhatikan anak itu.
Ichan tidak menanggapi mereka berdua, biasanya Ichan akan ketakutan dan mulai mengomel jika Maura ataupun Ardian sudah membahas setan, karena dia tau dua temannya ini bisa melihat dan merasakan para makhluk itu.
Tapi kali ini berbeda, Ichan hanya diam terpaku pada satu pandangan seperti sedang memikirkan sesuatu yang jauh lebih berat dari sekedar candaan teman-temannya itu.
"Jika itu memang terjadi, aku tidak takut. Karena aku ada teman seperti kalian.." gumamnya gak jelas.
"Maksudnya apa nih? Wah, tumben kamu bisa serius kayak gini.." ujar Ardian mendekatinya.
"Sebaiknya kita pulang aja dulu, ini sudah mau magrib.. Ayo sebelum setan juga ikutan nimbrung," sahut Maura.
Ketiganya bangun dari duduknya dan berjalan menuju pintu gerbang, makhluk hitam yang sudah beberapa hari ini mengikuti Ichan nampak sumringah saat melihat Ichan, tapi dia langsung ciut saat melihat Maura.
"Sial, anak itu bersama mereka! Sebaiknya aku bergegas pergi," ujar makhluk itu, dia tidak mau ambil resiko jika harus berhadapan dengan Maura.
Maura jika mode Dewi Srikandi dia berubah menjadi Dewi Perang, memusnahkan siapa saja yang dianggapnya berbahaya. Tetapi jika dia bersama Ardian, lelaki itu tidak akan membiarkan wanitanya melakukan semua itu, dia akan menjadi panglima bagi Dewi Srikandi, melindungi sang Dewi.
Dia akan berubah jadi ganas, berbahaya, dan menakutkan bagi semua makhluk yang berbuat jahat, licik dan berbahaya bagi umat manusia. Tapi akan menjadi wanita cantik menggemaskan, manis dan baik didepan semua orang maupun makhluk yang baik kepadanya, terutama didepan Ardian, baginya Maura wanita paling cantik dan menggemaskan baginya.
Ting!
Sebuah notifikasi dari ponselnya Ichan berbunyi, dan ternyata itu dari ibunya.
"Chan, hari ini kamu gak usah pulang dulu. Ibu bersama adik-adikmu membawa ayah ke rumah pamanmu di desa sebelah, tadi siang tiba-tiba ayahmu mengamuk tidak jelas, orang-orang bilang ayahmu kesurupan."
"Ibu tidak percaya, tapi tingkah ayahmu sangat aneh. Adik-adikmu ketakutan, Chan. Mau gak mau ibu harus membawa mereka ke pamanmu, ada bibimu yang menjaga mereka.."
"Pamanmu membawa ayahmu ke pesantren yang letaknya tak jauh dari kampusmu, katanya Kyai disini bisa mengobati ayahmu,, datanglah kesini, dan jangan pulang ke rumah,"
Ichan terlihat tegang dan raut kekhawatiran terlihat jelas diwajahnya, dia bergegas keluar dari kampus itu dia ingin cepat-cepat menuju pesantren dimana ayah dan ibunya berada sekarang.
"Hei, kamu kenapa?!" tanya Maura penasaran dan curiga.
"Ayah dan ibuku ada di pesantren sekarang, aku mau menemui mereka!" jawab Ichan sambil bergegas pergi.
"Aku ikut! Ardian, kamu bisa menyusul kami dari belakang yah, aku sama Ichan naik angkot saja.." ujar Maura diiringi anggukan sama Ardian.
"Tidak usah, aku sudah dijemput.." jawab Ichan, dia melihat ada mobil sedan yang biasa ayahnya bawa menunggunya didepan.
"Siapa yang menjemputmu?" tanya Ardian menatapnya tajam.
"Di sana, ada yang datang.." tunjuk Ichan kearah mobil itu, pandangan agak sedikit berkabut.
Maura dan Ardian saling pandang, masalahnya mereka tak melihat mobil apapun didepan sana, kemudian keduanya mencoba memakai mata batin dan melihat apa yang dilihat oleh Ichan.
Alangkah terkejutnya mereka melihat ada mobil itu berada tepat dihadapan mereka, letaknya tak terlalu jauh dan ada sosok bayangan didalam mobil menyerupai manusia seperti bayangan ayahnya Ichan.
"Chan, sadarlah! Mobil itu tidak ada, ayahmu berada di pesantren saat ini!" ujar Ardian sambil menepuk pundaknya Ichan.
Blass!
Mendadak mobil itu hilang dari pandangan Ichan, anak itu sampai terkaget. Pandangannya yang sempat berkabut tadi jadi terang benderang setelah Ardian menepuknya.
"A-apa yang terjadi?!" tanyanya kebingungan.
"Gak ada apa-apa, ayo.. Katanya mau ke pesantren," jawab Maura mengalihkan perhatiannya.
Kemudian keduanya naik ke mobil angkot yang tidak lama kemudian lewat didepan mereka, Ardian menyusul keduanya memakai motornya, sebelum naik angkot itu Maura sempat melirik kearah semak-semak yang tak terlalu jauh dari mereka, dia melihat sosok bayangan hitam di sana.
"Awas kau!" ujar Maura dalam hati, tatapannya begitu tajam mampu menusuk ke ulu hati sosok itu jika punya.
Glek!
Sosok itu ketakutan, aksinya ketahuan karena berani membuat bayangan delusi untuk Ichan, berusaha mengelabui anak itu agar pulang ke rumahnya, dan di sana sudah ditunggu oleh beberapa makhluk yang akan menjemputnya untuk dijadikan tumbal berikutnya.
Ada semacam media sihir yang tertanam didalam rumahnya, yang tak diketahui oleh siapapun kecuali ayahnya, sang ayah berusaha menghancurkan benda itu agar tak mengambil anaknya dan akhirnya dia sendiri yang kena.
Sebelum mengamuk, ayahnya sempat berbisik kepada ibunya Ichan, jika mereka harus pergi dari rumah apapun yang terjadi, terutama anak-anak mereka tidak ada yang boleh pulang ke rumah saat ini.
Dengan inisiatif ibu Ichan dan para tetangga juga kerabatnya, ayahnya akan dibawa ke pesantren untuk di rukiyah, dan adik-adiknya tinggal bersama saudaranya di desa sebelah.
Ardian melihat sekelebat bayangan ingin menyusul angkot yang dinaikin Maura dan Ichan, dia langsung menarik bayangan itu menghempaskan nya ke tanah.
"Tenyata kau biang keladinya!" geram Ardian menatap makhluk itu.
"Aku hanya seorang pesuruh, dan anak itu sejak awal memang sudah dijadikan tumbal oleh ayahnya. Kami tidak tahu kenapa manusia itu tiba-tiba berubah pikiran dan ingin membatalkan perjanjian itu!" ucap makhluk itu meringis kesakitan.
"Dia manusia juga, memiliki perasaan naluriah sebagai seorang ayah dan tak ingin menyakiti sang anak!" ujar Ardian sambil menginjak dada makhluk itu.
"Cuih, manusia semuanya sama! Kalian serakah, munafik dan pengecut! Kalian menghalalkan segala cara agar bisa memiliki sesuatu, harta, benda dan jabatan. Tapi setelah mendapatkan semuanya, kalian lupa akan janji kalian!
Janji adalah janji, harus ditepati! Anak itu akan dibawa bagaimanapun caranya, jika bukan aku maka akan banyak makhluk lain yang akan mengejarnya, haha!" ujar Makhluk itu tertawa terbahak-bahak.
Ardian merasakan adanya bahaya besar yang sedang datang, dia mendongak keatas langit dimana makhluk itu menatap keatas, dia melihat puluhan bahkan ratusan makhluk bayangan hitam terbang melesat menyusul Ichan dan Maura.
"Kurang ajar, dasar licik!" Ardian nampak geram.
"Lempar kesini makhluk itu, biar kami yang akan tuntaskan!" ucap Phoem.
Ardian tak menunggu lama, dia langsung melempar mahkluk itu kedalam kampus dimana Arga dan Phoem bagai makhluk yang kelaparan siap menghancurkan semua makhluk-makhluk itu.
"Ti-tidak! Jangan mereka, mereka sangat kejam! Tidak!" tolak makhluk itu ketakutan saat tau akan berhadapan dengan dua makhluk legenda yang sudah puluhan ribu lamanya ada jauh sebelum mereka ada.
"Ambil ini, dan yang lainnya akan segera datang! Panglima!" ucap Ardian sebelum melempar makhluk itu tadi, setelahnya dia langsung memanggil panglima Arialoka.
"Aku disini, Ardian.." jawab Panglima Arialoka muncul dengan wujud sedikit transparan, dia tak ingin menampilkan sosoknya didepan Arga dan Phoem, dikhawatirkan terjadi kesalahpahaman, karena sosok panglima sendiri memakai atribut seorang panglima besar di jamannya dulu.
"Kejar semua makhluk itu, dan lempar kedalam kampus ini! Biarkan dua makhluk itu menangani mereka setelahnya, tugasmu halangi semuanya menuju Maura dan anak lelaki disampingnya!" pinta Ardian.
"Baik.." jawab Panglima Arialoka.
Dia terbang tinggi melesat dengan kecepatan penuh menyusul para makhluk itu, ketika sudah mendekati mereka, dia bagaikan sedang bermain bola menendang satu persatu semua makhluk itu menuju kampus yang sudah seperti gawangnya, sedangkan Arga dan Phoem bagaikan kiper yang siap menangkap umpannya.
"Pergilah, untuk yang disini akan menjadi urusan kami! Lindungi Maura dan anak lelaki itu!" ujar Arga yang sudah berubah bentuk siluman ular yang sangat besar sekali, Garaga yang sesungguhnya.
"Cih, lagaknya kayak sudah mengenal Maura saja,," sungut Ardian, dia masih tak terima jika makhluk itu mendekati Maura.
Ada beberapa makhluk yang lolos dari cengkraman Panglima Arialoka, mereka berhasil mengikuti dua orang itu. Maura dan Ichan sudah sampai didepan pesantren, dan berjalan menuju pintu gerbang utama bangunan itu.
Ichan masih belum mengetahui jika dia dalam bahaya, dia sedikit berlari karena mengkhawatirkan sang ayah, sedangkan Maura sejak pertama naik angkot tadi sudah merasakan hawa jahat mengikuti mereka, dia juga berlari cepat kearah pintu gerbang pesantren itu.
Wuuuuzzz!
Beberapa bayangan hitam melesat dengan kecepatan tinggi mengejar keduanya, sedikit lagi, sedikit lagi mereka sampai menuju pintu gerbang, mereka melihat ada security bergerak ingin menutup pintu gerbang itu karena magrib akan segera tiba.
Sudah jadi peraturan di pondok itu, jika waktu ibadah sholat akan dilakukan berjamaah termasuk bagi para staf pengajar, penjaga dan pengurus lainnya termasuk security juga, dia ingin menutup pintu gerbang karena ingin berjamaah.
"Pak, jangan tutup dulu! Tunggu, Pak!" teriak Ichan, jarak mereka memang sedikit jauh dari gerbang itu.
Dan sialnya si security sedang memakai earphone di telinganya untuk mendengarkan sholawat, maklum suasana senja di sana hari ini agak berbeda dari hari biasa, jadi security itu memilih mengalihkan pikirannya dengan mendengarkan sholawat daripada ketakutan sendiri.
"Sial, lebih cepat lagi Chan! Sepertinya bapak itu gak bisa dengerin suara kamu!" teriak Maura dari belakang.
Sedangkan para makhluk itu semakin dekat kearah mereka, mereka semua tertawa senang melihat keduanya kesusahan, Maura ingin melawannya tapi saat ini ada Ichan yang harus dia jaga, dia tak ingin lengah sedikitpun.
"Hihihi! Ayo lari terus, kau takkan bisa lepas dari kami, hihi!" ujar para makhluk itu.
Selangkah dua langkah mereka berlari dan sedikit lagi juga pintu gerbang itu tertutup sempurna, Ichan berteriak kesal.
"Aaakh!"
Braaak!
Akhirnya dengan susah payah mereka berhasil juga sampai di sana, tentu saja security itu sangat terkejut tiba-tiba pintu gerbang itu digebrak kencang oleh Ichan.
"Apa-apaan ini?!" ujar security itu terkejut dan dia kesal sekali.
"Bapak yang apa-apaan! Orang udah teriak dari tadi jangan ditutup dulu, malah makin kenceng nutup pintunya, cepat buka pintunya, Pak! Saya mau masuk," pinta Ichan gregetan.
"Gak boleh, orang luar gak boleh masuk tanpa izin!" ujar security itu masih gondok karena dikagetkan tadi.
"Siapa yang tanpa izin, saya udah izin tadi!" teriak Ichan kesel.
"Sama siapa?!" tanya Security itu masih kesel.
"Sama saya, Pak! Buruan bukain, itu anak bapak yang dibawa kesini tadi siang!" teriak Maura dari belakang sambil berlari ngos-ngosan.
"Neng Maura?! Ya ampun, Bapak gak liat tadi, maaf-maaf.." ujar security itu yang mengenali Maura.
"Lagian dengerin musik mulu jadi gak denger kan dari tadi orang teriak-teriak mulu!" ucap Ichan.
"Ini sholawat, bukan musik!" timbal pak Security-nya.
"Sama aja!" sungut Ichan.
"Udah masuk, Chan! Buruan!!" teriak Maura seperti sedang dikejar sesuatu.
Security itu sudah banyak mendengar tentang Maura dari beberapa staf dan anak santri di sana, dia tahu saat ini Maura sedang menghadapi suatu bahaya besar dilihat dari raut wajahnya.
"Masuk!" ujar security itu sambil menarik tangan Ichan kedalam pagar dan menunggu Maura sampai menuju mereka.
"Pergilah, Chan! Temui ayah dan ibumu!" teriak Maura.
Ichan mengangguk, dia baru ingat tujuannya datang kesini untuk menemui orangtuanya. Sedangkan Maura sedang bertaruh waktu menuju pintu gerbang sebelum keduluan para makhluk itu.
"Ghyaaaaarrrrhh"
Para makhluk itu mengejar Maura, mereka nampak murka karena gadis itu ternyata begitu pandai dan banyak akalnya. Anak lelaki yang menjadi target mereka sudah berlari jauh.
"Hah! Pak, tutup pintunya!" teriak Maura setelah sampai.
Dia dan security itu langsung menutup pintu gerbang dengan kekuatan penuh dan diiringi beberapa doa-doa dari ayat-ayat kitab suci untuk menghalau para makhluk tak kasat mata itu masuk kedalam sana.
"Ghyaaaarrg!"
Para makhluk itu terpental jatuh cukup jauh saat mencoba menerobos pagar itu, Maura sedikit bernapas lega sampai terduduk lemas melihat semua itu.
......................
Bersambung